
"Matilah/CTAK!!"
Arnold mematikkan jarinya dan "JLEB! JLEB! CRAT!" Pedang-pedang itu, menembus diri Ambareesh.
"ARTHUR!!/BWOSH!"
Angel berteriak memanggil nama Arthur saat melihat pedang pedang Arnold menembus tubuh Ambareesh dan mereka (Anggota Pemberantas Iblis) masuk ke dalam lubang teleport yang dimunculkan dari kaki-kaki mereka.
Pedang-pedang itu, telah menusuk di sekujur tubuh Ambareesh kecuali bagian kepalanya yang hanya mengucurkan darah.
Ambareesh masih bisa berdiri tegak disana. Pedang-pedang itu terhisap ke dalam cincin Ambareesh.
Tubuh Ambareesh mulai meregenerasi karena dirinya adalah seorang Titisan.
Dean meringis dibelakang sana saat memunculkan lubang teleport dibawa Ambareesh dan Archie.
Ha nashi melihat Arnold yang tengah berlari ke arah Archie saat lubang sihir itu muncul di bawah kaki Archie yang tidak bisa bergerak.
Saat itu lah, Ha nashi tersenyum tipis melihat Arnold yang telah lama menipu dirinya sendiri. Tidak ada sosok orang tua yang tidak menyayangi anaknya. Seburuk apapun orang tuamu, sebenci apapun orang tuamu, mereka tetaplah orang tuamu.
"Tidak, tidak, tidak!" Arnold seperti orang yang sudah kehilangan akalnya.
Dia menggosok tanah yang melahap Archie itu. Ha nashi terduduk sambil melihat Arnold yang menangis disana.
Setua apapun Arnold, di mata Ha nashi, Arnold masih sama seperti saat Arnold kecil.
Darah menyucur banyak dari leher Ha nashi saat dirinya membuka mulutnya.
Mengetahui itu, dia mengetahui apabila janjinya terhadap Ambareesh telah usai. Dan dirinya menyerang Ambareesh tidaklah sungguh-sungguh. Semuanya telah berjalan sesuai dengan rencana Ambareesh.
"BRUKKK!"
Ha nashi terjatuh di belakang Arnold.
"Tidak! Tuan Ha nashi!" Arnold berjalan ke arah Ha nashi. Dia berjalan selayaknya orang yang telah kehilangan segalanya.
"Tuan Ha nashi! Jangan tinggalkan aku sendirian! TUAN!!"
Arnold, semuanya sia-sia. Terimalah takdirmu sebagai Raja Akaiakuma yang telah ditakdirkan untuk hidup sendirian.
----------------●●●----------------
Tubuh Ambareesh penuh dengan sayatan pedang Arnold. Tsuha melihat regenerasi tubuh Ambareesh begitu cepat saat Ambareesh melepas pakaiannya yang sudah rusak.
"Itu, namanya sudah bukan bakat lagi, tapi regenerasi secepat itu namanya adalah anugerah dari Sang Cahaya" Batin Tsuha sambil membelalakan matanya.
"SIALAN!!!!!" Archie tiba-tiba berteriak dengan kencang di hadapan Ambareesh.
"SEBENARNYA! KAU SIAPA?! KENAPA MEMBUNUH MIZEL DAN TUAN HA NASHI?!"
Tatapan kebencian dapat Ambareesh lihat dari wajah Archie.
"APA SALAH MEREKA?! BILA KAU MEMBENCI AYAHKU! CUKUP BENCILAH AYAHKU! KENAPA MEREKA BERDUA TERKENA IMBASNYA?! SIALAN!!!!"
Archie hampir saja mengeluarkan sihirnya, namun Tsuha menahan Archie agar tidak menyerangnya.
Kernyitan kening, begitu nampak jelas di wajah Archie. Dia menarik jubah Tsuha hingga jubah Tsuha menutupi sebagian wajahnya.
"Apa kau membela orang seperti dirinya yang lebih terlihat seperti Iblis daripada aku?!" Tanya Archie sambil melepaskan jubah Tsuha yang dia tarik.
