The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 5 [Keraguan]



Ruri telah menemui Daeva untuk membicarakan tentang Spirit api dan Negri Gry yang disebutkan.


"Itu memang ada. Mengapa kau menanyakannya?" Tanya Ruri sambil memakan apel yang dipotongkan oleh Daeva.


Daeva memiliki sedikit argumen. Namun, dia perlu memastikannya.


"Sebelum itu, apa Titisan juga ada di Negri Gry, Dawn, ataupun Fall?" Tanya Daeva untuk memastikan argumen yang ada di fikirannya.


"Tidak ada. Titisan hanya di Negri Arden. Meski begitu, nama kalian sudah sampai di Negri Fall" Jawab Ruri.


Daeva semakin yakin dengan banyak hal yang ada di pikirannya.


"Apa kau berfikir aku akan membawa Arthur untuk menemui spirit itu?" Tanya Ruri saat melihat wajah Daeva seolah sedang meyakinkan sesuatu.


"Apa itu salah?" Balas tanya Daeva yang berhenti memotong apel sejenak.


Ruri mengalihkan padangannya. "Tak ada yang salah. Itu memang rencanaku. Apa Charael yang mengatakannya kepadamu terlebih dulu?" Tanya Ruri sambil melahap potongan apel.


Itu memang benar. Charael telah menemui Daeva yang memisahkan diri dengan para Titisan. Mata Daeva terbelalak.


"Bagaimana kau bisa tau?"


"Tak perlu terkejut. Aku sudah pernah mengatakan kalau aku memiliki mata yang baik. Selain itu, apa lagi yang dikatakan oleh Charael?"


Daeva melihat Ruri ternyata sosok yang santai. Selama ini dia berfikir Ruri adalah sosok yang sulit untuk diajak bicara ataupun bekerjasama dan bagi Daeva, Ruri itu lebih terlihat seolah dia sedang mengalami kesulitan akhir-akhir ini.


Tentu saja. Dia memang mengalami kesulitan. Dari mananya yang terserap Arthur dalam jumlah yang banyak, hilang kontak dengan Daeva, hingga harus memainkan peran dimana dia sosok yang ramah dan selalu ada.


Ruri menghela napas.


"Aku tidak butuh rasa kasihanmu" Ruri dapat membaca pikiran Daeva.


Daeva tertawa ringan.


"Sebenarnya, aku penasaran denganmu. Kau belum sempat menjawab siapa kau sebenarnya" Ucap Daeva sambil memakan potongan apel itu.


"Aku sudah mengatakannya. Kalau aku adalah Luciel. Seorang Malaikat Agung yang memiliki tanggung jawab terhadap para Titisan dan tatanan Negri Arden. Aku juga, Malaikat Agung yang paling terkuat dari 12 Malaikat Agung yang lainnya" Jelas Ruri dengan tampang malasnya.


"Kau terlihat seperti orang yang membual. Lalu kenapa kau jadi seperti ini?"


"Ha? Haruskah aku menceritakannya? Apa itu penting untukmu?" Tanya Ruri yang sedikit jengkel terhadap orang-orang yang penasaran dengan hidupnya.


"Tentu saja. Kau bahkan tak terlihat seperti Malaikat Agung. Kau lebih terlihat seperti sosok yang Maha tau. Oleh karena itu, aku penasaran denganmu. Siapa kau sebenarnya?"


Kedua mata Ruri yang beriris berbeda terlihat dengan jelas oleh Daeva saat terbelalak.


"Aku hanya seorang yang mencintai sebuah karangan panjang. Jadi hiraukan saja dan difokuslah kepada tujuanmu kedepannya untuk Negri Arden" Ucap Ruri.


"Ruri, apa kau tidak mempercayaiku?"


"Satu-satunya Titisan yang mampu memegang ucapan dan menjalankan ucapannya hanya kau. Jadi, tak ada alasan bagiku untuk mengkhawatirkanmu akan menghianatiku di akhir cerita" Jawab Ruri sambil memalingkan wajahnya.


Jelas, Ruri menyembunyikannya.


"Lantas, mengapa kau tidak menceritakannya?" Tanya Daeva.


Ruri terdiam sejenak. Dia menoleh dan melihat Daeva. "Sebab kalau kau mengetahuinya, aku bisa ***" Jawaban Ruri membuat Daeva terdiam.


"Begitukah? Baiklah, ke depannya aku tidak akan menanyakan tentang hal itu lagi. Lalu, saat perang yang akan terjadi apa kau akan turun ke sana?" Tanya Daeva.


