The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 4 [Kepulangan]



Kekalahan Siluman Ular yang menguasai Nekoma dan membuang jauh Penerus yang sesungguhnya membuat seluruh Prajurit dan Pelayan Istana Nekoma tersadar dari sihir hipnotis menyeramkan itu.


Belial Ken yang berada di dalam tubuh Liebe dikenali oleh Siluman Kucing disana. Dan, Ken kembali memegang Nekoma setelah semua keturunan Raja Nekoma di bunuh kecuali salah satu Penerus Perempuan Nekoma yang dibuang jauh oleh Siluman itu.


Dan, tugas Ken adalah mencari Penerus tunggal itu untuk kelangsungan Pemerintahan Nekoma.


Di saat kemenangan itu berada di tangan Ambareesh, Estelle Tsuha diculik saat Haraya yang menjaganya lengah.


...----------------●●●----------------...


"Bukankah seharusnya Tsuki yang memiliki wujud Elf? Kenapa Tsuha bisa menjadi seperti ini? Lantas, bagaimana dengan Tsuki di sana?"


Suara samar terdengar di telinga Tsuha.


"Gabriel, keduanya adalah putramu dan apa kau lupa dengan yang ku ucapkan?"


Tsuha mulai membuka matanya. Samar-samar terlihat seorang Laki-laki berpawakan tinggi berdiri di depannya dan berbicara dengan perempuan yang duduk disana.


"...Yang dominan adalah pemilik tubuh itu. Kedua anakmu masing-masing memiliki tubuh asli. Namun, bagi yang minoritas tidak akan sekuat dengan dominan. Dan Tsuha adalah dominan dari Putramu. Sehingga, tubuh itu akan menjadi asli milik Tsuha meskipun ada dua tubuh dan dua jiwa. Tapi, mereka tetap satu"


Pandangan Tsuha masih berkunang-kunang. Dia tidak bisa mendengarkan dengan jelas apa yang dibicarakan oleh dua orang disana.


"Maafkan saya. Kemudian, saya akan melanjutkan laporan saya" Gabriel kembali duduk di sana.


"Kau tidak lupa meninggalkan sesuatu agar mereka menemukan lokasi ini kan?" Tanya Bianca.


"Tuan Ambareesh sudah menyadari kalau saya sering mengintainya. Namun, Tuan Ambareesh salah paham dan beranggapan kalau saya berniat menculik Tsuha daripada memata-matainya" Jelas Gabriel pada Bianca.


Bianca terkekeh. "Ah, pantas saja kau membawa Tsuha kemari. Apa kau menjadikan putramu sendiri sebagai umpan untuk memancing Ambareesh?"


Tsuha terbelalak saat mendengar Bianca menyebutnya sebagai Putramu kepada Elf yang memiliki nama seperti Ayah Tsuha.


"Tidak mungkin..." Tsuha melihat punggung Elf itu yang memiliki siluet seperti ayahnya 7 tahun yang lalu dan itu tidak berubah dari gayanya berbicara.


"Ya, bukan hanya itu saja. Saya merindukan Putra saya. Selama ini, saya hanya bisa melihat mereka dari kejauhan. Dan Tsuha sering sekali datang ke makam ibunya tengah malam. Itu membuat saya ingin memeluknya." Gabriel mengatakan dengan jujur dan sepenuh hatinya.


"JANGAN BERBICARA OMONG KOSONG!" Tsuha berteriak dengan tegas sambil melihat Gabriel yang memunggunginya.


Gabriel dan Bianca menoleh ke Tsuha.


"Ayahku.... Sudah mati. Dia adalah Bangsa Manusia. Ayahku tidak pernah membohongiku" Kening Tsuha berkerut saat mengatakan hal tersebut.


Bianca melihat ke arah Gabriel. "Aku akan memberi kalian berdua waktu 30 menit untuk berbincang. Ambareesh pasti sudah bersiap menuju kemari" Bianca berdiri dan meninggalkan dua Elf hijau itu disana.


Gabriel merasa canggung dengan wajah Tsuha yang marah padanya.


"Maaf, Ayah dan Ibu tidak berniat menipu kalian berdua. Kami hanya ingin melindungi kalian dan akan mengatakannya saat waktunya tepat" Gabriel mendekat ke arah Tsuha dan berniat melepas ikatan di tangannya.


"Jangan menyentuhku sedikitpun. Kau membuat Tsuki membenciku sepanjang waktu" Hati Tsuha telanjur sakit hati. Selama ini, dia berjuang mati-matian untuk membersihkan namanya dari adiknya sendiri.


"Nak.."/"Pergi!" Tsuha mengusir Gabriel.


"...." Hati Gabriel seolah hancur saat Tsuha tidak melihat ke arahnya. "Maafkan Ayah. Dari dasar hati Ayah dan Ibumu, kami tidak ingin terpisah dari kalian berdua. Hingga hari ini, Ayah senang melihat kalian berdua tumbuh dan kau yang selalu melindungi Adikmu, serta Putra Mahkota Aosora Arthur" Gabriel meninggalkan Tsuha sendirian di ruangan yang berlapis es itu.


"Cih! Semua hanya omong kosong" Gumam Tsuha sambil menutup matanya.


...----------------●●●----------------...


