
Sejak hari Ambareesh menjadi Guru Arnold. Dia mulai mengunjungi secara rutin Arnold yang tak berani mengeluarkan sihirnya karena masih trauma pada pada pedang mana.
"Tenanglah, apa Pangeran suka ikan?"
Suara Ambareesh terdengar halus dan menenangkan ditelinga Arnold.
Arnold tidak menjawab pertanyaan Ambareesh dan Ia fokus pada mengambarnya.
"Suka mengambar? aku, waktu kecil suka mengambar langit dan rumah"
Ambareesh berusaha mendekati Arnold kecil yang super cuek padanya.
Arnold menutup lebaran gambarnya dan menatap Ambareesh dengan tatapan sinis.
Ambareesh tidak menunjukkan senyuman sedikitpun dan itu membuat Arnold tiba-tiba takut pada Ambareesh.
Arnold langsung menunduk setelah melihat wajah Ambareesh itu.
"Untuk apa kesini?!"
Arnold bertanya tanpa melihat wajah Ambareesh.
Ambareesh mulai merasa kesal dengan Arnold. Dia menahannya demi informasi dari Ha nashi.
"Mulai hari ini, Aku akan menjadi gurumu. Namaku, Ambareesh" Jawab dengan nadanya yang kembali datar.
Arnold berdiri dari meja belajarnya.
"Aku tidak butuh guru. Aku punya banyak buku dan Aku bisa mempelajari semuanya sendirian" Cetus Arnold.
Ambareesh melihat semua pergerakan Arnold.
"Benarkah? Kau pikir, kau bisa melakukan apapun tanpa minta bantuan guru? Kau akan menjadi murid yang tersesat" Lugas Ambareesh.
"Apa Kau mau menjadi Pangeran yang tidak bisa apa-apa? Tak bisa sihir, Itu akan sangat memalukan bagi Kerajaan Akaiakuma. Bayangkan apa yang akan dikatakan oleh rakyatmu nanti bila Kau tak bisa satu sihir pun"
Arnold tersentak mendengar ucapan Ambareesh yang sangat menusuknya itu.
"Aku tidak ingin menjadi Raja. Lagi, pula... Aku bukanlah anak Ratu"
Ambareesh menyeringai tipis.
"Bagaimana, Kalau suatu hari nanti ayah dan kakakmu terbunuh ditanganku? Apa Kau masih bisa mengelak untuk menjadi seorang Raja Akaiakuma De luce Arnold?" Ambareesh sengaja memancing amarah Arnold.
Arnold membelalakan matanya setelah mendengar itu. Ia sangat marah pada Iblis abrnormal seperti Ambarresh.
Arnold langsung melihat Ambareesh.
"Kau, Iblis abrnormal yang tak sadar diri atas drajat mu yang lebih rendah dari ayahku dan Kakakku! Iblis seperti mu tak pantas mengatakan hal itu dihadapanku! Aku seorang pangeran kedua Akaiakuma! De luce Arnold, mengusirmu dari sini!" Tegas Arnold sambil mengibaskan tangan kirinya dengan keras.
Ambareesh begitu santai dan melipat kedua lengannya di dadanya.
"Aku bukan Iblis Abnormal. Ini hanya tanduk buatan" Ambareesh menghilangkan tanduknya itu di depan Arnold.
Arnold sangat terkejut melihat tanduk itu yang menghilang begitu saja.
"Tanduk ini, ku gunakan hanya untuk menyimpan sihirku agar tidak memberatkan tubuhku saat menyerang orang. Mau mencoba ku serang?" Tanya Ambareesh untuk menakuti Arnold.
Arnold mundur beberapa langkah sambil menunjuk Ambareesh.
"Aku!!! Tidak ingin punya guru dari bangsa lain selain bangsa Iblis!!!!"
Arnold mengatakan itu karena takut pada Ambareesh setelah merasakan aura Ambareesh yang sangat terasa dingin.
"Kenapa? Ayahmu saja, tunduk dihadapanku. Kurang kuat apa diriku yang bisa menundukkan seorang raja?"
"Bahkan, aku sudah memenggal kepala Raja Heraklesh yang abadi untuk ayahmu" Lirih Ambareesh sambil mendekat ke Arnold.
"Tidak mungkin! Ayahku adalah orang terkuat dinegri ini!" Tegas Arnold sambil mundur hingga pungungnya menyentuh tembok dan dia tidak bisa mundur lagi.
Jantung Arnold berdegup dengan kencang saat Ambareesh mendekatkan mulutnya ditelinganya.
"Diatas langit, masih ada langit Pangeran. Apa Aku perlu menunjukkan itu padamu dengan cara membawa kepala ayahmu kemari?" Bisiknya.
Ia merasa Arnold cukup lucu untuk digoda.
"Aku bercanda, Aku bukanlah orang yang kejam dan tak berperasaan" Ambareesh tersenyum sambil menutup kedua matanya.
"Pembunuh tetaplah pembunuh" Lirih Arnold sambil menelan ludah dan kakinya lemas karena mendengar Ambareesh kalau itu hanyalah candaan.
Ia berkeringat dingin dan mengusap keningnya dengan sapu tangan.
"Panggil Ayahku. Aku ingin berbicara dengannya"
Ambareesh memundurkan kepalanya dan memunculkan kembali tanduknya itu.
