The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 5 [Ketahuan]



Perlahan kesadaran Daeva pulih setelah dua hari dirinya tak sadarkan diri. Dia mengedipkan matanya beberapa kali dan melihat atap asing di hadapannya.


"PATSH!" Suara sihir di luar.


"Haha! Tsuha! Harusnya kau tidak tertipu dengan trik murahan Kakek Iblis itu!" Suara tawa Arthur terdengar hingga ke kamar Daeva beristirahat.


"Huh!? Apa yang bocah tengik ini katakan?! Kau memanggilku Kakek!? Lalu, bagaimama dengan Siluman mata emas disana?!" Suara Archie tak kalah keras dari Arthur.


Daeva duduk perlahan. Tubuhnya terasa kaku dan masih terasa sakit. Dia melihat bagian pinggang dada kanan dan wajah kepala kanan yang di baluti perban. Serta pipi kirinya terdapat kasa yang cukup tebal.


Wajah kanan Daeva masih terasa nyeri. Dia melihat Archie dan Arthur yang berlarian sambil melepaskan sihir mereka di luar sana. Dia juga, mengamati Arthur yang sudah terkapar di rumput dengan rambutnya yang kerinting. Ya, mungkin itu karena terkena serangan sihir Archie untuk latihan mereka berdua.


Daeva membalik badannya untuk keluar. "Aku tidak tau berapa lama lagi, Ruri akan menghubungiku untuk menjalankan rencana berikutnya. Setidaknya, aku bisa masuk disini karena bantuannya. Aku akan berter-" Daeva yang membuka pintu terkejut melihat Ela di hadapannya yang tengah terbelalak sambil membawa air untuk seka.


Kening Daeva berkerut.


"Kenapa melihatku begitu?" Tanya Daeva kepada Ela.


"Aa., u... I.. itu, An... Anda, sudah sadar! Saya akan mengabari yang lain" Ela terburu-buru untuk pergi. Dia mendengarkan suara pikiran Daeva.


"Ruri? Apa yang dia pikirkan?"


Tubuh Ela bergetar karena merasakan ketakutan terhadap Daeva. Daeva menahan Ela karena dia juga mendengarkan suara pikiran Ela.


Mata Ela terbelalak untuk kedua kalinya.


"Hei, bantu aku menganti perban ini sebelum kau memanggil yang lain" Daeva tidak ingin Ela mengetahui apapun tentang dirinya. Dia tau kalau Ela satu-satunya orang selain Ruri yang memiliki kemampuan yang sama dengannya.


Daeva membawa Ela ke kamarnya dengan kata butuh bantuan. Dia membuat Ela melupakan apa yang dia dengar beberapa saat yang lalu saat dirinya terciduk membatin tentang Ruri tanpa melapisi dirinya dengan sihir perlindungan.


Daeva berhasil melakukannya.


Dan Ela melihat Daeva yang telah mengulurkan beberapa perban untuk menganti perbannya yang telah berantakan.


"Ah, ada yang menganggu pikiranku. Tapi, apa yang ku lupa? Huh, apa ini efek tidak bisa tidur akhir-akhir ini?" Batin Ela sambil membuka perban di kepala Daeva.


Daeva tersenyum tipis karena dia telah berhasil mengatasi satu masalah yang terjadi karena kecerobohannya itu dan mengsugesti Ela agar tidak takut padanya.


"Siapa namamu?" Tanya Daeva yang memang tidak tau dengan nama Ela.


"Aoelabi Darla Kak. Eh! Apa Aku boleh memanggilmu kakak juga?" Tanya Ela sambil melihat Daeva dari samping.


"Panggil saja sesukamu" Jawab Daeva yang tak terlalu memperdulikan sebutan panggilan untuknya.


"Hehe, Para Titisan sangat mengkhawatirkan kondisi kakak. Kak Alder sangat mengkhawatirkanmu dan Kak Dean juga mengunjungimu setiap malam setelah semua Titisan tertidur" Cerita Ela sambil memperban kepala Daeva yang masih terluka.


"Dean? Mengunjungiku?" Tanya Daeva sambil melihat ke arah Ela.


"Iya, aku melihatnya dua malam ini dia masuk ke kamar kakak saat aku susah tidur. Kurasa, dia sangat mengkhawatirkanmu selain Kak Alder, Kak Ambareesh dan Kak Arthur" Jelas Ela sekali lagi.


"Cukup mengelikan kalau aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri" Batin Daeva yang telah menggunakan perlindungan diri agar tidak ada yang bisa membaca pikirannya.


Ela mulai membuka perban di pinggang Daeva dan Bahu Daeva. Setelah pergantian perban itu usai, Daeva pergi bersama Ela untuk menemui Alder.


Dia masuk ke dalam ruangan yang telah di tunjukkan Ela. Dan betapa terkejutnya Daeva saat melihat Para Titisan melihat ke arahnya. Termasuk Ambareesh.


"Bagaimana kondisimu?" Ambareesh langsung bertanya terlebih dahulu kepada Daeva.


"Cukup baik. Bagaimana dengan muridmu yang di Akaiakuma itu?" Balas tanya Daeva sambil melihat dua Titisan yang lain (Dean dan Ranu) yang memberikan ekspresi tidak menyenangkan kepadanya.


