
Tahun 1080 mengikuti tahun Akaiakuma.
Tahun 1068 hingga tahun 1089 adalah tahun dimana Bangsa Elf hijau diburu besar-besaran oleh Bangsa Siluman dan Iblis hingga berani masuk ke dalam wilayah Non Iblis dan non Siluman hanya untuk mengincar Bangsa Elf hijau.
Mereka, meyakini apabila Elf terutama dengan mata hijau adalah makhluk yang tak pernah tua karena satu organ tambahan yang terdapat pada dirinya. Organ itu dapat mengeluarkan senyawa yang mampu meremajakan kulit dan Bangsa Iblis menyebutnya dengan BURR.
Burr memiliki letak yang berbeda-beda di setiap Elf. Sehingga mereka harus membeda bangsa Elf untuk menemukannya.
Tahun 1080 adalah tahun kelahiran Putra Gabriel dan Glashya yang keduannya merupakan keturunan murni Bangsa Elf hijau.
Di malam hari saat Glashya akan melahirkan putra mereka, para Siluman mengejar mereka hingga memasuki wilayah hutan Telarang.
Gabriel mengendong Glashya yang ketubannya telah pecah. Siluman yang mengejar mereka tidaklah sedikit. Gabriel lebih memilih melarikan diri bersama Glashya daripada mengambil resiko besar untuk melawan dan mengalihkan mereka.
"Bersabarlah sebentar lagi. Kita akan masuk wilayah Shinrin"
Matahari tak kujung terbit. Tubuh Glashya mulai lemas. "Aku...ti..dak kuat..., bayi..nya... Mau ke..luar rgh..." Glashya mencengkram punggung Gabriel dengan kuat.
Gabriel melirik ke belakang. Siluman itu masih mengejar mereka. "Argh! Apa yang harus aku lakukan?!" Gabriel menurunkan istrinya yang akan melahirkan itu di tanah perbatasan. Disana dia menggeluarkan sihirnya yang mampu mengendalikan akar pepohonan untuk membentuk kubah perlindungan bagi istrinya.
Gabriel berada di luar kubah. Dia mengeluarkan pedang mananya dan menggerakkan pepohonan disana untuk menyerang siluman yang mengejar mereka.
Mana Gabriel terbatas. Dia telah menggunakan sihirnya sejak Glashya bersembunyi dari Siluman sebelum Gabriel datang.
Dia terengah-engah. Kedua tangan dan kakinya mulai gemetar karena energi sihirnya yang menipis.
Gabriel mulai menghunuskan Pedang mananya saat satu-persatu Siluman itu berhasil menerobos benteng akar yang dia buat dengan sihirnya.
Namun, semua usaha Gabriel sia-sia. "Trash! Crat!" Pinggang kanan Gabriel tergores dengan Pedang mana milik Siluman yang memiliki racun. Meski tubuh seorang Elf mampu menetralisirnya, Gabriel telah kehilangan banyak energi sihir sehingga memperlambat kemampuan Elf dalam menetralisir sihir Siluman itu.
Pandangan Gabriel mulai mengkabur. Dia kembali mengambil ancang kuda-kuda dan mengatur pernapasannya.
"HUFT! Apa ini? Kenapa Kalian para Siluman bisa masuk ke Shinrin" Gabriel mendengar suara wanita dari sisi kirinya. Di saat yang bersamaan, dia merasakan pula aura Siluman dari wanita itu.
Dinding es tiba-tiba muncul di antara Gabriel dengan para siluman itu yanh bertarung. Wanita itu, menghentikan pertarungan Gabriel.
Gabriel melihat asal suara tersebut. "Siluman?" Gabriel hampir menyerah dengan kedatangan siluman lain dari belakangnya. Namun, tangisan bayi terdengar di telinga Elf Gabriel.
Mata Gabriel terbelalak. Begitu pula wanita Siluman berambut putih itu.
Gabriel melihat mata keemasan dari Siluman berambut putih dibelakangnya. Siluman itu satu-satunya yang tidak menunjukkan aura membunuhnya.
"Tolong kami. Saya berjanji akan melakukan apapun yang Anda katakan asalkan, Istri dan Anak saya selamat" Gabriel membuang rasa malunya. Dia bersujud di kaki Siluman perempuan itu.
Siluman itu tersenyum lebar dan mengangkat bahu Gabriel untuk berdiri.
Dia mengibaskan rambutnya yang panjang dengan senyuman yang lebar itu. "Kalau begitu, aku ingin kau menjadi anak buahku mulai hari ini. Sekarang mundurlah dan bawa Istrimu masuk kesana" Siluman itu menunjuk tanaman menjalar dari atas yang menutupi batu besar.
Tanpa banyak berkata Gabriel membuka kubah yang dia buat.
Glashya terlihat memeluk bayi disana. Glashya tersenyum tipis pada Gabriel. "Dia laki-laki. Aku tidak bisa memotong pusatnya" Ucap Glashya pada Gabriel.
