The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 5 [Hobi Daeva?]



"Sialan, apa menurutnya aku tidak bisa melakukan hal yang lebih dari ini?"


Dan setelah kejadian itu, Tsuha dan Daeva hampir bertemu setiap saat. Hingga terdapat sebuah kejadian yang membuat hubungan Tsuha dan Angel sedikit rengang di pagi sehari sebelum perang itu terjadi.


"PLAK!"


Pipi kanan Tsuha di tampar oleh Angel di dekat Alder dan Daeva yang tengah mengobrolkan sesuatu tentang pembebasan Archie yang gagal di malam itu.


Suara tamparan itu, mengundang perhatian Daeva dan Alder.


"Tidak bisakah kau menjaga hatimu sendiri?!!" Angel berteriak kepada Tsuha yang berusaha memegang tangan Angel untuk meminta maaf kapadanya.


"Apa yang terjadi?" Lirih Daeva kepada Alder.


Padahal, Daeva adalah sumber masalahnya.


"Pisahkan saja mereka" Jawab Alder sambil mendatangi Angel dan Tsuha.


"Kak dengarkan aku dulu..."


"Cih! Aku sudah lelah mendengarmu dan aku juga sudah mengatakan semuanya! Aku tidak punya hubungan dengan dia! Dia hanya membantuku! Kalau kau tidak percaya! Tanyakan saja pada orangnya! Mumpung dia masih hidup!" Tegas Angel sambil menunjuk Daeva di belakang Angel.


"Eh?" Daeva tidak sadar kalau hal ini akan terjadi begitu cepat.


Alder melihat ke arah Daeva sambil menghela napas tipis. "Daeva...?" Tanya Alder sambil memberikan wajah tidak percayanya.


Alder merasa tak asing dengan kejadian ini. "Daeva, apa ini hobimu? Menganggu hubungan seorang Elf?" Telepati Alder kepada Daeva.


Daeva menepuk punggung Alder beberapa kali sambil terkekeh ringan.


"Tsuha ceritakan padaku apa yang ada di pikiranmu. Dan mari mengobrol empat mata baik-baik" Daeva membawa Tsuha pergi ke dalam mansion.


Di dalam Mansion, Tsuha hanya diam melihat Daeva. Sedangkan Daeva, dia menunjukkan wajah puasnya.


"Ya, intinya kau salah paham, bocah" Ucap Daeva sambil melipat lengannya di depan dada.


Tsuha menghela napas sambil membuang wajahnya. "Aku sudah tau hal ini pasti akan terjadi kepadaku cepat atau lambat. Mangkannya, dari awal aku berusaha tidak menyukai siapapun. Aku benci perasaan ini" Ucap Tsuha sambil berdiri dan berniat keluar dari ruangan tersebut.


Daeva menggunakan sihirnya untuk menghalangi jalan Tsuha. Pedang mana dalam jumlah yang tak sedikit, menunjuk ke arahnya.


Tsuha melirik Daeva di belakangnya yang sedang memunjukkan jari telunjuknya kepada Tsuha untuk pengaktifan sihirnya.


"Tuan muda~, tidak bisakah kita mengobrol berdua tentang isi kepalamu?" Ucap Daeva sambil menunjukkan jari telunjuknya ke langit-langit. Pedang mana yang menodong Tsuha, semuanya mengikuti arah telunjuk Tsuha.


Tsuha membalik tubuhnya dan sedikit menelengkan kepalanya ke kanan. Tuan Titisan, apa Anda mencurigai saya sebagai musuh?" Tanya Tsuha tanpa ragu.


Daeva tersenyum lebar. "Seperti yang kau katakan. Jadi, duduklah dengan tenang kalau kau bukan musuh kami" Ucap Daeva.


"Singkirkan pedang ini terlebih dahulu" Pinta Tsuha.


Daeva melihat Tsuha dengan wajahnya yang menjengkelkan di mata Tsuha. "Apa ini akan menjamin kau tak akan menyerangku?" Tanya Daeva sambil menggerakkan jari-jari tangan kirinya.


"Cih! Apa kau menganggu hubungan kami, apa hanya untuk mendekatiku?" Tanya Tsuha yang masih berdiri ditempat.


"Seperti yang dirumorkan~ Kau cukup cerdas untuk ukuran rakyat jelata. Tapi, asal kau tau, itu hanya awalan apabila kau tak bisa di ajak kerja sama saat ini. Jadi, duduklah dengan manis, Tuan muda yang tampan" Jawab Daeva sambil menunjukkan seriangannya.


Tsuha mengepalkan kedua tangannya dan langsung duduk kembali di kursinya. "Baiklah! Katakan apa maumu!" Tegas Tsuha. Dia cukup jengkel kepada Daeva yang akan terus mengusiknya apabila dia tidak patuh.


"Estelle Tsuki,..."


