
Perlahan, Arthur membuka topengnya. Dia menunjukkan senyuman lebarnya kepada Bram.
Mata Bram terbelalak. Dia melihat sosok di hadapannya mirip dengan lukisan besar yang dipajang di Aula Aosora. Tepatnya, Raja Pertama, Aosora Alex. Namun, dihadapannya ini memiliki warna rambut yang biru gelap. Bukan biru langit.
"Ra...Raja Pertama?" Tanya Bram yang hampir jatuh lemas. Dia langsung berlutut di hadapan Arthur.
Arthur terkejut melihat Bram yang berlutut di hadapannya sambil menyebutnya dengan Raja Pertama.
Arthur langsung memeluk Bram yang tengah berlutut padanga. "Kak, ini aku. Arthur" Ucap Arthur kepada Bram.
Mata Bram sekali lagi terbelalak. Dia mendorong bahu Arthur untuk melihat wajah Arthur dengan jelas.
"Tidak mungkin. Kau berbeda sekali" Ucap Bram yang tak langsung percaya dengan Arthur.
Arthur membuka jubahnya untuk menunjukkaan tanda di dada kirinya. "Kak Ram, aku tidak membohongimu. Aku hampir gila karena kehilangan Ayah dan Ibu. Lalu, aku sangat senang karena mendengarmu telah kembali di Shinrin" Ucap Arthur sambil kembali memeluk Bram dengan erat.
Mata Bram menjadi sayu. Ram adalah nama panggilan yang Arthur berikan untuknya saat kecil. Dia perlahan membalas pelukan Arthur dengan erat.
"Arthur, ini sungguh kau? Apa yang terjadi dengan wajahmu?" Tanya Bram sambil melihat wajah adiknya kembali.
Arthur tersenyum lebar kepada Bram. "Selama ini, Ayah dan Ibu meminjam tubuh sosok Titisan untukku kak. Dan ini, adalah tubuh salinanku. Kak Ram, ayo kita pergi ke Meganstria. Kak Baal berusaha membunuhmu dengan mengirimkan Iblis dari Aokuma. Jubah ini, adalah pemberian Iblis itu untuk mencarimu" Jelas Arthur sambil menarik Bram untuk berdiri.
Bram berdiri dan membersihkan pakaiannya. "Iblis itu hanya menipumu agar kau mengikuti Titisan, Arthur" Jelas Bram sambil mengusap pelan rambut gelap Arthur.
Arthur merogoh sakunya dan memberikan surat tulis tangan Baal kepada Bram dari Ruri.
"Ini bisa saja di buat-buat Arthur" Bram mengenal tulisan itu. Namun dirinya tetap berusaha mempercayai Saudaranya tidak akan melakukan hal sehina ini.
Sebab, Bram telah bersama dengan Baal hampir sepanjang umurnya (20 tahun).
"Kak, buka mata dan telingamu. Ini adalah kenyataan yang sebenarnya kak. Jangan menutup mata dan telingamu Kak, lihatlah apa yang terjadi dengan sekitarmu. Jangan membuat sebuah ikatan menutup pandanganmu kak. Kumohon" Arthur mempertemukan kedua telapak tangannya di depan Bram.
"Banyak yang terjadi dengan Shinrin, Kak. Shinrin berbeda dengan dulu. Aku kemari untuk menjemput Kakak. Aku sungguh menantikan ini, kak" Arthur kembali memakai topengnya.
"Tak masalah kalau Kak Ram tetap memilih Shinrin. Kakak berhak memilih jalan kakak sendiri. Tapi, tolong jangan lupakan ancaman itu" Arthur membuka pintu gudang yang dikunci oleh Bram.
KLAK! KLAK!.
"Kak, tolong buka pintunya" Arthur meminta Bram untuk membuka pintu itu.
