The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 1 [Ketemu Lagi]



WOSH!


TRASH!


ju


Bianca melihat Vera yang sedang memperhatikan Ambareesh dengan pipi yang terlihat memerah. Bianca memasang ekspresi bodohnya.


"Kenapa dia melihat Ambareesh seperti itu?" Bibir Bianca terlihat manyun sedikit.


Sekali lagi, Luka menghela napasnya. "Hei! Sisakan satu atau dua untuk dibawa!" Tegas Luka yang enggan mendekati mereka.


Ambareesh melihat Luka sambil mengusap pipinya yang terdapat darah lawannya. "Kau dan Vera, ke ataslah dan tangkap bosnya untuk kita bawa" Ucap Ambareesh.


Ambareesh seolah tau segalanya tentang tempat itu. Sebenarnya, Ambareesh telah masuk ke dalam markas ini sebelum dia menemui Bianca dan dia sempat mengobrol dengan Bos Markas ini.


"Ayo Ver" Luka beranjak dan segera menuju ke lantai atas.


Luka dan Vera saling melindungi punggung mereka. Luka memberi isyarat untuk mengendap dari belakang vas besar di sana.


Luka melihat ke arah pintu di dekatnya. Itu adalah ruangan yang mereka cari.


Luka membuka pintu itu setelah Vera mengangguk perlahan tanda dia telah siap menyerang.


DEGH!


Betapa terkejutnya Luka saat melihat seisi ruangan itu yang penuh dengan cipratan darah.


"WOSH! DRAP!"


Dia mendengar suara kelibatan dan suara derapan kaki yang melompat keluar jendela. Luka segera mendatangi ke arah jendela itu. Dan diikuti Vera.


Luka melihat sosok itu yang tengah melihat dirinya dari bawah.


Mata Elf Luka tidak bisa menipunya.


Luka membelalakan matanya saat melihat Aura gelap yang menyelimuti sosok berambut putih itu dengan dua tanduk di keningnya.


Luka tidak dapat melihat wajah sosok itu dengan jelas. Namun, Luka dapat melihat sosok itu tengah menyeringai padanya sambil menunjukkan kedua jarinya ke arah Luka.


Luka menyipitkan matanya untuk melihatnya dengan jelas.


"PASTH!" Cahaya biru kemudian menjadi merah berada di ujung kedua jari pria itu.


Bibir pria itu terlihat bergerak. Luka memokuskan pandangannya pada bibir merah jambu pria itu.


"Jangan menganggu alur yang telah ku buat" Ucapnya yang didengar Luka.


"Alur?" Lirih Luka sambil mengkernyitkan keningnya.


"WOOSH!" Cahaya merah dari ujung kedua jari pria itu, melesat ke arah Luka. Luka tersadar. Dia melihat ke arah Vera kemudian dia sudah tidak pikir panjang lagi. Dia memeluk Vera dengan posisi tangan kanannya melindungi kepala Vera.


"BAMMMM!!!!! BEZZZZZZTH!"


Cahaya itu meledak saat sampai di jendela. Luka dan Vera melesat bersamaan akibat hembusan kencang dari angin ledakan itu yang melesatkan besi serta kaca. Hingga, mereka berdua terlempar dari ruangan itu dan punggung Luka terhantam vas bunga besar di sana hingga pecah.


Kepala Luka berdarah hingga membuat rambutnya yang berwarna abu-abu menjadi merah.


"Ver! Kau gak papa?" Luka mendongakkan kepala Vera.


"DEGH!"


Luka melihat wajah Vera yang memucat. Kemudian, Luka menurunkan tangan kirinya ke punggung Vera.


Rasa hangat dan mengalir dia rasakan saat menyentuh punggung Vera.


"Lu..ka..."


Luka lihat tangan kirinya. Tangan kiri Luka penuh dengan darah.


Luka segera duduk dan melihat punggung Vera.


Pecahan kaca yang panjang, menusuk punggung Vera sisi kiri. Luka melihat pakaiannya bagian depan telah di penuhi darah.


"AMBAREESH!" Tanpa banyak pikir lagi, Luka memanggil nama Ambareesh setelah melihat dada kiri Vera mengeluarkan darah.


Ambareesh benar-benar muncul dengan sihir teleportnya saat Luka memanggilnya.


"Cepat! Diluar sana, ada musuh yang menyerang! Dia orang yang berbahaya!" Tegas Luka sambil melihat Ambareesh dengan nada yang bergetar.


Ambareesh melihat ke arah ruangan itu yang telah berantakan. Dan dia, langsung berlari keluar untuk mengejar sosok yang dianggap musuh oleh Luka.


Ambareesh benar-benar terjun dari lantai dua untuk mengejar pria itu. Dia melihat pria berambut putih yang berlari ke arah pepohonan.


Pria itu menyeringai saat melirik Ambareesh. "Kau pasti menjadi bodoh karena kumpulanmu orang tak berguna seperti mereka"


"WUSH! JLEB!" Pedang sihir, menembus paha kanan pria itu hingga dia terjatuh.


Pria itu sengaja terjatuh untuk memancing Ambareesh.


Tangan kanan pria itu yang menyentuh tanah, mulai menggambarkan sesuatu pola berbentuk dari beberapa sabit yang dijadikan satu.