Gabriel memeluk Istrinya itu dan mengusap air mata pada pipi Glashya. Dia mencium pipi Glashya sambil berbisik "Terima kasih sudah berjuang. Kita mendapatkan bantuan dari seseorang" Gabriel segera mengendong Istrinya dan membawanya masuk ke tempat yang ditunjuk.
Lingkaran sihir muncul dari langit dan menjatuhkan bongkahan es besar berjatuhan dari lingkaran sihir itu. Siluman yang awalnya mengejar Gabriel memilih melarikan diri karena melihat cahaya fajar mulai muncul. Tak hanya itu, serangan perempuan itu juga tidak dapat di dekati oleh mereka sehingga, mereka memilih untuk kabur.
"Cih! Sukanya kroyokan!" Perempuan itu kembali mengibaskan rambutnya dan dia menghela napas melihat sekitarnya yang berantakan.
"Terserah. Nanti, biar yang lain yang membersihkannya" Perempuan itu masuk ke dalam Goa yang di tutupi oleh sihir ilusi.
Dia tersenyum tipis saat Istri Gabriel mulai di bantu oleh siluman lain yang berada di sana.
Gabriel mendatangi Perempuan itu dan membungkuk dalam di depannya.
"Terima kasih atas bantuan Anda. Saya tidak bisa membayangkan kalau Anda tidak ada saat itu" Ucap Gabriel.
"Sama-sama. Sebelum itu, siapa namamu?"
"Maaf atas ketidaksopaanan saya sebelumnya. Nama saya, Estelle Gabriel dan Istri saya bernama, Estelle Glashya. Kami Bangsa Elf Hijau murni" Jawab Gabriel.
"Aku Alba ve Bianca, mulai hari ini tinggallah disini dulu untuk sementara waktu. Diluar sana, tidak Iblis, Siluman, dan Manusia sama saja. Mereka memburu kalian, hanya untuk sesuatu yang mustahil" Ucap Bianca sambil mendatangi bayi Glashya dan Gabriel.
Glashya memberikan bayi itu kepada Bianca. Bianca mengendongnya dengan matanya yang terbelalak.
Bayi itu mengeliat di lengannya. Bianca berfikir, dia bisa melukai bayi itu kalau bergerak sedikit saja.
Bayi itu menguap dan membuka matanya yang berwarna hijau zamrud. Bianca tersenyum tipis. "Bagaimana cara kalian melindungi dia kalau berada di luar?" Tanya Bianca sambil duduk dengan perlahan dan mengusap ubun-ubun bayi itu yang rambutnya jarang dan empuk. Bianca tidak berani memegang ubun-ubunnya lagi.
"Kami akan bersembunyi hingga dia bisa menggunakan sihir ilusi untuk mengubah dirinya agar terlihat seperti Manusia"Jawab Gabriel.
Bianca kembali menyerahkan bayi itu kepada Glashya karena mulai menangis.
"Zaman kalian dengan zaman anak ini berbeda. Shinrin adalah Kerajaan yang maju. Tentunya Ilmu Pengetahuan dan bersosialisasi dengan orang lain sangat penting untuk perkembangan dirinya. Jangan menyakiti anakmu dengan menyembunyikannya dengan kata demi melindunginya" Bianca teringat dengan Ambareesh.
"Tidak ada yang bisa kami lakukan selain bersembunyi. Kami Bangsa Elf tidak bisa bebas kemanapun" Jawab Gabriel sambil mengusap kepala Glashya yang menuduk dan melihat putranya.
"Aku bisa menggunakan sihir ilusiku untuk putramu. Tapi, ada syaratnya untuk itu" Ucap Bianca sambil melihat putra mereka.
Gabriel dan Glashya saling melihat. Mereka tidak menolak tawaran itu.
"Untuk membuat ilusi itu agar aura anak kalian tidak di ketahui, aku akan membagi mereka menjadi dua. Yang satu adalah tubuh asli dan yang satu adalah kekuatannya. Pikirkanlah terlebih dahulu. Tidak perlu sungkan menolak hanya karena aku telah membantumu" Ucap Bianca sambil mengelung rambutnya dan kembali menghitam.
"Kami menerimanya" Mereka berdua tidak menolak itu.
Bianca tidak akan bertanya kembali.
Tubuh bayi itu, mengeluarkan cahaya hijau dan membentuk tubuh di sebelah bayi itu. Cahaya itu, bisa menangis layaknya bayi. Bianca membuat kedua bayi itu memiliki rupa seperti Bangsa Manusia.
Tubuh bayi itu bernama Tsuki dan Energi sihir hijau itu adalah Tsuha.
Oleh sebab itu Gabriel dan Glashya sangat melindungi Tsuki dan selalu berulang kali mengatakan hal yang sama kepada Tsuha untuk melindungi Tsuki lebih dari nyawanya sendiri dengan imbalan kata sebagai seorang Kakak.
Mereka berdua tidak memberatkan Tsuha.
Sejak hari itu, Gabriel dan Glashya mengabdikan diri mereka kepada Bianca untuk menjadi mata-mata Aosora hingga kabar tentang Aosora Naver dan Aosora Emilly membangkitkan kembali sosok Ambareesh untuk menjalin kerja sama demi Putra mereka, Aosora Arthur.