The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 5 [Penculikan Dua Orang Besar]



"...Saya rasa Aosora sedikit spesial dimata Akaiakuma. Mengingat betapa indahnya persahabatan antara Raja Pertama Aosora Alex dengan Putra Akaiakuma, De luce Archie. Ah, dan jangan melupakan tentang rumor Aosora Arthur yang setubuh dengan Putra Akaiakuma" Ratu Kerajaan Aviv tiba-tiba mengangkat suaranya saat melihat Bram yang terlihat gelisah.


Dia menutup sebagian wajahnya dengan kipas birunya sambil melihat Bram yang memberikan tatapan tidak menyenangkan padanya.


Dia tersenyum dibalik kipas itu.


...----------------●●●----------------...


Mata Bram dan Arthur saling berkontak meski sebentar. Arthur mengangguk pelan di belakang Ruri.


Bram sebenarnya cukup tekejut dengan keputusan Arthur. Dia memberikan senyumannya kepada Ratu Aviv disana.


"Saya tidak keberatan dengan sistem pemerintahan tersebut. Ini akan mempermudah Aosora untuk menjalin kerjasama dan Kami, keluarga Aosora adalah netral. Kami tidak akan memandang buruk Iblis-Siluman, sesuai dengan janji Raja Pertama, Aosora Alex" Jawab Bram.


Ya~ Itu semua hanyalah kebohongan Bram karena keterpaksaannya.


"PFFT! HAHA" Raja Kerajaan Heraklesh tertawa dengan lantang mendengar ucapan Bram.


Kerajaan Heraklesh adalah Kerajaan campuran yang mayoritas di huni oleh penduduk berbangsa Iblis ras campuran karena tidak mendapatkan penerimaan dari Rakyat Akaiakuma ataupun Nekoma.


"Ehem, Anda menarik sekali, Putra Mahkota Aosora" Ucap Raja tersebut setelah berdehem. Dia membelakangkan rambutnya yang berwarna pirang. "Saya memiliki seorang Putri. Saya akan mempertimbangkan kerjasama dengan Aosora kalau Anda bersedia bertemu beberapa kali dengan putri saya" Raja Heraklesh sangat menjujung tinggi putri satu-satunya dan kesayanganya itu.


Ucapan itu, ditertawakan oleh Raja Kerajaan Anund. "Asal Anda tau, Aosora hanya akan menikah dengan mereka yang berbangsa Manusia murni atau Malaikat murni. Itu adalah budaya Aosora. Jadi, maafkan saya, saya mewakilkan Aosora untuk menolak Putri Anda" Anund dan Heraklesh adalah dua kerajaan kecil yang berdekatan dan selalu memiliki topik untuk memulai perdebatan hingga menimbukkan bentrok antar rakyatnya dan tak jarang kalau petinggi mereka saling bertemu, mereka akan seperti ini.


Baal mengetuk gelasnya beberapa kali dengan garpu yang dia pegang. Semua yang ada diruangan itu, kembali terfokus kepada Baal. "Maafkan saya, mari kembali ke topik awal. Karena Aosora menyetujui sistem monarki ini, Shinrin akan bertindak sama. Saya menerima sistem ini. Bagaimana dengan Narai dan Meganstria?" Baal melihat ke wajah para petinggi itu.


Tatapan tajam Baal lebih di arahkan kepada Raja Meganstria yang seolah Baal mengatakan, 'Setujui saja, keputusan kalian harus sama denganku. Atau memilih kehilangan kerajaan kalian?'


Raja Meganstria dan Narai tersenyum bersamaan sambil melihat ke arah Arnold. "Bagaimana dengan perjanjiannya?" Raja Narai menyetujuinya. Begitu pula dengan Meganstria.


"Sebenarnya, alur ini sudah bergerak terlalu jauh dan terlalu cepat. Apa akan ada efek yang akan terjadi di masa depan tanpa sepengetahuanku? Bagaimana dengan nasib Arthur? Apa dia akan tetap berada bersamaku dan membunuhku? Ah, Charael juga tidak pernah menampakkan sayapnya lagi setelah hari aku mengancamnya. Apa yang harusku lakukan?" Ruri mulai bimbang dengan keputusannya sendiri.


Baal mulai memberinya kode untuk melancarkan misinya saat ini.


"Manusia jenis Baal adalah manusia yang sangat ku benci. Sampah bahkan masih telihat layak daripada manusia satu itu. Haruskah aku membunuhnya? Kalau aku membunuh manusia ini, apa yang akan terjadi di masa depan? Shinrin yang akan menjadi tempat perang besar itu, akan hancur terlebih dulu sebelum kedatangan Arthur. Membunuh Aosora Bram, itu tidak ada di alur. Membunuh Bram sama seperti mengaktifkan bom bunuh diri untukku dan tentunya, Arthur akan sangat membenciku. Ini akan mempengaruhi tugasku" Ruri mengetuk meja beberapa kali dengan jari telunjuknya saat berfikir.


