
Ambareesh mendatangi Bianca yang baru menyelesaikan membersihkan dirinya setelah kekacauan besar itu.
Bianca terkejut setengah mati saat Ambareesh sudah berada di jendela kamarnya.
Jantung Bianca berdegup kencang. Dia mengosok dadanya perlahan dan mengatur napas serta ekspresi wajahnya.
"Kenapa kau kemari? Sudah ku katakan. Besok kau dan yang lain harus pergi dari sini. Menyusahkan saja" Bianca menutup jendela itu dan ditahan oleh tangan Ambareesh agar tidak tertutup.
"Bianca..."
"Tsk! APA LAGI!?" Bianca sungguh membuat Ambareesh kebingungan dengan tingkahnya.
"Kau marah?" Ambareesh membuka jendela itu dan masuk melalui jendela besar itu.
Ambareesh saat ini, duduk di ambang jendela.
"Maafkan aku. Harusnya, aku mendatangimu dari awal" Ambareesh menundukkan padangannya dan mengulurkan tangan kanannya di atas pahanya.
Bianca terkejut karena sosok di depannya yang selalu bertingkah sok tidak peduli, tiba-tiba meminta maaf kepadanya.
Bianca mengkernyitkan kedua alisnya.
"Aku tidak paham maksudmu. Sekarang, keluar dari sini" Bianca memunggungi Ambareesh dan merapikan rambutnya yang berubah menjadi putih di depan cermin.
Ambareesh membuang napas ringan dan malah masuk ke dalam kamar Bianca. Dia duduk di atas kasur Besar Bianca.
"Kenapa kau malah masuk? Dan dimana kau duduk itu?" Bianca menatap mata biru gelap dan seperti laut dalam itu.
Ambareesh meletakkan kaki kanannya di atas paha kirinya. Dan dia duduk dengan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Bianca.
Tatapan Ambareesh masih saja dingin dan datar.
"Aku tak suka basa-basi. Aku sudah meminta maaf kapadamu. Aku tidak tau apa masalahmu. Jadi, apa maumu sekarang?"
Pertanyaan yang keluar dari mulut Ambareesh membuat Bianca menjadi menciut. Ambareesh marah kepada Bianca.
Bianca memberikan tatapan kesal kepada Ambareesh. Bianca mengelung rambutnya dan mendatangi Ambareesh.
"GREP!" Dia menarik kera kemeja Ambareesh hingga kancing nomor dua dari atas Ambareesh copot. "Tidak bisakah kau berhenti membuatku khawatir dan menunggu? Aku sudah menunggumu bertahun-tahun, sialan!" Bianca memaki Ambareesh.
Ambareesh sudah lama sekali tidak melihat tatapan itu dari wajah Bianca.
"Aku tidak pernah menyuruhmu untuk menungguku" Jawab Ambareesh sambil memegang pergelangan tangan kiri Bianca.
"Cih! Selama ini, kau menganggapku sebagai apa Ambareesh? Kenapa kau tak pernah sekalipun memberiku kesempatan untuk mengantung kepadaku? Aku tidak lemah. Aku selalu ada untukmu. Tapi, kau yang selalu membuatku menunggu. Aku tidak suka menunggu Ambareesh. Ini membuatku sedih" Alis Bianca yang mengkernyit, tiba-tiba menurun. Pandangan mata Bianca menjadi sayu melihat Ambareesh.
Mata Bianca mulai berkaca-kaca.
"Kenapa kau bahkan melupakanku?"
Mata Ambareesh terbelalak saat Bianca yang selalu terlihat keras kepala tiba-tiba menunjukkan air matanya.
Ambareesh teringat dengan masa kecilnya dengan Bianca. Dia melupakan sifat Bianca yang selalu manja dan cengeng kepadanya. Semua, karena ditutupi oleh kemampuan Bianca dalam mengendalikan kekuatannya. Hingga, kecengengan Bianca tertutup oleh usahanya.
Ambareesh menurunkan kaki kanannya dan mengusap air mata Bianca di pipi kirinya.
"Maafkan aku" Ucap Ambareesh sambil mengusap rambut Bianca yang putih.
Mata Bianca terbelalak. Dia kembali berkenyit dan melepaskan kera kemeja Ambareesh.
"Aku membencimu" Ucap Bianca sambil mengusap air matanya sendiri. Namun, dia membiarkan Ambareesh mengusap rambut kepalanya.
"Ya, aku membencimu juga" Ambareesh menarik tangan Bianca kemudian dia memeluk pinggang Bianca. Bianca membelalakan matanya. Dia sangat kaget. Suara degupan jantung Bianca yang berdebar terdengar di telinga Ambareesh.
"Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau meninggalkanku lagi" Bianca membelakangkan rambut depan Ambareesh.
