
Daeva dan para Titisan termasuk Arthur telah berkumpul untuk membicarakan perang itu. Tak hanya para Titisan. Bianca datang dengan keinginannya sendiri untuk membicarakan topik itu yang memanas di Shinrin hingga terdengar di telinganya.
"Biarkan aku membantu kalian" Bianca berniat membantu para Titisan dengan mengirimkan pasukkan siluman yang berada di bawah wewenangnya.
"Itu adalah sebuah bantuan besar bagi kami" Alder tidak menolak bantuan itu.
Perbincangan itu cukup panjang untuk di dengar oleh Arthur yang mendengar perbincangan itu dengan serius.
"Bagaimana kalau aku menemui Kak Ram dan Kak Baal? Mungkin, mereka akan menarik mundur pasukannya saat kita mengibarkan bendera putih" Ucap Arthur yang di dengarkan oleh semua orang yang ada di dalam ruangan itu.
Sebenarnya, ide Arthur bukanlah ide yang buruk. Tapi, itu juga bukanlah ide yang mudah untuk di jalankan. Sebab, Shinrin sudah mengundang sekutu untuk membantu mereka.
Anting-anting Alder telah dikembalikan oleh Haraya. Yang itu artinya, Alder akan memenuhi janjinya terhadap para Elf untuk membebaskan mereka.
Kepala Daeva seakan-akan penuh setelah pertemuan itu.
Dia mengajak Arthur untuk berbincang di luar Mansion saat waktu Arthur istirahat setelah berlatih sihir dengan Ambareesh.
"Arthur, bagaimana kondisi tubuhmu sekarang?" Tanya Daeva untuk memulai basa-basi.
Arthur merenggangkan tubuhnya. "Baik-baik saja. Meski aku tidak terlalu bisa untuk mengeluarkan mana dalam skala besar. Tapi, untuk sekarang aku sudah di katakan cukup untuk bisa melindungi diri sendiri" Jawab Arthur sambil melihat kedua telapak tangannya yang penuh dengan besetan setelah melatih sihirnya.
"Kau masih mimisan karena terlalu banyak mengeluarkan mana?" Tanya Daeva.
"Ya~ Itulah konsekuensinya. Tapi tak ada masalah dengan itu. Aku bisa beristirahat sebelum aku mencapai kelelahan" Jawab Arthur sambil melihat Tsuha sedang latih tanding berdua dengan pedang kayu.
Daeva telah memperhatikan setiap inci pergerakan dan perkembangan Arthur dengan tubuh salinan itu.
"Arthur, apa kau tidak membenciku? Kau pasti sudah mendengar apa-apa yang telah ku lakukan dari para Titisan" Tanya Daeva untuk mempersiapkan rencana selanjutnya.
Arthur melihat ke arah Daeva dengan iris ice bluenya dan menaikan alis kanannya. "Kenapa aku harus membenci guru?" Balas tanya Arthur.
"Eh?" Daeva terkejut mendengarnya.
Arthur kembali melihat ke depan dan mengangkat sedikit bahunya. "Para Titisan memang memiliki masalah denganmu. Itu bukanlah urusanku. Meski kau itu sudah membunuh satu desa, kau pastinya memiliki alasan untuk melakukannya. Lagipula..."
"...di dunia ini tidak ada orang yang jahat. Mereka hanya ada di jalan yang sulit di terima oleh nalar orang lain. Bila mereka membencimu, bukan berarti aku juga membencinya" Lanjut Arthur sambil tiduran di rumput dan melihat langit yang mendung.
Angin dari utara menghempas ringan rambut putih Daeva yang tipis. Dia terbelalak kemudian terkekeh.
"Siapa yang mengajarimu mengatakan hal itu?" Tanya Daeva sambil mengacak-acak rambut Arthur.
"Aduh... Aku hanya membaca buku cerita. Dan tokoh penjahat itu sebenarnya adalah orang baik yang berusaha untuk mendapatkan haknya. Kadang juga, mereka adalah tokoh yang terlahir karena kondisi yang memaksakan mereka" Jawab Arthur sambil menahan tangan Daeva yang terus mengacak-acak rambutnya.
"Ah, benar juga Guru. Tidak bisakah kau melakukan sesuatu agar Shinrin menarik kembali surat kosong itu?" Tanya Arthur.
Ini adalah hal yang sudah di tunggu-tunggu oleh Daeva.
"Ah, aku juga tidak di perbolehkan turun untuk perang itu. Aku merasa bersalah karena tidak bisa membantu banyak. Aku juga, tidak mau Kak Ram membenci Titisan karena kesalahpahaman ini" Ucap Arthur sambil kembali duduk dan mengacak rambut biru gelapnya hingga berantakan.
Daeva tersenyum lebar.
"Bagaimana dengan menculik Kakakmu dan buat sedikit peringatan agar mereka menarik surat itu? Aku dengar, hari ini adalah hari pertemuan para Pemimpin Kerajaan tang bersekutu untuk melawan Titisan" Daeva menjalankan rencananya untuk menghasut Arthur.
Arthur terdiam sejenak. Dia memegang dagunya sendiri saat berfikir.
"Tunggu, aku dengar juga.... Hari ini Kak Alder dan Kak Dean berada di Hutan Terlarang untuk membawa Serigala Sihir kemari" Arthur mewaspadai Alder dan Dean. Dia takut kalau mereka berdua melihat Arthur di Shinrin.
