The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 2 [Ingatan]



"Musuh tau dengan anggota markas kita yang bisa dengan mudah menemukan lokasi mereka berada" Ujar Razel.


"Sialan! Ngapain juga si Angel tadi! Bukannya dia orang yang paling peka disini?!" Tegas Val dengan kesal.


"Harusnya dia-"


"Sudah diamlah. Aku tadi melihat perempuan itu sempat menarik tangan Tsuha dan dia mengeluarkan pedang mananya untuk menebas gelombang tanah di belakangnya. Tapi, serangan sebenarnya muncul dari bawah mereka" Sela Ambareesh yang dapat melihat pergerakan Angel yang cepat.


Razel mengangguk karena dia melihatnya juga.


"Berarti, ini sudah dapat dipastikan bila ini adalah serangan dari Bangsa Siluman. Kalau begitu, kita harus menemukan lokasi mereka sebelum sesuatu yang buruk menimpa empat anggota kita. Setelah itu, kita akan mengirim signal pada Marsyal (Kapten Markas Penyidik Shinrin).


Niatnya seperti itu. Namun, musuh mereka bukanlah siluman biasa. Ambareesh dan yang lain, terjebak di tempat itu selama dua minggu. Mereka hanya berputar-putar tanpa menemukan titik kembali yang jelas. Penggunaan sihir teleport maupun gerbang, tidak bisa membawa mereka keluar dari tempat itu.


Ambareesh duduk diatas rumput itu dan menunggu musuh datang dengan sendirinya.


"BWOSH!" Jìwa Archie melesat setelah dua minggu menghilang dan kembali ke tubuh Ambareesh.


"Selamat datang. Lama sekali untukmu mencapai 10km hingga sampai dua minggu seperti ini. CTACK!" Ucap Ambareesh sambil mematikkan jarinya.


"BWOSH!" Energi sihir berwarna merah milik Archie meluap kemana-mana dan Archie kembali mendapatkan tubuh duplikatnya.


Val terbangun dari tidur-tidurannya dan Razel mendatangi Archie sambil menarik tangan Liebe yang tidak ingin bangun dari tidurnya.


"Dimana lokasi mereka?" Tanya Ambareesh pada Archie.


Archie mendengus. "Kau cuma berbicara denganku disaat kau butuhnya saja? Dasar sampah!" Tegas Lirih Archie.


Ambareesh mengangkat kedua bahunya. "Itu memang sifat alami makhluk sosial" Jawabnya tanpa nada.


Archie memalingkan wajahnya dari Ambareesh dan melaporkannya kepada Razel.


"Mereka tinggal tidak jauh dari sini. Mereka menggali tanah dibawa sini untuk ketempat mereka yang hanya berjarak 11,5 Km ke Barat. Kalian tidak bisa keluar dari sini karena,..."


"Dia memancing agar kita menghancurkan tanah ini dan melewati jalan yang siluman itu buat?" Tanya Ambareesh.


"Tepat sekali. Sebenarnya, ada satu orang yang merupakan targetnya. Kalau tidak salah namanya Ambareesh" Jawab Archie.


Ambareesh dan Liebe membelalakan matanya.


"Siapa Ambareesh itu?" Tanya Val sambil mengosok rambut bagian belakangnya yang kotor.


"Aku pernah mendengarnya. Tapi, aku lupa dia siapa" Archie melihat ke sisi kanan atas untuk mengingatnya.


"Ya! Siapapun itu. Dia pasti orang memiliki banyak musuh, sampai-sampai salah orang begini" Ucap Zack sambil menyentuh tanah di bawahnya.


Zack, memejamkan matanya. "Dibawah sini memang terasa seperti ada lubang besar. Liebe mau menghancurkannya?" Tanya Zack sambil melihat Liebe yang masih membelalakan matanya.


"Biar aku" Ucap Ambareesh sambil menyentuh tanah di sebelah tangan Zack dengan tangan kirinya dan menarik tangan kanan yang dia kepalkan sejauh bahunya.


"Jangan Arthur. Kau belum sembuh tot-"


"BAMMM! BRRUUUUK!"


Ambareesh langsung menghantamkannpukulannya dengan keras. Tanah itu langsung berlubang dan semuanya yang berdiri disana terperosok ke lubang es itu.


"HUAH!!!! KENAPA TIDAK MENUNGGU KAMI SIAP DULU!!!" Val terperosok terlebih dahulu dan posisinya, punggung Val-lah yang menjadi dasaran untuknya meluncur. Hingga tidak mungkin bagi Val untuk kembali keposisi siaga.


