
Ambareesh termenung melihat langit gelap yang penuh dengan bintang disana. Awan-awan mulai terbawa angin dan mulai menutup bulan sabit di atas sana.
Bagi Ambareesh, awan itu bagai masalah dan angin itu adalah penyebab datangnya masalah itu datang.
"Sialan!" Ambareesh memaki karena ucapan Iblis itu menganggu pikirannya.
Hal ini, yang membuat Ambareesh ingin segera meninggalkan orang-orang penting disekitarnya karena rasa takutnya dia terhadap sosok iblis berambut putih dengan taring yang panjang itu.
Dia, tidak ingin orang disekitarnya celaka karena dia.
"Cukup sekali saja. Jangan sampai iblis itu muncul lagi dan mencelakai mereka. Aku masih belum kuat untuk melawan dia"
Ambareesh berkata demikian karena dia melihat daya serang berskala besar dari Iblis itu. Anda saja telat sedikit saja, tubuh Bianca pasti terbelah menjadi dua karena serangan itu.
Ambareesh dan yang lain, kembali ke Kerajaan Akaiakuma dalam keadaan tangan kosong. Dan Vera segera di larikan menuju tempat perawatan setelah sampai di Istana.
Kini, Ha nashi dan Ambareesh berada di ruangan yang sama. Untuk pertama kalinya, Ambareesh melihat sosok Ha nashi yang serius.
"Ambareesh, ceritakan padaku apa yang terjadi. Kau tau, berapa kerugian yang harus dibayar oleh Akaiakuma kepada Aokuma?" Tanya Ha nashi sambil mengketuk-ketukkan ujung jari telunjuknya di meja yang beralas kaca.
Ambareesh melihat ke arah Ha nashi tanpa berekspresi apapun.
"Ada musuh yang tidak terduga. Aku dan yang lain sudah melakukan penyerangan secara diam-diam" Jawab Ambareesh.
Ha nashi tidak mempercayai ucapan Ambareesh yang kaku dan terdengar tidak masuk akal.
"Katakan yang jelas" Ucap Ha nashi sekali lagi.
Ambareesh menghela napas dan menggosok tengkuknya.
"Ada musuh yang lebih kuat dari kami. Kerugian itu dan terbunuhnya semua bandit itu adalah perbuatannya. Saat ku datangi kembali tempat itu di malam hari, tempat itu sudah terbakar habis. Aku beranggapan Iblis aneh itu adalah dalangnya" Jawab Ambareesh dengan jelas.
Sebenarnya, Ambareeshlah yang paling banyak membunuh bandit itu.
"Apa iya?" Tanya Ha nashi sambil memberi mimik tidak percaya.
"Kenapa kau tidak percaya? Aku tidak pernah membohongimu" Ambareesh mulai geram dengan Ha nashi.
Ha nashi terkekeh.
"Itu karena menurutku, kau adalah orang yang paling kuat. Jadi, tak perlu berbohong seperti itu padaku. Aku tidak masalah membayarkan kerugian itu. Kau pasti memiliki alasan lain mengapa tidak kembali tanpa membawa apapun dan melenyapkan tempat itu"
Ha nashi sangat dipercaya oleh Raja Akaiakuma ke-9 untuk mengelolah keuangan Aiakuma. Sebab, urusan keuangan adalah hal yang paling ribet bagi Raja Akaiakuma.
Ambareesh menghela napas sambil memutar bola matanya. "Terserah" Ucapnya.
Ha nashi tertawa melihat perubahan wajah Ambareesh dari wajah geram ke wajah tidak peduli.
"Baiklah, karena kau sudah bekerja dengan baik, berliburlah selama tiga hari. Aku sedang mengurus dokumenmu sebagai Prajurit pertukaran ke Nekoma"
Ha nashi melanjutkan aktivitasnya menyetemple surat-surat kerajaan dan menandatanginya.
Ambareesh mendengus tipis. "Sebenarnya, siapa yang menjadi Raja Akaiakuma disini?" Ambareesh membuang pandangannya.
Ha nashi tertawa. "Hahaha! Bukankah dengan begini kau bisa memanfaatkan posisiku karena aku sangat di percaya oleh Raja Akaiakuma?" Tanya Ha nashi sambil mengusap ujung matanya yang berlinang.
Ambareesh melihat ke arah lain. "Daripada memanfaatkanmu, kau lebih terlihat memanfaatkanku" Lirih Ambareesh.
Ha nashi menjadi diam karena mendengarnya.
"Aku bercanda" Lanjut Ambareesh sambil meninggalkan ruangan Ha nashi.
"Ha? Sialan! Aku hampir saja menyobek dokumenmu untuk Nekoma!" Tegas Ha nashi sambil berdiri.
Pintu mulai tertutup. Ha nashi kembali duduk di tempatnya. Dia membuka jendela dan membiarkan Haraya dalam bentuk kucing masuk ke ruangannya.
