
Angel mengikuti Daeva yang ingin membicarakan sesuatu.
Pikiran Angel berada dimana-mana karena ajakan itu. Hatinya mulai gusar. Meski begitu, dia menyiapkan dirinya untuk mendengarkan semua perkataan Daeva.
"Jadi, ada apa Tuan?" Tanya Angel kepada Daeva dengan mendonggakkan kepalanya karena perbedaan tingginya.
Daeva merasa aneh. Dia tidak seperti dirinya sendiri. Daeva mulai menggaruk tengkuknya. "Apa kau akan turun di perang itu?" Tanya Daeva dengan sedikit waspada.
Angel dari tadi memikirkan hal buruk karena Daeva tiba-tiba membawanya seperti ini. Dia menghela napa dengan lega. "Astaga. Aku pikir kau akan mengatakan sesuatu tentang Tsuha. Apa kau bertanya tentang itu saja?" Tanya Angel sambil memukul punggung Daeva dengan keras.
Daeva menutup mulutnya untuk menahan batuk karena pukulan kuat itu. Dia melihat ke arah lain sambil mengangguk karena tak sanggup mengeluarkan suaranya karena batuknya.
"Haha, tentu saja. Aku akan berada di gardu depan..."
DEGH!
"... bersama dengan Titisan Lingga. Dan kau akan berada di gardu yang sama dengan Tsuha. Serangan jarak jauh~" Angel terdengar sangat senang dengan pembagian gardu itu.
Dia melihat senyuman itu yang akan melenyap untuk esok. Daeva merasakan sesuatu tak nyaman di dadanya.
"Nah, Tuan! Jadi, aku ingin minta bantuanmu untuk menjaga Tsuha. Jangan sampai dia terluka ya..."
Mendengar permintaan itu, Daeva kembali membuang wajahnya.
"Lindungi saja dia sendiri. Aku bukan Ayahnya!" Tegas Daeva yang susah berbicara untuk melarang Angel turun di perang itu.
Angel kembali tertawa. "Keringatmu banyak sekali. Apa ada hal lain yang mau kau katakan?" Angel adalah mantan Kapten Guild Penyidik Aosora. Dia sangat paham tentang pola tingkah seseorang yang menyembunyikan sesuatu.
"Tentu saja ada. Tapi, anggap saja kau tak melihatnya. Ku harap, kau sendiri bisa menyelamatkan dirimu sendiri Nona, selamat tinggal" Ucap Daeva sambil meninggalkan Angel untuk menemui Ambareesh.
"Selamat tinggal? Hadeh, apa Titisan memang seaneh itu?" Angel kembali untuk memasukkan ramuan itu ke dalam botol.
Disisi Daeva, dia merasa seakan dirinya gagal menjadi seorang Titisan. Sebab, dia tiba-tiba merasa tersadar tentang alasan mengapa Takdir tentang kematian seseorang di Rahasiakan.
Daeva tidak bisa berkutik karena hal itu.
...----------------●●●----------------...
Daeva mendatangi Ambareesh yang sedang menyibukkan diri dengan membantu membuat jebakan untuk lawan nanti. Alder menyarankan kepada Ambareesh untuk membuat jebakan tanpa membunuh mereka yang terperangkap.
Bianca turut membantu dalam membuat jebakan itu. Dia melapisi lubang jebakan yang dibuat oleh Ambareesh dengan sihir ilusinya. Sihir Bianca, menutup lubang jebakan yang dibuat oleh Ambareesh.
Daeva berdiri disebelah Ambareesh. "Ah, kau mendatangiku terlebih dahulu. Apa ada seseorang yang-GREP!" Ambareesh belum usai menyelesaikan perkataannya, Daeva tiba-tiba menarik keranya.
"LOH?!" Bianca terkejut melihat tindakan Daeva yang tiba-tiba. Ambareesh menahan Bianca untuk tetap diam dan tidak ikut urusannya.
"Hei, sejak kapan kau memiliki hak untuk memutuskan sesuatu tentangku tanpa persetujuanku?" Tanya Daeva sambil membuat wajah Ambareesh yang lebih tinggi dengannya menjadi lebih dekat.
Jarak wajah mereka hanya berjarak sejengkal tangan orang dewasa.
