
Mulut Bianca terngagah saat melihat Iblis ada dimana-mana. Ambareesh menutup kepala Bianca dengan tudung jubah Bianca.
"Apa kau bisa mengubah warna irimu"
Ambareesh khawatir warna unik dari iris Bianca akan menimbulkan diskriminasi dari disekitarnya. Dia tidak ingin Bianca mengalami hal yang sama dengannya.
Bianca tertawa. "Aku terlalu senang. Jadi, aku tidak bisa mengendalikannya" Jawab Bianca dengan wajah yang gemerlang.
Ekspresi Bianca benar-benar menyilaukan Ambareesh. Ambareesh menutup rapat tudung jubah Bianca.
"Jangan dibuka okey?" Ucap Ambareesh sambil menarik lengan Bianca untuk berbelanja.
Bianca menurut dan melihat ke tanah. Dia melihat alas kaki Ambareesh yang melangkah sejajar dengannya. Senyuman, mengembang di wajah Bianca.
Dia sangat menikmati, siang itu.
"Apa aku akan bisa terus seperti ini dengan Ambareesh? Haha, bila aku bisa, aku ingin sekali menghentikan waktu" Ucap batin Bianca.
Ambareesh menggunakan uang pribadinya untuk membeli dua karung kentang dan ikan kering.
"Apa ini jenis penyiksaan yang baru?" Tanya Penjaga muda yang ikut dengan Bianca melarikan diri dari tempat penelitian itu.
Dia sangat terkejut melihat kentang sebanyak itu.
Ambareesh meleparkan kantong berisi koin perak kepada penjaga muda itu. "Ambil kembali dan simpan sendiri. Biar aku yang membeli stok pangan. Aku akan sebulan sekali datanh kemari" Ucap Ambareesh sambil beranjak pergi.
Bianca menarik jubah Ambareesh yang senada dengannya.
"Istirahatlah disini dulu. Biar mereka mengenalmu juga" Pinta Bianca.
Sebenarnya, Ambareesh tidak ingin meninggalkan Bianca. Namun, insting Ambareesh mengatakan bila ada mata yang memperhatikannya sejak dia masuk ke dalam wilayah Iblis itu. Auranya terasa sama.
Ambareesh melepas tangan Bianca.
"Aku ada urusan dengan Akaiakuma yang harus ku selesaikan dengan cepat" Ambareesh berbohong.
Bianca melihat kembali wajah Ambareesh yang selalu berekspresi datar.
"Bolehkah aku memelukmu?" Tanya Bianca.
Ambareesh melapangkan kedua lengannya. Bianca memeluk Ambareesh dengan erat.
Penjaga disana, mengaruk tengkuknya. "Sebaiknya, aku masuk" Batinnya sambil mengangkat sekarung kentang di dekatnya.
Ambareesh mendekap Bianca sambil melihat penjaga muda itu.
"Ambareesh, datanglah kemari setiap minggu. Kalau sebulan sekali itu, terlalu lama" Ucap Bianca.
Ambareesh melihat ke sisi kanan. Dimana dia merasakan aura kuat yang masih memperhatikannya.
"Kalau aku belum kemari dalam jangka sebulan, berarti aku sedang sibuk bekerja. Saat itu terjadi, jangan biarkan seorang pun masuk ke gua itu. Walau itu teman-temanku" Ucap Ambareesh sambil melepas pelukannya.
Ambareesh pergi setelah mengatakan hal itu. Dan dia, tidak pernah muncul lagi baik itu satu bulan sekali.
Lagi-lagi, Bianca menunggu kedatangan Ambareesh untuk kembali menemuinya.
...----------------●●●----------------...
Langit yang gelap dan dikelilingi oleh pohon yang kering karena musim panas yang melanda sejak tiga tahun terakhir.
Ambareesh berjalan diantara kerumunan orang yang berkumpul.
Ini adalah bulan ke enam Ambareesh berada di Nekoma.
Walau sudah setengah tahun berada disini, dia tidak menemukan jejak Ken dan Raja Nekoma sedikitpun. Belial Ken, seolah hanya nama yang tidak memiliki tubuh.
Ambareesh mendatangi kerumunan itu, karena mendengar Raja Nekoma turun untuk membagikan pangan bagi rakyatnya.
