The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 1 [Misi Terakhir]



Ambareesh tidak pernah mengingkari ucapannya. Dia, datang ke kamar Arnold dan membuat Arnold tidak akan bisa terbangun selama beberapa hari karena aliran makanya sempat berhenti. Kemudian, Haraya menggantikan posisi Arnold untuk menemui sang Raja dan Putra Mahkota Arvolt.


Ambareesh mendatangi perayaan besar-besaran yang diselenggarakan oleh Kerajaan Akaiakuma dan mengundang beberapa tokoh penting dari kerajaan tetangga yang ikut serta dalam perluasan wilayah Akaiakuma.


Tidak ada satupun yang mencurigai Ambareesh yang kini berdiri disebelah Ha nashi sebagai pembawa acara ini.


Satu persatu prajurit dan pelayan Non-Iblis mulai keluar disela keramaian.


"Kini, turunlah sosok yang paling ditunggu oleh para tamu yang terhormat. Tokoh utama pada hari ini! Putra Mahkota De luce Arvolt!"


Suara tepukan tangan begitu meriah saat turunnya Arvolt dari anak tangga pintu masuk.


Pakai yang berkilau dengan potongan rambut yang tertata rapi, dia terlihat seperti.... "Kenapa dia menggunakan gayaku?" Lirih Ambareesh pada Ha nashi.


"Tidak tau. Mungkin, Pangeran Arnold asli yang memintanya" Jawab lirih Ha nashi.


"Terserah" Lirih kembali Ambareesh sambil memberikan tepuk tangan.


Arvolt berdiri di sebelah Ha nashi untuk memberikan sapaan kepada para tamu yang hadir.


Raja Akaiakuma ke-9 begitu bangga melihat putranya yang kini telah beranjak ke usia 25 tahun. Arvolt, seumuran dengan Ambareesh.


Raja Akaiakuma tiba-tiba berseru untuk melakukan penyerangan di wilayah Shinrin dan membunuh bangsa Manusia yang bermayoritas bermukim disana untuk menjadikan Shinrin sebagai pusat hiburan Akaiakuma.


Tentunya, banyak dari mereka yang merupakan golongan Bangsa Iblis dan Siluman yang tengah kegirangan.


Ha nashi, telah memberikan formasi khusus bagi Prajurit Non-Iblis untuk memblokir jalannya prajurit Iblis yang andil dalam penyerbuan itu.


Ha nashi, meletakkan bangsa Non-Iblis pada barisan paling belakang untuk mempermudah mereka menyerang dan membunuh Pasukan berbangsa Iblis yang berada di barisan depan (Dibelakang Arvolt dan Raja De luce ke-9).


Ha nashi ikut dalam barisan tiga terdepan dan Ambareesh, kini berada di depan pasukan sebanyak 1500 itu. Ambareesh berdiri sambil membelakangi hutan sihir dan dalam pengawasan Haraya agar tidak ada satu Serigala sihir yang mendekat dalam jarak 50M dari berdirinya Ambareesh.


"Apa yang sedang Iblis Abnormal itu lakukan?! Menyingkirlah!" Arvolt mengabaikan tangannya dari jarak kejauhan dari Ambareesh.


Ha nashi, mengangkat tangannya yang dia kepalkan tinggi-tinggi untuk memberi kode para Prajurit disana, termasuk Prajurit Non-Iblis.


Ambareesh mulai membuka dinding sihir berbentuk setengah lingkaran yang menutup sekitarnya dengan jari-jari 50M dengan pusat Ambareesh berada. Siapapun yang berada pada batas itu akan terpotong termasuk itu tanaman dan bebatuan karena kuatnya sihir milik Ambareesh. Karena adanya Ha nashi dan Haraya, sebanyak 1150 Prajurit Non-Iblis itu dan para Serigala Sihir, aman dari jangkauan dinding sihir itu.


Ambareesh mulai menggerakkan kedua tangannya dan mengarahkan tangan kanannya ke arah pasukan itu. Ha nashi mulai membuka telapak tangan yang dia kepalkan.


Prajurit Non-Iblis yang berada pada barisan kedua, keempat, keenam, hingga barisan genap ke 12 mengarahkan pedang mana mereka pada leher Bangsa Iblis di depan mereka kemudian mereka memenggal kepala Mereka dengan bersamaan.


Arvolt dan Raja Ke-9 Akaiakuma terkejut melihat penyerangan itu dan Arvolt kini mengarahkan pedang mananya pada Ha nashi sambil mengancam akan membunuhnya.


Haraya memiliki tugas sebagai penyerang jarak jauh dan dia telah bersiap untuk melepaskan anak panahnya untuk melindungi Ha nashi dari jarak kejauhan.


"PATSSSSH!" Haraya melepaskan anak panahnya tepat pada kepala kuda Arvolt. Haraya memutuskan untuk tidak melukai Arvolt. Sebab, melukai Arvolt adalah tugas Ambareesh.