Ambareesh terkejut mengetahui Tsuha yang telah di culik itu. Tapi, dia tetap tenang, begitu pula dengan Haraya.


"Azuma, kau yakin kalau Tsuha dibawa ke tempat Bianca?" Ambareesh memastikan lagi kepad Haraya disebelahnya.


"Saya sangat yakin. Sebenarnya, saya bisa mengejarnya. Namun, saya mengkhawatirkan gadis itu kalau saya tinggal sendirian. Bagaimana rencana Anda berikutnya Tuan?" Tanya Haraya kepada Ambareesh.


Tugas Ambareesh di Pasukan Pemberantas Iblis telah selesai dan hanya Archie yang belum. Dia hanya bisa dibebaskan oleh keturunan Aosora.


"Oh, andai saja tadi Arthur tidak menyerap Hinoken, Archie pasti akan terbebas hanya dengan setitik darahnya"


Razel mendengar ucapan Ambareesh tentang dirinya yang tidak akan lagi melibatkan Pasukan Pemberantas Iblis. Dia menolaknya.


"Aku akan tetap ikut denganmu. Jangan melarang kami karena kami sudah tidak berada di pihak Shinrin"


Bagi Razel, matinya Nel sama seperti hilang arah baginya. Dan satu-satunya orang yang menurut Razel mampu membantunya hanyalah Ambareesh. Dia tidak akan membuang kesempatan itu.


"Terserah kalian. Aku tidak akan menanggung apapun yang terjadi pada kalian" Jawab Ambareesh.


Luxe mengeleng tipis. Dia membuka lubang teleportasi untuk berpindah di perbatasan hutan dekat dengan goa tempat Razel tinggal.


Dean masih memerankan karakternya.


Dia masih saja memikirkan ucapan Daeva tentang Arthur.


Jasad Liebe di bopong oleh Razel. Awalnya, Val tidak menyadarinya. Dari kejauhan, Val dan Lina telah menunggu kedatangan mereka.


"Haha! BUGH! Iblis ini suka sekali tidur! Apakah perjalananmu menyenangkan?!" Val memukul bahu Liebe seperti biasanya. Namun, Liebe tidak melihatnya sedikitpun.


Biasanya, dia akan marah.


Val melihat mereka dengan seksama. "Dimana Tsuha?" Val dan Angel bertanya dengan bersamaan. Shera tiba-tiba memeluk Val sambil menangis disana.


Mata Val terbelalak. Dia sungguh tidak mengerti. "Apa yang terjadi!?"


"Liebe berpesan untuk menjaga anting yang kau gunakan" Lirihan Shera menjelaskan segalanya tanpa Val bertanya lebih detail.


"Ha? Jangan bercanda..." Val melepaskan pelukan Shera dan mendatangi Razel yang baru saja menurunkan jasad Liebe.


Dunia Val seakan berhenti saat melihat warna pucat dan dingin dari tubuh Liebe. "Hei... kawan..." Val berjongkok dan menepuk-nepuk pipi Liebe yang lebih dingin dari biasanya.


"Jangan menipuku. Ayo bangunlah..." Mata Val tidak berkedip sedikitpun. Air mata mulai membuat matanya menjadi kabur dan bergelombang.


"GREP! LIEBE! HEI! BANGUN!" Lina tiba-tiba menyerobot dan meletakkan telinganya pada dada Liebe.


Val menundukkan pandangannya dan dia mengusap air matanya. Bagaimana dia tidak terpukul? Val dan Liebe sudah bersama sejak usia mereka 9 tahun hingga kini berusia hampir 23 tahun. Mereka sudah menjalani susah dan senang bersama.


Luxe langsung masuk ke dalam goa untuk beristirahat sejenak.


Razel mengajak Daniel untuk membuat liang agar segera mengubur jasad Liebe.


Angel menarik kera Ambareesh dengan kuat. "Dimana Tsuha? Kenapa dia tidak ada bersama kalian?" Angel menatap tajam mata Ambareesh yang lebih tinggi darinya.


"Tsuha baik-baik saja. Aku akan menjemputnya setelah kami beristirahat" Ambareesh melepaskan tangan Angel pada kera pakaiannya. Dan Ambareesh merangkul Ela untuk masuk ke dalam goa. Razel telah mengizinkan Ela untuk tinggal di goa itu.


Ela memiliki rasa takut pada kesan pertama terhadap Angel.


"Apa hari ini sangat melelahkan?" Tanya Ambareesh sambil mengusap rambut Ela.


Ela mengeleng dan dia melihat ke arah Luxe yang tengah memakan apel disana. Ela memiliki rasa penasaran terhadap Luxe karena dia tidak bisa mengetahui apa yang ada di pikirannya.


"Untuk hari ini, kau istirahat di kamarku dan Luxe. Gadis-gadis itu pasti sibuk dan bisa membuatmu tidak nyaman. Jadi, kau tidak keberatankan Olabi?"


"Aeolabi atau Ela saja" Ralat Ela karena Ambareesh salah dalam menyebutkan namanya.


"Ya Ela" Jawab Ambareesh sambil menunjukkan kamarnya dan Luxe yang hanya beralaskan tikar.


Luxe menyela dan langsung tidur di tempatnya. Dia sengaja melakukan itu.