
Ambareesh dan Vera telah selesai mengubur 15 jasad itu dalam waktu 2 ½ jam.
Vera membuka jubahnya yang panas sambil berjalan ke arah danau.
"Ah, gerahnya..." Ambareesh merasakan kepanasan karena lelah naik turun ke liang berkali kali dan memasukkan kembali tanah itu dengan tangan kosong.
Kini Ambareesh tiduran di tanah yang lembab.
Vera membersihkan tangannya yang kotor dengan air danau. "Airnya sejuk. Ingin mandi rasanya" Lirih Vera sambil mengusapkan air itu di wajahnya yang berkeringat.
Ambareesh mendonggakkan kepalanya melihat Vera yang sedang membasuh wajahnya.
"Kalau ingin mandi, mandilah. Aku akan menjagamu disini" Ucap Ambareesh sambil mengibas-ngibaskan sapu tangannya.
Vera melihat ke arah Ambareesh sambil mengangakan mulutnya. Mata mereka saling bertemu. Wajah Vera terlihat memerah.
"A...uh, lupakan saja. Aku tidak ingin mandi" Vera langsung menutup wajahnya dengan sapu tangan miliknya.
Ambareesh memanyunkan bibirnya karena tidak paham dengan tingkah Vera. "Gadis yang aneh".
Ambareesh berdiri dan melepas pakaian bagian atasnya.
Vera membuka wajahnya dan di kejutkan dengan Ambareesh yang sudah telanjang dada. "HEI! KAU KENAPA BUKA BAJU?!" Dia terkejut dan terpesona bersamaan saat melihat postur tubuh Ambareesh.
Otot perut Ambareesh terlihat jelas membentuk enam pack.
Ambareesh menjatuhkan jubah dan kemejanya. "Tentu saja mandi" Jawab Ambareesh sambil berjalan ke arah Vera yang kembali menutup sebagian wajahnya dengan sapu tangan namun tidak dengan matanya.
"Man-mandi?! Ta-tapi aku masih ada disini!" Tegas Vera.
Ambareesh berdiri di depan Vera sambil menunjukkan senyum seringainya. "Apa salahnya? Aku sering begini pada Tera. SYUUT!! BYUUUR!!!" Ambaressh sedikit membungkuk kemudian dia mengalungkan lengannya pada perut Vera dan langsung terjun ke danau sambil menyeret Vera kesana.
Kedua orang itu masuk ke dalam danau yang dalam dan dingin itu bersamaan.
Ambareesh naik ke permukaan dan tertawa. "Ini seru kan Ver? Harusnya, kita mengajak yang lain juga...." Vera tidak muncul dipermukaan.
Mata Ambareesh berkeliling sejenak untuk mencari Vera.
Ambareesh membelalakan matanya. "VERA! SYUUT!" Ambareesh kembali menyelam ke dalam air. Dia khawatir Vera tidak bisa berenang. Karena, ini pertama kalinya Ambareesh menjahili Vera.
Ternyata memang benar. Vera tidak bisa berenang. Dia tenggelam jauh di bawah Ambareesh. "Sialan! Apa aku berlebihan?" Ambareesh mempercepat gayuhannya untuk menangkap tangan Vera yang di ulurkan.
"Ayolah! Sedikit lagi!! Kau pasti bisa Ver!" Ambareesh berusaha meraih tangan Vera. "TEP!" Ambareesh menarik tangan Vera kemudian Ambareesh langsung berenang ke atas.
"PUAH! KHOKH! KHUK-KHUK!" Vera terbatuk tepat di wajah Ambareesh. Ambareesh menahan pinggang Vera sambil mengusap wajahnya yang basah.
Vera lemas dan dia tidak sadar memeluk Ambareesh untuk berpegangan. Dia takut untuk tenggelam lagi. Napas Vera terdengar tidak beraturan di telinga Ambareesh.
"Maafkan aku. Aku tidak tau bila kau tidak bisa berenang" Ucap Ambareesh sambil berenang ke tepian.
Vera melirik wajah Ambareesh yang sangat dekat dengannya. "Aku akan memukul tandukmu itu bila kau melakukannya lagi" Ancam Vera yang terdengar lucu di telinga Ambareesh.