"BWEESH!" Haraya kembali di wujud Elfnya. Dia duduk di sofa tungga.
"Tuanku, tidak berbohong. Ha nashi, kau harus segera mengawasi Tuan Ambareesh. Aku sudah tidak bisa meninggalkan hutan setelah melihatnya" Jawab Haraya sambil mendongakkan kepalanya dan melihat Ha nashi.
Ha nashi membuka lembaran dokumen lain untuk di stample.
"Apa dia musuh yang kau cari?"
"Ya, kurasa hubungan Tuan Ambareesh dengan Ruri tidak bagus. Dan ini, adalah langkah awal yang bagus untuk pihak Titisan" Jawabnya.
Ha nashi melihat ke arah Haraya yang sedang melihatnya. "Aku tidak bisa meninggalkan Akaiakuma begitu saja. Di lidahku, ada kutukan kontrak yang tidak akan hilang hingga Raja Akaiakuma mati"
Ini adalah alasan lain Ha nashi menjadi orang kepercayaan Raja Akaiakuma. Sebab, dia tidak akan bisa menyebarkan data rahasia tentang Akaiakuma. Walau begitu, segel kutukan itu, tidak berpengaruh saat dia menceritakan segalanya pada Haraya. Jadi, Haraya adalah satu-satunya orang yang mampu mendengar apapun rahasia tentang Akaiakuma dan kekejaman Raja ke-9 terhadapnya.
Dan Haraya adalah orang yang mampu menjaga rahasia orang lain. Bahkan dia tidak akan mengatakannya kepada orang yang sangat dia percayai termasuk Tuannya; Alder Ren dan Ambareesh.
...----------------●●●----------------...
Kembali ke lokasi Ambareesh berada.
Ambareesh kini berada di rumah Ha nashi dan dia mulai membaca kembali tentang data milik Ken. Bianca, memperhatikan Ambareesh dari kursi tempat dia duduk yang berjarak 1,5 Meter dari Ambareesh.
Bianca, menempelkan pipinya pada Meja makan sambil melihat Ambareesh. "Wajahnya, serius sekali. Apa yang sedang dia baca?" Lirih Bianca sambil menghela.
Ambareesh mendengar lirihan Bianca, dia mengulurkan dokumen milik Ken yang tengah dia baca. "Aku akan menemui kakakku. Jadi, kau harus bersiap untuk kembali ke anak-anak itu dan mari pergi untuk membeli stok makanan kalian. Kita perbanyak kentang, agar bisa bertahan lama" Ambareesh mengambil kembali dokumen yang belum dibaca oleh Bianca dan mengulungnya kemudian, memasukkannya ke dalam tas pinggangnya.
Ambareesh menarik tudung jubah Merah Bianca agar Bianca berdiri.
Bianca mendengus lirih.
"Apa kau tidak bisa mengulurkan tanganmu agar terlihat sedikit romantis?" Tanya Bianca sambil berdiri dengan keadaan wajah yang tertutup jubahnya bagian dada.
Ambareesh melepas tudung Jubah Bianca yang terangkat dan dia membungkukkan tubuhnya untuk melihat wajah Bianca.
"Apa aku terlihat seperti orang yang cocok memerankan karakter romantis?" Tanya Ambareesh sambil memasang mimik datarnya.
Bianca memasang wajah blo'on. "Tentu saja. Setidaknya, manfaatkan ketampananmu itu" Ujar Bianca sambil merapikan jubahnya dan mengikat rambut putihnya ke atas.
Ambareesh berdiri tegak sambil memegang dagunya. "Kau mengakui aku tampan?" Tanya Ambareesh.
Bianca langsung tersadar. Wajah Bianca berubah semerah tomat. "HA HA!" Dia tertawa kaku sambil memegang sisi pinggangnya.
"Itu pasti karena gen orang tuamu yang bagus!" Bianca tidak tau apa yang dia katakan.
Ambareesh mengkernyitkan keningnya. "Ya, kurasa~. Banyak orang yang mengatakan aku mirip dengan ayahku. Ah, sudah lah. Mari pergi" Ajak Ambareesh sambil mengulurkan tangannya pada Bianca.
Bianca menepisnya sambil berkata "Jangan sok romantis. Itu tidak cocok denganmu" Bianca berjalan duluan di depan.
Ambareesh membeku di tempat. "Haah.... Apa semua wanita seperti dia?" Lirih Ambareesh sambil mengikuti Bianca.
"Hei tunggu! Apa kau tau jalannya?" Ambareesh mempercepat jalannya dan berjalan di sebelah Bianca.
Bianca melihat Ambareesh sambil menunjukkan senyumannya yang memampangkan gigi-giginya, kemudian Bianca menggeleng.
"Astaga" Ambareesh menepuk jidatnya sambil mengeleng.
...----------------●●●----------------...
BONUS UNTUK ILUSTRASI BIANCA