
Ryu adalah nama asli dari Kyzelt Razel sebelum Nox menggantinya. Kyzelt Razel ditemukan oleh Nox saat Razel berusia 11 tahun. Razel tidak berasal dari Aosora, Shinrin, Meganstria, ataupun Narai. Razel berasal dari perbatasan Nekoma dan Akaiakuma.
Dia tinggal bersama Ibunya di sebuah Goa yang digali oleh Ibunya sendiri. Ibu Razel adalah seorang keturunan campuran antara Siluman Naga dengan Iblis. Sedangkan Ayah Razel adalah seorang Prajurit Shinrin yang berbangsa Manusia murni.
Kita Flashback 13 tahun yang lalu. Saat Razel berusia 11 tahun.
CTACK!
CTACK!
CTACK!
Suara potongan dari arah dapur selalu menjadi suara favorit seorang anak laki-laki yang baru terbangun dari tidurnya. Anak laki-laki yang memiliki rambut panjang seperti anak perempuan dan memiliki posisi hingga menutup matanya, menunjukkan senyumannya yang lebar. Dia berlari menuju suara itu.
GREP!
Pelukan kecil selalu diberikan darinya kepada sosok yang tengah memotong sayur itu.
"Ryu, mandi sana. Ayah akan datang untuk mampir" Perempuan berambut hitam dengan mata merah dan memiliki tiga sisik di pipi kirinya serta dua tanduk kecil di keningnya yang tumpul, itu adalah Ibu Razel.
"Ayah? Akan pulang?"
Hati kecil Razel begitu senang mendengarnya. Dia girang dan langsung berlari keluar goa untuk mandi di sungai sebelah goa.
Razel memiliki wujud 100% seperti manusia, namun dia mewarisi sihir dari keturunan Siluman Naga.
Ayah Razel terkadang menemui Razel hanya dua kali dalam setahun atau menemui mereka hanya saat memiliki tugas menjaga perbatasan Nekoma yang merupakan Prajurit utusan Shinrin untuk membantu Aosora. Secara sistematis, Ayah Razel adalah ORANG KEPERCAYAAN SHINRIN.
Orang yang memegang sebutan tersebut, tidak diperbolehkan menikah hingga usia mereka mengijak 35 tahun. Dengan alasan, akan memperhambat tugas mereka sebagai orang kepercayaan. Dan Ayah Razel menjalin hubungan gelap dengan Ibunya Razel yang telah menolongnya saat dirinya hampir mati setelah Iblis menyerangnya.
Razel telah selesai mandi dan dia membantu Ibunya memasak. Sejak kecil, memasak adalah hobi Razel begitu pula dengan menjahit. Sebab, Razel selalu takjub melihat Ibunya yang selalu membuatkan pakaian untuknya dari tangannya sendiri.
Makanan telah dihidangkan. Razel dan Ibunya menunggu kedatangan sosok yang telah lama belum mereka temui. Kali ini, Ayah Razel akan pulang setelah satu setengah tahun tidak menjenguk mereka.
Ibu Razel menatap putranya yang terus menoleh ke arah luar goa.
"Ryu, sepertinya Ayah akan datang nanti sore. Ibu akhir-akhir ini sering lupa ya... Ayo dimakan dulu"
Ibu Razel berbohong tentang kedatangan Suaminya nanti sore. Dia sudah membaca berulang kali surat yang diberikan suaminya yang tertulis akan datang di tanggal ini di Pagi hari saat mereka sarapan. Dan dia menjanjikan sarapan bersama untuk mengejutkan Razel.
Razel menoleh ke arah Ibunya. "Hihi, Ibu pasti terlalu senang karena kedatangan Ayah kan?" Razel selalu ceria kepada Ibunya.
Ibu Razel terkekeh dia menyentuh pipinya sendiri. "Haha, Ibu jadi malu" Ucap Ibunya Razel sambil melihat Putranya itu.
"Baiklah! Nanti kita buat kue untuk Ayah!" Tegas Razel sambil menyantap makanan di hadapannya yang hampir dingin.