Tsuha terkejut mendengar nama itu disebutkan oleh Daeva. Yang bahkan, tak pernah bertemu dengan Tsuki sebelumnya (Menurut Tsuha).


"... Apa dia kembaranmu?" Tanya Daeva.


"Ya" Tsuha berusaha tidak memikirkan apapun. Karena sosok dihadapannya bisa mengorek informasi dengan mudah yang ada di pikirannya.


"Kenapa kau menanyakan pertanyaan yang bisa kau ketahui dari pikiranku?" Balas Tanya Tsuha.


"Kalau begitu, apa dia menyebutkan nama Artl Kyzen?" Tanya Daeva dengan cepat setelah jawaban Tsuha.


Meski tipis, Daeva dapat melihat raut Tsuha yang cukup terkejut mendengar nama itu. "Artl Kyzen?" Tsuha merasa pernah mendengar nama itu.


Dan itu, membuat pikiran Tsuha mundur tanpa disadari untuk mengingat. Daeva dapat membacanya.


"Hmft" Suara kekehan Daeva menyadarkan Tsuha untuk tidak berfikir apapun.


"Ah begitu, kembaranmu mengatakan sesuatu tentang perang dan berniat mengakhiri dirinya sendiri. Terima kasih Estelle, aku menyukai kejujuranmu. Untuk selanjutnya, ku pastikan kau tidak akan berada di dekat Arthur. Sebab, kau harus melindungi dirimu sendiri dari kejaran Ruri" Daeva mendekatkan wajahnya kepada Tsuha dan menujukkan sipitan matanya sambil menepuk beberapa kali kepala Tsuha.


Pedang mana di sekitar Tsuha melenyap.


"A..apa?" Tanya Tsuha. Dia sungguh tidak paham dengan maksud Daeva.


Daeva mengusap rambut hitam Tsuha yang sedikit kehijauan. "Aku akan mengawasimu saat berada di sekitar Arthur. Sampai jumpa. BATSH!" Daeva langsung menghilang di hadapan Tsuha.


Tsuha masih membelalakan matanya. "Mengapa aku yang menjadi incaran Ruri?" Tanya Tsuha.


Ambareesh berada di balik pintu itu. Dia mendengar semua perbincangan antara Tsuha dan Daeva.


"Sebenarnya, apa yang terjadi diantara para Titisan? Dan siapa itu Artl Kyzen?" Batin Ambareesh sambil meninggalkan tempat itu.


...----------------●●●----------------...


Di tempat Ruri berada....


Ruri tengah menjaga Devina yang mulai memilih desain gaun untuk pestannya nanti di salah satu butik besar kepercayaan Ratu Aokuma sebelumnya.


"Steve, apa perpaduan merah dan hitam cocok denganku?" Tanya Devina sambil berkaca di cermin.


"Anda terlihat sedikit lebih dewasa dari umur Anda" Jawab Ruri tanpa basa-basi dan hanya sekali lihat.


"Ah, berarti tidak cocok ya? Apa ada rekomendasi warna yang cocok denganku, Steve?" Tanya Devina.


Di kepala Ruri saat ini hanya ada Arthur. "Bagaimana dengan perpaduan biru dengan abu-abu muda atau mungkin ungu muda dengan sedikit renda di lengan hingga dada" Ruri mengasal.


Devina melihat kearah pemilik butik. "Ah! Kami memiliki satu desain yang seperti Tuan Archduke katakan. Tapi, itu masih masa pengerjaan. Apa Yang Mulia Putri Mahkota ingin melihatnya?" Tanya pemilik butik itu.


Mata Devina terlihat berbinar meski tak menatap orang-orang di sekitarnya. "Steve, apa kau tak ikut?" Tanya Devina.


"Saya akan menunggu Anda disini" Jawab Ruri yang tak bisa fokus dengan Devina.


"Hei, bukankah itu Archduke Berly? Aku juga melihat Putri Mahkota disana. Apa benar mereka berdua memiliki hubungan spesial?" Suara beberapa orang di balik kaca Ruri berada.


Ruri sedang dalam mood yang buruk. Dia langsung menoleh ke arah suara itu.


"Ah! Selamat siang...." Mereka menyapa Ruri kemudian bergegas pergi.


"Dasar makhluk sialan!" Umpat Ruri sambil memijat keningnya.


"PATSH!" Ruri merasakan sihir Daeva yang memasuki alam bawah sadarnya.


[Daeva, temui saja aku di Aokuma] Telepati Ruri kepada Daeva.


"Huh? Bukankah itu terlalu berbahaya?" Tanya Daeva di alam bawah sadar Ruri.


[Sudahlah, jangan banyak bicara. Disana ada pintu yang langsung menuju kemari. Buka itu dan gunakan tudungmu dengan benar!] Tegas Ruri.


"Hah? Apa dia marah karena aku datang sebelum dia memanggilku?" Lirih Daeva sambil memakai tudung jubahnya dan membuka pintu yang tiba-tiba muncul di belakangnya.