"Berulang kali aku membacanya, aku sangat menyukai adegan ini" Dia kembali muncul.


...Kenapa kau selalu muncul disaat aku memberi narasi penting? Pergilah, aku tidak berbohong dengan ancaman itu....


"Hehe, santai saja. Aku hanya ingin melihat dari sudut ini. Jadi, silahkan lanjutkan narasimu"


...Harusnya, jangan heran lagi bila dia bisa berbicara denganku. Kita lanjut lagi pada Ambareesh....


"JLEB! BRUAK"


"Apa harus begitu penulisannya?"


...//// Jangan mengangguku. Ini memang bahasa penulisanku! ////...


"Baiklah, lanjutkan"


...Sialan!...


Kuda Arvolt terkejut hingga kuda itu membanting Arvolt sebelum matinya kuda itu.


Lengan kiri Arvolt patah setelah terkena hentakan keras kaki kuda itu. Raja Akaiakuma menahan kudanya yang ikut mengamuk dan segera turun dari kuda.


Ha nashi mengangkat kedua tangannya setinggi bahunya. Itu, tandanya Ha nashi menyerah. Namun, ini hanya abal-abal Ha nashi untuk pura-pura tidak mengetahuinya.


Ambareesh melesat ke arah Ha nashi dan dia melesatkan tendangannya pada dagu Ha nashi hingga dia telempar jauh ke belakang untuk memisahkannya dari Arvolt dan Raja Akaiakuma.


Haraya menyakitkan matanya karena ikut merasakan rasa sakit pada dagunya dengan melihatnya.


Rahang Ha nashi bergeser karena serangan Ambareesh itu dan membuatnya sempat tak sadarkan diri. Kemudian, dibawa oleh prajurit menggunakan sihir teleport untuk keluar dari wilayah itu.


Ambareesh melesatkan pedang mananya pada Arvolt dan di lindungi oleh Raja Akaiakuma. Haraya, tetap memperhatikan Ambareesh dari jarak ke jauhan dan menyiapkan kembali anak panah miliknya.


"Bahasamu berantakan di bagian ini. Harusnya, bagian ini lebih cocok dalam bentuk gambar dari pada tulisan"


...Terserah, walau aku bisa menggambar. Tapi, bagian ini terlalu sulit bagiku karena aku belum bisa pose anatomi dan penyimpanan ponselku bagai harapanku ingin bisa memelukmu dalam dunia nyata. Benar-benar tydack mendukung :v....


Raja Akaiakuma ke-9 melesat jauh dan tubuhnya menghantam batang pohon disana. Tak ada satupun, Prajurit Non-Iblis yang menolongnya.


Tubuh Raja Akaiakuma bergetar saat melihat putra tertuanya ditarik kera pakaiannya hingga tubuhnha terangkat begitu saja dan pedang mana Ambareesh yang telah bersiap untuk menebasnya.


"AYAH!! LAKUKAN SESUATU UNTUK IBLIS INI! DIA BERANI MEMEGANG PAKAIANKU DENGAN TANGAN KOTORNYA!" Arvolt berteriak dengan kencang pada Ayahnya yang tidak bisa bergerak.


Ambareesh menurunkan Arvolt dengan keras di tanah kemudian, Ambareesh menarik rambut Arvolt dengan keras.


"Apa kau sudah bahagia dengan kehidupanmu?" Ambareesh mendekatkan wajahnya pada wajah Arvolt.


Bola mata Arvolt bergetar melihat betapa gelapnya pandangan Ambareesh. "Apa maksudmu?" Sedikitpun, Arvolt tidak mengerti dengan perkataan Ambareesh.


Ambareesh menyelipkan pedang sihirnya pada ketiak kanan Arvolt.


"Apa kau bahagia saat membunuh para Serigala Sihir?" Tanya Ambareesh sambil menunjukkan seringaiannya.


Arvolt melirik ke arah lengan kanannya. "Apa yang mau kau lakukan?" Tanya balik Arvolt karena merasa mananya mulai terserap.


"TRAAASH!! AAAARRRRRGGGGGGGGHHH!!!" Ambareesh menarik ke atas Hinoken miliknya hingga membuat lengan kanan Arvolt tertebas. Teriakan Arvolt terdengar memilukan di telinga Haraya.


"Haha, sudah lama aku tidak mendengar teriakan semacam ini" Ambareesh melepas jambraknya dan meremas jubahnya pada bagian dada. Dia membungkukkan tubuhnya sambil memegang kepalanya dengan tangan kirinya.


Ambareesh merasakan kesenangan tersendiri saat melihat kondisi Arvolt dengan lengan kanan yang terus bercucuran darah.


Ambareesh kembali berjongkok dan meraba lengan kiri Arvolt. Arvolt mulai ketakutan dan dia berusaha menedang kaki Ambareesh.