"Bukan begitu. Setidaknya, kita harus tau apa alasan-"
"Orang-orang naif seperti kalian, tidak paham atas kata perjuangan. Orang-orang seperti kalian, terlalu mementingkan keegoisan masing-mas-DUAAAGHHH!!! PRUAAAK!!"
Tinjuan Archie melesat ke arah Ambareesh sebelum Ambareesh menyelesaikan ucapannya.
Darah menyucur hingga menetes ke tanah dari tangan kanan Archie yang berdarah karena sihir milik Ambareesh yang aktif saat dirinya merasakan ancaman dari orang lain.
Sihir Ambareesh hancur seperti kaca yang pecah.
"Orang-orang yang memiliki sifat seperti dirimu-lah yang membuat orang-orang lain lebih mementingkan keegosiannya sendiri. Aku ingin tau, alasanmu membunuh adikku dan Ha nashi" Ucap Archie sambil menendang pecahan mana milik Ambareesh di sekitar kakinya.
Ambareesh memalingkan wajahnya. "Karena sumpah dan janji Tuan Ha nashi denganku. Tuan Ha nashi tidak sanggup melihat penderitaan adikmu itu" Jawab Ambareesh.
"SIALAN! JANGAN BERBOHONG!!! LANTAS! MENGAPA KAU DAN TUAN HA NASHI BERTARUNG?!!!" Jubah Archie ditarik oleh Razel untuk menjaga jarak.
"Kau pikir, apakah aku bisa dengan mudah membuat ayahmu lepas dariku?" Tanya Ambareesh.
"Huh? Apa?"
"Semuanya sudah berjalan sesuai dengan rencanaku dan Tuan Ha nashi. Tinggal giliranmu untuk kembali ke Akaiakuma. Tunggulah hingga kedatangan keturunan Aosora Alex kembali, dia satu-satunya yang bisa menolongmu" Ucap Ambareesh sambil berjalan menjauh dari Archie.
Namun, Archie keras kepala. Dia menahan bahu Ambareesh yang baru saja mengenakan kaos hitam ketat ukuran selengan. Pakaian itu, adalah milik Luxe yang diberikan kepadanya.
"Siapa kau sebenarnya? Apa hubunganmu dengan Aosora Alex dan Aosora Arthur?" Tanya Archie.
Pandangan semua orang tertuju kepada Ambareesh.
"Aku Ambareesh, sosok yang menjalin perjanjian kecil dengan Aosora Alex. Perjanjian ini, atas dasar rasa penasaranku terhadap Aosora Arthur yang selalu menganggu kehidupanku" Jelas Ambareesh dengan singkat.
Tsuha dan Angel saling melihat.
Mata biru gelap Ambareesh sejajar dengan mata merah Archie.
"Nama Aosora Arthur memang sudah ada sebelum kelahiranmu. Harusnya, satu-satunya orang yang paling kalian waspadai adalah Aosora Arthur yang menjadi pemegang takdir Negri Arden" Jelas Ambareesh.
Pecahan ucapan Nox yang pernah Razel dengar mulai memunculkan argumen baru di kepalanya.
"Bukankah, Putra Mahkota Aosora Arthur sudah mati?" Razel melontarkan suaranya kepada Ambareesh.
Ambareesh melihat Razel sekilas. "Aku tidak tau" Jawabnya.
"Apa?!"
"Ini membuatku lelah. Bisakah kita langsung ke tempat yang kau katakan Wakil?" Tanya Ambareesh sambil berjongkok disana.
...----------------●●●----------------...
Tidak mungkin rasa setitik kebencian tidak muncul di hati Archie.
Kini, Archie sedang duduk sendiri dan melihat Ambareesh yang tengah mengobrol bersama dengan Luxe dan Razel setelah sampainya mereka di sebuah goa tempat Razel tinggal sebelum menjadi Anggota Pemberantas Iblis.
Dia mendengus tipis.
"Apanya yang menunggu giliranku kembali ke Akaiakuma?"