"PATSH!"


Lingkaran sihir, muncul dari kaki Ambareesh saat Ambareesh berada di jarak 2 meter dari pria itu. Disaat yang bersamaan, muncul angin merah yang mengelilingi Ambareesh hingga membentuk kubah yang menutup jarak pandang Ambareesh.


Saat kubah itu menghilang, Ambareesh sudah berada di tempat lain. Dia merasa pernah berada di tempat itu. Ambareesh melihat sekelilingnya. Pria itu menghilang.


Suara teriakan dan tangisan mulai terdengar dari banyak arah. Mata Ambareesh bergetar mendengar teriakan yang memilukan itu. Dia menutup telinganya sambil melihat banyak jasad yang bergelempangan dan banyak yang tertindih puing-puing yang terbakar.


Kepala Ambareesh serasa penuh.


"Beribu tahun yang lalu, sebelum adanya Negri Arden, lahirlah sosok anak laki-laki dari keluarga yang buruk Kemudian, laki-laki menjadi seorang Tiran yang membunuh. banyak orang untuk menjadi penguasa yang terkuat...Namun, dia kalah di tangan seorang Malaikat Agung yang diutus oleh Sang Cahaya untuk menjaga Arden" Pria itu, bersuara sambil melihat tangan kanannya.


Ambareesh melihat ke arah asal suara itu. Pria itu, tengah duduk diatas tiang penyangga bangunan yang setengah terpotong.


Ambareesh membuka telinganya perlahan dan melihat pria itu.


Pria itu menatap ke langit yang merah.


"Sosok itu, akan diangkat kembali sebagai Inkarnasi terakhir untuk menentukan nasib Tanah Arden atas sumpahnya, karena dia mengakui bahwa tidak ada orang yang kuat dan berkuasa di dunia ini. Dia akan memiliki takdir seperti yang diharapkan oleh kedua Inkarnasi yang memainkan peran penting bagi negeri ini" lanjut pria itu.


"Dia memiliki jiwa keadilan dan jiwa yang murni. Sehingga, jiwa itu akan menjadikannya pisau bermata dua bagi para Titisan" Lanjut pria itu sambil menurunkan pandangannya ke arah Ambar-eesh.


Ambareesh tidak mengerti maksud sosok itu.


"Keluarkan aku dari wilayahmu" Ucap Ambareesh.


Dia cepat tanggap bila berurusan dengan sihir.


Sosok itu menurunkan pandanganya untuk melihat Ambareesh. Dia membelakangkan rambut bagian depannya. Dua tanduk di keningnya menghilang.


Wajah itu, sangat tak asing bagi Ambareesh. Tubuh Ambareesh merespon sosok itu. Rasa yang tidak pernah dirasakan oleh Ambareesh muncul saat melihat mata pria itu yang berbeda warna irisnya.


Mata kanan memiliki iris yang berwarna kuning keemasan dengan pupil yang hijau dan mata kiri berwarna biru dengan pupil merah. Pada sisi kanan wajah pria itu, tepat pada bagian atas kelopak matanya bagian tengah hingga di bawah kelopak matanya yang terdapat retakan hitam segaris disana.


Ambareesh merasakan rasa takut dan tubuh Ambareesh bersiap karena merasa waspada.


"Siapa kau?" Tanya Ambareesh sambil memanggil Hinokennya yang menusuk paha pria itu ke tangan kanannya yang dia lebarkan.


Darah menetes dari paha sosok itu ke tanah. Darah yang menetes itu mengubah tempat itu menjadi tempat yang sangat hijau dan ditumbuhi oleh beberapa bunga berwarna putih.


Ambareesh cukup terkejut saat melihatnya. Pria itu, menutup lukanya dan segera mengeringkannya dengan tangan kanannya.


"Tak akan ada gunanya kau mengetahui siapa aku. Aku menemuimu hanya untuk memperkenalkan Aosora Arthur padamu" Ucap pria itu sambil menunjukkan seringaiannya.


"Lagi-lagi Aosora Arthur. Orang didepanku ini, pasti Iblis yang sudah membantuku selama ini" Batin Ambareesh.


Pria itu terkekeh.


Ambareesh mengkernyitkan keningnya. "Apa yang lucu?" Tanya Ambareesh.


Pria itu menghela napas. "Aku tidak menyangka bila kau benar-benar kehilangan ingatanmu sepenuhnya. Kau menganggapku sebagai sosok yang membantumu? Itu benar-benar hal yang sangat lucu" Pria itu, kembali tertawa.


"Apa? Dia tau apa yang ku batinkan?" Lirih Ambareesh.


"Sialan! Apa yang kau inginkan?! Cepat keluarkan aku dari tempat ini!" Tegas Ambareesh dengan nada kesal.


Pria itu menyeringai. "Rebut Aosora dariku. Kau adalah kuncinya untuk membuka pandangan baru untuknya" Jawab Pria itu sambil turun dari tiang penyangga rumah itu.


"Bila kau tidak bisa melakukannya, biar aku yang membuka pandangan baru untuknya. BWESH!" Sosok itu langsung menghilang dan bersamaan dengan keluarnya Ambareesh dari wilayah itu.