The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 3 [Dua Titisan Dan Ruri]



TAP! DRASH!!!!


Alder melesat dengan cepat. Kecepatan Alder yang melesat dengan kekuatan penuh, hampir membuat pepohonan yang dia lintasi langsung tertiup dengan kencang dan akarnya hampir terangkat.


"PRAKKK!!!"


Bahkan, dahan besar yang Alder lewati langsung hancur seketika.


Bangsa Elf hijau tidak akan pernah bisa menggunakan sihir teleport.


"DAGGGHHH!!!!"


Alder datang dengan tepat waktu. Dia langsung melesatkan tendangannya saat Ruri baru saja muncul untuk membunuh Daeva dengan tangannya sendiri.


Tendangan itu, tidak berefek untuk Ruri. Ruri menahan tendangan keras Alder hanya dengan sihir pelindungan yang muncul disaat adanya hawa buruk yang mendekatinya.


"PSSH!" Ruri berteleport kebelakang sejarak 6 meter untuk mewaspadai serangan Alder karena sekelilingnya adalah hutan.


"Nao...." Perasaan kesal memenuhi diri Alder yang selalu tampak begitu santai.


Ruri menggunakan wujud Nao dan dia terseringai lebar melihat aura Alder yang mengebu-gebu di sekeliling Alder.


"Aku tidak ingin berhutang budi denganmu. WOSH!" Daeva menyentuh memegang pergelangan kaki Alder untuk membawanya pergi teleport ke tempat yang aman.


Napas Daeva terengah-engah. Napas Daeva sungguh berat. Sebab, dia telah mendapatkan sihir mematikan Ruri yang langsung menyerang aliran mana Daeva dari dalam.


Alder berdecih kemudian dia segera menggunakan sihir penetralisirnya kepada Daeva.


"KHUK!" Daeva terbatuk darah beberapa kali akibat tubuhnya yang hampir menolak pemberian mana tambahan dari Alder.


"Ingatlah, kau berhutang nyawa kepadaku" Alder segera memotong jubah Daeva dan membuka empat kancing teratas kemeja Daeva.


Alder mulai memulihkan aliran mana Daeva yang masih diselimuti oleh mana Ruri yang mengkabut di area pusat mana.


Beberapa menit setelah Alder melakukan pemulihan, Daeva perlahan kehilangan kesadarannya karena Alder menggunakan secara paksa mana Daeva untuk pemulihan tersebut.


"Elf sialan...." Daeva menepuk lutut Alder dengan tak bertenaga kemudian kehilangan kesadarannya.


Decihan terdengar dari bibir Alder yang terawat itu. "Dasar bodoh. Selalu saja bertindak sendirian" Ucapnya sambil kembali berubah kewujud Marsyal dan membelakangkan rambut bagian depannya.


Marsyal melihat daerah sekitarnya. Mereka berada di perahu tengah laut. "Bajing*n" Maki Alder karena dia tidak akan bisa menggunakan sihirnya untuk kembali ke Shinrin.


----------------●●●----------------


Ruri tertawa tipis kemudian menghela napas saat melihat mayat-mayat prajurit Steve yang mati hanya karena takut mendengar Sosok Titisan Kehancuran itu.


"Dasar serangga busuk. BLARRRR!!!!" Ruri membakar wilayah hutan itu, hanya untuk menghilangkan jejak Daeva dan mayat-mayat Prajurit Iblis Aokuma dibawah perintahnya.


Sayap hitam berkembang dengan perlahan dan merentang lebar. Sayap hitam itu berjumlah 6 enam dengan masing-masing bersayap 3 disisi kanan dan kiri.


Sihir biru dikeluarkan oleh Ruri kemudian "PATSSSS!!!" Melesat dengan cepat ke arah belakang Ruri tepat pada pohon tua yang besar.


"BAMMMM! PRUAK!!!! BRUKK!"


Serangan tiba-tiba Ruri itu, membuat beberapa dahan pohon patah dan jatuh di tanah.


Ruri membalik tubuhnya untuk melihat pohon besar itu. Sosok bersayap putih dengan sayap yang hanya berjumlah 4, menatap Ruri dengan wajah iba.


"Kau yang membawa Titisan Iblis pertama kemari?" Tanya Ruri sambil memberikan seringaian tipis pada sosok Malaikat Agung bernama Charael itu.


Charael turun perlahan di tanah yang telah bercampur dengan daun kering dan darah Iblis.


"Sejak kapan kau menyadari keberadaanku?" Charael masih menampakkan raut ibanya terjadap Ruri.


Ruri terkekeh. "Sampai kapanpun, kau tidak akan pernah bisa berada di tingkat yang pernah ku singgahi, Charael. BWEESSHHH" Ruri melenyap bak angin.