Ambareesh di Nekoma hanya menjadi Prajurit yang menjaga Rumah ke-dua keluarga Azure.
Keluarga Azure adalah keluarga dari garis keturunan kedua Nekoma yang tidak bisa menjadi pewaris.
Ambareesh menyelinap diantara kerumunan itu untuk melihatnya dengan jelas.
Uluran tangan yang berkulit sawo matang, memberikan beberapa buah roti kering kepada anak kecil disana.
Rambutnya yang berwarna hitam dengan dua tanduk yang melintang kebelakang dan berbentuk spiral pada ujungnya, membuat seringaian muncul di wajah Ambareesh.
"Aku, menemukanmu" Lirih Ambareesh sambil memunculkan tanduknya untuk menghindari lonjakan energi sihir pada dirinya karena terlalu bersemangat.
Ken mengangkat pandangannya dan melihat mata Ambareesh.
"Mata merah itu, itu adalah mata Ibu"
Ambareesh mengeluarkan tatapan rendahnya pada Ken secara tidak sadar dan spontan.
Ken mengkernyitkan keningnya. "Bangsa apa dia?" Ken terkejut melihat tanduk di kening Ambareesh.
Dia, tidak menyadari bila dia adalah Ambareesh.
"Wajahnya, tidak asing" Ken kembali mengambil roti lain yang telah disiapkan. Dan dia memberikannya kepada Ambareesh.
"Apa-apaan ini? Apa semenyedihkan ini diriku di pandanganmu?" Ambareesh mengambilnya dan pergi tanpa mengucapkan terima kasih sedikitpun.
"Benar-benar bangsa yang tidak sopan" Batin Ken sambil melanjutkan kembali aktivitasnya.
Ambareesh tidak memakan roti itu. Dia memberikannya kepada anak-anak yang tidak bisa masuk ke dalam kerumunan itu.
"Eh? Bagaimana dengan kakak?" Tanya tiga anak-anak disana.
Ambareesh melihat mereka. "Aku akan mengambilnya kembali bila kalian bertanya lagi" Ucapan Ambareesh membuat tiga anak itu terkejut.
"Baik Kak! Terima kasih!" Mereka membungkukkan tubuh bersamaan.
Ambareesh kembali di posko penjagaannya.
"Hei darimana saja kau Arlo!"
Arlo adalah nama ganti Ambareesh disini. Dia, menggunakan trik yang sama dengan yang Ken lakukan.
Ambareesh menghilangkan tanduknya.
Dia, berusaha menghindari hubungan lebih akrab dengan sesama prajurit.
Langit semakin mengelap. Jam pergantian berjaga yang merupakan waktu istirahat bagi para Prajurit adalah kesempatan emas bagi Ambareesh.
Dia masuk ke dalam Istana utama dengan menggunakan stampel milik komandan keprajuritan gardu dua.
"Pfft! Padahal tanduk itu dulu berwarna maron" Ambareesh menertawakannya dalam batin.
Sosok itu melihat ke arah Ambareesh.
"Ada apa? Apa ada sesuatu yang perlu kau laporkan?" Suara Ken terdengar sangat serak seperti terlalu banyak berteriak.
Ken terbatuk beberapa kali. Dia menutup mulutnya dengan kain saat terbatuk.
Ambareesh memberikan salam terlebih dahulu pada Ken kemudian dia mendekat dan langsung duduk di depan Ken tanpa tanduk.
Ambareesh melihat dua botol alkohol berkadar tinggi di meja itu.
Malam itu, bulan bersinar dengan terang. Ken, membelalakan matanya saat melihat Ambareesh di depannya.
Ken meraih wajah Ambareesh dan memegang kedua pipi Ambareesh. "Ayah..." Mata Ken tiba-tiba berlinang.
Ambareesh menepis tangan kiri Ken pada pipi kanannya.
"Dimana Bella?" Ambareesh tidak suka basa basi.
Dia menatap wajah Ken dengan raut datarnya. Saat itu juga, ekspresi Ken berubah dratis.
"Aa... Kau... Ambareesh? Hah...? Bagaimana bisa...?"