"Aku bukan pelayanmu~" Jawab Ambareesh sambil mengangkat kedua tangannya.
Arnold mendengus kemudian membuka sedikit pintu kamarnya.
Ambareesh tersenyum dan... "BRUUUK!!!" Ia mendorong Arnold hingga tersungkur keluar kamarnya.
"Astaga Pangeran!!! Kenapa bisa jatuh?!!!" Seorang Pelayan wanita yang berada disekitar sana langsung berlari dan menolong Arnold.
Arnold melihat Ambareesh yang melangkahkan kakinya tepat disampingnya tanpa menunduk.
"Ku tunggu di ruangan pribadi Raja, Pangeran" Ucap Ambareesh tanpa melihat Arnold.
"CK!!!" Arnold langsung berdiri dan mempercepat langkahnya agar tidak didahului oleh Ambareesh.
Sampai disana, Arnold mendengar penjelasan ayahnya yang mengatakan bila Ambareesh memang guru yang paling pantas untuk Arnold. Arnold membujuk ayahnya untuk menjadikan Ha nashi saja sebagai gurunya. Namun, Ha nashi menolaknya dengan memberikan alasan tugasnya untuk mencari peluasan area.
Ambareesh cukup puas mendengar suara Arnold yang semakin menurun dengan pandangan matanya yang semakin tidak percaya diri setelah keluar dari ruangan ayahnya.
Di sela itu, Ambareesh mengambil selembar gulungan yang jatuh di lantai. Gulungan tersebut, milik Putra Mahkota Arvold.
Gulungan itu adalah Piagam yang bertuliskan "SELAMAT TELAH MERAIH PERINGKAT 1 DI AKADEMI SIHIR BANGSAWAN AKAIAKUMA.
Terus pertahankan!"
Ambareesh melenyapkan gulungan itu dengan api birunya sambil mengikuti Arnold dari belakang.
"Orang yang perlu ku singkirkan disini terlebih dahulu adalah Putra Mahkota Akaiakuma. Dia tidak akan ku biarkan hingga menjadi Raja Akaiakuma" Batin Ambareesh.
Ambareesh ingin menjadikan Arnold sebagai satu-satunya Raja Kerajaan Akaiakuma.
Hari demi hari berlalu. Dua bulan Ambareesh melatih Arnold. Telah memunculkan hasil. Arnold, mulai membuka hatinya kepada Ambareesh selaku guru privatnya. Begitupula dengan De luce Arvolt, dia mulai menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Ambareesh karena merebut perhatiannya dari semua anggota kerajaan termasuk ayahnya.
Dia meminta Ha nashi untuk menjadikan Ambareesh dan keempat temannya sebagai prajuritnya selama penyusuran wilayah anti-sihir di hutan terlarang. De luce Arvolt, ingin mengeksplor hutan sebelum kenaikan tahtanya. Dia ingin menjadikan hutan sihir sebagai lahan baru.
Ha nashi langsung meng-iya-kannya.
Ambareesh tidak bisa menolak perintah Ha nashi. Dia menjalan tugasnya sebagai Prajurit Akaiakuma untuk menjaga De luce Arvolt selama seminggu di hutan.
Arnold mengikuti Ambareesh dari belakang. Tingkah Arnold, diketahui oleh Ambareesh bahkan semua orang yang melewatinya.
"Pangeran, pengendapan yang bagus" Semangat dari salah satu Prajurit lain yang melihatnya dan terkekeh karena tingkah lucu Arnold.
Ambareesh menghela napas panjang. "Apa anak kecil bila mengenal orang selalu seperti itu?" Batin Ambareesh yang merasa dirinya selalu ditempeli oleh anak-anak.
Arnold kembali ke Kerajaan setelah mengetahui tempat Ambareesh berada. "Dasar bocah. Teruslah menempel seperti itu padanya. Ah, tapi kasihan sekali. Alfarellza hanya mengganggapmu sebagai batu loncatan untuk tujuan hidupnya" Batin Ruri yang masih mengawasi Ambareesh dari tempat yang jauh. Dia menggunakan mata kanannya untuk melihat segalanya dan mengintip masa depan.
...●•••●...
**SEKILAS INFO:
ADA ALASAN MENGAPA RURI TIDAK BISA BERADA DI TEMPAT YANG DEKAT DENGAN AMBAREESH DALAM KURUN WAKTU YANG DEKAT.
AMBAREESH ADALAH SEORANG TITISAN SPESIAL YANG TIDAK MEMILIKI TANDA TITISAN DAN MEMILIKI DUA PUSAKA SUCI DARI SANG CAHAYA. DUA PUSAKA SUCI ITU ADALAH CINCIN YANG MUNCUL DARI TANGAN KIRI AMBAREESH DAN HINOKEN YANG SELALU MENJADI REBUTAN DI NOVEL 1.
SPOILER SEDIKIT ;>
NOVEL KE 2 INI, MEMCERITAKAN KISAH KEHIDUPAN MENYEDIHKAN AMBAREESH DIKEHIDUPAN KE-2. AMBAREESH DIKUTUK OLEH SESEORANG YANG SANGAT BERHARGA DIHIDUPNYA UNTUK KEHILANGAN SEGALANYA BAIK INGATAN, SIHIR, MANA, KELUARGA, BAHKAN SESUATU YANG SANGAT BERHARGA DI KEHIDUPANNYA YAKNI SEORANG TEMAN**.