
Arthur berhenti sejenak menuju tempat yang sunyi. Dia memejamkan kedua matanya dengan dalam. Dia menarik napas dan mulai memfokuskan dirinya untuk merasakan mana orang-orang di sekitarnya untuk menemukan Bram.
Pandangan yang gelap, mulai menujukkan percikan mana yang berkumpul di sekeliling Arthur kemudian membentuk benang-benang tipis yang mengarah pada dada kirinya.
Ini adalah teknik penyerapan Mana Milik Aosora Arthur.
Arthur mencoba memanfaatkannya dalam mencari mana Bram.
Arthur dapat melihat banyak benang mana yang terhubung dengannya. Namun, hanya ada satu benang mana yang berbeda dari yang lain.
Arthur tak asing dengan rasa nyaman dan dingin mana itu.
Ya, bukan itu tujuan Arthur saat ini. Dia tetap memprioritaskan mencari Bram.
"Ketemu!" Arthur membuka matanya dan langsung melihat ke sisi baratnya.
Mana Bram memiliki warna yang lebih pekat dari bangsa Malikat. Dan aroma mana Bram lebih manis seperti aroma rumput di pagi hari.
Dari balik topeng, Arthur tersenyum dengan lebar. Dia berlari menuju mana milik Bram dengan bersemangat.
"Apa maksud ucapanmu? Arthur tidak mungkin menjadi penyebab Meganstria di tangan Titisan. Menyingkirlah" Suara dari balik tembok itu, sungguh tak asing di telinga Arthur. Itu adalah suara yang sangat dia rindukan.
Arthur berdiri di dekat jendela tembok itu berada.
"Kak Bram! Percaya padaku. Arthur itu, sungguh berada di pihak Titisan. Di dalam dirinya sendiri ada Iblis bernama Archie yang keturunan De luce. Bukankah itu sudah jelas? Kalau Arthur itu-"
"Bryan, kau dan keluargamu tidak berhak mengatakan apapun tentang adikku. Aku dengan jelas, mengetahui kalau Malam itu, keluargamulah yang mengutus Iblis itu" Arthur menyaksikan Aosora Bram yang terkenal dengan ketenangan dan keramahannya tiba-tiba memberikan tatapan rendah dan sinis kepada saudaranya sendiri.
Hati kecil Arthur sebenarnya cukup sedih melihat kakaknya yang kembali dengan pipi yang lebih tirus dari sebelumnya.
Arthur ingin segera memeluk dan mengobrol dengan Kakak yang sangat dia rindukan. Sosok yang menghilang hampir setengah tahun, saat insiden pembantaian Keluarga Raja Aosora.
Kehadiran Arthur tercium oleh Bram. Bram menoleh ke arahnya.
Kening Bram berkenyit saat melihat tanduk buatan pada topeng itu.
Bram kembali memberikan tatapan sinisnya kepada Bryan.
"Ku harap, kau tidak muncul lagi di hadapanku. Begitu juga Ayahmu. Saat Aosora di tanganku kembali, bersiaplah. Aku akan mencabut gelar Baron dari Ayahmu" Ucap Bram sambil meninggalkan Bryan disana.
Iris Bryan bergetar. Dia sungguh takut akan kuasa Bram yang akan menjadi Raja Aosora yang berikutnya.
"Sialan, lebih baik dia cepat mati saja" Lirih Bryan dan perlahan dia melihat ke arah Arthur yang ikut mendengar lirihannya itu.
Andai saja Arthue tak mengenakan topeng, mungkin Bryan akan melihat wajah murka Arthur. Namun, Arthur tetap dalam postur tubuh yang tenang.
Dia mengusap tengkuknya.
"Obrolan yang bagus" Ucap Arthur sambil melompati jendela itu untuk masuk.
Kening Bryan berkernyit. Dia menarik kera jubah Arthur saat setelah Arthur turun dari jendela. Tatapan tajam diberikan oleh Bryan kepada Arthur.
Iris ice blue terlihat jelas oleh Bryan. "Bajingan, kau hanya makhluk rendahan dan hama penganggu yang merusak. Menyingkir dari hadapanku. DAGH!" Bryan mendorong Arthur hingga punggung Arthur sedikit terhantuk kosen jendela kayu itu.
Arthur menahan tawanya di balik topeng itu.
Suara tahanan tawa Arthur terdengar meremehkan di telinga Bryan. "Sialan, apa yang luc-" Belum usai Bryan menyelesaikan pertanyaannya, wajah Arthur yang bertopeng telah ada di hadapan Bryan.