"Aku tidak mengira bila tanahnya selebar dan sedangkal ini" Jawab Ambareesh yang terperosok dalam posisi tersungkur.


Razel duduk sambil menyilangkan kakinya terkekeh melihat dua anggotanya dalam posisi kesulitan.


"SYUUUUUNGGG!!" Tubuh Val meluncur jauh saat mereka telah keluar dari lubang ular itu.


Archie turun dengan mulus dan melihat tubuh Val yang melayang ke udara. Zack menahan kera pakaian Ambareesh agar tidak ikutan seperti Val.


"BRUAKKK!!!" Val ditangkap oleh pohon besar dengan daun lebat disana.


"PFFT! UAHAHAHWHAH!!!" Angel yang terikat tertawa dengan keras melihat Val yang kurang beruntung.


"SIALAN!!! SIAPAPUN YANG MEMBUATKU SEPERTI INI! AKU AKAN MENGHAJARMU!" Tegas Val sambil berdiri dengan sempoyongan.


Pandangan Ambareesh silau saat melihat sekitarnya yang terang benderang. Namun, pandangan Ambareesh yang samar menjadi jelas saat melihat sosok perempuan berambut putih yang tengah menatapnya dari singgahsana yang terbuat dari es di atas Angel, Tsuha, dan Luxe berada.


"Sepertinya, aku pernah melihat wanita itu" Batin Ambareesh sambil merapikan pakaiannya.


Wanita itu, memandang Ambareesh dengan tatapan hinanya.


"Harus berapa lama lagi Aku menunggumu?!" Tanya wanita itu dengan nada yang lantang.


Zack melihat rupa wanita itu. "Ah, dia memiliki warna iris keemasan dengan rambutnya yang putih. Dia, mirip dengan Issac (Wanita yang menjalin kontrak dengan Zack namun terbunuh karena serangan dari orang misterius)".


Liebe melihat Zack yang tidak mengedipkan matanya sedikitpun. Dia segera menutup mata Zack untuk menyadarkannya. "Jangan menatap Siluman rubah seperti itu" Bisik Liebe.


Perempuan Siluman rubah itu, turun dari anak tangga singgah sananya satu persatu.


"Apa yang mau kau lakukan?" Tanya Tsuha saat melihat perempuan itu berhenti di sebelah Angel.


Perempuan itu membungkukkan tubuhnya dan memegang kedua pipi Tsuha dengan tangan kanannya yang berkuku panjang.


"Kau... mirip dengan Ayahmu, Estelle Tsuha" Jawab perempuan itu sambil mengusap tai lalat dibawah garis mata kiri Tsuha.


"Hei! Lepaskan dia!" Tegas Angel sambil mengeluarkan pedang mananya dari sela tangannya yang terikat sihir.


"Tidak ada yang boleh menyentuhnya selain aku!" Lanjutnya dengan raut wajah yang dingin dengan nada datar.


Perempuan itu melepaskan tangannya dari Tsuha. "Uh~ Takut banget loh~" Wanita itu mengejek Angel dan pergi menuju tempat Ambareesh dan yang lain berada.


"Dia tau ayahku?" Batin Tsuha sambil menahan Angel yang berusaha memberontak dengan melilitkan kakinya pada pinggang Angel.


"Cih!" Luxe mendecih saat melihat Tsuha dan Angel.


Perempuan itu, melewati Zack, Razel, Liebe, Archie, dan Val dengan mudah. Padahal, mereka berlima telah mengeluarkan sihir mereka untuk siap menyerang.


"A...Apa?" Archie tidak sadar bila wanita itu telah melewatinya.


Mereka berlima, sama-sama membelalakan mata mereka.


Wanita itu, bagai angin. Auranya terasa sangat halus bahkan, mereka tidak merasakan hawa membunuh dari sosok wanita itu.


"GREP!" Wanita itu, memeluk Ambareesh dengan hangat dari depan. Tinggi mereka hampir sama.


"Selamat datang kembali. Kau tidak perlu berteman dengan mereka. Mereka akan mengkhianatimu lagi. Cukup lihatlah aku, Ambareesh" Ucap wanita itu sambil mengusap rambut biru langit yang lebih pucat dengan lembut.


Ambareesh melihat mata wanita itu.


"Kau, siapa?" Tanya Ambareesh sambil melepaskan pelukkannya.


Ingatan Ambareesh bercampur dengan ingatan Arthur. Ingatan Arthur, terlalu mendominasi otak Ambareesh.


Dan Ambareesh berbalik memandang Bianca dengan tatapan rendahnya.