The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 5 [Pembebasan]



Di dalam Hutan Telarang, Alder telah mengeluarkan bola sihirnya yang nampak seperti bola lampu yang melayang di udara.


Warna hijau Zamrud, terlihat sangat terang di gelapnya hutan karena pepohonan itu yang rimbun.


"Aku Alder Ren, atas izin Sang Cahaya, aku akan mengembalikan kalian semua, para Elf, pengikut setia Titisan. PATSH!"


Bola lampu yang melayang di udara itu langsung melebur menjadi deburan sihir yang melayang dan mengelilingi semua Serigala sihir yang telah berkumpul mengelilingi Alder dan Dean.


Daeva tak ingin ketinggalan dengan fenomena itu. Dia memperhatikan Alder dan Dean dari jarak yang tak jauh dari sana.


Cahaya hijau dan angin mengelilingi Serigala sihir. Kepala mereka perlahan membentuk menjadi wujud asli serigala sihir sebagai Elf.


Cahaya hijau itu, membebaskan juga tiga Serigala Sihir yang sedang berada di Markas Penyidik (Serigala Sihir yang di rawat oleh Pemberantas Iblis).


Mereka membelalakan matanya melihat keempat kakinya menjadi dua tangan dan dua kaki. Mereka dalam keadaan telanjang dengan segera mengambil dan mengenakan pakaian yang ada di sana.


Itulah mereka: Jaky, Jevi, Jine (Nama 3 Serigala Sihir yang muncul di Novel 1 chapter 37).


*Jaky memiliki badan tinggi tegap dan terlihat paling gagah diantara mereka bertiga.


Jevi adalah yang paling tenang diantara mereka dan Jevi memiliki luka ditelinga kanannya.


Kemudian, Jine adalah Srigala sihir yang tergalak diantara mereka.


"Ah, jadi Tuan Alder telah kembali, huh?" Tanya Jine sambil merenggangkan bahu dan lehernya hingga berbunyi.


Jevi melemparkan pakaian pada Jine. "Sepertinya begitu, Senior. Bagaimana rencana selanjutnya?" Tanya Jine sambil mengikat rambutnya yang panjang dan luka di kedua telinga Elfnya terlihat begitu jelas.


Jaky menunjukkan senyuman berkarismanya sambil mempertemukan kedua punggung tangannya.


"Bagaimana dengan penyusupan di istana Shinrin? Seperti yang kalian dengar dari anggota Guild ini. Bukankah, mereka telah menyatakan perang kepada Para Titisan?" Ucap Jaky sambil membelakangkan rambutnya.


Tanda segitiga hijau di kedua pelipisnya terlihat sama dengan milik Haraya dan Gabriel.


Jine menyeringai dengan lebar. "Ayo kita lakukan berdua. Jevi, kau kembali berkumpul dengan mereka yang ada di Hutan Sihir" Perintah Jine.


Jevi terlihat frustasi. Dia menghela napas ringan. "Maaf Senior. Hanya aku yang waras diantara kalian. Jadi, biarkan aku membantu kalian berdua" Ucap Jevi sambil melihat keluar jendela dan menggunakan wujud manusianya untuk melakukan penyusupan di Istana Shinrin.


"Hah?!" Urat di leher Jine terlihat dengan jelas. Dia tidak senang dengan Jevi yang tidak menurut dengannya.


"Senior, jangan lupakan ucapan Kanza untuk kalian. Aku adalah pemimpin di kelompok kecil ini. Ayo bergerak. CTASH!" Jevi melesat dan meninggalkan mereka berdua terlebih dahulu.


Jaky terkekeh ringan. "Adik kecil kita sudah dewasa~, ayo jangan lama-lama. Nanti ketinggalan. Ctash!"


----------------●●●----------------


"Saya sebenarnya agak terkejut karena tiba-tiba mendapatkan undangan ini. Padahal, Aokuma telah menolak ajakan untuk bersekutu ini" Ruri terus berbicara untuk memanas-manasi Arthur.


Arthur sungguh getam dengan Baal yang ternyata memiliki hubungan dengan Iblis, dia mengingkari ucapannya sendiri yang mengatakan kalau dirinya sangat membenci Iblis.


Dia terus mendengarkan ucapan Iblis yang dia antar itu.


"Ah, begitukah? Mengapa Aokuma menolak? Bukankah, artinya Aokuma telah membuang kesempatan baik untuk menjalin hubungan dengan Shinrin?" Tanya Arthur sambil membukakan pintu untuk Ruri.