Hati Ibu Razel terasa nyilu melihat wajah Putranya yang telah dia bohongi. Namun, tidak ada yang bisa dia lakukan selain membohongi Razel. Dia menyadari tugas Suaminya yang berat dan mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi Aosora dan Shinrin. Dan tentunya, Suaminya akan datang disaat rekan-rekannya lengah.
Sore hari, kue itu telah jadi. Razel membuatnya dan dibantu oleh Ibunya sejak mereka menyelesaikan makan siang mereka.
Razel kini berdiri di ambang pintu keluar goa yang terbuat dari kayu. Dia terus menunggu hingga langit mulai memerah dan menggelap.
Ayahnya tak kunjung datang.
"Ibu, seperti Ayah masih belum kesini. Apa Ayah sangat sibuk ya?" Razel bertanya kepada Ibunya yang memegang surat dari Ayahnya itu.
Ibu Razel kembali tersenyum tipis. "Sepertinya, Ayah sedang melawan monster besar untuk kemari. Ayo duduk sini. Di luar mulai dingin" Ibu Razel memberikan minuman hangat kepada Putranya.
"He'em"
Semuanya, terjadi tanpa terduga dan tentunya karena Ayah Razel memiliki banyak sekali orang yang tidak menyukainya atas prestasi yang telah dia dapatkan selama menjadi Prajurit, serta orang Kepercayaan Shinrin. Sehingga, pihak atas mendengar itu dan mengutus sosok pengeksekusi untuk menyelidiki dan sekaligus menyelesaikan semuanya secara rahasia.
Dia tidak sadar telah di ikuti oleh sosok yang menginginkan posisinya.
TOCK!
TOCK!
TOCK!
Suara ketukan pintu menghilangkan kesunyian malam dimana Razel hampir saja tertidur karena telah lama menunggu Ayahnya.
Ibu Razel menyentuh dadanya. Dia hampir menyerah karena keterlambatan Suaminya yang membuat Putranya kehilangan semangat untuk beberapa menit yang lalu.
"Apa itu Ayah?" Tanya Razel sambil berdiri dan mengitari Ibunya yang baru bangkit dari duduknya.
Ibu Razel mengangguk tipis.
"Biar aku yang membuka pintu" Pinta Razel dengan kaki jingkrak-jingkrak karena senang.
Namun, saat Razel berjalan setengah berlari, Ibu Razel merasakan ada dua aura dari balik pintu itu. Dia berlari dan meraih tangan Razel yang hampir menyentuh pintu.
"Kenapa bu?" Tanya Razel sambil melihat mata Ibunya yang berubah menjadi Kuning keemasan setelah merah.
Pupil mata ibunya, terlihat jelas berbentuk oval.
"Sembunyikan auramu dan masuk ke dalam" Mata itu bisa melihat aura dan hawa panas dari tubuh menembus apapun yang ada di hadapannya.
Jantung Razel seolah hampir copot karena dia terkejut untuk pertama kalinya melihat mata Ibunya yang berubah dan tiga sisik di pipi kirinya melebar hingga menutupi sebagian wajah kirinya.
"Yang mengetuk pintu bukan Ayah?" Tanya Razel sambil mundur ke belakang.
"Ryu, lari keluar dari rumah lewati jalan dari bawah goa. Ayahmu akan menyelamatkanmu" Ibunya Razel sudah bersiap mengeluarkan sihir setelah mencium aroma darah dan aura suaminya secara bersamaan.
"Tapi, Ibu..."
BRAKKKK!!!!
Pintu dari kayu itu di dobrak oleh sosok itu.
Mata Razel dan Ibunya terbelalak saat melihat sosok itu datang dengan menyeret rambut Ayahnya Razel. Tubuh Ayahnya Razel bersimbah darah.
"AYAH!/XYO!" Anak dan Ibu itu berteriak memanggilnya karena terkejut.
