
Semenjak kematian Ryan, Artl merasakan perbedaan dengan kehidupannya. Istanya terasa lebih besar dari sebelumnya. Hanya kesunyian yang dirasakan oleh Artl.
Bayangan tentang Ryan yang selalu menunggunya di depan pintu kamarnya dan mulai berisik serta bercerita panjang, membuat Artl merasakan rasa tak nyaman di dadanya.
Luka goresan panjang di dada kiri Artl terbentuk karena rasa sesak dan pedihnya yang sulit di hilangankan. Luka itu, hanya pengalihan.
Istana itu, terasa lebih dingin dari biasanya. Artl seharian hanya duduk di singgahsananya. Dia mulai tidak peduli dengan dirinya sendiri.
Rasa penyesalan terasa begitu menyesakkan. Rentetan ingatannya tentang Ryan mulai menganggu kesehariannya.
"SIAAL! PRYANGGGGG!!!!" Artl mulai melampiaskan rasa kesalnya dengan melempar barang-barang di dekatnya.
...----------------●●●----------------...
Di tempat yang jauh dari nalar, tempat dimana Luciel dan dua belas Malaikat Agung lainnya berada....
Luciel mendapatkan perintah dari Sang Cahaya untuk menemui sosok penguasa Arden. Sang Cahaya membicarakan sesuatu tentang hal menarik yang ingin dia lihat untuk menguji Rakyat Arden.
Luciel tidak setuju dengan sesuatu yang diinginkan oleh Sang Cahaya di masa depan. Namun, Luciel tidak bisa menolak perintah itu.
Kristal ungu yang indah melayang di hadapan Luciel. Luciel menengadahkan kedua tangannya yang berjari lentik. Kristal itu turun pada telapak tangan Luciel kemudian berubah menjadi teratai ungu saat menyentuh permukaam telapak tangannya.
Perubahan itu, membuat Luciel terkejut.
"Itu adalah janjiku. Artl Kyzen adalah satu dari sekian banyaknya yang spesial" Ucap Sang Cahaya jauh di hadapan Luciel.
Luciel masih menundukkan pandangannya hingga Sang Cahaya menghilang dari hadapannya.
Luciel berpindah di tempatnya kembali. Disana dia melihat teratai ungu itu yang sangat bersinar dan mengundang perhatian 12 Malaikat Agung yang lainnya. Terutama, Charael. Malaikat Agung dalam proses perkembangan menuju Inti.
"Luciel, apa itu?" Charael memiliki wujud menyerupai remaja laki-laki berusia 15 tahun. Luciel menyembunyikan kuncup teratai itu dengan sihirnya.
Charael dapat melihat senyumannya yang menawan dari wajah Luciel yang tidak pernah membuka matanya. "Ini adalah masa depan Arden" Jawab Luciel yang membuat dua belas Malaikat Agung menjadi berisik.
"Apa! Bagaimana bisa?!"
"Apa ini perintah Sang Cahaya?!"
"Hei! Biar aku melihatnya dengan jelas!!"
"Astaga! Betapa terhormatnya kau Luci, bisa mendapatkan kepercayaan itu dari Sang Cahaya"
Luciel sebenarnya tidak menyukai hal ini. Dia hanya tersenyum tipis kepada mereka.
Charael selalu mengikuti Luciel kemana pun dia pergi. "Luciel! Aku ingin sepertimu!" Bagi Charael, Luciel itu seperti pedomannya.
"Lebih baik, kau menjadi dirimu sendiri Charael. Sudah pergi sana" Luciel mengetak kening Charael dengan jari tengah tangan kanannya.
Charael memegang keningnya. "Aku ingin sepertimu yang bisa keluar dan masuk dunia manusia. Ah, aku juga ingin memiliki tubuh tetap sepertimu" Hanya Charael dan Luciel saja yang memiliki perasaan seperti manusia.
Luciel tau ini adalah bencana. Harusnya, dia tidak menerima kebaikan Sang Cahaya. Disisi lain, ini juga adalah perintah dari Sang Cahaya untuk menguji kesetiaannya.
Luciel turun di Negri Arden untuk menemui Artl Kyzen.
Istana yang berantakan dapat di bayangkan oleh Luciel dari kedua matanya yang tak pernah dia buka.
Ruri masuk begitu saja di Istana Artl setelah dua minggu kematian Ryan.
Artl melihat pemandangan yang mengejutkan. Ini pertama kalinya bagi Artl melihat sosok yang memiliki sayap. Terutama tiga pasang hingga mengeser di lantainya.
"Apa dia Siluman? Apa ras Burung? Tidak mungkin, aku sudah memastikan kalau ras itu sudah tidak ada di Negri ini. Dia juga aneh sekali. Menutup mata untuk menemuiku? Apa aku akan mati saat dia membuka matanya?"
