The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 1 [Markas Para Bandit Aokuma]



"Kenapa tubuhmu sekeras batu?" Tanya Bianca.


Ambareesh tidak bisa mengontrol ekspresi wajahnya. Dia sangat senang. Ambareesh membungkukkan tubuhnya perlahan di depan Bianca hingga wajah mereka dekat.


"Aku sangat ingin memelukmu sekali lagi" Ucapnya.


...----------------●●●----------------...


Bianca memegang kedua pipi Ambareesh. Kulit Ambareesh terasa lebih dingin.


"Wajahmu lebih besar dari yang terakhir kalinya. Dan ini juga terasa lebih berisi. Apa kau senang bisa keluar dari Dokter Wandlle?" Tanya Bianca sambil melepas tangannya di pipi Ambareesh.


Ambareesh melihat ke sisi kiri bawah. "Tentu saja. Aku mendapatkan seorang teman setelah keluar dari sana. Aku juga melihat banyak sekali sesuatu yang belum ku ketahui. Di tambah lagi, aku harus mengajarkan sihirku ke bocah yang keras kepala" Ucap Ambareesh sambil melipat lengannya di depan dada.


Bianca tertawa.


"Apa aku juga akan mendapatkan seorang teman sama sepertimu?" Tanya Bianca dengan nada suara yang senang.


Ambareesh menghembuskan napasnya perlahan.


"Tentu saja. Bila tidak ada seorangpun yang mau berteman denganmu, masih ada aku yang mau menjadi temanmu" Ucap Ambareesh sambil menepuk kepala Bianca dan kembali berjalan.


Bianca mengikuti jalan Ambareesh. "Tentang pelukan itu, apa kau hanya bercanda?" Tanya Bianca sambil melihat ke arah Ambareesh.


"Aku tidak bercanda. Aku hanya sedikit rindu dengan kau dulu yang suka sekali memelukku" Jawab Ambareesh.


Bianca memegang lengan kanan Ambareesh. "Haha, kau yang banyak berubah. Kau terlihat cocok tanpa tanduk" Ucap Bianca sambil memeluk lengan kanan Ambareesh.


Ambareesh melihat ke arah lain. Kemudian, dia melihat ke arah Bianca. "Bianca, apa kau mau bertemu dengan teman-temanku?"


Tentunya. Siapa sekarang yang tak menginginkan seorang teman.


Bianca mengangguk.


Ambareesh tersenyum.


"Ini tidak gratis, oleh karena itu kau harus menggunakan sihirmu untuk membantu misi kami" Ucap Ambareesh.


Bianca tertawa renyah. "Sialan, sudah kuduga karena kau terlihat terlalu baik hari ini. Baiklah! Aku akan menggunakan sihirku untukmu" Bianca melepas pelukannya dan dia melihat Ambareesh sambil meringis.


Ambareesh membuang napas. Kemudian dia mengulurkan tangannya pada Bianca. "Mari berteleport" Ucap Ambareesh.


Bianca menerima uluran tangan Ambareesh dan "PATSSSZZZ!" Mereka berteleport menuju perbatasan Kerajaan Aokuma.


Aokuma adalah kerajaan Bangsa Iblis yang lebih lama berdiri dari Kerajaan Akaiakuma. Aokuma dipimpin dan mayoritas ditinggali oleh Bangsa Iblis ras Biru dengan minoritas, ditinggali oleh Bangsa Elf Blue. Mereka lebih terlihat seperti Malaikat namun, bertanduk. Daya serangan Mereka, lebih lemah dari Akaiakuma.


Dan tempat itu, adalah tempat ayah Ambareesh berasal.


Bianca membuka lebar matanya. Pasir laut dia pijak dengan kakinya yang beralas. Tekstur yang aneh saat Bianca menginjak pasir putih itu membuat Bianca mengeluarkan ekspresi yang berbeda.


Rambut Bianca langsung memutih dan warna irisnya menjadi kuning keemasan.


Dia melompat kearah Ambareesh dan memeluk Ambareesh sambil menginjakkan kakinya di kaki Ambareesh.


"Kenapa tanahnya begitu?!" Tanya Bianca.


"PFFT! AHAHAHAHA!" Ambareesh tertawa melihat tingkah Bianca.


Disisi lain, Luka dan Tera mendengar suara Ambareesh yang tertawa. Mereka berdua melihat Ambareesh dari kejauhan.


"Dengan siapa Ambareesh itu?" Tanya Tera pada Luka.


Luka melihat Bianca. "Mungkin, nenek-nenek yang ditolong Ambareesh" Luka berpatokan pada rambut putih Bianca.


"Tumben sekali. Biasanya dia tidak peduli dengan sekitarnya" Lirih Tera sambil mengambil barang bukti dan dia masukkan ke dalam kantung.


Luka melirik ke arah Ambareesh kemudian, melanjutkan kembali aktivitas mereka.