"Kau akan aman. Mereka akan melewati Nekoma untuk memindahkan pasukan besar itu" Jelas Daeva.
Arthur rasa, itu bukanlah ide yang buruk. Dan akhirnya, mereka berdua mendatangi Shinrin untuk mengacaukan pertemuan itu.
Ruri terkekeh saat melihat surat panggilan dari Shinrin untuk menjalan sebuah misi membunuh Aosora Bram untuk menghancurkan dua Kerajaan (Aosora dan Akaiakuma).
"Sialan! Aku tidak menduga kalau si bajingan kecil ini, memiliki ikatan dengan Agleer Baal" Ruri sungguh tidak menduga kalau Steve dan Baal memiliki ikatan.
Dan di surat ini, Steve mendapatkan undangan untuk mengikuti pertemuan itu.
Ruri melihat Ayah Steve yang telah memberikannya oleh-oleh untuk Baal.
"Berikan ini kepada Sahabat penamu di Shinrin. Kau juga, harus bisa membujuk Devina, Steve. Aokuma, jangan sampai kalah dengan Nekoma" Bujuk Ayah Steve sambil memberikan kotak bermotif yang berisi batu kristal berwarna biru.
Ruri menujukkan senyumannya kepada Ayahnya Steve itu dan berkata, "Perang ini, hanya akan membawa kehancuran bagimu. Sedikitpun, beda ini tidak memiliki harga yang bahkan bisa di sebut dengan oleh-oleh" Ruri membuang kotak kayu bermotif itu.
Ayah Steve membelalakan matanya karena sedikitpun, sifat Putranya tak berubah. Dia tersenyum lebar.
"Kalau begitu, apa hadiah yang pantas untuknya?" Tanya Ayah Steve yang mengharapkan jawaban mengejutkan Putranya untuk Shinrin.
Ruri menoleh ke wajah pria bermata merah itu sambil terseringai lebar. "Bagaimana dengan kematianmu?" Tanya Ruri sambil membelalakan matanya dan mengangkat telapak tangan kirinya yang dia kepalkan di hadapan pria itu.
"Eh? Ap-PREACHHH!!!!" Kepala Ayahnya Steve meledak di hadapan kepalan tangan Ruri dan darahnya menyiprat ke mana-mana. Meski begitu, darah pria itu tidak menyiprat pakaian Ruri sedikitpun.
"Sialan, makhluk sepertimu membuatku muak saja. BLAR!!" Tubuh pria itu mengeluarkan api hitam yang membakar jasadnya dan darahnya hingga tak bersisa.
Ruri keluar dari ruangan itu dan menutupnya dengan rapat saat api itu masih membakar jasadnya untuk menghilangkan jejak.
Dia melakukan perjalan dengan cepat menuju Shinrin. Dan dia melihat Arthur tengah menyamar menjadi salah satu prajurit Shinrin saat pertemuan itu di gelar.
Pandangan Ruri terus terfokuskan kepada Arthur yang terlihat mendalami perannya sebagai prajurit Shinrin. Dia juga, melihat Daeva dari jarak kejauhan. Daeva tidak mengetahui keberadaan dirinya.
[Arthur, terus berkomunikasi denganku agar aku tidak kehilangan dirimu. Kalau terjadi sesuatu, langsung kabari. Sebisa mungkin, jangan terlalu lama untuk mencari lokasi Kakakmu berada] Telepati Daeva.
"Baik Guru. Ah, tapi sepertinya,... ini akan membutuhkan waktu agak lama sedikit" Balas Arthur saat melihat sosok Iblis bermata merah dengan dua tanduk hitam kecil menghadap ke langit ada di hadapannya.
[Eh? Kenapa?!]
"Hei, apa kau bisa membantuku?" Ruri berniat menganggu Arthur untuk menjalankan misinya dari Daeva yang merupakan strateginya sendiri.
Secara tertulis, Ruri memang memiliki peran untuk menganggu Arthur saat ini.
"Apa yang Anda butuhkan, Tuan?" Tanya Arthur dengan ramah kepada Ruri yang di pikirnya dia adalah petinggi untuk sekutu dengan Shinrin.
"Aku mendengar kalau Aosora Bram ada di Shinrin"
Arthur agak kaget mendengarnya.
"Maaf, bagaimana maksud Anda?" Tanya Arthur sekali lagi.
"Aku mendapatkan tugas untuk melenyapkan Aosora Bram agar Kerajaan Akaiakuma berada di kehancuran karena De luce Archie tidak akan bisa kembali pada tubuh aslinya"
Jantung Arthur seolah seperti tersambar petir saat mendengarnya. Dia terkejut. Namun, berusaha tetap dalam perannya.
"Ya~ Ini panggilan langsung dari Shinrin untukku" Ruri menyerahkan suratnya yang berstample Shinrin kepada Arthur.
Arthur membaca surat itu. Disana tertulis nama dari Baal untuk Steve. Arthur sangat mengenal tulisan tangan itu.
Pandangan mata Arthur berubah saat melihat sosok di depannya yang dipanggil untuk membunuh Kakaknya sendiri.
"Aku akan mengantarkanmu ke Agleer Baal" Arthur kehilangan urat kesopan dan kesantunannya.
Ruri tersenyum lebar di belakang Arthur yang mengantarnya menuju Baal.