"Sampai kapanpun itu, aku tidak akan kembali ke Akaiakuma. Sedikitpun dariku, tak pernah muncul keinginan untuk menjadi Raja. Alex sialan, perjanjian apa yang kau jalin dengan Iblis itu?" Hati Archie merasa sedih mengetahui akan hal tersebut.
Luxe disana, terlihat sedang meyakinkan Ambareesh tentang ucapan dirinya.
"Aku bisa membawa 3 anggota Pemberantas iblis yang lain" Ucap Luxe kepada Ambareesh yang tidak percaya kepada dirinya.
"Lakukan sesukamu dan jangan ganggu aku" Ambareesh meninggalkan mereka begitu saja.
Luxe menatap Razel dengan matanya yang berair.
"Ya, aku mempercayaimu. Kalau begitu, bawa mereka bertiga kemari" Ucap Razel sambil menepuk bahu Luxe.
Senyum lebar terpampang jelas di wajah Luxe. Sekilas, Razel mengira apabila Luxe itu mirip dengan Aosora Arthur.
"Baik wakil! Percayakan padaku!" Tegasnya.
Tsuha melihat semuanya dari kejauhan. Dia melihat langit.
"Sebenarnya, apa yang dicari dikehidupan ini? Tidak bisakah hidup dengan damai disini? Ini membuatku lelah. Dan apa maksudnya dengan pemegang takdir Negri Arden?" Lirih Tsuha sambil menutup matanya perlahan.
"Itu karena, Aosora Arthur adalah sosok yang paling berpengaruh untuk Para Titisan" Suara laki-laki yang asing tiba-tiba terdengar di sebelah Tsuha.
Dia menoleh ke sisi suara itu berasal.
Sosok berambut biru langit dengan iris ice blue melihat Tsuha sambil tersenyum kepadanya.
"Anda siapa?" Tanya Tsuha sambil menjaga jarak dengan sosok pria itu.
Pria itu, berpakaian layaknya seorang raja.
"Haha, aku tidak menyangka apabila aku bisa melakukan ini. Siapa namamu nak?" Tanya pria itu sambil mengosok tengkuknya. Telinga elf terlihat jelas disana.
"Tsuha"
"Oh, aku tidak mengenalmu"
"Ha?"
"Lupakan saja. Kau mengenal Aosora Arthur, tapi akhir-akhir ini aku tidak bisa menemukan dirinya. Apa kau tau apa yang terjadi dengannya?" Tanya pria itu.
Tsuha kembali tiduran dan melihat warna langit yang merah.
"Entahlah, aku tidak tau" Jawabnya.
Sosok pria bermata ice blue itu memanyunkan bibirnya. "Hmm, begitukah? Kalau aku bisa bertemu denganmu, artinya kau tau tentang Arthur atau kau memiliki kelebihan seperti Arthur, oh atau juga kau orang yang sama seperti Arthur. Apa itu benar?"
Alis kiri Tsuha berdenyut.
"Aku tidak tau maksudmu" Jawab Tsuha.
"Masa iya? Tentu saja tidak mungkin. Kalau begitu, apa ada sesuatu yang membuatmu bingung?" Tanyanya.
"Sesuatu? Tentu saja kau. Kau orang yang aneh dan banyak bicara. Siapa kau ini?" Ucap Tsuha sambil menatap tajam sosok itu.
Sosok itu terkekeh. "Kau sungguh asing dengan wajah ini?" Tanyanya sambil menunjuk wajahnya sendiri.
"Apa kau orang terkenal?" Tanya Tsuha.
"Hah? Tentu saja! Orang setampan aku siapa yang tidak mungkin tidak mengenali wajah ini. Padahal, aku cukup berkontribusi untuk rakyat Aosora. Hah~ Baiklah. Salam kenal, aku Aosora Alex" Ucapnya sambil meringis dan mengulurkan tangannya.
Sekilas Tsuha tersadar dan langsung membuka matanya. Ternyata itu adalah mimpi.
"Sialan! Ini pasti karena kepikiran ucapan Archie"