Charael tidak bisa melenyapkan api biru itu. Api biru itu adalah api yang bisa membakar habis apapun yang telah ditujukan oleh Ruri, termasuk mana, dan tulang ekor yang tidak bisa menjadi abu.


Apabila Charael bisa memadamkannya, Charael akan mendapatkan hukuman dari Sang Cahaya karena telah campur tangan terhadap alam


----------------●●●----------------


Pagi hari yang mendung, awan menurunkan gerimis tipis 15 menit setelah ledakan besar dari sihir Ruri itu. Api biru tadi malam, tidak meninggalkan bekas sedikitpun, seolah ledakan dan pertempuran kecil itu tidak pernah terjadi.


Pepohonan disana, tidak ada yang terbakar meski dedaunan dan ranting yang kering.


Daeva terbangun saat Alder membuka atap dari daun kepala sebagai atap perahu.


Gerimis itu jatuh ke wajah Daeva secara langsung. Alder sudah muak menunggu dan khawatir dengan rumor tentang dirinya sebagai Marsyal yang tengah di waspadai oleh Shinrin.


Mengapa Alder tidak menelepati Dean agar dibukakan sihir teleport?


Jawabannya hanya satu. Sebab, hubungan antar Titisan bisa retak sebelum mereka semua berkumpul akibat dirinya yang terlibat dengan Daeva.


"Hsssh.. Haaah..."Daeva menghela napas kemudian membalik posisinya tidur menjadi telungkup.


"Hah?" Alder yang menggunakan wujud Elfnya membuang anyaman daun kelapa yang kering ke laut.


"Daeva, cepat bangun dan kembalikan aku ke Shinrin" Alder menarik lengan kanan Daeva yang menutup kedua yang menutup kedua telinganya dari belakang.


Beberapa detik setelah mendengar suara Alder, Daeva langsung membuka matanya dan teringat dengan insiden tadi malam.


Daeva melihat sisi kanannya. Alder tengah melihatnya.


Dia segera duduk dan mengosok rambutnya yang telah kasar dan kering karena darah dari Iblis yang menyerangnya.


Beberapa detik dari itu, Daeva tersadar saat atas anyaman yang dia buat melintasi perahu kecil miliknya.


"Kenapa itu bisa disana?" Tanya Daeva sambil menunjuk atap anyamannya.


"Aku membuangnya karena kau membuatku tidak bisa pulang ke Shinrin. Percuma membuat perahu tanpa dayung" Jawabnya.


"Sialan, kau sungguh menghancurkan rumahku" Daeva meraih atap anyaman itu dan menaikkannya di atas perahu kecil itu.


"Rumah? Huh? Sungguh?! Kau SUNGGUH TINGGAL DISINI?!"


Fakta ini membuat Alder terkejut. Daeva mendecih dan membuang mukanya. Rumah Daeva sebelumnya hancur setelah Ruri menyerang untuk mengambil buku perjanjian itu. Dan Alder berada di sana saat Ruri menyerang rumah Daeva secara langsung.


"Ahahaha, kau mau tinggal di rumahku untuk sementara waktu?" Tanya Alder sambil mengosok tengkuknya.


Tentu saja itu adalah ide yang buruk. Daeva tidak menjawabnya dan membilas rambutnya yang cokelat karena darah kering itu.


"Ya? itu rumah peninggalan orang tuaku dulu" Tanya Alder dengan ragu. Dia merasa bersalah terhadap Daeva.


"Alder, apa kau mencoba bersimpati terhadapku?"


Daeva bukanlah Iblis yang mudah menerima kebaikan orang disekitarnya. Dia membelakangkan rambutnya yang basah dan mulai bersih karena telah dia bilas dengan air payau itu.


Alder mengkernyitkan keningnya.


"Daeva, sudah saatnya para Titisan bersatu. Ruri telah mengambil Buku Perjanjian itu dan tidak akan lama lagi, dia akan menemukan Aosora Arthur"


"Aku akan membujuk Ranu dan Lingga agar mereka berdua menerimamu. Dean akan lebih mudah setelah Ranu telah memaafkanmu" Jelas Alder kepada Daeva.


"Semua itu hanyalah omong kosong! Aku tidak pernah melakukan kesalahan sedikitpun"


Daeva membuka sihir teleportnya disebelah Alder.


"Pergi dan cukup urusi urusanmu sendiri. Aku akan merebut Aosora Arthur dari Kalian. Dan, jangan pernah sekalipun, mengintip masa depan Aosora Arthur karena Ruri akan tau di setiap apa yang kau lihat. Matamu dan mata Ruri saling terhubung. Kemenangan bisa di raih dengan mudah, saat kau membuat mata kananmu menjadi buta"