The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 5 [Elf Tanpa Marga-2]



Artl tiba-tiba mengulurkan tangan kanannya dan mengularkan botol kecil berwarna pekat. "Minum ini. Buktikan pengorbanan yang akan kau berikan padaku"


Itu adalah racun dari darah salah satu makhluk mitologi ras Alamander.


Ryan membuka matanya dengan lebar saat mengetahui kalau botol itu berisi racun.


...----------------●●●----------------...


Ryan menelan ludahnya sendiri saat melihat aura negatif yang pekat keluar dari botol itu yang dibukakan oleh Artl Kyzen.


Rian bertanya sambil melihat mata Artl Kyzen "Apa Anda menerima saya dengan meminum racun tersebut?" Ryan meragukan Artl Kyzen.


"Aku butuh persembahanmu dalam bentuk yang nyata. Bukan hanya sebuah omong kosong" Sedangkan Artl Kyzen sendiri, hampir tidak mempercayai tentang apa yang akan diberikan oleh Ryan.


Dia sedang menguji Ryan. Ryan menyadarinya.


"Bagaimana apabila saya mati dan Anda tidak memberikan sedikit sihir Anda?" Keduanya sama-sama tidak mempercayainya.


"Bukankah, ini termasuk persembahan yang akan kau berikan padaku?" Tanya Artl sambil mengulurkan botol kecil berisi racun itu.


Jantung Ryan seolah terasa berhenti sejenak karena ucapan Artl adalah tagihan atas janji yang akan dia berikan untuknya.


Ryan mengambil dengan hati-hati racun yang mampu membunuh 10 manusia hanya dengan setitik cairannya yang mengenai luka.


"Saya akan meminumnya. Ini adalah ucapan yang saya janjikan kepada Anda, Tuan. Saya harap, Anda tidak melupakan permintaan saya. Glegh!" Ryan menelan racun itu dalam sekali tegukkan.


Artl Kyzen membelalakan matanya. Kemudian dia menyeringai tipis sambil kembali duduk di singgahsananya.


Dia menatap tubuh Ryan sambil mengetukkan jari telunjuknya pada kursi singgahsananya, senada dengan hitungan dalam batinnya.


"Sa.. Saya sudah meminumnya, Tuan!" Tegas Ryan sambil menunjukkan dalam mulutnya dan botol itu.


Namun, tak banyak reaksi yang diberikan oleh Artl Kyzen padanya.


DEGGH!


Tiba-tiba, jantung Ryan berdegup dengan kencang. Botol itu terjatuh di lantai marmer hingga pecah. "BRUK!" Ryan terjatuh karena merasakan sesak di dadanya dan kerongkongannya panas seolah di cekik dengan erat.


Pipi Ryan menyentuh lantai marmer yang dingin itu setelah empat detik dia jatuh berlutut disana.


Air mata Ryan terjatuh saat melihat dan mengulurkan tangannya kepada Artl Kyzen. Dia tidak meminta pertolongan untuk dirinya yang meminum racun. Melainkan, meminta Artl untuk menepati janjinya.


Ryan melihat seringaian dari wajah Artl yang memburam karena penglihatannya.


Ingatan menyedihkan Ryan, mulai masuk ke dalam kepala Artl yang berusaha merusak diri Ryan dari dalam sebelum kematiannya.


Siksaan dirinya sebagai seorang Kakak yang lemah karena tidak diberkahi mana seperti orang umumnya, membuat orang tuanya mulai mendiskriminasi Ryan. Adiknya selalu di jujung tinggi oleh kedua orang tuanya.


Kemudian, Ryan yang di buang oleh keluarga kandungnya, membuat Artl semakin kasihan dengan Ryan.


Ryan di ajarkan ilmu pedang dengan keras oleh Ayah tiri tunggalnya. Luka di punggung Ryan yang di dapatkan karena Ayah tirinya, membekas hingga dia dewasa.


Artl keluar dari kepala Ryan tanpa merusak satu ingatan pun. Dia turun dari singgahsananya dan membuka jubah dan pakaian tipis Ryan untuk melihat luka pada punggungnya.


"MENYEDIHKAN"


Artl memegang kepala Ryan untuk mengeluarkan racun di dalam tubuh Ryan dan mengembalikan bentuk botol yang telah pecah dengan sihir pewaktu ke bentuk semulanya.


Artl menutup botol itu setelah mengembalikan cairan racun itu. Dia melangkahi Ryan setelah menyadari apabila Ryan hanya pingsan untuk pemulihan setelah pengeluaran racun itu.


Artl tersenyum tipis sambil menaiki tangga menuju lantai dua. Namun, Artl langsung menyadarkan dirinya sendiri dengan membekap mulutnya.


...----------------●●●----------------...


Ini adalah hari keempat Ryan pingsan.


Hujan turun dengan lebat di seluruh Arden. Artl yang melakukannya. Dia tidak tau dimana letak hutan sihir yang disebutkan oleh Ryan.


Hujan terus turun selama tiga hari tiga malam. Artl turun dari kamarnya dan melihat Ryan yang masih tidak pindah dari sana.


Pikir Artl, Ryan sudah pergi dari istananya. Dia juga tak mengharapkan imbalan yang telah di janjikan Ryan.


"Berapa usianya? Apa dia lebih muda dariku atau lebih tua dariku?" Artl membalik tubuh Ryan yang awalnya dalam kondisi telungkup menggunakan kakinya.