"Aku pernah melihatmu menggunakan tangan ini untuk melecehkan pelayanmu. Apa rasanya begitu nikmat? TRAAAAASH!" Ambareesh menebas tangan kiri Arvolt.


Arvolt berteriak semakin keras. Dan Raja Akaiakuma ke-9 hanya mampu menutup kedua telinga dan ke-2 matanya.


Tubuh Arvolt terjatuh di tanah. Ambareesh melepaskan sepatu baja pada kedua kaki Arvolt. "Ah, kaki ini. Bukankah, kau pernah menginjak wajah seseorang dengan ini?" Tanya Ambareesh sambil menunjukkan senyumannya pada Arvolt.


Arvolt mengeleng. "Tidak!"


"Jangan mengeleng. Aku melihatnya sendiri. JLEB!!!" Ambareesh menusukkan Hinokennya pada paha kanan Arvolt.


"Bagaimana dengan kaki kirimu? Bukankah, kaki ini yang kau gunakan untuk menendangku kala itu? Sayangnya, aku bukan tipe pendendam. Jadi, berterima kasihlah padaku karena aku akan menyisahkan satu-satunya kaki kirimu ini untukmu. TRASH!" Dia menebas kembali kaki kanan Arvolt.


"Kemudian, bagaimana dengan mulutmu ini yang selalu menyakiti hati Arnold dan rakyat lainnya? Perlukah, aku menarik rahangmu agar tidak bisa menutup lagi? Ah, bukankah ini terlalu menyedihkan bila kau hidup tanpa kedua tangan dan satu kaki? Aku khawatir sekali bila dirimu tak akan bisa menjadi seorang raja yang terhormat? Apakah, ayahmu akan membuangmu? Atau aku bunuh saja?" Tanya Ambareesh pada Arvolt.


"AYAH!!!! TOLONG AKU!!!"


"Ah, kau berteriak seperti perempuan yang mau ku perkosa. Bagaimana Baginda? Haruskah aku membunuhnya dan membebaskanmu atau membiarkan dia hidup dan mengambil Arnold darimu?" Tanya Ambareesh sambil menompangkan pipi kanannya pada punggung tangan kanannya.


Raja itu, memegang kepalanya. "Jangan sentuh Arnold sedikitpun! Ambil saja Arvolt dan apapun yang kau mau selain Kerajaan Akaiakuma dan Arnold!"


Jantung Arvolt seolah berhenti berdetak. Air mata Arvolt menetes begitu saja. Tatapan Arvolt seperti orang yang tidak memiliki harapan lagi untuk hidup.


"Kalau begitu, serahkan setengah wilayah bagian Timur hingga Tenggara untukku dan bersumpahlah untuk tidak menyerang bangsa Non-Iblis dan Non-Siluman!"


"AKU BERSUMPAH!!" Tegas Raja Akaiakuma.


"Bunuh aku. Aku tidak butuh dunia seperti ini" Ucapnya.


"Kenapa? Apa kau bersikap seolah kau korban disini?" Tanya Ambareesh sambil melihat dengan senang saat Arvolt kehilangan harapan untuk hidup.


"Sejak kecil, aku memang dipandang sebelah mata dan seolah aku adalah beban. Kenapa selalu Arnold dan Arnold?! Apa bagusnya dia yang tidak bisa menggunakan sihir dengan benar?! Apa bagusnya anak gelap Raja dengan seorang pelayan rendahan?!"


Ambareesh menarik kera pakaiannya Arvolt.


"Apa ada kata terakhir sebelum kau mati?" Tanya Ambareesh sambil mengusap rambut hitam Arvolt yang berantakan.


"Aku bahagia walau sebentar dan aku tau seperti apa cara mereka melihatku"


Ambareesh mengusap air mata Arvolt dengan tangan kirinya yang bercincin. "Arnold sangat mempercayaimu namun, kau sendiri yang memanfaatkan kepercayaan itu untuk menghancurkannya. Ini membuatku sangat tidak menyukaimu. TRASH!"


Arvolt tidak merasakan sakit sedikitpun. Hanya hawa dingin yang dia rasakan. Langit yang berputar di atasnya. "Apakah, langit memang seindah ini? Harusnya, aku memeluk Arnold terlebih dahulu"-"BRUK!"


Kepala Arvolt mengelinding dan ditahan oleh tangan kiri Ambareesh.


"Aku akan menunggu surat penyerahan setengah wilayah bagian Timur hingga Tenggara untuk kau tanda tangani secara langsung di depanku. Bila kau mengingkarnya, tak hanya Ha nashi atau Arnold yang akan kubunuh. Aku tidak peduli untuk menghancurkan Kerajaan Akaiakuma untuk itu!" Tegas Ambareesh untuk mengancam Raja Akaiakuma.