"Ya, aku akan mengingatnya"
Kulit Bianca terasa begitu dingin dan menenangkan saat kulit lengan dan pipi Ambareesh menyentuhnya.
Ambareesh masih tetap menyukai pelukan dari Bianca.
Bianca mendongakkan kepala Ambareesh. "Ambareeh, aku sangat menyukai dan menyayangimu. Jadi, tolong jangan pernah berjalan sendirian dan meninggalkan ku lagi. Berjanjilah" Pinta Bianca sambil mengusap kening Ambareesh dan membuat tanduk Ambareesh menghilang.
Ambareesh tersenyum tipis dan kedua matanya terlihat menyipit. "Aku tidak menyukai janji. Jadi, aku tidak akan pernah berjanji padamu" Jawab Ambareesh sambil meletakkan telapak tangan Bianca yang awalnya dikeningnya, saat ini dia pindah ke pipi kanannya.
Bianca duduk di atas paha Ambareesh dan mengalungkan kedua lengannya pada tengkuk Ambareesh.
Dia tersenyum lebar.
"Kemanapun kau pergi, kau harus membawaku ya?" Pinta Bianca dengan nada manja kepada Ambareesh.
"Iyaa" Jawab Ambareesh sambil mengusap rambut halus Bianca.
"Bisakah aku menjadi milikmu?" Tanya Bianca sambil mencium pelan pipi kiri Ambareesh.
Ambareesh melirik mata Bianca. "Itu tidak bisa" Jawab Ambareesh dan itu membuat Bianca melepaskan pipi kirinya.
"Kenapa?"
"Lalu kenapa? Aku bisa melindungi diriku sendiri dan aku juga cukup kuat untuk membantumu. Aku rasanya seperti hampir mati karena menunggumu. Jadi, biarkan aku berjalan di sampingmu untuk di kehidupan yang ini" Bianca mengengam tangan kanan Ambareesh dengan kedua tangan kecilnya.
Ambareesh melihat Arthur yang menunggunya di ambang jendela. Dia mengangguk dan menunjukkan ibu jarinya. Ambareesh kembali melihat Bianca.
"Baiklah, mohon bantuanmu. Kita bisa menjadi rekan yang hebat" Ucapan Ambareesh membuat Arthur melongo.
"Ha? Rekan? Ya, terserah sudah" Arthur melambaikan tangannya untuk pergi.
Bianca tersenyum tipis dia memeluk Ambareesh dengan perlahan. "Baiklah, kita awali lagi sebagai seorang rekan. Ambareesh memang tidak pernah paham dengan setiap ucapan yang ku katakan" Batin Bianca. Dia sungguh senang dengan penerimaan Ambareesh meski menganggap ucapan Bianca dari awal hanya sebagai rekan yang saling menguntungkan.
"Bianca, bolehkah aku bertanya sesuatu?" Tanya Ambareesh sambil melepaskan pelukan Bianca.
"Aku akan menjawab apapun pertanyaanmu sebisaku" Jawab Bianca.
"Kalau begitu, kenapa kau bisa masih hidup selama ini?" Tanya Ambareesh.
Bianca sedikit tercengang dengan pertanyaan itu.
"Aku keturunan Siluman Rubah murni, jadi itu tidak mengejutkan kalau Bangsa Siluman Rubah memiliki usia yang panjang" Jawab Bianca. Bianca pikir, Ambareesh sudah mengetahuinya.
Namun, Ambareesh teringat dengan ucapan Haraya. Kalau Bianca hidup selama ini karena sihir seseorang yang merupakan musuh Ambareesh. Bianca di hadapannya adalah umpan untuk dirinya sendiri.
Sejujurnya, hati Ambareesh menjadi sedih mendengarnya.
Ambareesh tersenyum tipis. Dia memegang kedua pipi Bianca dengan kedua tangannya. "Kalau tubuhmu tiba-tiba merasa tak nyaman, katakan padaku jangan diam saja" Pesan Ambareesh kepada Bianca.
Wajah Bianca memerah karena ucapan Ambareesh. "Uh... ha.. Ten... Tentu" Bianca menudukkan padangannya sambil berdiri dari pangkuan Ambareesh.
Bianca menata rambutnya yang jatuh di pipi kirinya kebelakang telinga kirinya.
...----------------●●●----------------...
Tsuha keluar dari kamarnya setelah kepergian Archie. Dia duduk di taman kecil yang dipenuhi oleh bunga sihir disana. Cahaya bulan yang mengenai bunga sihir berwarna ice blue itu, menjadi berkilau.
Tsuha menyentuh bunga itu. Rasa nyaman, dia rasakan di tubuhnya karena bunga sihir itu.
