The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 2 [Harta Terbesar]



Pagi hari, Ambareesh lebih dahulu bangun sebelum Tsuha dan yang lain. Dia mulai berolahraga karena kondisi tubuhnya saat ini sangat tidak nyaman.


Haraya dalam bentuk gagak yang sama dengan Ha nashi sedang menjaga Ambareesh di saat Ha nashi harus kembali ke Akaiakuma.


Archie yang mendapatkan tubuh duplikatnya dari Ambareesh, sedang memperhatikan sosok lain di tubuh yang Arthur gunakan.


Archie sadar bila sosok yang dia datangi itu bukan lagi Aosora Arthur yang dia kenal. Archie berhenti di sebelah dia sambil mengulurkan handuk kering.


Ambareesh menerima handuk kering itu.


"Jadi, siapa kau ini?" Archie bertanya pada intinya.


Ambareesh mengabaikan Archie dan lanjut berlatih pedang kayu yang ada di dekatnya. Hal ini sengaja di lakukan Ambareesh karena wajah Archie 90% mirip Arnold.


Archie tidak sesabar Arnold. Urat di leher Archie telihat dengan jelas bila dia sedang menahan diri. Archie menahan pedang kayu yang akan Ambareesh hentakkan pada kayu latihan disana.


"Jawab pertanyaanku" Ucap Archie sambil menunjukkan senyumannya dengan alisnya yang berkedut.


Ambareesh menarik pedang kayu itu dari Archie. Namun, Archie memegangnya dengan kuat. Ambareesh melepaskan pedang kayu itu dan meninggalkan Archie begitu saja tanpa berbicara apapun.


"Hah?! Apa yang salah dengannya?" Archie melempar pedang kayu itu ke tanah.


Haraya terbang dan mendarat pada bahu kiri Ambareesh. "Tuan, kenapa Anda bersikap seperti itu?" Telepati Haraya.


"Wajahnya menjengkelkan" Jawab singkat Ambareesh sambil masuk ke dalam markas.


Di dalam markas, mata Ambareesh bertemu dengan mata Nel (Arnold). Pandangan Nel mengikuti jalannya Ambareesh yang melewatinya.


"Ada apa dengan dia?" Tanya Nel (Arnold) pada Daniel (Anggota Markas Pemberantas Iblis yang lain).


Daniel mendorong kacamata yang dia kenakan. Kacamata itu, mampu melihat aura orang lain. Namun, kini Daniel tidak mampu melihat aura milik Ambareesh.


"Coba datangilah dia dan ajak bicara baik-baik. Mungkin, dia marah pada kita karena tidak menghadiri acara kenaikkannya" Lirih Daniel.


...^^^Mulai dari sini Author akan menggunakan nama Arnold meski dia menggunakan jasad Nel^^^...


Arnold setuju dengan ucapan Daniel. "Baiklah. Apapun itu, ini adalah misi terakhirnya. Jadi, tidak baik bila aku membuat kesan terakhir seperti ini" Arnold beranjak dari tempat duduknya dan mendatangi Ambareesh.


Arnold tidak tau bila Ambareesh telah terbangun dan Jiwa Arthur telah terpisah.


Arnold masuk ke dalam kamar Tsuha dan Arthur.


Tsuha melihat ke arah Arnold. Lagi-lagi Tsuha melihat aura merah di sekitar Arnold. Namun, dia diam karena berfikir itu adalah aura dari sisa Iblis saat Arnold menjalankan misinya (Sebagai Kapten Markas).


"Dimana Arthur?" Tanya Arnold pada Tsuha.


"Mandi" jawab singkat Tsuha sambil menutup resleting tas perlengkapannya untuk misi A yang akan dia jalanÄ·an bersama Ambareesh dan beberapa anggota lain yang terpilih.


"Baiklah, aku akan menunggunya disini" Arnold duduk di atas ranjang Arthur yang terpisah dengan ranjang Tsuha.


Tsuha merasa tumben sekali Kapten Guild seperti ini.


"Apa kapten ingin membatalkan misi ini untuknya?" Tanya Tsuha.


"Tidak. Aku kemari hanya untuk meluruskan barang kali ada kesalahpahaman. Akhir-akhir ini, Arthur menatapku dengan raut dingin dan sinis. Dia juga mengabaikan beberapa anggota Guild" Ucap Arnold sambil membuka Novel milik Marsyal (Ketua Guild Penyidik) yang tak sengaja dia duduk i.


Tsuha pikir, hanya dia yang merasa seperti itu.


"Mungkin, kapten salah kira. Bisa jadi, Putra Mahkota Aosora sedang tidak enak badan. Terakhir kali, dia muntah darah dan mimisan di hari kenaikannya kan?" Tsuha mengatakannya dengan nada yang datar. Sebenarnya, dia hanya tak ingin melihat Kapten yang dia kagumi marah.


Namun, penerimaan akal Arnold berbeda saat mendengar ucapan tersebut dengan nada datar dan raut Tsuha yang tak berekpresi.


"A... Kalau begitu, bukankah lebih baik bila Arthur kembali ke Aosora saja dan tak perlu mengikuti misi ini?" Tanya Arnold.


"Ha? Apa dia tidak paham dengan ucapanku?" Batin Tsuha menatap Arnold.