"Kau pasti sudah tau. Ini karena Aokuma sedang mempersiapkan penobatan untuk Ratu kami. Ya, sekitar kurang 42 hari lagi" Jawab Ruri sambil merangkul Arthur dan mendekatkan bibirnya pada telinga Arthur.


"Kau...boleh kesana, Aosora Arthur" Bisik Ruri.


DEGH!


Sontak, Arthur langsung membelalakan matanya dan melihat Ruri di sebelahnya yang sedang tersenyum lebar padanya.


"BRUK!" Arthur mendorong dada Ruri.


"Maaf, aku bukan Aosora Arthur" Ucap Arthur sambil melihat Ruri yang hanya tersenyum lebar padanya.


"Tak perlu berbohong. Aku mengenalmu sangat baik, Arthur" Ruri menunjuk dada kiri Arthur.


Kening Arthur berkernyit. "Kau siapa?" Tanya Arthur yang bergitu mewaspadai keberadaan sosok di depannya saat ini.


Ruri menelengkan kepalanya ke kiri. "Tak penting untukku memperkenalkan diriku sekarang. Aku tidak memiliki banyak waktu. Bagaimana kalau, kau menyamar saja menjadi penjagaku agar bisa merusak pertemuan ini? Ya, anggap saja ini ucapan selamat datangku untukmu" Ucap Ruri sambil melemparkan tas yang dia bawa.


Arthur menangkap tas itu. "Untuk apa ini?" Tanya Arthur sambil melihat tas cokelat itu.


"Gunakan itu dan ikuti aku sekarang. Bersyukurlah karena kau memiliki warna rambut seperti rakyat Aokuma" Ruri tersenyum tipis melihat Arthur membuka tas itu.


Dia sudah menyiapkan segalanya karena dia percaya dengan Daeva yang selalu akan menjadi alatnya untuk mengontrol Arthur.


Ya, sebenarnya Ruri adalah pihak yang banyak memiliki untung. Sebab, apapun yang di rencanakan oleh Ruri selalu berhasil saat Daeva turun tangan.


"Inikah, kekuatan keberuntungan sang kunci Titisan?" Ruri menutu mulutnya untuk menyembunyikan seringaiannya.


Kini, Arthur telah memakai topeng berwarna putih dengan dua tanduk yang berada di kening topeng itu. Di topeng itu, memiliki coretan hitam di sisi kiri dengan pola kelopak mawar yang berhamburan dan bagian kanan yang memiliki garis di bawah mata.


Jubah yang di berikan oleh Ruri adalah jubah seragam Prajurit Keluarga Archduke Berly (Keluarga Steve). Di jubah itu, memiliki gambar kelopak mawar yang berhamburan yang di kelilingi oleh tangkai berduri mawar yang membentuk persegi enam.


"Ya, Arthur...." Arthur menegang dagu topeng yang di kenakan oleh Arthur. "Katakan padaku, kenapa kau mendatangi Shinrin?" Lanjut tanya Ruri sambil menatap mata Arthur yang lebih rendah darinya.


"Seperti yang kau katakan. Merusak pertemuan itu" Singkat Arthur.


"Dan...?" Ruri tidak percaya hanya satu hal itu saja.


"Mendapatkan kakakku" Jawab Arthur.


Ruri tersenyum dengan lebar dan merangkul Arthur untuk lanjut berjalan menuju tempat pertemuan. "Hei Arthur, kau tidak penasaran dengan namaku?" Tanya Ruri sambil berbisik kepada Arthur.


"Hah? Bukannkah kau berkata-"


"SHHHSS, Aku ArchDuke Berly Steve dari Keluarga Berly. Kalau ada orang yang menghentikanmu disini, gunakan namaku. Sekarang cari Putra Mahkota Aosora Bram. Aku memberimu waktu 15 menit. Kemudian tunggu aku di sini" Ruri melepaskan bahu Arthur saat melihat Baal muncul membelakanginya.


Arthur termenung di tempat. "Dia, Archduke?" Arthur terkejut karena mendengar gelar yang xjarang dia dengar. Tak biasanya gelar Archduke di gunakan di Negri ini.


"Yang Mulia Raja Agleer Baal, lama tidak bersua-" Ruri memainkan perannya sebagai Steve di hadapan Baal.


Arthur membungkukkan tubuhnya di belakang Ruri saat Baal melihat ke arahnya. Kemudian, dia pergi untuk mencari Bram.