"Dia belum sadar sampai sekarang. Tapi, kondisinya baik-baik saja karena mananya akan kembali pulih setelah tersadar nanti" Jelas Ambareesh sambil menepuk tempat duduk di sebelahnya untuk memberi ruang kepada Daeva agar duduk.


Daeva duduk di sofa panjang sebelah Ambareesh duduk. "Lalu, bagaimana dengan Akaiakuma? Prajuritnya pasti kebingungan mencarinya" Tanya Daeva sambil mengambil buah di meja untuk dia makan.


"Lingga mengantikannya untuk sementara waktu. Dia menggunakan bantuan dari sihir ilusi Ranu untuk mengubah wujud dan perawakannya, termasuk aura, serta suaranya menyerupai De luce Arnold" Jawab Alder sambil menunjuk Ranu yang engan untuk melihatnya.


"Hoh, begitu. Ya, karena aku sudah sadar. Aku akan pergi tengah malam nanti. Terima kasih atas bantuan kalian yang membiarkanku memulihkan diri disini" Daeva sendiri tidak senang berada di wilayah orang yang tidak menyukainya.


"Kau tetap disini untuk keamananmu dan Aku tidak mau Aosora Arthur pergi meninggalkan kami. Dia sudah mengancam kami karena dia tau kalau kau akan berkata seperti itu" Jawab Alder yang telah mendapatkan ancaman dari Arthur. Kemudian, disusul oleh ketegasan Ambareesh yang akan mengikuti kemanapun Arthur pergi karena Ambareesh sudah menganggap Arthur seperti keluarga.


Alder tidak ingin kehilangan dua Titisan hanya karena kepergian satu Titisan.


"Ha~ Ha~" Daeva mengeluarkan tawa mengejeknya dan itu membuat Ranu geram.


"Apa menurutmu, aku akan senang tinggal dengan orang-orang yang sangat membenciku? Aku tidak bisa membayangkan kalau mereka masuk di kamarku tengah malam dan memikirkan rencana untuk membunuhku" Sebenarnya, Daeva menyidir Dean. Tapi, Dean tidak merasa. Dan malah Ranu yang merasa tersindir.


"Para Titisan sudah bersumpah termasuk Dean, Ranu, dan Lingga" Jawab Alder kepada Daeva.


"Ya, Kau sungguh tidak memercayai mereka. Tapi, ucapan Alder memang benar" Ambareesh mengosok rambut Daeva bagian belakang.


Daeva membenci sentuhan fisik. Dia menepis tangan Ambareesh. "Sialan! Aku bukan adikmu! Berhenti menyentuhku!" Tegas Daeva sambil mendorong paha Ambareesh dengan kakinya hingga membuat Ambareesh dan Dean yang duduk di sofa yang sama bergeser.


"Hei! Berhenti mendorong! Memang kau umur berapa, Sialan!" Tegas Dean karena hampir terjatuh.


"Cih! Kalian berisik!" Ranu pergi keluar dari ruangan itu dan meninggalkan mereka ber empat.


Daeva berdiri dan pindah di tempat duduk Ranu yang merupakan kursi single.


"Mengenai kondisi Arthur, apa kau mengetahui sesuatu tentang itu?" Tanya Alder pada Daeva.


Daeva sebenarnya binggung harus menjawab karena Ruri tidak mengatakan apapun tentang para Titisan apabila bertanya tentang Arthur.


"Dia seperti itu, karena efek tubuh barunya dan juga karena energi sihir dari kalian yang menciptakan hal itu terjadi. Kalian juga tau tentang keluarga Aosora yang akan menjadi kuat saat banyak orang yang mulai tidak menyukainya bukan? Itu, terjadi kepada Arthur saat para Pasukan Meganstria mengangkat senjata mereka untuk kalian. Sebagian besar dari mereka, menyalahkan Aosora Arthur karena mereka harus mendapatkan sesuatu yang mereka anggap seperti kutukan dari para Titisan" Daeva hanya membual. Namun mereka bertiga percaya.


"Ah, itu masuk akal. Sebab, aku juga melihat bayangan sosok bersayap yang mendatangi Arthur. Ku kira itu adalah Ruri. Tapi, Alfarellza juga bercerita kepada kami kalau dia pernah melihat sosok pemilik bayangan itu, yang membuatnya menjalin perjanjian dengan Aosora Alex hingga membuatnya menjalin kontrak dengan kedua orang tua Arthur hanya untuk merebut Aosora Arthur darinya. Mendengar kata merebut, kurasa itu memanglah Ruri." Jelas panjang Alder.


Sebenarnya, itu memang Ruri.


"Baik Ruri ataupun bukan, yang terpenting Arthur sudah berada di pihak Titisan dan ini akan membuat kita sedikit menuju kemenangan untuk melawan sosok berbahaya yang mengancam Arden" Ucap Daeva.


"Ya, itu benar. Meski begitu, masa depan masih belum berubah. Aku masih melihatmu berada di samping Ruri. Apa yang akan kau rencanakan selanjutnya DAEVA?"


Kedua mata Daeva terbelalak mendengarnya. Dia melihat Alder dengan spontan.