"Tidak. Bukan itu yang kumaksud. Ah, sudahlah. Katakan saja yang ingin Kapten katakan pada Putra Mahkota itu" Ucap Tsuha sambil mengacak rambutnya.


Ambareesh keluar tak lama dari itu. Dia keluar hanya mengenakan handuk pada bagian bawah saja dengan rambut yang telah rapi dengan menyisahkan poni di bagian kirinya. Lagi-lagi, tidak sama seperti Arthur yang selalu keluar dalam keadaan berpakaian.


"Minggir" Ambareesh berdiri di hadapan Arnold yang termengun melihatnya.


"Ah, bagaimana bisa?" Mata Arnold terbelalak saat melihat ekspresi dingin itu dari matanya yang sedalam lautan.


"Apa kau tuli?"


"Ucapannya dan cara bicaranya, tak berubah sedikitpun" Arnold masih duduk di ranjang Arthur.


Ambareesh mampu melihat mata Arnold dari mata mati milik tubuh Nel. Dia melihat kebelakang. Tsuha sedang melihat mereka.


"Tsuha, bisakah kau keluar sebentar?" Tanya Ambareesh sambil membelakangkan semua poni basanya yang ke depan.


"Tentu. Jangan membuat Wakil Razel menunggu. Kita akan berangkat setengah jam lagi" Ucap Tsuha sambil membawa ranselnya dan tas kecil Arthur untuk persediaan obat.


Ambareesh menarik kursi kayu di dekatnya dan duduk di depan Arnold dengan jarak 2 Meter.


Ambareesh membungkukkan sedikit tubuhnya dan meletakkan sikunya di atas kedua padanya.


"Apa yang mau kau bicarakan?" Tanya Ambareesh pada Arnold.


Arnold menundukkan padangannya.


"Guru, maafkan aku.... Tidak bisakah kita seperti dulu lagi?" Tanya Arnold.


"Aku akan memberikan apapun yang ku punya asal guru mau kembali ke Akaiakuma" Arnold mengangkat pandangan kembali dan menatap Ambareesh dengan tajam.


"Hah? PFFFT! PUAHAHAHA! KATAKAN LAGI DENGAN KERAS!" Tegas Ambareesh sambil tertawa.


Dia berdiri dan menarik kera seragam Arnold dan menaikkan kaki kanannya di atas kasurnya.


"Aku ingin tau seberapa seriusnya dirimu untuk memberikan semua harta yang kau punya untukku. Kau tau, semua ucapanmu itu lucu sekali. Kau bahkan, berniat membunuh putramu yang masih merah hanya untuk mempertahankan tahtanan Akaiakuma" Ambareesh mengatakannya dengan nada suara yang geram.


Arnold melihat iris Ambareesh yang lebih gelap dengan warna laut.


"Aku hanya ingin melindungi perjuangan guru. Aku tidak ingin perjuangan guru dirusak oleh orang-orang seperti teman-teman guru. Mereka menghianatimu! Padahal kau tau dengan semua itu! Tapi, kenapa kau terlihat seolah kau baik-baik saja dan seolah menikmatinya?!" Tegas Arnold sambil menarik tangan pergelangan tangan Ambareesh ke bawah.


"Ah, kau salah besar" Ucap Ambareesh sambil menarik tangannya dan kembali duduk di kursinya.


Arnold terlihat tenang sejenak.


Kini, Ambareesh melipat kaki kirinya di atas lutut kanannya.


"Aku mati bukan karena ulah mereka. Aku mati karena sudah saatnya untuk mendapatkan kehidupan baru. Aku mati bukan berarti aku menyerah. Aku, hanya berusaha melarikan diri dari sosok yang selalu mengintaiku" Jawab Ambareesh.


"Ada kalanya kau tau bila kehidupan itu, terkadang tidak akan berjalan sesuai yang kita harapkan. Sebab, kehidupan itu, seperti seutas tali yang telah diatur. Saling dikaitkan dan saling bergesekkan hingga harus membuat salah satu dari tali itu terputus agar mendapatkan kebebasan. Itulah yang ku lakukan" Jelas Ambareesh.


Arnold perlahan menundukkan pandangannya.


"Aku...."


"Sudahlah, pergi dari hadapanku. Aku ingin memakai pakaian" Ambareesh berdiri dan mengambil pakaiannya yang telah disiapkan oleh Haraya.


Arnold menatap punggung Ambareesh yang lebih kecil. Mungkin, karena usia tubuh Ambareesh kini adalah 17 tahun.


"Guru, aku benar-benar minta maaf kepadamu. Dan, jangan menyalahkan Tuan Ha nashi lagi. Dia tidak memiliki niat buruk kepadamu" Jelas Arnold yang beranjak untuk keluar dari kamar itu.


Ambareesh melirik Arnold yang tengah membuka pintu.


"Aku, akan mengembalikan tubuhmu. Katakan bila kau sudah siap" Ucap Ambareesh pada Arnold.


Sontak, Arnold langsung melihat Ambareesh.


"Kenapa?" Arnold tidak menduganya.


"Akrablah dengan putramu. Karena, itu adalah harta terbesarmu" Jawab Ambareesh sambil memakai pakaiannya.