Artl berteleportasi di depan Luciel dan menodongkan Pedang Mana ungunya di hadapan Luciel yang mengeluarkan teratai putih yang dia ambil dari dalam hutan sihir.
Artl menatap Luciel. Dia merasakan aura yang tak biasa dari Luciel. "Kau terlihat kuat. Lawan aku disini" Artl Kyzen berfikir kalau sosok dihadapannya adalah salah satu dari bagian Ayahnya yang lolos.
Artl Kyzen berusaha membuat Luciel kesal dengan cara Ryan. Yaitu, menguji kesabaran. Lupakan saja. Luciel bukanlah tipe sosok yang mudah terpancing emosi.
"Saya kemari karena mendapatkan perintah dari Sang Cahaya untuk Anda..." Artl Kyzen sudah malas untuk mendengarkan Luciel. Nada suara Luciel terlalu datar untuk didengar.
"Sialan!" Umpat Artl di dalam batinnya.
"Saya juga kemari untuk menawarkan kerjasama dengan Anda sebagai sosok yang mulia diantara orang-orang Arden" Luciel mengulurkan tangannya sambil memberikan sekuncup teratai putih itu.
Artl Kyzen muak. Dia mengenggam dengan erat pedang mana ungu di tangannya. "TRASH!" Pedang mana itu, menebas lengan kanan Luciel.
BRUK! CRAT!
lengannya yang terpotong, jatuh di lantai marmer bersamaan dengan kuncup teratai di kepalannya.
"Ah" Luciel merasakan sakit meski begitu, Luciel masih berbaik hati dan menahan diri.
Di marmer itu, darah Luciel menumbuhkan rumput hijau dan beberapa dadelion yang telah berbunga. "Apa Anda tidak menyukai teratai?" Tanya Luciel sambil mengambil lengannya di lantai.
Mata Artl Kyzen membelalak lebar. Bibirnya bergetar karena terkejut melihat darah Luciel membuat lantainya ditumbuhi tanaman dan dia juga melihat Luciel yang kembali menempelkan lengannya yang terpotong pada bahunya.
Lengannya kembali bersatu.
"Si... siapa kau!?" Artl Kyzen terlambat menyadari sosok di hadapannya merupakan sosok yang berbahaya baginya.
Artl Kyzen berusaha menahan dirinya yang ketakutan dengan kembali duduk di singahsananya.
"Mohon maaf, saya sungguh tidak sopan" Luciel menunjukkan senyuman tipisnya kepada Artl Kyzen.
"Sebelum itu, bisakah Anda memberitahu saya, siapa Anda di dunia ini?" Lanjut tanya Luciel.
DEGH!
Artl Kyzen sebenarnya enggan untuk memperkenalkan dirinya kepada sosok bersayap di hadapannya. Artl Kyzen mulai melihat perubahan aura di sekitar Luciel.
"Aku Artl Kyzen. Penguasa Arden" Jawab Artl Kyzen.
Senyuman di wajah Luciel perlahan melenyap.
".... Saya, Luciel. Malaikat Agung pertama yang di kirimkan Sang Cahaya untuk memberikan pesan kepada Anda. Wahai, calon yang akan di percaya" Salam Luciel sambil membungkukkan tubuhnya.
Artl Kyzen tidak ingin terlibat dengan Luciel atau apapun itu yang berurusan dengan Sang Cahaya.
"Aku menolak pesan itu" Ucapan Artl membuat Luciel getam. Luciel mengangkat pandangannya dan membuka mata kanannya.
"PRREEAACHHHHH!!!"
Lengan kanan Artl yang di tatap oleh Luciel terpelintir hingga meremukkan tulangnya. "Ah-AARRRRGGHHHHHH!!!" Suara teriakan Artl Kyzen mengema di Istana itu.
Luciel masih mengulurkan kuncup teratai putih di tangannya. "Tolong katakan sekali lagi. Sepertinya, saya salah mendengar jawaban Anda" Luciel memberikan kesempatan kedua untuk Artl.
Artl Kyzen meringkuk di depan singahsananya. Dia memengang lengan kanannya yang sakit meski dia menggunakan sihir penyembuhan yang ternyata menolak untuk menyembuhkannya karena mata kanan Luciel yang merusak organ dalam Artl.
"ARGH.... A..Aku menolaknya!" Tegas Artl dengan cepat.
Kuncup teratai putih di tangan Luciel, terjatuh di lantai bersamaan dengan "SWOP! CRAT!" Bulu dari sayap Luciel melesat ke arah kepala Artl hingga menembusnya dan tertancap di singgahsana Artl.
"AKH, BRUK!"