
SNIFT!
Ranu menggunakan indera penciumannya untuk mencari Ambareesh.
"Aku tidak bisa mencari Ambareesh. Keberadaannya terlalu tipis" Ucap Ranu setalah dia melepaskan sihirnya.
"Bagaimana dengan Daeva? Aku melihat dia menghilang bersamaan dengan Ambareesh" Ucap Alder yang mulai gelisah dengan apa yang terjadi.
Ranu menghela napas panjang karena dia mendengar nama orang yang tidak dia sukai. "Hanya untuk kali ini" Ucap Ranu. Kedua iris Lingga yang keemasan, mampu melihat orang yanh dia cari dengan jarak kurang dari 90 Km. Dan penciuman Ranu memiliki penciuman yang cukup luas dengan syarat, Ranu pernah bertemu dengan sosok yang dia cari.
"TRANKKKK!!! PATSH!"
Ranu melihat titik Jiwa Daeva dengan penglihatannya dan aliran mana Daeva pada setiap pembuluh darahnya dan syaraf-syarafnya.
Dia mampu melihat pergerakan Daeva. "Di Tenggara. Kurasa itu di Aosora. Dia sedang bertarung dengan sosok yang memiliki tinggi kurang lebih 200 cm. Mungkin, 205? Disana aku melihat Alfarellza dan satu Iblis di luar embran" Jawab Ranu.
"Kalau begitu, Ranu dan Lingga tetap disini. Dean, kau ikut aku" Ucap Alder.
"Lebih baik, semuanya ikut ke Aosora" Ucap Lingga yang beberapa hari ini dia hanya diam dan bergerak sesuai perintah Alder.
"Aku setuju dengan Lingga" Sahut Ranu.
"Apa? Kenapa?" Tanya Alder yang cukup terkejut. Biasanya Lingga dan Ranu, selalu menghindari sesuatu yang berurusan dengan Daeva.
"Bukankah, kau berkata itu adalah sosok Aosora Arthur. Dan dia adalah incaran Ruri. Aku memang tak sehebat kalian dalam mengatur mana. Tapi, aku dapat merasakan kalau itu bukan aura biasa. Aosora Arthur, tengah dirasuki ah, bukan. Dia sedang tidak sadar" Ucap Lingga sambil memasukkan pedang panjangnya ke dalam sarung pedang.
"Sampai kapan kalian akan berbicara? Cepatlah masuk" Dean telah memperkirakan tempat Daeva berada. Dia menggunakan inderanya karena Dean dan Daeva memiliki hubungan yang lebih dekat dari pada Daeva dengan Lingga.
[BLEB!]
Mata Dean terbelalak saat melihat Daeva di dalam embran itu yang kondisi wajahnya telah berlumuran darah.
"BAMMM!" Ambareesh dan Arnold berkerja sama untuk menghancurkan embran sihir itu dengan tinjuan mereka yang di tambah dengan energi sihir mereka hingga Dean dapat melihat punggung tangan Arnold yang berdarah karena Arnold tidak dapat meregenerasi luka di tubuhnya dengan sihir penyembuhan.
Ambareesh melihat tangan kanannya yang bergetar karena embran mana itu, lebih kuat meski memiliki lapisan yang lebih tipis daripada embran sihirnya. Ambareesh juga, telah melesatkan pukulannya pada titik lemah sebuah embran sihir yang berada di atas pusat embran itu berada.
"HUFFFT"
Napas Daeva terlihat terengah-engah. Dia kembali mengangkat dua belati yang selalu dia bawa kemanapun.
Arthur menelengkan kepalanya ke kanan saat melihat Alder dan Titisan yang lain telah muncul.
"Haha, merekakah serpihan yang Luciel maksud?" Tanya Arthur sambil melihat wajah mereka satu persatu untuk mengingatnya.
Wosh!! WESHT!
Daeva kembali melakukan serangannya dengan memindahkan dirinya atau berteleportasi dibelakang Arthur kemudian dia langsung melesatkan serangan belatinya dengan beruntun kepada Arthur.
BWESH! SYUUT!
Arthur menunduk kemudian dia memutar tumitnya untuk berbalik ke arah Daeva muncul sebelum dia melesatkan rentetan serangan belatinya.
PATTSH!
Arthur menghentakkan tangan kirinya dengan cepat pada dada Daeva dari bawa hingga, ****BWOSH****! Tubuh Daeva melesat ke udara dengan cepat.
****BUGGGHH****!!
Punggung Daeva dengan keras menghantam langit-langit embran sihir itu.
