
"Lima Titisan telah berkumpul disini. Dan saranku, kalian akan lebih aman berada di wilayah mereka" Haraya membawa kabar baik untuk mereka.
"Eh? Titisan?"
"Dan, Archie... Putra Mahkota Aosora Bram masih hidup dan dia akan segera bertemu denganmu" Ucap Haraya.
...----------------●●●----------------...
DEGH!
Seolah jiwa Arthur merasakan detak jantungnya saat berkumpulnya sosok-sosok asing di ruang tengah Istana es itu.
Mereka tidak hanya duduk disana. Namun, Arthur diajak berbincang dalam pertemuan itu.
"Dan Aosora Arthur, kau adalah kunci kemenangan ini" Alder menunjuk Arthur dengan penanya.
Arthur melihat ke arah Ambareesh di depannya. Dia sungguh tidak tau dengan apa yang terjadi dihadapannya. Dan segalanya berjalan begitu cepat di hadapannya.
"Uh, A... Aku tidak tau dengan apa yang kalian katakan. Aku bukan Titisan. Aku hanya orang biasa. Ku harap, kalian mengerti dengan ini" Arthur berdiri dan berjalan kebelakang melewati kursi yang dia duduki.
Hal ini, membuat Arthur terkejut. Orang tuanya, selalu memperingatkan Arthur untuk tidak terlibat dengan Titisan. Namun, saat ini Titisanlah yang mendatanginya dan mengatakan kalau Arthur adalah salah satu dari mereka.
"Aku berbeda dengan kalian." Lanjut ucap Arthur sambil melihat bayangannya di cermin yang tak terpantul.
Lingga mengambil alih untuk membujuk Arthur.
"Aosora Arthur, kau memiliki tanda yang sama dengan kami di dada kirimu. Dan tidak mungkin kalau kau belum pernah bertemu dengan Ruri. Kau memiliki kemampuan yang dapat masuk ke dalam alam bawah sadar siapapun. Mungkin, kau tidak pernah mengingatnya, tapi ku katakan kalau kau pernah menemuiku sebelum kelahiranmu" Lingga berdiri dan memegang ubun-ubun Arthur dengan satu tangan kanannya dan menunjukkan tanda Titisannya pada keningnya (diantara kedua tanduknya yang menjulang ke atas).
Mata Arthur terbelalak. "Pfft! Itu tidak mungkin" Arthur menertawakan Lingga karena ucapan Lingga seperti bualan.
"Kalian bisa memiliki tanda yang sama dengan ku, karena kalian Titisan. Kalian bisa melakukan hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Guru Ciel yang mengatakannya padaku. Suatu hari kalian akan berkumpul dan mendatangiku seperti ini. Oleh karena itu, Orang tuaku selalu memperingatkanku untuk tidak berada di sekitar kalian" Arthur menepis tangan Lingga di keningnya yang menembus.
"Ha~ Tidakkah kau melihatnya? Aku bahkan tidak bisa menyentuhmu. Namun, kalian bisa menyentuhku. Karena Kalian itu Titisan dan aku bukan salah satu dari kalian" Arthur melihat ke arah empat Titisan di belakang Lingga. Termasuk melihat Ambareesh yang dirinya sendiri tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Meski begitu, Ambareesh merasa tak asing dengan mereka karena mempercayai Haraya.
Dean (Luxe) berdiri di hadapan Arthur. Dia menatap Arthur yang memiliki tinggi lebih rendah darinya.
"Bocah, dengarkan saja ucapan kami. Baik kau ataupun aku, termasuk orang gila lainnya disini, tidak ada yang pernah menginginkan menjadi Titisan. Namun, ini adalah takdirnya. Sang Cahaya mempercayaimu" Ucap Dean sambil melirik ke arah Alder yang mengangguk ringan padanya.
Arthur mengkernyitkan keningnya. "Aku akan meminjamkan salinan tubuh aslimu, tentunya ini bersifat sementara dan kau akan mendapatkan tubuh aslimu setelah Buku itu ditangan kami, termasuk Daeva" Ucap Alder sambil membuka telapak tangannya di udara.
Sinar hijau tiba-tiba keluar dari sekililing Arthur dan cahaya itu perlahan membentuk benang tipis yang berubah menjadi lingkaran sihir dengan rapal yang mengelilinginya.
Dean dan Lingga mundur kebelakang untuk menjaga jarak dengan Arthur.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Ambareesh sambil melihat Alder di depannya.
"PATSH!" Lingkaran sihir itu berubah menjadi ungu dan meledakkan cahayanya dengan cepat, serta silau.
Ambareesh dan Ranu menutup matanya karena ledakan cahaya itu.