Bram menundukkan pandangannya. "Arthur kau adalah adikku. Kau adalah alasanku untuk hidup dan kau juga yang menyelamatkan aku dari insiden malam itu. Kalau kau meninggalkanku, lantas mengapa aku harus berjalan kaki dari Kerajaan Heraklesh menuju Aosora hingga ke Shinrin?" Bram tidak ingin kehilangan Arthur lagi.
Disisi lain, Bram tidak mempercayai surat itu karena Bram tidak bisa memberi kepercayaannya kepada Bangsa Iblis.
Mata Arthur terbuka lebar.
"Kalau kau pergi meninggalkanku, bukankah artinya aku sudah tidak memiliki alasan untuk hidup lagi?" Bram menusap ubun Arthur yang hampir menyusulnya.
"Ya, bisakah kau jelaskan padaku mengapa Meganstria mengangkat senjata mereka untuk Para Titisan?"
"Itu hanya kesalahpahaman kak, sebenarnya yang terjadi adalah...." Arthur bercerita cukup panjang kepada Bram. Yang awalnya Bram tidak sungguh-sungguh percaya sosok dihadapannya adalah adiknya, dia menjadi yakin. Kalau remaja berambut gelap dengan iris ice blue itu adalah adiknya, Aosora Arthur.
"Lalu, apa kau kemari hanya untuk menjemputku saja?" Tanya Bram kepada Arthur.
Arthur mengeleng. "Sebelum itu, aku ingin mereka menarik surat penyataan perang itu terlebih dahulu. Firasatku mengatakan, kalau perang itu akan berdampak buruk untuk pihak yang melawan Titisan" Jelas Arthur pada Bram.
Bram mengetahui dampak yang dimaksud. Kekalahan sekutu Meganstria dapat membuat Narai dan Aosora berada di tangan Titisan. Selain itu, Titisan bukanlah musuh sembarangan. Dengan menyatakan perang kepada Para Titisan. Artinya, mereka siap untuk kalah dan mati (dalam hal matearilis).
"TOCK! TOCK! Hei Aosora! Sudahi berbincangmu" Suara dibalik gudang.
Bram terkejut dengan suara itu. "Siapa yang dia panggil?" Lirih Bram kepada Arthur sambil melihat pintu gudang itu.
Bram melihat Ruri yang tengah menunjukkan seringaiannya padanya.
Bram tidak menyukai sosok di hadapannya. Dia merasakan hawa membahayakan darinya.
Bram berdiri di hadapan Ruri. "Terima kasih, tapi segera menjauh dari adikku" Ucap Bram sambil membalas seringaian itu.
Kedua alis Ruri terangkat. Dia terkekeh di belakang Bram yang berjalan terlebih dulu di belakang Arthur. "Ah, apa dia sungguh Pemegang Pemuda Terbaik dan Teramah di Kerajaan non Iblis dan Non siluman? Ah~ Menjengkelkan sekali dia lebih cocok menjadi pemegang rekor topeng tebal" Ucap Ruri sambil mengepalkan kedua tangannya dan mengikuti mereka berdua.
...----------------●●●----------------...
BADUM!
Jantung Arthur berdebar saat melihat delapan petinggi Arden telah berada di satu ruangan yang sama. Apa yang mereka obrolkan?
Mereka mengobrolkan untuk membentuk sistem monarki Arden sebagai syarat utama persekutuan ini. Mereka berniat menjadikan kerajaan-kerajaan di Negri Arden kembali ke zaman Kekaisaran Akaiakuma. Sama seperti Akaiakuma terhadap Nekoma, Heraklesh, Aviv, Anund, dan Aokuma. Meski, mereka memiliki Kerajaan besar dan wilayahnya sendiri, tapi apapun keputusan akhir adalah milik Akaiakuma.
Monarki yang dirumuskan oleh Arnold akan mengubah semua tatanan kerajaan yang menandatangani perumusan itu.
