
Ambareesh terjaga sepanjang malam karena mengalami mimpi buruknya tentang kehidupan keduannya.
Dia memiliki hutang janji untuk Nekoma.
Pagi itu, Arthur menghilang dari pandangannya. Ya, dia mengira apabila Arthur sedang berusaha untuk mencari wadah baru sebagai uji cobanya.
Para Anggota Pemberantas Iblis telah berkumpul untuk melanjutkan perjalanan karena mereka tidak akan aman berada di perbatasan tersebut lama-lama.
"Empat orang ke Nekoma. Ya, Aku butuh empat orang untuk kesana. Yang pertama, Luke. Aku butuh sihir perpindahanmu. Kemudian, Razel dan Kak Ken. Kalian berdua bisa masuk kesana dengan mudah karena aroma mana kalian, terakhir...."
"Tunggu... Siapa Ken yang kau maksud ini?" Tanya Zack sambil mengetuk beberapa kali meja kayu disana.
Ambareesh menunjuk Liebe sambil menjelaskan apabila nama itu memang cocok untuknya. Intinya, itu nama panggilan yang diberikan oleh Ambareesh. Dia mudah sekali salah menyebut nama. Jadi, dia menggunakan nama panggilan yang dia suka.
Penjelasan itu, sulit dimengerti oleh Zack dan Val.
"Terserah. Intinya aku tidak ingin ikut ke Nekoma" Tsuha sudah berhati-hati agar tidak mencolok untuk ditunjuk oleh Ambareesh.
Sayangnya, itu tidak bisa terlewatkan oleh Ambareesh sedikitpun.
"Dan Tsuha. Aku butuh kau untuk serangan jarak jauh. Kau akan berada di jarak aman bersama Luke" Jelas Ambareesh sambil melingkari area pepohonan yang diilustrasikan menggunakan sihirnya.
"Padahal aku tidak ingin ikut" Gumam Tsuha sambil mengangguk.
"Kau tidak bisa mengajak Tsuha" Archie langsung menolak rencana Ambareesh dengan tegas.
Archie tidak tau apabila Tsuha memang tidak ingin ikut. Dia hanya khawatir dan Luke tidak bisa bersikap baik terhadap Tsuha. Jadi, dia beranggapan apabila strategi Ambareesh untuk mengajak Tsuha tidaklah efektif.
"Aku juga tidak akan mengajakmu Archie. Mengajakmu sama saja dengan mengkambing hitamkan Akaiakuma" Jawab Ambareesh.
Archie memahami hal ini. Dia sendiri sejak awal telah sadar. Namun, disaat yang bersamaan dia kesal dengan Ambareesh yang bersikap sok peduli terhadap Kerajaan yang sempat dia serang.
"Ya, aku paham. Disini yang ahli dalam sihir jarak jauh hanya Shera dan Angel. Aku merekomendasikan dua makhluk ini untuk kau ajak" Archie bisa merekomendasikan mereka berdua sebab Arthur dan Tsuha sering bercerita tentang dua orang ini.
"Ya, kalau begitu, aku akan mengajakmu" Ambareesh menunjuk Shera.
"A..aku?" Shera terkejut sekali dan dia langsung terbelalak karena belum pernah menjalankan misi seberat ini selama dia menjadi Anggota pemberantas Iblis.
Razel mengangguk kepada Shera agar dia menerima untuk andil di dalam strategi Ambareesh.
"A...a Ba..baik!" Shera sampai tergagap karena semua pandangan tertuju padanya.
"Bagus, meski begitu Tsuha tetap harus ikut" Ambareesh meringis lebar sambil melihat ke arah Tsuha.
"Hah?! Kenapa?!" Angel menyela karena Ambareesh tidak konsisten terhadap ucapan sebelumnya yang berkata hanya mengajak empat orang untuk melakukan penyerangan Nekoma karena janji Ambareesh.
"Sebab, Tsuha sedang diincar" Jawab Ambareesh dengan santai sambil menambahkan satu pion lagi untuk tempat penyerangan jarak jauh.
"Diincar siapa? Kau hanya beralasan saja kan?! Nyatanya, dia aman-aman saja selama ini" Tegas Angel sambil mengambil pion itu dari tangan Ambareesh.
Ambareesh menatap mata Angel yang beriris ice blue. "Tsuha aman karena ada aku. Mereka tidak akan berani mendekati Tsuha, selama dia berada di sekitarku. Di tambah lagi, Tsuha bukanlah sosok yang kuat untuk saat ini. Jadi, Nona Malaikat, harusnya Anda paham dengan ucapan saya. Tsuha adalah keturunan Elf hijau murni, dia tidak bisa menggunakan sihir teleport maupun lubang sihir. Dia juga, belum terbiasa dengan sihir kecepatan untuk melarikan diri ataupun datang tepat waktu" Ambareesh menjelaskannya secara terbuka kepada semua yang ada disana.