Dari balik cahaya itu, perlahan bayangan tipis terlihat. Ambareesh membelalakan matanya saat melihat Arthur dihadapannya.
"Pfft" Namun, Dean menertawakan Arthur dengan kencang.
Arthur tidak merasa ada perubahan terhadap dirinya. Namun, pemikiran itu berubah saat Lingga menengokkan kepala Arthur ke arah kiri. Tepat pada cermin itu.
"Bajingan!" Maki Arthur sambil menarik jubah biru gelap di sandaran kursi sebelahnya.
Arthur langsung mengenakannya dengan cepat. Dia berdiri dan meresletingkan jubahnya yang hanya sepanjang pahanya.
"Menyebalkan" Celoteh Arthur sambil duduk di kursi itu.
"Apa tubuh ini akan seperti Archie yang memiliki batas tertentu dengan mu? Tuan Titisan Elf?" Tanya Arthur sambil memainkan tali pengerut biru langit pada jubahnya.
Alder membuang napas ringan. "Tentu saja tidak. Itu hampir sama dengan tubuh aslimu. Bedanya, tubuh itu tidak akan bisa menampung kapasitas manamu sebesar tubuh aslimu. Efeknya, kau bisa saja demam tinggi, mimisan, hingga pingsan" Jawab Alder.
"Berarti, sama dengan saat dia menggunakan tubuhku?" Tanya Ambareesh sambil melihat Arthur.
"Tepat sekali" Jawab Alder sambil menepuk tangannya.
"Lalu, apa yang harus ku lakukan? Aku tidak ingin berhutang karena kau meminjamkanku tubuh ini" Ucap Arthur sambil menaikkan kaki kanannya pada lutut kirinya.
Ini adalah pertanyaan yang ditunggu-tunggu oleh para Titisan.
Alder dan Dean saling melihat. "Bantulah- BRAK!" Archie tiba-tiba membuka pintu ruangan berkumpulnya Titisan dengan heboh.
Jawaban Alder terpotong karena kedatangan Archie disaat yang tidak tepat.
Semua pandangan tertuju kepada Archie termasuk Arthur. Archie melihat rupa para Titisan itu satu persatu. Mata Archie tertuju kepada Arthur.
"Brak!" Arthur langsung berdiri dan dia berbelok kekiri untuk melarikan diri karena melihat pakaiannya sangat memalukan untuk bertemu dengan Archie.
Arthur yang terburu hingga dia lupa dengan dirinya yang telah memiliki raga.
"PRUAK!!" Arthur menabrak cermin itu seperti orang bodoh. Dia malu dan Wosh! Pergi begitu saja tanpa melihat mereka yang menatap Arthur dan Dean yang menahan tawanya.
"Apa itu Arthur?" Archie menunjuk ke arah cermin.
"Seperti yang kau lihat" Jawab Ambareesh sambil kembali duduk dan meminum teh hangatnya yang telah dingin.
"Sudah kuduga kalau bocah itu salah satu dari kalian. Hei, ada yang ingin ku tanyakan kepada kalian!" Archie masuk ke dalam ruangan itu.
Lingga menghadang jalan Archie. Dia berdiri dengan membusungkan dadanya dan memajukan wajahnya di hadapan wajah Archie.
"Keturunan De luce memang tidak memiliki sopan santun sedikitpun. Aku sungguh malu untuk mengakuimu sebagai keturunanku" Ucap Lingga kepada Archie.
Tubuh Archie dengan Lingga hampir memiliki paras yang sama. Bedanya, tubuh Lingga lebih lebar dari Archie.
Archie mengkernyitkan alisnya. "Siapa kau? Kau tidak terlihat seperti Titisan. Apa-apaan dengan mana tipis itu?" Archie hampir tidak merasakan aura mana Lingga. Namun, dia merasakan rasa mengancam terhadap keberadaan Lingga.
Archie tidak menyukainya.
"Jaga sopan-santunmu" Ingat Lingga kepada Archie.
Archie mengkernyitkan keningnya dan menatap tajam mata Lingga yang sama dengan mata Ayahnya. "Jangan memaksaku menghormatimu karena kau seorang Titisan. Aku bukan De luce" Ucap Archie tanpa takut dihadapan Lingga.
Dean mendorong dada mereka berdua dan berdiri ditengah dua pria besar itu.
"Lingga, kau istirahatlah. Aku dengar kau baru pulang dari Akaiakuma dan Archie, mari mengobrol di luar" Dean memberi kesempatan untuk Alder mengobrol dengan Titisan yang ada dan membawa pergi Archie untuk mencari Arthur.