Ryan terlihat memanyunkan bibirnya seperti orang yang baru bisa bernapas dengan lega. "Serangga menyebalkan" Artl melangkahi Ryan untuk pergi ke ruangan kerjanya.


Namun, Ryan terbangun karena suara Artl. Ryan langsung duduk dan melihat ke dua tangannya. "HAH?! A... AKU MASIH HIDUP?!" Suara Ryan yang keras, mengema ke seluruh ruangan.


Jantung Artl terkejut karena suara keras di Istananya selalu sepi. Artl melihat Ryan dijarak yang cukup jauh dan dekat dengan ruangan kerjanya. Dia memperhatikan tingkah Ryan yang memastikan semua anggota tubuhnya lengkap termasuk di bagian bawahnya.


Artl memalingkan wajahnya, "Dia sungguh Elf bodoh" Lirih Artl yang masih terdengar telinga Elf Ryan.


Mata Ryan langsung tertuju pada asal suara itu. "TUNGGU! TUAN! APA ANDA YANG MENGHIDUPKAN SAYA?!"


Artl hampir melongo dan membulatkan matanya karena ucapan Ryan seperti lelucon.


"Pikir sendiri. Di kehidupan berikutnya, jangan menjadi Elf bodoh yang banyak bicara" Ucap Artl sambil melanjutkan jalannya.


Ryan berdiri dengan cepat menyusul Artl. "Baik Tuan! Lalu bagaimana dengan permintaan saya?" Ryan berjalan mundur di depan Artl dengan wajahnya yang sumringah.


Artl melipat lengannya di depan dada. "Lihat keluar. Kalau ada hal yang ingin kau inginkan lagi, aku ada di ruangan itu. Jadi, jangan ganggu aku selama dua jam dari sekarang" Artl masuk ke dalam ruangan di belakang Ryan berdiri.


Ryan mengangguk kemudian melihat kesegala arah untuk mencari pintu keluar. Ryan membelalakan matanya karena hujan yang begitu deras terjadi di hadapannya. Ryan mulai melihat air yang menggenang hampir semata kaki.


Sangking girangnya, Ryan langsung berlari keluar istana dan melompat-lompat kegirangan di bawah hujan yang deras. Artl melihatnya dari balik jendela ruangannya. "Huh? Apa dia itu bocah?" Artl menutup gorden jendelanya dan dia terlihat depresi dengan ruangan putih kosong itu. Ruangan itu, tidak terlihat seperti ruang kerja.


Artl menghukum dirinya sendiri.


...----------------●●●----------------...


"TUAANNN!!!" Ryan berlari ke arah Artl setelah Artl keluar dari ruangan itu dan Ryan sudah berpenampilan rapi.


Telinga Artl hampir pecah karena suara panggilan yang keras itu. Dia melihat Ryan yang berpenampilan lebih bersih dari bangun pingsannya itu. "Ada apa?" Tanya Artl sambil melihat rupa Ryan yang memuakkan di depannya.


"Eum, sebenarnya.... ada satu hal lagi yang saya ingin minta" Ryan dengan malu mengatakannya.


"Apa itu?" Artl hanya ingin Ryan cepat pergi dari istananya.


"Bisakah Anda membuat sihir perlindungan sepanjang hutan sihir? Em... Maksud sihir perlindungan itu, seperti sebuah domain yang hanya bisa dimasukki oleh beberapa orang terpilih dan semua Elf." Jelas Ryan dengan cepat.


Artl tidak percaya kalau Ryan akan memintanya. "Sebenarnya, kau ini kreatif atau aneh? Aku tidak bisa melakukannya. Bahkan, sekelas Malaikat Agung pun tak akan mampu melakukannya" Artl meninggalkan Ryan karena baginya omongan itu tidak masuk akal.


Ryan yang gigih, terus mengikuti jalan Artl. "Tuan, tidak bisakah Anda mencobanya dulu? Haha, menurut saya, Anda adalah sosok yang lebih kuat dari Malaikat Agung dan kalau Anda bisa melakukannya, pasti kekuatan Anda akan abadi dan di kenal oleh semua orang. Terutama bangsa Elf dan Makhluk Mitologi. Percayalah kepada saya! Saya bisa menerawang masa depan Anda!"


Sebenarnya, saat itu Artl mulai tertarik dengan semua obrolan Ryan. "Sadarlah, mungkin ini adalah dampak karena aku hampir tidak berbicara selama dua tahun dengan orang lain" Artl berusaha menciptakan sugesti untuk mempertahankan pendiriannya.


"Hentikan omong kosongmu. Rupanya, kau sudah berani bercanda denganku" Ucap Artl sambil membuang wajahnya.


Ryan berdiri di depan Artl. "Saya tidak berbohong. Anda memiliki masa depan yang cukup berat. Tapi tenanglah, Anda memiliki kehidupan ke dua. Haha, mungkin kalau di kehidupan kedua Anda, saya sarankan menjadi orang yang periang dan banyak berbicara. Sesekali, jadilah orang yang ceroboh. Karena, Anda akan memiliki kehidupan yang lebih buruk dari saat ini. Ah, bukankah akan seru kalau saya juga memiliki kesempatan sama seperti Anda? Saya harap, bisa menjadi teman Anda. Saya ingin memiliki teman yang ceroboh dan banyak bicara" Ucap Ryan sambil tersenyum dengan lebar di depan Artl.


Artl melihat wajah itu yang menunjukkan senyuman lebarnya. "Lebih baik, aku tidak punya teman daripada menjadi sembrono" Artl mendorong bahu Ryan agar minggir.