"Kalau seperti ini, mereka akan kembali ke zaman dimana Akaiakuma menetapkan pemerintahan mutlak. Bedanya, pemerintahan ini akan lebih terarah dibawah tanggung jawab Akaiakuma yang akan menjadi pemerintahan Kekaisaran" Lirih Ruri kepada Arthur saat melihat Pemimpin Narai dan Meganstria menolak perumusan itu.
"Setelah kalian benar-benar menyetujuinya, Akaiakuma dan Kerajaan Iblis-Siluman lainnya akan benar-benar menjadi sekutu kalian" Ucap Arnold sambil meletakkan dagunya di punggung kedua tangannya.
Kehadiran Akaiakuma sangat memberi dampak positif bagi Kerajaan yang didukung. Akaiakuma adalah Kerajaan terkuat selama ini.
Ruri mengangkat tangan kanannya. "Sebelumnya, saya mohon maaf karena telah menyelah" Semua pandangan menuju ke arah Steve yang berdiri.
"Saya dengan beribu permohonan maaf untuk Para Baginda yang hadir disini, saya tidak bisa mewakilkan Aokuma untuk menyetujui sistem Kekaisaran yang Yang Mulia De luce ajukan" Ucap Ruri sambil membungkukkan tubuhnya.
Arnold telah mencari informasi tentang Aokuma yang menolak untuk bersekutu dengan Shinrin. Alasan yang dia ketahui hanyalah karena Aokuma masih terjadi kekosongan selama 4 tahun dan tak lama lagi, Putri Mahkota Aokuma akan diangkat menjadi Ratu.
"Keputusan Aokuma bisa menyusul setelah urusan dalam kerajaan tersebut usai. Saya memahami itu. Jadi Archduke, Anda tidak perlu merasa terbebani" Jelas Arnold untuk kesekian kalinya.
"Terima kasih atas pengertian Anda, Baginda" Ucap Ruri sambil kembali duduk. Dia menarik perlahan jubah Arthur untuk mendekatkan telinganya.
Arthur dalam pose mendengarkan "Saranku, jangan ganggu pertemuan ini sebelum aku memerintahkanmu" Bisik Ruri.
"**Kenapa?" **
"Ini akan menjadi menarik kalau pemerintahan itu terbentuk. Dan dapat mempermudah tugas Para Titisan menyatukan mereka untuk membentuk kedamaian yang bersifat mutlak. Selain itu, kau bisa mengetahui tanggal berapa perang itu akan dimulai"
Ruri dapat melihat ekspresi wajah Arthur yang mengatakan 'benar juga'. Ruri dengan wajah Steve menunjukkan senyuman tipisnya.
"Dan juga, yakinkan mereka kalau kau tidak berada di pihak Titisan. Ini untuk menghindari kesalahpahaman yang Titisan buat sebelumnya" Saran Ruri sambil mengetuk topeng Arthur untuk mundur.
"Baik" Arthur mundur dan kembali ke posisi sigapnya.
Bram tidak menyetujui sistem itu. Dia terus menatap ke arah Arthur untuk meminta jawaban. Namun, Arthur berusaha menghindari kontak mata dengannya untuk menghindari kecurigaan Petinggi di ruangan itu.
"Bagaimana dengan Aosora?" Ratu Kerajaan Aviv tiba-tiba mengangkat suaranya saat melihat Bram yang terlihat gelisah.
Bram menoleh ke arah Siluman itu dengan spontan.
"...Saya rasa Aosora sedikit spesial dimata Akaiakuma. Mengingat betapa indahnya persahabatan antara Raja Pertama Aosora Alex dengan Putra Akaiakuma, De luce Archie. Ah, dan jangan melupakan tentang rumor Aosora Arthur yang setubuh dengan Putra Akaiakuma" Lanjutnya.
Dia (Ratu Kerajaan Aviv) menutup sebagian wajahnya dengan kipas birunya sambil melihat Bram yang memberikan tatapan tidak menyenangkan padanya.
Dia tersenyum dibalik kipas itu.