Ken memegang kepalanya dan menarik rambut hitamnya. Dia terlihat seperti orang yang depresi.
Ken tiba-tiba menunduk dan mengigit kuku jari kanannya. "Aku pasti sedang berhalusinasi. Sadarlah. Ambareesh sudah mati. Iya kan? Aku sekarang sedang sendirian. Haha, kenapa dia mirip sekali dengan ayah" Ken mulai menggaruk wajah bagian kanannya.
Ambareesh membelakangkan posisi duduknya sambil melipat lengannya di dada. Dia merasa ada yang tidak beres dengan Ken.
Ambareesh mulai risih dengan suara garukan itu dan gumaman Ken. Wajah Ken mulai terluka karena garukannya sendiri.
Ambareesh menarik lengan kanan Ken. "Hei, apa yang sedang terjadi denganmu?" Ambareesh menyembuhkan wajah Ken yang terluka.
Ken mulai tertawa namun matanya terus berlinang. Dia memegang tangan kiri Ambareesh yang bersarung tangan hitam.
"Bila ini mimpi, biarkan aku merasakannya lebih lama lagi. Haha, apa benar ini kau adikku? Kau sudah bisa menggunakan sihir" Ken mengusap lengan Ambareesh dan menepuknya beberapa kali.
Ambareesh mengkatupkan giginya dengan kuat saat Ken memanggilnya sebagai 'adikku'.
Ken menarik lengan Ambareesh dan menepuk beberapa kali kepala Ambareesh yang berambut lebih putih.
"Apa aku sudah mati? Ini terasa begitu nyata. Rambutmu, lebih putih dari terakhir kali kita bertemu. Maafkan aku. Apa aku terlalu jahat padamu? Padahal, aku sangat menyayangimu dan ingin bermain denganmu sambil memamerkanmu pada teman-temanku. Haha, pasti mereka tidak akan ada yang percaya bila kau adalah adikku" Ken berdiri dan memeluk Ambareesh sambil mengusapnya.
Hati Ambareesh ingin meledak. Ambareesh ingin sekali membuang perasaan ini jauh-jauh.
"Kita selisih empat tahun. Ah, kalau kau hidup sampai sekarang berarti usiamu 21 tahun. Iya! 21 tahun! Ah, sekarang bulan ke-4. Kau lahir di bulan ke-3. Ini sudah telat. Benar! Ini sudah telat! Harusnya! Aku merayakannya sesekali denganmu!! TIDAK! TIDAK! TIDAK!"
Ken melepas pelukannya dan mundur beberapa langkah kemudian berjongkok sambil mengaruk kepalanya dengan keras.
"Orang ini, sudah tidak waras. Apa posisinya menjada Raja membuatnya gila?" Ambareesh melihat Ken tanpa ekspresi apapun. Wajahnya sangat datar.
"APA KAU MASIH MENGANGGAPKU SEBAGAI KAKAKMU SETELAH SEMUA INI TERJADI?! Ya, Ambareesh? Apa... Aku masih pantas kau panggil sebagai kakak?" Ken kembali berdiri dan memegang kedua bahu Ambareesh dengan kuat.
Ambareesh melihat mata Ken. Ken sudah sakit.
"Kau pasti akan sangat membenciku bila masih hidup. Kau tau! Sshh... tapi jangan bilang kesiapa-siapa. Ini janji kita" Ken berbisik pada Ambareesh.
"Ibu mati karena syok dan depresi setelah mendengar kematianmu yang bersamaan dengan matinya Paman Zen. Kau tau, kepala Paman Zen dijadikan tontonan dan ditusukkan pada atas dinding Istana Akaiakuma dan dibiarkan membusuk diatas sana. Katakan padaku! Apa menurutmu, aku bisa membunuh Raja Akaiakuma?" Tanya Ken sambil memegang pipi Ambareesh dan menempelkan keningnya pada kening Ambareesh.
"Dia mabuk? Ceroboh sekali" Ambareesh mencium aroma alkohol yang sangat kuat dari Ken. Dia membiarkan Ken berbicara hingga selesai.
"Lalu, apa kau tidak menanyakan kabar adikmu Bella? Atau, kau sudah bertemu dengannya di neraka itu?"