Pria itu membungkukkan badannya dan menatap wanita itu sambil berkata "Selamat Malam, hilangkan sihirmu dan serahkan Putramu untuk Shinrin"
"RYU!"
DRAP!
Dengan sigap, Razel segera berlari setelah Ibunya meneriakkan namanya.
"Loh? Mau kemana?" Pria itu berdiri dengan tegak dan mengosok tengkuknya. "Hah... Padahal aku tidak berniat membunuhmu dan anak itu. Apa boleh buat? Dengan begini, kau pasti akan mengatakan, lawan aku terlebih dahulu kan? Ah, klise banget~ CRAT!" Pria itu hanya mengibaskan tangan kanannya dan tubuh wanita itu langsung terbelah tanpa banyak bicara.
Mata Ibu Razel terbelalak ringan dan air mata keluar dari matanya yang kemudian bertatapan kosong.
Pria itu membopong tubuh Ayah Razel yang tak berdaya dan pergi keluar sambil merasakan aura milik Razel.
DRAP!
JUMP!
Razel terus berlari dan melompati dahan kayu yang roboh kemudian "SROOOKKKKK!!!! BYUR!!" Dia terperosok karena tanah yang dia injak gembur dan menurun. Razel langsung tercebur di aliran air Danau Harapan yang dingin.
Pria itu tiba-tiba muncul di hadapan Razel.
"Tak ada gunanya kau berlari dariku. Aku memiliki mata yang bagus dari makhluk seperti kalian"
Razel mendongakkan kepalanya untuk melihat mata pria itu. Mata kiri Pria itu berwarna biru dengan pupil merah. Namun, mata kanannya tidak terlihat karena tertutupi oleh poni rambutnya yang hanya sebelah.
Razel sungguh takut merasakan aura sosok itu. Seolah, sosok itu memiliki sesuatu yang besar dan mampu menutupi segalanya dengan sesuatu itu yang ada di punggungnya.
Razel mengeluarkan pedang mananya yang berwarna hitam dari bawah air kemudian. "Crat!" Dia berdiri dan menghunuskan pedangnya dengan cepat hingga mengores lengan kiri pria itu dan merobek kain di lengannya.
Darah pria itu menetes dan dengan cepat pria itu menangkap darahnya sendiri yang hampir mengenai air Danau Harapan dengan tangan kanannya.
"Hah! Kau orang ke dua yang berhasil membuatku meneteskan darah. Serahkan dirimu dan aku tidak akan membunuhmu hanya karena kesalahan Ayahmu yang mengugurkan tanggung jawabnya" Pria itu mengulurkan tangannya kepada Razel.
Razel tidak bisa menggerakkan tubuhnya setelah melihat darah pria itu yang di tangkap kembali pada luka goresan yang Razel buat. Racun yang terdapat di mana Razel, tidak mempengaruhi sosok itu.
Razel sangat ketakutan. Namun, saat itu Razel sangat beruntung karena tidak menerima jabatan tangan sosok itu.
"Tuan Ciel! Kami terkejut karena Anda tiba-tiba berlari. Guru Nox hampir diamuk oleh Ayahnya karena An-" Dia adalah Nel. Anak angkat Nox yang berasal dari Aosora dan tengah ikut dengan Nox untuk bersenang-senang dengan Prajurit yang lain.
Pria berpupil berbeda itu adalah Ciel, yang di ceritakan di Novel Pertama sebagai Guru Aosora Arthur setelah Nox.
Racun yang dikeluarkan oleh pedang mana Razel langsung dimurnikan karena sihir milik Ciel yang selalu aktif.
Razel mampu menggunakan Pedang mananya karena keberadaan Ciel yang membuat sekitarnya yang menonaktifkan segala penghambat energi mana untuk mengeluarkan sihirnya.
Razel hanya beruntung dan dia bukanlah orang yang Spesial yang mampu menggunakan sihirnya sesuka hatinya di Hutan Terlarang.
Pedang Mana Razel langsung menghilang saat kehadiran Nel.
Nel menoleh ke arah Ciel sambil menyipitkan matanya.
