The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 3 PROLOG [Pertemuan dan Tugas]



Ini adalah jalan yang akan Arthur tempuh sesungguhnya.


Daeva mulai bergerak dengan menyusuri penjuru Arden untuk mencari Ruri yang bersembunyi di Kerajaan Aokuma.


Daeva menatap langit malam yang gelap dan tidak menunjukkan bintangnya sedikitpun. "Sialan, kapan ini akan usai?" Tanya Daeva sambil mengasah pisau untuk memotong daging hasil buruannya.


"TAP!" Suara langkahan lembut terdengar dihadapan Daeva. Dia mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa orang berjubah putih dihadapannya.


Rambut yang putih dengan iris mata yang berbeda satu sama lain (kanan kuning dan kiri biru). Sekejap, Daeva mengira sosok itu adalah Ruri. Tentunya dia terkejut dan langsung mengeluarkan pedang mananya.


Sosok itu tersenyum hangat pada Daeva. "Selamat malam, seruan beribu bintang yang senantiasa berdoa menitipkan salam mereka untuk Anda. Titisan Pertama, Daeva Nerezza. Saya datang untuk menyampaikan perintah Sang Cahaya"


Sontak Daeva membelalakan matanya mendengar salam aneh itu. Tak lama dari itu, kelopak mata Daeva menurun dan melihat ke arah kanan bawah.



"Jangan berusaha menipuku Ruri. Kenapa kau datang seperti orang bodoh? Jelas-jelas kau bukan lagi salah satu Malaikat Agung" Jelas Daeva sambil menurunkan pedangnya.


"Eh! Maafkan saya. Sebenarnya, Nama saya Charael dan saya bukan Ruri. Kedatangan saya memang untuk menyampaikan pesan sang cahaya untuk Anda" Ucap Charael pada Daeva.


Daeva melihat perawakan sosok di depannya itu yang sama sekali tidak berbeda dengan Ruri yang menemuinya saat dia kehilangan segalanya di masa lalu.


Tapi, karena mendengar sosok itu menyebut sang Cahaya, Daeva mulai mendengarkan ucapan dia meski Daeva masih belum tentu mempercayainya.


Perbincangan itu cukup panjang. Daeva mengerti dengan inti yang sosok itu jelaskan dengan panjang lebar.


"Sekarang, giliranku berbicara. Inti dari semua penjelasanmu ini adalah, kau memintaku untuk tetap berada disekitar Aosora Arthur?" Tanya Daeva.


Charael mengangguk dengan matanya yang berbinar.


"TSK! Bukankah sudah jelas bila tugasku usai setelah kematiannya?!" Tegas tanya Daeva sekali lagi.


Charael terlihat termenung sejenak. "Kau salah" Ucap Charael sambil duduk disebelah Daeva.


"Tugasmu lebih dari itu Titisan Pertama"


"Aosora Arthur tidak bisa mengetahui kebenaran dunia ini bila dia hanya berada dipihak lima titisan itu. Kau adalah kunci bagi pintu jalan Aosora Arthur. Dan Ruri adalah pintu yang menunggu Aosora Arthur untuk datang. Kau tidak bisa menemukan pintu itu bila tidak ada pihak lain yang memasangkan kunci dengan pintu itu. Setidaknya, kau paham dengan maksudku ini" Jelas Charael.


"Tugasmu, adalah membuka pandangan yang lebih luas"


"Tidak mungkin. Dia akan langsung membenciku" Sela Daeva.


"Kau salah. Aosora Arthur tidak seperti itu. Dia terpilih karena dia berbeda" Ucap Charael.


Daeva membayangkan Arthur yang berbeda. Namun, isi kepala Daeva tentang Arthur hanyalah tentang kekonyolannya.


"Apa yang beda dari bocah itu" Tanya Daeva dengan nada malasnya.


"Aosora Arthur sudah lahir sebelum kristal Titisan dibagi. Dan Kristal enam Titisan adalah pecahan dari Kristal murni Aosora Arthur yang lebih suci dari 13 Malaikat Agung. Ya, meski sekarang Malaikat Agungnya sisa 12~" Jelas Charael.


Daeva termenung mendengarnya.


"Ceritakan padaku tentang siapa Arthur itu sebenarnya?" Pinta Daeva.


Charael mengangkat bahunya. "Tidak bisa~ Aku tidak tau dengan pasti cerita itu. Yang tau tentang kisah masa lalu sebelum namanya menjadi Aosora Arthur itu, hanyalah Luciel dan Sang Cahaya" Jawab Charael.


Daeva menunjukkan ekspresi blo'onnya kepada Charael.


"Kau masih belum mendapatkan kepercayaannya huh?" Tanya Daeva.


"Tidak! Saat itu, aku terlalu muda untuk mengetahuinya" Elak Charael.


Daeva tersenyum kaku. "Percuma saja aku mendengarkan ucapannya. Dia sendiri tidak tau tentang kehidupan Arthur" Batin Daeva.


...----------------●●●----------------...


"KRREAAAKH"


Leher Ambareesh berbunyi saat dia telengkan ke kiri.


"Kenapa mereka mengikutiku?" Gumam Ambareesh sambil terus jalan ke depan. Tsuha tetap menyeimbangkan jalan Ambareesh di depannya.


"Hei, kemana kau akan pergi?" Tanya Tsuha dibelakang Ambareesh.


Sedikitpun, Ambareesh tidak menanggapi ucapan Tsuha. Meski begitu, dia tidak masalah apabila Tsuha ikut dengannya. Masalahnya sekarang, yang lain juga ikut bersama dengannya.