Ambareesh membelalakan matanya. "Iya, Bella di seret oleh Prajurit Akaiakuma dengan paksa. Bella yang tumbuh dengan cantik harus mati karena dia membela diri diusianya yang ke 13 tahun saat akan di perkosa oleh mereka. Darah Bella mengalir dengan deras dan aku tidak bisa menolongnya. Lalu, aku di tarik paksa oleh Raja Akaiakuma. Dia berjanji tidak akan membunuhku apabila aku menjadi prajuritnya. Tapi, apa kau tau? Dia membuangku disini. Tolong bunuh aku. Aku ingin mati dengan sihirmu" Ken melepas kepala Ambareesh dan dia mengusapnya perlahan.
Ken mundur pelahan dia diam sejenak saat melihat Ambareesh yang tidak berkata apapun. Ken meneteskan air matanya. Mata Ken terlihat menyipit.
"Katakan sesuatu. Jangan diam saja. Aku lelah harus melihat keluargaku dibunuh satu persatu. Disini, aku disiksa. Aku harus menikah dengan orang yang tidak ku cintai dan harus melihat tunanganku dibunuh hingga kerabat-kerabatnya oleh Nekoma. Katakan sesuatu, bisakah aku menghancurkan dua kerajaan ini?" Ken menarik kera pakaiannya sendiri.
Ambareesh tidak berkata apapun. Dia berdiri dan tidak melihat Ken sedikitpun. Dia melangkah untuk meninggalkan Ken.
Hati Ken hancur berantakan.
"Ambareesh! Apa kau akan membiarkanku sendirian? Apa kau akan meninggalkanku juga? Bisakah kau membunuhku untuk meredakan rasa bencimu?"
Ambareesh kehilangan segalanya saat mendengarkan cerita Ken.
Dia melihat Ken yang tengah menunggunya.
"Kau tidak sendirian. Pikirkan anakmu" Itu adalah ucapan yang dilontarkan Ambareesh pada Ken.
Ken terkekeh ringan. "Suaramu, berubah dengan drastis. Kau bahkan, lebih tinggi dariku. Dan apa kau menyarankanku untuk menjaga bocah itu?" Tanya Ken sambil berjalan ke arah Ambareesh.
Dia kembali memeluk Ambareesh dan mengusap rambut Ambareesh bagian tengkuk.
"Aku tidak kuat berada disini. Bocah itu akan aman karena dia adalah penerus Raja Nekoma. Wanita itu, hanya membutuhkanku untuk membuatnya hamil agar bisa mendapatkan penerusnya. Aku bahkan, tidak berhak untuk memeluk bocah itu. Bukankah aku sangat menyedikan" Ken sangat menempel pada Ambareesh. Ambareesh melihat ke arah langit.
"Ini adalah waktu sengangku. Karena mereka berdua sedang mengikuti acara jamuan bagi wanita-wanita berpangkat tinggi di pusat kota. Mari, minum bersama denganku" Ken melepas pelukannya dan memegang bahu kiri Ambareesh sambil membawanya untuk duduk.
Sebenarnya, Ambareesh kemari untuk membunuh Ken. Namun, dia merasa iba dengan kondisi Ken.
Ken menuangkan alkohol pada gelas miliknya dan memberikannya pada Ambareesh. "Minumlah".
Ambareesh sadar bila dirinya tidak bisa meminum alkohol. Alkohol hanya akan membuat adrenalinya naik dengan pesat dan membuatnya tidak bisa mengontrol mana miliknya. Ditambah lagi, Ambareesh tidak pernah meneguk setetes pun alkohol semasa hidupnya.
Ambareesh menerimanya kemudian membuang alkohol itu di dekat sepatunya saat mencari sela Ken.
Ken meletakkan kepalanya di atas meja.
"Kau tumbuh mirip seperti ayah. Ayo, segera selesaikan minummu lalu kita cari orang yang jualan ikan bakar diluar~ Aku akan membelajankannya untuk hadiah ulang tahunmu" Ken berdiri setelah mengatakannya. Dia berjalan perlahan dan hampir terjatuh karena hampir kehilangan keseimbangan.
"Sialan! Siapa yang membuat rumputnya bergelombang! Aku hampir terjatuh!" Tegas Ken sambil mendang angin.