The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 3 [Artl Kyzen]



Dahulu kala sebelum adanya Titisan, Negri Arden adalah Negri tunggal yang di pimpin oleh seorang Tiran yang telah membunuh keluarga dan saudaranya demi menjadi sosok paling berkuasa di Arden.


Dia yang dibesarkan di lingkungan yang buruk, dia yang dilahirkan dari kekejaman seorang Raja yang menginginkan keturunan laki-laki meski harus menghamili banyak wanita.


Artl Kyzen itu adalah nama anak laki-laki yang telah diramalkan akan menjadi penghancur bagi Negrinya sendiri.


Kehidupan yang berat menjadi teman kesehariannya. Didikkan betapa pentingnya menjadi orang berkuasa selalu ditanamkan untuk Artl hingga dirinya menjadi sosok yang angkuh untuk segalanya.


Hari-hari tanpa adanya setetes darah Artl yang menetes, itu bagaikan kebebasan dirinya. Ini adalah suatu hal yang diimpi-impikan oleh Artl saat dia telah membunuh semua orang yang berhubungan dengan benang merah pada nadinya.


Ya, dia membunuh semuanya.


Membunuh Ayahnya.


Membunuh Ibunya.


Membunuh selingkuhan Ayahnya.


Membunuh Saudaranya.


Membunuh segalanya yang berhubungan dengan Ayahnya.


Di malam purnama merah, dia bermandikan darah dari orang-orang yang telah dia bantai. Kepala Ayahnya dia penggal, menjadi bukti di mata rakyat Arden kala itu.


Semuanya menjadi senyap, sunyi, dan dingin.


Musim kemarau mulai melanda hingga seperempat wilayah Negri Arden menjadi gersang dan sulit untuk mendapatkan air.


Tidak ada satu warga pun yang berani menengadahkan tangannya kepada Artl Kyzen.


Hingga salah seorang pemuda berbangsa Elf datang menuju ke kediaman Artl untuk memohon belas kasihan kepadanya agar mendatangkan hujan bagi wilayah itu.


Pedang mana ungu Artl acungkan ke arah leher pemuda Elf itu.


"Apa yang akan kau bayar untuknya?"


Tidak ada yang gratis di dunia ini. Pemuda Elf itu mengetahuinya.


"Saya bersumpah akan menjadi pengikut setia Anda Tuan"


Pemuda Elf itu menatap iris ice blue Artl dengan irisnya yang berwarna lebih murni dari Zamrud.


"HMMM, PFFT"


Ucapan itu seperti lelucon bagi Artl.


"Aku tidak membutuhkan satu pengikut pun untuk di kehidupanku. Menyingkirlah, biarkan wilayah itu menjadi kering dan mati" Ucap Artl sambil meninggalkan pemuda Elf itu.


"Saya akan mempersembahkan semua yang saya miliki untuk Anda, Tuan" Pemuda Elf itu tidak mengenal kata menyerah.


"Huh? Ulangi sekali lagi" Artl berbalik dan mulai tertarik dengan ucapannya.


"Saya mempersembahkan segalanya yang saya miliki kepada Anda" Ulang pemuda Elf itu.


Artl melipat kedua tangannya di depan dada. "Apa saja yang kau miliki?"


Awalnya, Artl hanya ingin mempermainkan pemuda Elf itu. Namun, sesuatu yang tidak pernah dia dengar membuatnya tertarik kepada Pemuda Elf itu.


"Kehormatan, kepercayaan, kesetiaan, dan pengorbanan. Empat hal tersebut adalah segalanya yang akan saya persembahkan untuk Anda apabila Anda memberikan sedikit sihir Anda untuk wilayah itu" Pemuda Elf itu membungkukkan tubuhnya di hadapan Artl yang terbelalak mendengar persembahan yang akan dia berikan.


"Siapa namamu?"


"Ryan, saya tidak memiliki marga" Jawab pemuda Elf itu.


"Kalau begitu, minum ini sebagai bukti pengorbanan yang akan kau berikan kepadaku" Sebotol racun dari hewan sihir keluar di keluarkan oleh Artl dari tangan kanannya dan mengulurkannya kepada Ryan.


Ryan melihat botol kaca itu yang mengeluarkan aura negatif dengan pekat.


"Cairan apa itu Tuan?" Sebenarnya Ryan sudah mengetahuinya namun, dia tetap bertanya kepada Artl.


"Racun dari darah alamender sihir"


"Anda berniat membunuh saya?" Tanyanya.


"Aku butuh bukti dari persembahanmu"


"Bagaimana apabila saya mati dan Anda tidak memberikan sedikit sihir Anda untuk wilayah tersebut?"


"Bukankah itu juga persembahan yang akan kau berikan kepadaku? Kepercayaan" Tanya Artl.


Pemuda Elf itu terdiam.


"Saya akan meminumnya. Suatu kehormatan bagi saya, karena Anda telah bertanya nama saya. Glegh!"


Jakun pemuda Elf itu terlihat bergerak saat dia meminum racun itu.