Ruri memegang dagunya. "Aku akan turun dan mencegah kematian satu orang yang berbahaya" Jawab Ruri.


"Kematian?" Tanya Daeva.


"Ya, bocah itu berniat memindahkan semua ingatannya kepada saudaranya. Sebab dia tau, kalau dirinya akan sama seperti di kehidupan sebelumnya kalau tidak melakukan itu" Jawab Ruri sambil mengubah wujudnya menjadi Nao.


"Siapa yang kau maksud?" Tanya Daeva.


"Tsuki. Tugasmu adalah menculiknya dan jauhkan dia dari perang itu dan Tsuha, termasuk jauhkan dari jangkauanku. Sebisa mungkin, buat dirinya tidak bisa mengeluarkan sihirnya untuk bunuh diri ataupun memanggil nama Arthur" Jawab Ruri.


Di setiap pertemuan, Daeva selalu dibuat terkejut oleh Ruri. "Bukankah akan mudah kalau menggunakan sihirmu untuk menculiknya? Kenapa aku harus menghindarkan dia dari jangkauanmu?" Tanya Daeva. Dia sungguh penasaran terhadap Ruri.


"Keberadaanku adalah pemicu. Tanpa pemicu, Arthur tidak akan mengingat tentang sosok yang dia cari. Dan adanya Aku di tempat yang sama dengannya akan menimbulkan percikan untuknya"


"Loh? Bukankah saat di Shinrin kalian selalu bersama?"


"Itu memang benar. Tapi, sekarang Arthur sudah ada di tubuhnya meski hanya salinan. Aku sebagai pemicu tidak akan mempengaruhi Arthur saat di tubuh Ambareesh"


Daeva baru mengetahui hal itu. Dia sungguh terkejut mendengar semua penjelasan Ruri yang sangat masuk akal ini.


"Ah, iya. Daeva, kau kembalilah ke tempat para Titisan berada. Aku ingin kau melihat perkembangan Aosora Bram. Dia terlihat mencurigakan dari sifat aslinya" Ucap Ruri sambil berdiri dan mendorong kursi yang dia dudukki.


"Aku tidak bisa kesana" Jawab Daeva.


"Hah? Apa lagi yang terjadi?" Tanya Ruri dengan nada sedikit kesal.


"Bukan masalah besar. Ya, aku akan kembali ke para Titisan. Bagaimana dengan Arthur?" Tanya balik Daeva.


Ruri memegang dagunya. "Kau masih perlu meyakinkan Arthur tentang masalah para Titisan dengan aku. Kau hanya perlu mengikuti alur yang direncanakan oleh Alder. Tak perlu khawatir, karena aku sudah tau bagaimana akhir semuanya. Untuk sekarang yakinkan itu saja dan buat dia tertarik dengan Aku yang berada di Aokuma. Ah, dan juga... Aku sudah mengembalikan rumahmu yang ku rusak saat itu. Periksa semua barang di rumahmu, kalau ada yang hilang katakan padaku. Aku akan sibuk dengan beberapa tugasku, jadi tunggu aku hingga aku memanggilmu. Bwesh!" Ruri menghilang begitu saja.


Daeva melihat langit di wilayah milik Ruri yang masih merah dan gelap. "Seharusnya, kau meminta maaf kepadaku karena sudah merusaknya. Hah~ Aku ingin mengatakan dia aneh, tapi dia adalah Malaikat Agung yang bahkan mampu menghancurkan Arden dengan sekali hempasan sayapnya. Dia pasti menggunakan sihir pemutar balik waktu untuk membenarkannya" Ucap Daeva sambil menghabiskan apel itu.


"Ngomong-ngomong tentang Malaikat Agung, bukankah Ruri itu terlalu tau dengan semua apa yang di jalankan oleh Alder? Dia tidak mungkin hanya Malaikat Agung. Sebab, Charael sendiri pernah berkata kalau Malaikat Agung tidak akan pernah bisa melihat masa depan dan Malaikat Jatuh tidak akan bisa mendengar rahasia langit. Menyelidiki Ruri, itu adalah hal yang mustahil untuk ku lakukan. Satu-satunya cara adalah membuat dia bercerita sendiri. Dia mengatakan kalau aku tau siapa dirinya yang sebenarnya, dapat mengubah tatanan alur yang telah di buat. Apa maksudnya itu? Sialan! Siapa sebenarnya Ruri atau Luciel yang berbicara dengan ku ini?!"