The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 3 [Aoelabi Darla]



Beberapa saat yang lalu, Ambareesh telah membeli seorang budak yang merupakan warga Shinrin yang tersesat saat terjadi pemberontakan antara warga dengan prajurit Shinrin.


Gadis itu, bercerita kepada Ambareesh dan orang-orang disana. Kondisi Shinrin, lebih buruk dari sebelumnya setelah, pemerintahan Shinrin memunculkan peraturan baru. Dimana, Shinrin mewajibkan semua laki-laki asli Shinrin (Baik secara keturunan maupun, lahir dari Shinrin) untuk menjadi Prajurit Shinrin dan menaikkan pajak tanah Shinrin untuk persiapan perluasan wilayah Shinrin dengan melakukan penyerangan wilayah Nekoma setelah mendengarkan kabar apabila Nekoma tidak diduduki oleh pewaris yang sebenarnya.


"Kalau begitu, bagaimana dengan Aosora?" Arthur dan Archie bertanya bersamaan.


Ah, Arthur terkejut apabila Archie mengatakam hal yang sama dengannya.


"Sa.. saya tidak tau. Tapi, rumor mengatakan kalau kekosongan Aosora, Yang Mulia Raja Agleer tidak mengizinkan Aosora berada di pimpinan saudara Raja ke-3. Singkatnya, Aosora kini berada di tangan Shinrin sepenuhnya selama masa pencarian Putra Mahkota Aosora yang dinyatakan menghilang" Jelas gadis itu.


Archie menghela napas panjang. "Kenapa dari dulu, Shinrin menjadi tempat yang banyak tingkah?! Lalu, siapa namamu?" Tanya Archie pada gadis itu.


Tsuha dan yang lain hanya mendengarkan mereka berdua mengobrol termasuk Ambareesh yang belum melepaskan sihir kontraknya.


"Aoelabi Darla"


"Olabi?" Nama itu sulit di sebutkan hanya dengan sekali. Tsuha sendiri, kaget dengan nama sesulit itu.


"Aoelabi (Eulabi>cara bacanya)" Jawab Tsuha sambil menepuk punggung Archie.


"Nama panggilanku, Ela. Kalian bisa memanggilnya itu" Jelas gadia itu sambil tersenyum di depan api unggun.


"Wah, itu nama yang bagus" Shera memuji Ela sambil merapikan rambut Ela.


"Ela? Padahal lebih bagus dipanggil Darla" Batin Tsuha tanpa pikir panjang dan mengalihkan pandangannya melihat Ambareesh yang terus memperhatikannya.


"Ya, Kakak Elf bisa panggil sesuka kakak saja" Gadis itu memiliki kelebihan yang jarang dimiliki orang lain.


Tsuha terbelalak. Dia terkejut dan melihat gadis itu. "Kau, bisa mendengar batinan?" Tanya Tsuha padanya.


Ambareesh dan yang lain terkejut mendengarnya. Luxe yang dari tadi diam, langsung mengkernyitkan keningnya. Saat gadis itu mengangguk.


"Tapi, saya tidak bisa mendengar suara batinan Putra Mahkota Aosora dan Kakak itu" Ela menunjuk Luxe dengan santai.


Luxe langsung berdiri. "Kau dari keturunan mana?" Itulah yang Luxe katakan setelah dia diam sekian lamanya.


"Apa maksudmu, bocah?" Archie sedikit tidak suka dengan tingkah Luxe yang semakin abu-abu akhir-akhir ini.


"Ah, lupakan saja! Aku akan istirahat terlebih dahulu. Bangunkan aku saat waktuku berjaga. TEP!" Luxe mengatakannya sambil memanjat pohon besar untuk dia tiduri.


Ambareesh mulai mencurigai sosok Luxe yang sebenarnya. Banyak kejanggalan yang terjadi dengan Luxe saat berada disekitarnya. Dan Liebe, lebih banyak diam serta selalu mewaspadai kehadiran Luxe saat berada di sekitarnya.


Ambareesh kembali melihat Ela yang mulai akrab dengan Pemuda Pemberantas Iblis. Liebe terlihat antusias dari sebelumnya dan mereka mulai menebak isi batin untuk permainan baru mereka.


"Nah, Ela! Apa yang ada di pikiran Tsuha sekarang?" Archie merangkul Tsuha. "CIH! APA YANG KAU KATAKAN?! Jangan pernah membaca isi batinku! Itu memalukan!" Tegas Tsuha sambil melempar lengan Archie pada bahunya.


Ela hanya tertawa karena ucapan Tsuha selaras dengan batinannya.


...----------------●●●----------------...


Pagi hari, Ambareesh terbangun dari tidurnya dan melihat Luxe tengah memperhatikan wajah Ela.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Ambareesh sambil merapikan rambutnya.


Luxe duduk disebelah Ela yang tertidur. "Aku kasihan dengannya. Mari cepat menyelesaikan urusan di Nekoma dan mengantarnya pulang" Sebenarnya, Luxe tidak bermaksud buruk kepada Ela. Ambareesh bisa merasakannya.


"Apa kau mengenal gadis itu?"


"Tidak. Akan lebih baik kalau dia dikembalikan sebelum banyak hal yang membuatnya tidak bisa terlepas dari kita" Jelas Luxe.


Sebenarnya, Ela telah terbangun sejak Luxe memperhatikannya. Dia juga mendengar ucapan Luxe barusan. Ibu dan Kakak Ela telah terbunuh oleh Siluman saat mereka bertiga berusaha melarikan diri dari kejaran Prajurit Shinrin yang mengejar Kakaknya.