Artl hanya melihat pemuda Elf itu tanpa ekspresi.


DEGH!


Racun itu bereaksi dengan cepat, seperti rumor yang bereda.


"Khaaak.... BRUK!"


Perasaan sesak dan panas yang sangat mencekik kerongkongan dirasakan oleh pemudah Elf itu hingga terjatuh di marmer yang dingin.


Air mata menetes dari mata Elf itu sambil meringkuk di bawah sana tanpa berteriak sedikitpun.


Penderitaan dan kenangan negatif pemuda Elf itu tersalurkan ke kepala Artl yang berusaha mengacak-acak alam bawah sadar Ryan.


Rasa yang sesak tidak bisa dijelaskan begitu saja. Perasaan takut dan kecewa dirasakan oleh Artl setelah mengorek alam bawah sadar Ryan yang ternyata adalah anak yang di buang oleh keluarganya saat dia berusia 6 tahun dan ditinggal begitu saja di hutan yang kini menjadi gersang.


Ryan hidup sebatang kara dan hanya ditemani oleh hewan sihir di hutan itu.


"MENYEDIHKAN"


Itulah kebenaran yang Artl dapatkan dari alam bawah sadar Ryan.


Artl memegang kepala Elf itu yang berambut gelap. Dia membalik posisi Elf itu untuk terlentang. Artl menggunakan sihirnya untuk mengeluarkan racun yang telah pemuda itu telan dan mengembalikannya ke dalam botol.


Pemuda Elf itu tidak sadarkan diri dan dibiarkan tergeletak di lantai marmer yang dingin.


Hari itu, seluruh wilayah Negri Arden turun hujan karena efek dari sihir milik Artl. Artl membuat satu Negri dilanda hujan selama 3 hari 3 malam karena dirinya tidak mengetahui wilayah mana yang perlu di berikan sihir sebab, ada sebanyak 11 wilayah yang terkena serangan kemarau panjang.


Pemuda itu, terbangun dari ketidaksadarannya setelah empat hari dia tergeletak di lantai marmer itu dan sering di lewati oleh Artl.


"HAH! Aku... masih hidup?" Pemuda itu terkejut setelah dirinya mampu merasakan pipinya yang dingin.


Artl hanya melihat pemuda itu dari jarak aman. "Dia sungguh Elf yang bodoh"


Lirihan Artl didengar oleh pria muda itu.


"Tunggu!!! Tuan!!! Apakah Anda yang menghidupkan saya?!"


Artl hampir tertawa mendengarnya.


"Aku hanya mengujimu. Dikehidupan berikutnya, jangan menjadi Elf yang bodoh dan banyak bicara" Perintah Artl.


"Tentu saja Tuan! Saya sangat berterima kasih kepada Anda. Lalu, bagaimana dengan permohonan saya?" Tanya Elf itu sambil berjalan dengan cepat menuju Artl.


"Aku sudah membuat langit turun hujan. Ada lagi yang kau inginkan?" Tanya Artl.


"Emm, bagaimana dengan sihir perlindungan yang hanya membuat orang-orang terpilih dan bangsa Elf saja yang bisa menggunakan sihir di wilayah itu?" Tanyanya.


Artl langsung memasang wajah bengong.


"Kau pikir aku seorang Malaikat Agung?" Tanya Artl.


"Haha, Anda adalah sosok yang lebih kuat dari Malaikat Agung. Kekuatan Anda akan abadi disana. Percayalah kepada saya. Saya bisa menerawang masa depan Anda"


"Hentikan omong kosongmu. Kau sudah berani bercanda denganku rupanya" Ucap Artl sambil membuang mukanya.


"HAHA! Di kehidupan yang akan datang, apabila Anda berkesempatan, jadilah orang yang periang dan banyak bicara, sesekali menjadilah orang yang ceroboh. Saya mengharapkan bisa menjadi teman Anda di kehidupan kedua dan saya ingin merasakan memiliki teman yang banyak bicara dan sembrono"


Semuanya terjadi begitu cepat.


"BKAAHKK!!!"


Pedang mana hitam milik Siluman ular yang beracun menembus dada Ryan saat Artl mengunjungi wilayah yang Ryan minta untuk diberikan perlindungan sihir khusus itu.


Ryan berusaha melindungi Artl kala itu dari serangan mendadak orang-orang yang tidak menyukai Artl.


Napas tersegal-segal dan darah hitam yang keluar dari mulut Ryan, untuk pertama kalinya membuat sosok dingin seperti Artl meneteskan air matanya.


Hari itu, wilayah yang diberi sihir oleh Artl adalah hutan terlarang yang hingga kini masih terus berada di perlindungan sihir Artl.


Artl merasakan kesepian untuk pertama kalinya.


Suara berisik yang selalu menganggunya menjadi kesunyian dalam seketika.


Artl kembali ke sosok dahulunya yang tidak peduli dengan sekitarnya hingga, Luciel datang kepadanya untuk menyampaikan pesan dari sang Cahaya dan membawa teratai ungu sebagai tanda perdamaian, serta tawaran untuk menjadi sosok Titisan.