"Ahaha, pukul saja sepuasmu. Aku beneran minta maaf" Ucap Ambareesh sambil mengangkat Vera untuk naik ke darat. Kemudian, Ambareesh keluar dari air dan mengambil kemeja, jubahnya, serta jubah Vera.
Ambareesh berjongkok dan memberikan jubah milik Vera. "Apa kau baik-baik saja?"
"TANDUKMU BAIK-BAIK SAJA!" Tegas Vera sambil mengkernyitkan kedua alisnya. "Aku hampir mati tau. Bagaimana kalau kau. . ., kau telat sedikit saja menolongku?" Suara Vera tiba-tiba bergetar.
"Aa... Aku minta maaf!" Ucap Ambareesh sambil melihat Vera yang mulai menangis.
"Kau membuatku takut!" Vera memukul dada Ambareesh sekali.
Ambareesh menutupi kepala Vera dengan jubahnya kemudian dia memeluk Vera perlahan. "Maafkan aku. Bercandaku berlebihan" Ucap Ambareesh sekali lagi.
Vera mendengar suara Ambareesh begitu dekat dan besar. Dia membelalakan matanya saat mendengar suara debaran jantung Ambareesh.
Vera memeluk Ambareesh namun, tangan Vera tidak sampai menyentuh punggung Ambareesh. Tangan Vera mengambang. Dia tidak boleh keterusan seperti ini.
Vera melepas pelukan Ambareesh. "Tolong jangan diulangi lagi. Kalau kau mengulanginya lagi, aku akan memukul tandukmu itu dengan sarung pedangku" Ucap Vera sambil membuka jubah Ambareesh di kepalanya.
"Baik-baik" Ucap Ambareesh sambil mengangkat kedua tangannya.
Ambareesh mengeringkan pakaian mereka dengan sihirnya sebelum kembali menuju tenda.
Dia atas pohon, mereka tidak tau ada sepasang mata hijau yang memperhatikan mereka dari tadi.
"Bocah zaman sekarang tidak tau kata permisi untuk penjaga hutan ini" Ucap sosok itu sambil turun dari pohon itu.
Sosok itu, adalah seorang pria yang memiliki tinggi sekitar 177-181 cm.
Pria itu, memiliki rambut hitam bermodel wolf cut dengan dua anting berbandul teratai kecil berwarna hijau zamrud yang menyala di kegelapan.
Sebenarnya, Ambareesh sudah melihat orang ini. Namun, dia diam saja karena dia pikir orang itu ogdj yang dibuang.
Sosok itu, berubah menjadi Cerberus hitam dan besar, serta memiliki tujuh kepala. Cerberus itu memasukkan semua kepalanya dan menekuk tubuhnya untuk beristirahat dipinggir danau itu. Dari kegelapan, Cerberus itu mirip dengan sebuah batu kali yang besar.
Ambareesh dan Vera sampai di tenda sebelum makanan siap untuk ditata. Ambareesh dan Vera terlihat lebih akrap setelah peristiwa itu.
Setelah makan malam, Arvolt menjelaskan tugas mereka untuk besok.
Penebangan sebagaian pohon untuk posko dalam hutan. Guna, mempermudah para prajurit Akaiakuma dalam penjagaan dan untuk meminimalisir kasus kematian di hutan ini.
Ambareesh agak kurang setuju saat mendengar harus menebang pohon sakral yang sudah ada lama disini.
Pohon-pohon besar yang ada dihutan ini, sudah berusia ribuan tahun. "Putra Mahkota. Bila kita menebang pohon ini, konsekuensinya musuh kita adalah Serigala Sihir. Apa Anda sudah menyiapkan segalanya?" Tanya Ambareesh sambil melipat tangannya di dada.
"Memang kenapa dengan Serigala Sihir? Mereka hanya hewan" Ucap Arvolt.
"Mereka bukan hewan biasa Putra Mahkota. Mereka memiliki pemikiran seperti manusia dan mampu mengeluarkan sihirnya seperti kami bangsa Elf" Jawab Luka.
"Sudahlah. Jangan pikirkan itu. Kita hanya menebang sekitar 4-6 pohon saja. Bila mereka menyerang, kita serang balik atau bunuh mereka yang mendekat" Ucap Arvolt yang anti ribet.
Megi setuju dengan ucapan Arvolt.
Setelah itu, mereka gantian berjaga tenda dan membiarkan temannya yang lain untuk istirahat.