Pikiran Tsuha sungguh berantakan. Bercerita kepada Archie tidak membuat pikirannya menjadi tenang. Dia malah merasa semakin terbebani dan membuatnya tak nyaman untuk bertemu dengan Archie.
"Tenanglah, aku tidak menceritakan apapun. Apa yang harus ku khawatirkan?" Tsuha berusaha membuang rasa tak nyaman itu dari pikirannya.
Dia overthink dengan semua yang menimpanya.
"Kak sedang apa?" Suara kecil dan halus di belakangnya membuat Tsuha terkejut setengah mati.
Dia melihat ke belakang. "Oh, ternyata kau..." Tsuha hampir lari kalau orang yang dibelakangnya adalah Angel.
"Itu bunga yang cantik" Ucap Ela sambil berjongkok di sebelah Tsuha untuk melihat bunga itu dari dekat.
"Iya, ini masih bangsa dari tanaman Bunga Raez. Tapi, bunga yang ini hanya akan tumbuh di tempat yang penuh dengan sihir. Kalau di Hutan Terlarang, Bunga Raez di sana berwarna kuning keemasan. Dan itu dijaga oleh Serigala sihir. Mereka hanya bisa tumbuh karena air liur serigala sihir disana" Jelas Tsuha kepada Ela.
Ela mengangguk ringan dan melihat wajah Tsuha yang selalu membuatnya takjub. "Kakak paham sekali. Aku sendiri, baru tahu" Ucap Ela sambil melihat jari tangan Tsuha yang menyentuh bunga itu. Jari tangan Tsuha begitu lentik. Ela melihat jari tangannya sendiri yang pendek dan mungil.
Ela terkekeh ringan. Tsuha terkejut karena tiba-tiba Ela tertawa disebelahnya. "Kenapa tertawa?" Tanya Tsuha.
"Hanya ingat hal lucu kak. Jangan di pikirkan" Jawab Ela sambil mengusap wajahnya.
Tsuha kembali melihat tanaman sihir itu. Pikiran Tsuha sungguh berisik di pendengaran Ela. Dia mendatangi Tsuha karena suara pikiran Tsuha yang keras.
"Kak, kalau ada sesuatu yang menganggumu, ada baiknya bercerita dengan orang yang membuatmu nyaman" Ucap Ela sambil melihat tangkai tanaman sihir itu yang langsung akar tanpa daun.
"Kau mendengarnya?" Tanya Tsuha.
"Maaf kak, aku tidak bermaksud mendengarnya. Kalau ada sesuatu, ada baiknya bercerita. Karena, kalau dipendam sendirian itu hanya akan membuatmu lelah dan sama seperti menyakiti dirimu sendiri" Jawab Ela sambil menundukkan pandangannya.
Tsuha melihat Ela. Dia tidak akan marah hanya karena nasehat kecil itu. "Iya, aku pasti akan bercerita kepada seseorang" Jawab Tsuha sambil menunjukkan senyuman tipisnya.
Ela sedikit kaget mendengar itu. Dia pikir, Tsuha akan marah karena dia yang ikut campur. Ela melihat Tsuha. Mata mereka saling bertemu dan itu mengejutkan Ela. Dia membuang pandangannya kembali.
"Haha, apa kakak sudah makan?"
"Malam ini belum" Jawab Tsuha dengan jujur.
"Eh? Kenapa kakak tidak bergabung saja dengan kakak-kakak yang lain untuk minum-minum disana?" Ela menunjuk kamarnya dan para gadis yang lain.
Tsuha mengeleng. "Aku cuma pengen ke tempat yang tenang" Jawab Tsuha sambil melihat tunjukkan tangan Ela.
"Oh, begitu.... Mau ku mintakan makanan kesini?" Tanya Ela.
"Tidak perlu, makan malamku sudah ada di kamar. Kau kembalilah ke dalam. Di luar sangat dingin. Kau bisa sakit hanya dengan menggunakan pakaian tipis itu" Tsuha berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Ela.
Ela berfikir, Tsuha adalah orang yang baik selain Ambareesh. Dia tersenyum lebar. "Baik kak, terima kasih" Ela berdiri sendiri karena jantungnya bisa meledak kalau memegang tangan Tsuha. Dia juga, menghindari tatapan Angel yang melihatnya dari kejauhan.
"Aku di beri beberapa pakaian tebal oleh Elf tua yang menculikku itu. Kalau mau, akan ku ambilkan untukmu. Bagaimana?" Tanya Tsuha sambil melihat Ela yang membersihkan celana panjangnya.
"Tidak perlu kak. Aku sudah diberi oleh Kak Ambareesh. Selamat malam" Ela melambaikan tangannya kepada Tsuha di depannya.
"Ya, jangan terlalu lama di luar" Jawab Tsuha sambil meninggalkan Ela disana.