The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 1 [Tujuan Akhir]



Ken terus mendesak Ambareesh untuk cepat membunuhnya. Tentunya, Ambareesh tidak mau karena Ken adalah satu-satunya keluarga aslinya yang masih tersisa.


"Jangan bertindak bodoh. Putramu memang aman karena posisinya. Tapi, bagaimana perasaan anakmu bila kau egois seperti ini?" Tanya Ambareesh.


"Tak!" Ken menghantukkan dengan keras gelas di tangannya itu. "Akan lebih egois lagi bila aku tetap bertahan disini. Dia akan semakin memburuk kondisi mental dan pikirannya karena desakan dari orang sekitarnya untuk menjadi yang paling terbaik karena adanya aku disini" Ucap Ken.


Semakin Ken bercerita dan semakin Ambareesh mengerti dengan alurnya, Ambareesh semakin tidak paham dengan permasalahan Ken.


"Ribet sekali" Batin Ambareesh sambil melihat Ken berceloteh dan menunjuk-nunjuk Ambareesh.


"Baiklah. Sekarang berhenti menyamakan aku dengan prajurit Akaiakuma. Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin ku coba" Ucap Ambareesh sambil berdiri dan mendekat ke Ken.


"Apa kau mencoba mencambukku dulu sebelum membunuhku?" Tanya Ken dengan nada girang.


Ambareesh menganga tipis, kemudian alus kanannya naik dan alis kirinya turun. "Kau... orang masokis?" Tanya Ambareesh dengan nada naik kemudian turun.


"Ah, sudahlah" Ambareesh menyelenggarakan sambil memegang keningnya sendiri.


Ken terkekeh sambil menunggu Ambareesh.


"Begini, kau percaya dengan sosok Titisan?" Tanya Ambareesh.


Ken mengangguk sambil menunjukkan ibu jarinya. "Apa adikku ini juga seorang Titisan? Heummm, tapi kau Titisan apa?" Ken melantur.


"Sialan, daripada membunuhnya dengan pedang, aku ingin sekali mencekiknya hingga dia menjerit" Ambareesh mulai kesal dengan lanturan Ken.


"Ya, intinya begitu. Aku mendengar ada beberapa orang yang mengatakan bila aku adalah seorang Titisan. Kau taukan? Titisan itu, bisa membuat orang yang dia bunuh dengan cara yang khusus dan ikatan tertentu hingga dapat hidup kembali di zaman Titisan itu terlahir kembali. Jadi, aku ingin mencobanya padamu" Ucap Ambareesh sambil mengusap rambut hitam Ken.


Ken melihat Ambareesh sambil menunjukkan senyuman tipisnya. "Kalau begitu, beri aku tempat yang nyaman. Tempat dimana orang-orang membenci Iblis dan tempat dimana aku hanya akan mengingatkan dan menemukanmu dengan mudah" Pinta Ken.


Ambareesh ingin mencengkram wajah Ken. "Kau pikir, aku penciptamu?" Tanya Ambareesh dengan geram.


"Baiklah~ Baiklah~ Lakukan saja sesukamu~" Ucap Ken.


"Aku, akan melakukan kontrak jiwa denganmu sebelum Aku membunuhmu. Jadi, bila aku adalah seorang Titisan, jiwamu tidak akan melebur karena aku akan kembali di kehidupan berikutku" Ucap Ambareesh sambil menunjukkan seringaiannya.


"Bukankah dia sudah mulai berkembang?" Sosok pria berambut putih kembali muncul dan kini dia berada di dahan pohon besar ujung barat taman itu.


Ambareesh tidak akan semudah itu mendapatkan kembali ingatannya. Dan, kuharap kau tidak sering muncul seperti ini. Ini belum saatnya kau keluar. Kau yang sekarang, cukup saja melihat para Titisan dari jarak kejauhan.


Aku tidak segan untuk menghapusmu dari dunia ini bila kau berani bertindak lebih jauh lagi dan mengkacaukan alurku.


"Ahahaha, jangan marah~ Ancamanmu itu, membuatku takut. Aku hanya ingin bersenang-senang kau tau kan~"


Berisik! Jangan muncul lagi sebelum Aku memanggilmu Luci.


"Ah... Kau memanggil namaku. Apa ini artinya aku sudah boleh mengacak-acak mereka sekarang?"


Mari tinggalkan dia.


Pedang mana biru telah menusuk jantung Ken. Darah menyebur pada kemeja Ambareesh. Ken memegang pipi Ambareesh tanpa mengatakan sepatah katapun. Kemudian, tubuh Ken jatuh dan dibiarkan begitu saja oleh Ambareesh. Dia meninggalkan Ken tergeletak di rumput berembun itu sendirian.