"Tunggu! Apa yang kau pikirkan?" Tanya Ciel sambil mengkernyitkan keningnya.
"GURU NOX! TUAN CIEL MAU MEMPERKOSA ANAK KECIL!!!" Teriak Nel dengan kencang dan membuat Nox datang dengan terburu.
Nox datang dan langsung mengangkat Razel. Nox dan Nel memiliki pikiran yang sama. Mereka pikir, Razel adalah seorang anak perempuan.
Nox langsung menoleh ke arah Ciel dengan tatapan yang sama dengan Nel.
"Jangan pikirkan yang aneh-aneh! Anak itu laki-laki dan dia Putra dari Xyo" Ucap Ciel sambil menunjuk pria yang dia lukai karena melawan.
"Eh!? Laki-laki?!" Nox dan Nel sangat terkejut mendengarnya.
"Hah! Kalian berdua kenapa selalu mengangguku saat menjalankan misi!?" Ciel memberantakkan rambutnya yang putih kemudian dia mengenakan kacamatanya yang ada di kantung dada kanannya.
"Kenapa kau masih mempertahankan posisimu menjadi pengeksekusi? Aku tidak akan membiarkanmu membunuh bocah ini dan Tuan Xyo itu" Tegas Nox yang diangguki oleh Nel.
"Ya, aku akan berhenti setelah Putra Kedua Aosora dari Raja keempat terlahir" Ucap Ciel sambil melipat lengannya di depan dada.
"PFFT! Tidak mungkin Naver memiliki anak kedua. Sejak dulu, Aosora itu sudah ditakdirkan hanya memiliki satu keturunan dan itupun akan langsung menjadi pewaris Aosora yang berikutnya" Jelas Nox sambil membelalakangkan dan merapikan rambut Razel yang panjang.
"Siapa namamu?" Tanya Nel sambil duduk di sebelah Razel.
"Ryu" Jawab Razel.
"Apa anak ini termasuk dalam misi eksekusimu?" Tanya Nox secara diam-diam kepada Ciel.
"Dia adalah pengecualian. Dia tidak akan dieksekusi kalau dia mau mengabdi kepada Shinrin" Jawab Ciel sambil melihat Razel.
"Apa pihak teratas sudah mengetahui keberadaannya?"
"Tentu saja tidak" Jawab Ciel dengan cepat.
"Kalau begitu, aku akan mengambil anak ini dan rahasiakan keberadaannya. Aku yakin, kalau kau memiliki pegangan yang teguh terhadap keadilan. Dia tidak bersalah sedikitpun. Ini adalah kesalahan Ayahnya dan aku sangat yakin kalau kau sudah membunuh Ibunya juga" Ucap Nox kepada Ciel.
"Itu tidak mudah. Kau tau kan? Aku tidak akan melakukannya dengan cuma-cuma?" Tanya Ciel sambil meringis kepada Nox.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Nox dengan memberi tatapan yakin kepada Ciel.
"Aku tidak menginginkannya sekarang. Mungkin ini membutuhkan waktu 4 hingga 10 tahun. Ya, aku ingin kau membuat sebuah Guild di Shinrin dan kumpulkan anak seperti dia baik dari Iblis ataupun Siluman. Suatu saat nanti, biarkan keturunan Aosora berada di guild itu. Guild itu, akan menjadi tempat teraman untuknya" Jelas Ciel sambil menggerakkan tangannya kepada Nox.
Nox terkekeh.
"Aku tidak pernah menyangka kau ternyata sebaik ini Ciel. Kau seperti orang yang sudah melihat masa depan. Lagipula, Keturunan Aosora tidak akan pernah bergabung dengan Guild di Shinrin. Tapi, baiklah. Aku menerimanya." Nox menjabat tangan Ciel.
"Kau tidak boleh menariknya lagi ya" Ucap Nox untuk meyakinkan Ciel.
"Hadeh, iya-iya" Jawab Ciel sambil membuang wajahnya dan menepis tangan Nox yang ingin berjabatan.