Tsuha sendiri tidak tau tentang dirinya. Namun, Ambareesh bisa tau dan itu membuat Tsuha memilih untuk ikut dengan Ambareesh demi keamanan dirinya dan menunggu datangnya seorang Guru yang sebangsa dengan Tsuha sesuai janji Ambareesh.
Semuanya setuju. Razel memberikan tanggung jawab penuh atas keamanan Anggota Pemberantas Iblis yang lain dan goa ini kepada Zack yang dibantu oleh Daniel.
Ambareesh kembali menjelaskan strateginya kepada lima orang itu dan menjelaskan tujuan utamanya adalah membebaskan Nekoma dari Siluman ular yang memasukki kawasan itu dan memanipulasi semua orang yang berada disana. Dia menjelaskan berulang kali untuk tidak menyentuh apapun yang ada di Nekoma termasuk berpegangan pada pohon serta tembok.
Ambareesh, memperingatkan tiga orang yang akan menjadi penyerang jarak jauh untuk saling melindungi punggung rekannya. Sebab, Nekoma adalah Kerajaan Siluman Kucing yang ahli dalam penyergapan dari titik buta lawannya.
Mereka memahami rencana itu.
Mereka pergi dari tempat Ambareesh dan hanya menyisakan Razel untuk berbicara empat mata dengan Ambareesh.
Razel terkejut saat mendengar fakta dari Ambareesh apabila Liebe akan ditinggalkan di Nekoma selama menunggu Penurus yang selanjutnya di temukan.
Kebenaran demi kebenaran, mulai terbongkar di hadapan Razel sejak munculnya Ambareesh. Ambareesh menjelaskan kepada Razel tentang Liebe yang merupakan Raja Nekoma dan dia yang menyegel Ken ke dalam Hinoken namun, Jiwa Ken dikeluarkan dengan paksa oleh sihir yang kuat sebelum pada waktunya.
Ambareesh menjelaskan juga apabila ada sosok yang tengah mengincar Aosora Arthur yang namanya sudah ada sejak kehidupan keduannya dimana Greendarea dan Aosora belum terbentuk.
Ini mungkin terdengar aneh saat Ambareesh menceritakannya kepada Razel.
Di kepala Razel, semua ini seperti pazzel yang mulai menampakkan bentuknya. Dia mengingat semua yang dikatakan oleh Nox.
"Jadi, seharusnya Jiwa Putra Mahkota Aosora Arthur masih ada di sekitar sini?" Razel adalah orang yang peka dan mampu menilai dengan cepat setelah dirinya mengetahui kebenaran yang lain.
"Ya, itu benar. Kemudian, apa kau tidak penasaran akan alasanku mengajakmu untuk ikut ke dalam perjalanan ini?" Tanya Ambareesh sambil mengetuk meja itu denga jari telunjuknya beberapa kali.
"Tidak. Aku ingin kau mengila disana dan tidak ragu mengeluarkan sihirmu. Nekoma adalah wilayah aman untuk sihir jenis Ras Naga Hitam sepertimu" Jawab Ambareesh sambil memainkan cincin di jari manis tangan kirinya.
Di tempat Tsuha, Angel mendatanginya untuk berbicara dengan Tsuha. Dia tidak bisa tenang karena ucapan Ambareesh yang berkata apabila Tsuha tengah diincar. Namun, dia tidak tau siapa yang dimaksud oleh Ambareesh.
Kalung dengan batu mana biru diberikan oleh Angel untuk Tsuha.
"Ada apa ini kak?" Tanya Tsuha sebelum menerima kalung itu dari Angel.
"Aku tidak ingin kau ada apa-apa sebelum kau menjawab pernyataanku waktu itu. Dengan kalung ini, aku bisa datang ke tempat kau berada meski jauh. Ya, asal tidak di dalam hutan terlarang" Jawab Angel sambil menarik bahu Tsuha untuk membungkuk.
Tsuha menurut saja dengan ucapan Angel.
"Kak, apa kau sungguh tidak lelah mengejarku yang bahkan hampir tidak peduli denganmu?" Tanya Tsuha sambil melihat mata Angel.
Mata hijau zamrud itu, begitu dekat dengan Angel.
"Ya! meski kau bangsa Elf Hijau yang dilarang untuk memiliki hubungan lebih dalam dengan bangsa lain. Aku tetap akan mengejarmu" Jawabnya sambil mengosok rambut Tsuha yang terlihat sedikit kecokelatan karena terpantul cahaya dari luar.