"Sialan" Umpat Ambareesh dalam batin. Dia menghentikan jalannya dan melihat ke arah mereka yang mengikutinya.


"Kenapa kalian mengikutiku?' Tanya Ambareesh sambil melihat semuanya.


Semua orang termasuk Razel menatap Tsuha.


"Hah?" Tsuha sendiri tidak tau alasannya mengikuti Ambareesh selain suruhan Ha nashi.


"Ak..." Tsuha termangun di tempat setelah sadar mengatakan tolol pada sosok yang bukan lagi Arthur.


Arnold yang mengikuti mereka dari belakang sudah bersiap mengeluarkan pedang mananya karena ucapan Tsuha. Dan Ha nashi, menahannya sambil menunjukkan senyumnya yang kaku.


Archie menepuk pundak Tsuha. Dia tau, apabila Tsuha hanya asal ceplos karena bingung harus berkata apa.


"Jangan diambil hati. Bocah ini, hanya tidak bisa mengeluarkan ucapan yang tepat. Kami mengikutimu, karena kami khawatir. Intinya, mari kembali ke markas bersama-sama" Archie menjelaskan maksud Tsuha.


Tsuha mendecih dan membuang wajahnya dengan rautnya yang tak bersemangat sedikitpun.


Ambareesh melihat Tsuha dengan seksama.


"Bagaimana caramu mengubah wujudmu?" Tanyanya pada Tsuha.


Tsuha tidak mengerti maksud Ambareesh. "Apa kau bertanya tentang kepribadianku?" Tanya Tsuha.


"Oh, kau tidak paham? Tidak masalah. Kau dan Putra Arnold boleh ikut denganku. Sisanya, terserah. Kalian bukan tanggung jawabku" Ucap Ambareesh sambil melepas beberapa kancing kemejanya karena sangat ketat.


Angel melihat celana Ambareesh yang terlihat sangat mencekik dibagian paha. "Itu pasti membuatnya tidak nyaman" Batin Angel sambil memeluk lengan Tsuha.


Tsuha menarik lengannya karena risih dengan bagian dada Angel yang terasa di lengannya dan dia memberikan tatapan datar serta polosnya pada Angel.


Angel hanya bisa tersenyum sambil mengosok tengkuknya.


Luxe menatap mereka berdua. "Mereka, apakah pasangan kekasih?" Tanyanya.


"Tidak. Hanya Angel yang suka dengan Tsuha. Dari sisi manapun, Tsuha itu tidak pernah tertarik dengan wanita. Apalagi, gadis berotot seperti Angel" Jawab Zack.


Val mendengar ucapan mereka. "Hmmm, meski begitu. Angel memiliki tubuh yang bagus. Wanita yang memiliki otot harusnya tidak memiliki dada. Tapi, Angel memiliki apa yang tidak mereka miliki" Val membatin sambil melihat tubuh Angel dari belakang.


Liebe terlihat meringis tipis.


"PACK!" Dia memukul pantat Val. Tentunya Val agak terkejut dengan serangan dadakan dari Liebe. "Apaan anj*r!" Tegas Val sambil mengosok pantatnya.


"Kau lagi berpikiran mesum kan? Hei. Ingat, kita sedang bertugas. Sampai-sampai kau melakukan hal tak senonoh, aku akan melaporkanmu agar level rankmu diturunkan" Ancam Liebe setengah bergurau.


"Apaan anj*r. Aku hanya memujinya" Jawab Val sambil membuang pandangannya.


Alder melihat mereka dari belakang.


"Baiklah, sekarang.... Giliran aku untuk menunggu Alfarellza. Wuuussshh" Alder kembali di wujud manusianya berupa Marsyal.


Dia terlihat mengeluarkan buku kecilnya dan mencatat sesuatu disana.


...----------------●●●----------------...


Di tempat Arthur....


"PLUNGGG!" Dia menenggelamkan dirinya yang merasuki tubuh anjing hutan.


Sakit


Sesak


Kerongkongan panas


Napas yang sesak dirasakan Arthur saat dia mulai tenggelam agar terbebas dari wadah itu.


Jiwa Arthur mulai keluar dari tubuh Anjing liar itu yang mulai mengapung di aliran sungai yang dalam namun tak berarus deras.


Arthur menatap langit yang gelap.


"Ha.... Padahal, aku baru saja menemukan tubuhku. Tapi, kenapa ada Archie disana? Lalu, siapa yang mengendalikan tubuh itu? Apa ada Iblis lain yang bersemayam disana? Sialan! Kenapa aku yang terlempar begini?" Tanya Arthur sambil membiarkan jiwanya hanyut.


Tiba-tiba, Arthur merasakan perasaan yang aneh. Ini adalah rasa kehilangan.


"Apa Ayah, Ibu, dan Kak Ram mengalami ini juga? Apa kami akan segera bertemu?" Tanya Arthur sekali lagi.


"Sialan!" Arthur menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang transparan. Dia masih bisa melihat langit gelap itu.


"Hah.... Pengen ngesedih, tapi ngerasa ngelawakin diri sendiri. Sialan emang"


Arthur tidak jadi merasa sedih karena prihatin dengan dirinya yang transparan.


...----------------●●●----------------...


ILUSTRASI KARAKTER DE LUCE ARCHIE.



Btw, Archie ganteng juga ya? [Berusaha sadar klo dia hanya fiksi]