Daeva sebenarnya tidak kesal. Tapi, dia sendiri berusaha tidak turun di perang itu. Dia berusaha menjalankan rencana Ruri.
"Bahkan jika para Titisan itu, melarangmu, itu bukan hak mereka. Jadi, apa kau tidak keberatan dengan hal itu?" Tanya Ambareesh.
Disisi lain, Daeva mendapatkan perintah dari Ruri untuk menjalin keakraban dengan Ambareesh. Dan ini adalah batu loncatan untuk dirinya secara tak terduga. Atau, ini memang telah di rencanakan oleh Ruri?
Daeva harus memutuskan hal ini dengan benar. Dia melepas kera pakaian Ambareesh dengan kasar.
"Cih! Bagaimana dengan Alder?"
"Dia tak keberatan" Jawab Ambareesh.
"Kalau seperti ini, artinya Alder menyarankanku untuk bergabung dengan Alfarellza. Apa dia sungguh takut dengan keberadaan Ruri hingga meletakkanku di jarak yang aman? Tapi, kalau begini.... Pagu depan akan kesulitan karena Lingga tak akan bisa menggunakan sihirnya" Daeva berkelahi dengan pemikirannya.
Ambareesh memajukan wajahnya dekat pada telinga kiri Daeva. "Dan juga, aku akan tutup mulut kalau kau menceritakan sedikit tentang Arlt Kyzen yang kau bicarakan bersama Tsuha"
Daeva terbelalak mendengar bisikan itu. Dia tidak tau kalau Ambareesh mendengar perbincangan mereka. Daeva terkekeh sambil memegang telinga kirinya sendiri dan menjaga jarak dengan Ambareesh.
"Sialan.... Apa ini ancaman?" Tanya Daeva.
Ambareesh mengangkat kedua bahunya sendiri kemudian memunggungi Ambareesh. Ambareesh tidak ingin mengatakannya, sebab Daeva seharusnya sudah tau jawabannya.
"Baiklah! Kalau begitu, aku akan berada di pagumu. Sebagai gantinya, biarkan aku mengetahui tentangmu lebih dalam lagi!" Daeva menjadi blak-blakan.
Respon Daeva yang tanpa pikir panjang itu membuat Ambareesh dan Bianca terkejut. Mereka berdua melihat Daeva bersamaan.
Bianca langsung berdiri diantara Ambareesh dan Daeva. "Hei! Aku tidak peduli kau itu Titisan. Ingatlah! Ambareesh itu milikku! Aku tidak menyuk-ph!" Ambareesh langsung membekap mulut Bianca yang akan menjadi panjang karena ucapan Daeva yang membuatnya merinding karena terdengar Ambigu.
"Aku sendiri, penasaran denganmu. Mohon kerjasamanya" Ambareesh mengulurkan tangannya untuk berjabatan.
Daeva baru menyadari ucapannya yang terdengar ambigu. Kalau sudah telanjur diucapkan mau bagaimana lagi? Lagi pula, Ambareesh menganggap ucapan ambigu itu sebagai ketertarikan sebagai Partner.
Daeva menjabat tangan Ambareesh dengan tangan kanannya yang bersarung tangan merah maron.
Bianca melihat kedua tangan itu saling bertemu. Dia langsung melepaskan tangan keduannya karena mencurigai ketidaknormalan Daeva. Bianca sendiri, pernah mendengar candaan dari Alder tentang Daeva yang menyukai sosok pria cantik. Padahal yang terjadi adalah Alder tidak sengaja menyukai Sosok Gadis Elf yang ternyata adalah Ruri yang tengah menyamar.
Candaan itu, mendapatkan respon serius dari Bianca.
Oleh karena itu, dia mewaspadai Daeva karena Ambareesh memiliki wajah yang lebih cantik darinya.
Daeva menyadari kesalahpahaman itu. "Cih! Aku tidak tertarik dengan laki-laki" Ujar Daeva sambil membuang pandangannya.
Ambareesh menutup mata Bianca yang menatap tajam Daeva. "Ayo, lanjut membantuku" Ambareesh mengiring Bianca yang matanya ditutup dengan kedua tangannya.
Daeva hanya bisa menghela napas dan dia mulai membantu Ambareesh untuk membuat jebakan baru.