Hari itu, pemberitaan kematian Raja Nekoma tersebar dengan cepat. Ada rumor yang mengatakan, "Ini adalah ulah *******" dan adapun yang mengatakan bila ini adalah Bunuh diri karena desakan Ratu yang terlalu keras kepada Rajanya. Tumor itu, tidak ada yang salah.


Ambareesh kembali ke Akaiakuma. Namun, dia tidak bertemu sedikitnya dengan Arnold.


Kematian Vera, terjadi beberapa saat yang lalu karena komplikasi pada organ dalam Vera yang menolak pengobatan medis.


"Apanya yang bercita-cita untuk menjadi Raja? Dia tidak akan ada bedanya dengan Raja Akaiakuma"


Ambareesh mendengar semua ucapan buruk temannya tentang dirinya.


Setidakpedulinya Ambareesh, tentunya dia merasakan rasa sesak di dadanya. Ambareesh tidak menemui temannya selama beberapa waktu. Dia menemui Bianca untuk mengobati rasa sakitnya.


Bianca bersikap manja kepada Ambareesh dan tentunya sikap ini berbeda saat Bianca bertemu dengan orang lain.


Ambareesh merasa nyaman dengan keberadaan Bianca. Meski begitu, lagi-lagi dia bertindak egois terhadap dirinya sendiri dengan membuat batasan dirinya terhadap kenyamanan yang diberikan dari orang lain.


Ambareesh kembali meninggalkan Bianca tanpa kabar dan menemui Ha nashi.


"Tuan Ha nashi, lusa kumpulkan semua pasukan Non-Iblis dari Akaiakuma ke perbatasan Nekoma. Aku akan melakukan penyerangan di malam hari untuk melancarkan misi pemisahan diri dari Akaiakuma dan Nekoma untuk membentuk wilayah baru pada hari Kenaikan Putra Mahkota Arvolt menjadi Raja" Ucap Ambareesh dengan nada serius.


Ha nashi menurunkan pandangannya. "Pada akhirnya, kau meneruskan tujuan ayahmu" Batinnya.


"Baiklah, Aku akan mengumpulkan rakyatnya juga. Selain itu, apa yang perlu ku lakukan?" Tanya Ha nashi.


"Sabotase semua stok makanan dan larang bagi bangsa Non-Iblis untuk memakannya" Jawab Ambareesh.


"Bagaimana dengan Pangeran Arnold?" Tanya kembali Ha nashi.


"Aku akan membuatnya dengan paksa menjadi Penerus Akaiakuma" Jawab Ambareesh dengan percaya diri.


Setelah perbincangan panjang itu, lagi-lagi, Ambareesh menemui Haraya.


"Azuma... Wilayah mana yang cocok untuk bermukim?" Ambareesh bertanya sambil berendam diri di air danau yang dingin itu.


"Mungkin, wilayah Greendarea dan Shinrin. Dua wilayah ini adalah tempat tersubur. Kenapa Anda tanya seperti ini?" Haraya awalnya berfikir mencarikan tempat aman untuk Bianca dan anak-anak yang sebagian tidak memiliki tempat untuk kembali.


Ambareesh keluar dari air. "Azuma, aku akan membunuh Arvolt dihadapan para Prajurit Iblis dan ayahnya. Menurutmu, bagian mana yang paling menyakitkan saat ku tebas?"


Haraya terbelalak saat mendengarnya. Ini pertama kalinya bagi Haraya melihat ekspresi menyerahkan itu dari wajah Ambareesh. Haraya melihat ke arah langit yang mendung.


"Saya ingin, Anda memotong tangan kanannya untuk para Serigala sihir yang telah dia bunuh" Pinta Haraya.


Ambareesh tertawa saat mendengarkan ucapan Haraya.


"Jangankan tangan kanannya! Seluruh tubuhnya akan ku pisahkan untuk orang-orang yang pernah dia sakiti. Terutama, kepada Arnold!" Tegas Ambareesh yang mulai mengila.


Ambareesh menatap langit kemudian menurunkan pandangannya tepat pada Haraya. "Oleh karena itu, aku mendengar bila bangsa Elf hijau mampu mengubah wujudnya menjadi hewan ataupun meniru manusia. Bolehkah, aku meminta sedikit bantuan kepada Tuan Haraya?" Tanya Ambareesh sambil menunjukkan seringaiannya.


Haraya membungkukkan tubuhnya dan meletakkan tangannya di dada kirinya. "Saya akan menjalankan apapun yang Anda perintahkan Tuan" Jawab Haraya.


"Berubahlah menjadi remaja dan cat rambutmu menjadi putih untuk meniru wujud Arnold" Jawab Ambareesh.


Haraya kembali membelalakkan matanya. "Apa yang akan Anda lakukan kepada Pangeran Arnold?" Haraya melihat wajah Ambareesh yang tengah tersenyum tipis saat ini.


"Aku, hanya ingin dia membenciku dan tidak menemukanku sedetikpun" Jawab Ambareesh dengan nadanya yang santai.