"HAHA! Cuma gini aja sulit!" Tegas Bianca sambil tertawa di awal dan dia mulai berjalan dengan langkah kaki yang tinggi dan lebar seperti orang yang jijik. Rambut Binaca, masih memutih karena hal itu.


Ambareesh terkekeh ringan dan dia mengikuti Bianca yang berjalan dengan kaku.


Kemudian, Megi mendatangi Ambareesh.


"Ambareesh, 9 menit lagi pukul 11 malam. Kapan kita akan berangkat?" Tanya Megi sambil melihat ke arah Bianca.


"Kita akan berangkat setelah semuanya siap. Aku sudah menemukan lokasi mereka berada" Ucap Ambareesh.


Megi fokus dengan pakaian Ambareesh yang penuh dengan darah dan berlubang.


"Apa yang terjadi denganmu?" Tanya Megi sambil membuka jubah Ambareesh sedikit dengan ranting yang dia bawa.


"Biasa, ada kejadian yang tak terduga. Aku akan menyiapkan gerbang sihirnya" Ambareesh mengalihkan pertanyaan Megi.


Megi menarik pundak Ambareesh dan mendekatkan bibirnya pada telinga Elf Ambareesh. "Siapa gadis yang kau bawa itu? Dia cantik" Bisik Megi.


Kening Ambareesh mengerut tanpa dia sadari. Dia melihat Bianca yang berwajah yang sumringah, seolah berkata bila dia ingin dikenalkan pada teman-teman Ambareesh.


Ambareesh melihat ke arah Megi. Dia menunjukkan senyumannya sambil memegang pundak Megi.


"Dia Bianca, teman kecilku" Jawab Ambareesh sambil mengulurkan tangannya pada Bianca.


Bianca mengulurkan tangannya pada Megi. "Aku Bianca, dan kamu?"


"Kamu? Tsk, kenapa tidak menggunakan kau?" Ambareesh melirik Bianca kemudian memutar bola matanya.


"Aku Megi" Megi tidak didengarkan oleh Bianca.


Bianca terkekeh ringan. Dia menepuk punggung Ambareesh dengan tangan kanannya yang dia ulurkan untuk menjabat Megi. Kemudian Bianca mengacak-acak rambut bagian belakang Ambareesh.


"Kau iri? Haha, ternyata bisa iri juga ><" Ejek Bianca.


Ambareesh mendengus sambil menahan tangan Bianca dari kepalanya.


Megi merasa asing dengan Ambareesh yang ada di hadapannya ini. Dia melihat Ambareesh yang mengetuk kepala Bianca dengan jari telunjuknya.


Megi curiga, "Apa hubungan kalian berdua?" Dia melihat sosok Ambareesh yang berbeda dari biasanya.


Ambareesh dan Bianca melihat Megi bersamaan. "Kami berteman" Jawab mereka berdua bersamaan.


Megi menaikkan salah satu alisnya. "Masak?" Megi tidak mempercayainya.


Bianca terlihat senang. "Kami berdua sudah lama berteman. Jadi, jangan salah paham bila kami terlihat begitu dekat" Jawab Bianca.


Ambareesh pergi menjauh untuk memulai membuka gerbang sihirnya. Dia membutuhkan konsentrasi yang tinggi untuk menepatkan lokasi grafis tempat yang ingin dia tuju.


Vera melihat Bianca yang mengikuti Ambareesh dari kejauhan sambil merapikan barang yang Megi keluarkan. "Siapa wanita itu?".


Ambareesh melirik Bianca di sebelahnya dan dia menutup matanya. "Bianca, setelah ini gunakan sihir ilusimu untuk membuat kami tidak terlihat oleh mereka" Ucap Ambareesh sambil mengeluarkan lingkaran yang terang dari bawah pasir yang dia injak.


Teman-teman Ambareesh mulai berkumpul setelah sihir gerbang itu siap.


Ambareesh melihat teman-temannya yang sudah bersiap dan telah menganti jubah mereka.


"Musuh kita ada lebih dari 50 orang. Kalian siap?" Tanya Ambareesh pada teman-temannya.


Tera membelalakan matanya karena jumlah itu terlalu banyak dari yang dia kira. "Yang benar saja?" Lirih Tera sambil mengeluarkan pisau tarungnya.


Ambareesh segera menyuruh Bianca untuk mengaktifkan sihirnya. Mereka berenam, segera masuk setelah sihir Bianca aktif.


Luka serasa akan mati. Setelah melihat lawannya. "Kutukan apa yang kau berikan padaku Ambareesh?" Lirih Luka.


"Sialan. Ini namanya bukan tempat kau menemukan mereka. Ini memang markas mereka. Sialan!" Megi memaki dalam batin. Sebab, yang mereka masukki adalah Guild dari para Bandit itu yang merupakan pemberontak kelas kakap.