****BRUK****!
Tubuh Daeva terjatuh ke tanah dengan keras setelah hentakan dari atas itu. Pipi kanan Daeva jatuh terlebih dulu di tanah. Dia merasakan mati rasa pada wajahnya dan pandangannya yang gelap. Untuk kedua kalinya, Daeva merasakan keadaan sebelum dirinya mati.
"GRRRT!" Rambut putih dan tipis Daeva di jambak oleh Arthur.
"Katakan aku kalah" Bisik Arthur pada telinga Daeva.
"BAMMMM!!!" Alder mengerahkan kekuatannya dengan penuh saat menghentakkan akar pohon untuk menghancurkan embran mana itu.
Arthur merasa terganggu dengan suara hentakan dari akar-akar pohon yang Alder hentakkan.
Daeva menyeringai tipis.
"Aosora... Arthur.... ataupun... Arlt... Kzyen..., Ka..mi, ti...dak akan kalah darimu" Ucap Daeva sambil menurunkan ibu jarinya ke tanah dan memeletkan lidahnya.
"Heh~ Begitukah?"
"I..ni, era kami dan kau seharusnya memilih kami. Orang yang kau cari, adalah orang yang akan meluluh lantakkan Arden dan semua jerih payahmu melindungi Hutan Terlarang dengan mana mu" Ucap Daeva dengan keadaan memaksakan dirinya untuk tetap tersadar.
Alis kanan Arthur terangkat ke atas. Dia menarik rambut Daeva lebih kuat dari sebelumnya.
"Kau tidak mengenalnya. Mulutmu ini, tak pantas berkata buruk tentang dia" Ucap Arthur.
Daeva membuka mata kirinya dan menatap Arthur.
"Benarkah? Bagaimana kalau ucapanku benar? Luciel sudah melihat masa depanmu"
DEGH!
Ucapan Daeva membuat Arlt terkejut.
"Siapa kau? Bagaimana kau bisa mengenal Luciel?" Dia mengecilkan nada suaranya.
"Aku? Siapa? Aku sekutunya yang menjalin kontrak untuk mendapatkanmu. Agar rencana sosok itu tidak berjalan sesuai keinginannya" Ucap Daeva.
Daeva mulai merasakan rasa sakit yang luar biasa dari sekujur tubuhnya. Dia merasa tubuhnya seakan telah remuk.
"Kebangkitanmu hari ini, adalah sebagian kecil dari rencananya. Aku disini, untuk mendapatkanmu agar para masa depan yang di lihat oleh Luciel dapat berubah. Baik itu kematianku, kematian Luciel, kehancuran Arden, ataupun kehancuran jiwamu karena sosok itu" Ucap Daeva.
"Siapa namamu?" Tanya Arthur pada Daeva.
Daeva tersenyum tipis karena dapat melihat sedikit cahaya kesempatan dari sosok berbahaya di hadapannya.
"Daeva Nerezza. Sosok yang di utus Sang Cahaya untuk menghindari kebangkitanmu. Namun, aku gagal karena ulah Luciel. Percaya padaku, aku tidak akan membohongi siapapun" Ucap Daeva sambil memukulkan punggung tangannya pada dada kiri Arthur dengan lemah.
Arthur melihat para Titisan yang berusaha menghancurkan embran sihirnya.
"Mereka melihatmu layaknya kau adalah monster. Dimataku kau memang terlihat monster namun, diantara mereka, hanya aku yang berani menantangmu, Artl Kyzen. Meski begitu, kami Para Titisan akan mendapatkanmu, walau nyawa Kami adalah taruhannya" Ucap Daeva.
"Sebab...., kami semua tau. Kami, tidak dapat mengalahkanmu, meski kami ada seribu. Kami hanya ingin mencapai kedamaian. Kedamaian dimana Kau bisa hidup dengan tenang sebagai Aosora Arthur. Kedamaian dimana aku bisa melihatmu, sebagai Aosora Arthur yang berisik dan ceria seperti biasanya"
Mata Arthur terbelalak mendengar hal itu. Senyum seringai Arthur terlihat begitu jelas. Dia melepas jambrakannya dan berdiri. Arlt Kyzen teringat seseorang karena ucapan Daeva yang membangkitkan gairahnya seketika.
"PFTHAHAHAHA!" Arthur tertawa dengan kencang.
"KALAU BEGITU! AKU INGIN MEMBUKTIKAN UCAPANMU! DAEVA NEREZZA! UWOSHT! PRUAKKK!!!" Arthur melesat dengan cepat ke arah Alder dan menghancurkan embran mananya sendiri dengan tinjuan kerasnya.