"Hama sepertimu, tak layak mengatakan hal itu padaku. Kau hanya besar mulut, Bryan" Bryan dapat melihat sosok di hadapannya itu tengah menyipitkan matanya padanya.
"Mari bertaruh, siapa yang akan menang di akhir. Aku atau Kau?" Tanya Arthur sambil melepaskan dagu Bryan kemudian mengangkat kedua tangannya setinggi bahu.
"Ya~ Ya~ mungkin sekarang kau aman karena berada di Shinrin. Tapi,..." Arthur menurunkan kedua tangannya yang dia angkat.
"Takdirmu adalah mati di tanganku. Tunggulah hingga aku menjemputmu" Arthur berjalan melewati Bryan yang termangun di tempat sambil melambaikan tangannya.
Bryan dengan cepat sadar kalau sosok di hadapannya itu mulai pergi. "Hei! Siapa kau?" Tanya Bryan dengan nada yang lantang.
"Apa itu penting?" Balas tanya Arthur tanpa melihat ke belakang.
Sialan, Arthur merasa keren dengan dirinya yang meniru sifat Steve yang sebenarnya adalah Ruri.
Arthur kembali mengikuti Bram dari belakang dengan jelas dan ketara.
Bram merasa tak nyaman dengan keberadaan sosok yang dia kira adalah Iblis tengah mengikutinya sejak beberapa menit yang lalu.
"Apa yang dia inginkan? Melihat tanda kelopak mawar itu, dia adalah prajurit dari salah satu Bangsawan Aokuma. Apa yang membuatnya mengikutiku? Apakah dia bodoh atau hanyalah prajurit pemula yang mengikuti orang terang-terangan? Ah, ataukah hanya Iblis tersesat?"
Bram menoleh ke belakang dan sosok yang menurutnya Iblis itu ikut berhenti di tengah lorong Istana Shinrin.
"Apa yang membuat Anda mengikuti saya?" Tanya Bram sambil mengambil ancang waspada terhadap pria berjubah di depannya yang memiliki tinggi yang hampir sama dengannya (Arthur).
Arthur tersentak. Dia sungguh terkejut kalau Bram tak mengenalinya.
Arthur mengepalkan dua telapak tangannya sendiri. Dia sedang menahan diri dan di saat yang bersamaan dia panik karena binggung menjawab pertanyaan itu.
"Saya terpisah" Dari sekian banyaknya alasan. Kenapa itu yang keluar dari mulutmu, Arthur?
"Ah..." Arthur merasa dirinya bodoh dan menutup bibirnya dari depan topeng putih itu.
"Begitukah, kalau boleh tau siapa nama Tuan yang datang dengan Anda?" Tanya Bram sambil mendekat ke arah Arthur.
Ah, andai saja Bram mengetahuinya. Arthur mulai menangis di balik topeng itu.
Arthur mengusap rahang di bawah dagunya yang hampir meneteskan air matanya. "Dia sungguh tak mengenaliku" Batin Arthur.
"Putra Mahkota, sebenarnya saya tengah mencari Anda. Bisakah kita mengobrol empat mata di tempat yang tidak di lewati oleh orang?" Tanya Arthur sambil menggerakkan tangannya.
"Hah?"
"Ah, tenang saja. Saya bukan Iblis. Saya berasal dari Aosora. Ini hanyalah topeng" Jelas Arthur dengan sedikit terburu.
Bram hampir tak mempercayainya.
"Baiklah, bagaimama dengan gudang penyimpanan?" Bram mengetahui semua area Istana Shinrin. Bram memilih Gudang penyimpanan karena disana banyak sekali alat sihir yang dapat dia gunakan untuk melawan Iblis.
Arthur tersenyum dibalik topengnya. "Ya! Baik!" Tegas Arthur sambil mulai mengikuti Bram.
Mereka berdua, sampai di tempat yang dikatan oleh Bram. "Jadi, Anda perlu apa?" Bram menutup pintu gudang dengan rapat.
Perlahan, Arthur membuka topengnya. Dia menunjukkan senyuman lebarnya kepada Bram.
Mata Bram terbelalak. Dia melihat sosok di hadapannya mirip dengan lukisan besar yang dipajang di Aula Aosora. Tepatnya, Raja Pertama, Aosora Alex. Namun, dihadapannya ini memiliki warna rambut yang biru gelap. Bukan biru langit.