Ela, tidak memiliki rumah untuk pulang.


Ela menahan air matanya dan memilih tidak bercerita kepada mereka.


Tsuha datang sambil mengosok rambut cokelatnya yang sedikit basah setelah mandi di sungai belakang tenda mereka istirahat.


"Kak, kau tidak mandi? Wakil Razel dan Kak Shera hampir menyelesaikan masakannya. Biar aku yang menjaganya selagi dia tertidur" Ucap Tsuha sambil meletakkan jubahnya yang dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya di ranting.


Ambareesh melihat telinga Tsuha semakin meruncing dan bentuk rahang Tsuha lebih tegas dari sebelumnya.


"Itu ejekan atau pujian?" Lirih Tsuha sambil menatap tajam ke depan dan melipat kedua lengannya di depan dada.


"Dia itu, memujimu. Aku tinggal juga" Luxe mengikuti Ambareesh untuk ikut mandi bersama.


"Hah... Aku tidak berbicara denganmu" Guman Tsuha sambil duduk dan mengeluarkan buku tentang sihir untuk pelajarannya lebih lanjut.


Ela duduk setelah Luxe meninggalkannya. Dia melihat wajah Tsuha yang lebih jelas daripada sebelumnya. Dia terpesona dengan ketampanan wajah Tsuha dan tidak sadar telah menatap Tsuha.


"Kenapa?" Itu adalah pertanyaan Tsuha kepada Ela.


"Kau membaca pikiranku lagi? Tenang saja, isinya buku sihir semua" Lanjut jelas Tsuha kepada Ela.


"Akh, tidak! Sa.. saya tidak bermaksud untuk membaca pikiran Kakak" Ela sangat formal kepada Tsuha dan yang lain.


"Jangan terlalu formal seperti itu. Bersikaplah santai agar kau lebih nyaman" Ucap Tsuha kepada Ela kemudian, dia lanjut membaca lagi.


Ela menundukkan pandangannya. Dia berfikir, Tsuha tidak menyukainya. Dia merasa tidak enak terhadap Tsuha yang telah membopongnya tadi malam.


Tsuha melirik Ela. Dia berfikir, mungkin ucapannya akan terdengar buruk pada pendengar Ela. Padahal, dia berniat bercanda.


"Kenapa sesulit ini, untuk menjadi aku?" Lirih Tsuha sambil menutup bukunya.


"Kemarilah" Tsuha menyuruh Ela untuk duduk di depannya lebih dekat. Ela menurut.


"Apa bakatmu?" Tujuan Tsuha menanyakan bakat Ela adalah untuk perlindungan Ela sendiri.


"Heal" Jawab Ela dengan lirih.


"Heal? Heal seperti bagaimana?"


"Penyembuhan, pengaliran mana, dan mentransfer mana. Ah, A..aku juga bisa berpedang sedikit!" Jelas Ela.


Itu adalah sihir yang bagus. Ada kemungkinan besar kalau Ela akan berada di tempat Tsuha untuk berjaga-jaga. Sebab, Archie akan kembali ke dalam tubuh Ambareesh untuk sementara waktu.


"Berapa banyak orang yang bisa kau heal dalam waktu bersamaan?"


"6-7 Orang. Tapi, tergantung juga dengan kapasitas energi sihir yang kumiliki kak. Kadang kalau selesai mengheal, tubuhku akan mati rasa kalau terlalu diforsir. Oleh karena itu, aku membatasinya sesuai kemapuanku kak" Jawabnya.


"Begitukah? Lalu, apa saja yang kau alami saat bakatmu bisa mendengar batinan itu? Apa tidak bising?"


Ela serasa di interview sebelum kerja. Tapi, dia senang karena jarang ada yang bertanya seperti itu.


"Berisik sekali kak. Kadang, aku menangis karena suara itu sangat besar. Aku lebih menyukai suara lirihan daripada batinan. Kalau suara lirihan, kadang tidak bisa kudengar kak. Tapi, kalau batinan, itu hampir seperti suara orang normal untuk dikeluarkannya. Jadi, itu lebih berisik" Jelas Ela kepada Tsuha.


Tsuha pernah berada diposisi tidak bisa menatap wajah orang lain dan tidak berani berada di tempat keramaian. Dia mulai terbuka kepada Ela untuk hal ini.


"Itu pasti sangat sulit. Ya, beruntung karena kau bisa mengeluarkan air matamu. Itu, sedikit membuatmu merasa lega" Ucap Tsuha.


Saat ini, Tsuha berada di ambang kebingungan untuk berbicara topik baru.


Ela tertawa, setelah melihat wajah Tsuha yang termangun sejenak.


"Kak Tsuha, orangnya emang lucu ya? Ngomong-ngomong, berapa usia kakak?"


"Mau 18. Kau sendiri?"


Tsuha memanglah orang yang kaku dan kadang berusaha sendiri untuk menemukan topik baru hingga membuatnya terlihat sedikit aneh.


"15 kak. Mau 16. Oh iya, lalu Putra Mahkota Aosora itu memang setinggi itu ya?" Tanya Ela.


"Sebenarnya, dia bukan Putra Mahkota Aosora Arthur. Dia, Kak Ambareesh. Putra Mahkota Aosora Arthur dengannya adalah orang yang berbeda dan Putra Mahkota Arthur sedang berada jauh dari sini" Tsuha tersenyun tipis menjawabnya.


...----------------●●●----------------...


Bonus Ilustrasi ESTELLE TSUHA