Tsuha berdiri dengan tegak dan melihat kalung bermata biru itu dari Angel. "Maaf, kalau seperti ini. Aku sungguh terlihat seperti laki-laki brengsek yang membuatmu menunggu terhadap jawabanku. Aku minta maaf kak. Aku sungguh berat melihatmu dan merasa sifatku ini tidak baik untukmu" Jelas Tsuha sambil duduk di atas kursi panjang dari bambu itu.
Angel dan Tsuha hanya berpaut usia 3 tahun lebih muda dari Angel.
Angel tersenyum dan memberikan pelukan kepada Tsuha.
Dia mengelus halus pundak Tsuha.
"Kalau begitu, terima pernyataanku ini ya. Kita coba dulu. Lagi pula, kau sudah banyak melindungiku terutama saat di tempat es itu. Ya, Tsuha.... Jangan selalu merendahkam dirimu sendiri" Jelas Angel sambil melepas pelukkannya dan duduk di sebelah Tsuha.
Tsuha menghela napas kemudian dia melihat Angel.
"Aku sebenarnya malu untuk mengakuinya kak. Dilihat dari sudut pandangan manapun, kau itu tetap lebih kuat dariku. Dan, aku juga tidak sekuat kau" Tsuha menunjukkan otot bisepnya yang tidak lebih besar dari bisep Angel.
"PFFTT! Hahahaha! Kau ada-ada saja! Haduh, perutku sampe kaku...." Mata Angel berair karena lelucon Tsuha.
Tsuha terkekeh ringan kemudian mengalihkan pandangannya.
"Ya, kita coba dulu. Aku akan berusaha menyusuaikan diri secara perlahan. Jadi, jangan terburu-buru ya kak" Tsuha menerima pernyataan Angel.
Angel melihat Tsuha yang tidak melihat ke arahnya. Daun telinga Elf Tsuha terlihat memerah di mata Angel.
"Ha... Ughh... Sungguh?!" Angel ikutan memalingkan wajahnya berlawanan arah dengan Tsuha. Dia sungguh terbelalak dengan wajahnya yang merah padam dan menutup bibirnya.
Tsuha melirik ke arah Angel. Ya, dia telihat tersenyum tipis saat melihat Angel yang tersipu itu.
Tsuha membungkukkan tubuhnya dan menengok Angel dari bawah sisi kiri Angel.
"Kak, kau bisa bertindak seperti ini juga ya kak?" Tanya Tsuha saat mata mereka saling bertemu.
Angel menutup wajah Tsuha dengan telapak tangan kanannya. "Ya, setelah ini. Kau tidak boleh menunjukkan senyumanmu pada orang lain kecuali aku. Termasuk Archie" Ucap Angel sambil berdiri kemudian mengosok rambut Tsuha.
"Huh? Kenapa?"
"Karena kau memiliki wajah yang lebih cantik dariku dan ini membuatku takut" Jawabnya sambil merapikan rambut Tsuha.
"Hah..., Baiklah~. Kau sungguh cerewet" Gumam Tsuha sambil menutup matanya karena merasa dirinya lebih lelah dari hari-hari yang lain.
"Tep!" Angel berdiri di depan Tsuha. Tsuha sungguh kaget dia langsung membuka matanya saat keningnya di ketuk oleh Angel. Angel tersenyum tipis kepada Tsuha.
"Jadi, apa yang harus ku lakukan agar kau bisa dengan cepat menyesuaikan dirimu tanpa banyak beban?" Tanya Angel kepada Tsuha.
Tsuha terbelalak mendengar pertanyaan itu.
"GREP!" Tsuha memeluk pinggang Angel dengan erat. Tubuh Angel sungguh hangat di pagi yang gerimis itu.
Awalnya Angel terkejut, namun kemudian Angel membalas pelukan erat itu dari Tsuha.
"Aku tidak tau harus menjawab apa. Ini adalah pertama kalinya aku begini" Ucap Tsuha sambil menutup matanya dan merasakan pelukan hangat itu.
Saat itu, Arthur masuk melewati kamar Tsuha untuk menuju kamar Ambareesh. Dia sungguh terkejut melihat Tsuha dan Angel yang berpelukkan itu.
"EWWWH, Apa yang terjadi?"
Arthur sudah kehilangan banyak insiden setelah dirinya terbangun dari tidur akibat hentakkan keras dari Ambareesh dan saat tersadar dirinya telah berada di dasar danau harapan (Pusat Hutan Terlarang).