"Mengenai pernyataan perang dengan Para Titisan, mari kita tentukan terlebih dahulu waktunya. Sebisa mungkin, perang ini jangan sampai membuat Aokuma merasakan dampaknya karena peremian dan penobatan Ratu Akaiakuma akan di selenggarakan saat Purnama, satu bulan setengah" Mereka mulai membicarakan persiapan perang itu.


"Bagaimana dengan dua minggu setelah penobatan Ratu Aokuma?" Tanya Arnold.


Kedua mata Ruri terbelalak mendengarnya.


"Alur telah berubah. Perang ini, harusnya berlangsung pada beberapa hari kedepan ini. Lebih tepatnya, sebelum penobatan itu dimulai," Ruri tanpa sadar telah menatap Arnold dengan wajah terkejutnya.


Arthur melihat raut itu.


"Maaf, bukankah lebih cepat lebih baik?" Tanya Raja Meganstria yang mengkhawatirkan wilayahnya yang berada di tangan Titisan.


"Saya rasa demikian. Semakin lama wilayah itu berada di tangan musuh, musuh akan semakin mengenal wilayah itu dan mempermudahkan mereka mengeksploitasinya untuk strategi penyerangan. Saya sarankan, minggu ini perang berlangsung" Ratu kerajaan Aviv memberikan saran.


Saran itu, membuka harapan Ruri karean alur masih berjalan pada tempatnya.


Saran itu adalah kesempatan Ruri untuk berbicara.


"Izin berbicara. Saya sedikit setuju dengan perkataan Ratu Aviv. Sebab, wilayah lain yang akan terancam adalah Aosora dan Nekoma yang saat ini masih terjadi kekosongan. Apabila Aosora dan Nekoma terebut, Narai juga akan terancam karena wilayah Narai berada jauh di jangkauan Akaiakuma dan Shinrin" Ucapan Ruri membuat Raja Kerajaan Narai getir karena wilayahnya berada jauh di ujung Barat Laut Arden.


"A... Ya! Saya setuju dengan perkataan Ratu Aviv. Bagaimana dengan yang lain?" Raja Narai membuka suaranya untuk mempercepat perang itu terjadi.


"Shinrin akan selalu siap. Begitupun dengan Aosora dan Meganstria" Jawab Baal.


Baal tidak membutuhkan jawaban Bram untuk memutuskan hal ini. Bram yang saat ini sedang dalam keadaan sensitif karena ucapan Arthur sebelumnya, dia mulai menyadari suatu keretakan yang muncul di dalam dirinya yang membuat Bram tidak menyakini Baal.


Suara ketidakyakinan itu, dapat di dengar oleh Ruri dia terseringai tipis saat melihat Bram.


"Baiklah, kalau begitu perang akan dimulai seperti jadwal yang di atur sebelumnya. Empat hari lagi. Akaiakuma akan mengirim surat resmi itu yang menyertakan tanda tangan Yang Mulia yang ada di ruangan ini"


Ruri mencolek paha Arthur untuk menujukkan kodenya.


Arthur tertawa setelah mendapatkan kode dari Ruri. Tawa Arthur memancing perhatian semua bangsa di sana. Dari para Raja hingga satu penjaga yang dibawa oleh setiap raja.


Ruri menoleh ke arah Arthur saat pedang mana ungu Arthur berada di lehernya. Ini diluar rencana. Bram membelalakan matanya karena rencana yang mereka bertiga rancangkan tidak memperbolehkan Arthur untuk menyakiti tubuh Steve sedikitpun.


"Salam kenal, Aku Aosora Arthur. Lama tidak berjumpa, Raja Meganstria~" Arthur membuka topengnya dan menunjukkan senyuman lebarnya dengan kedua matanya yang menyipit kepada Raja Meganstria.


"BRUK!"


Raja Meganstria sangat terkejut. Dia tidak sadar membuat dirinya terjatuh di kursinya sendiri.


Arnold menatap Arthur. Dia sangat ingat dengan wajah itu. "Aosora Arthur, Apa rencanamu dan Para Titisan kali ini?" Tanya Arnold sambil menujukkan auranya kepada Arthur.


"Woh~ Kau mirip sekali dengan Archie. Sayang sekali~ Aku tidak berada di pihak Titisan. Aku hanya menjemput Kakakku" Arthur menujuk Bram dan dari telunjukkan tangan Arthur memunculkan embran sihir yang melindungi Bram dari jangkauan Baal.


Arthur tersenyum kepada Arnold kemudian menoleh ke arah Baal. Mata Baal terbelalak. Dia termangun ditempat. Dia melihat sosok yang ingin dia lindungi berada di hadapannya.


"Kau mirip dengan lukisan raja Aosora pertama tapi tidak dengan warna rambutmu. Apa kau sungguh Arthur?" Tanya Baal yang sejujurnya, dia senang dengan kembalinya Arthur.


Tatapan berbeda diberikan Arthur kepada Baal. Itu adalah tatapan kebencian. Arthur mendecih, kemudian mengangkat kedua alisnya sambil memberikan raut meremehkan kepada Baal.


"Berhenti bersikap baik kepada kami. Kau bahkan tak pantas mendapatkan gelar Raja. Kembalinya Aku dan Kak Ram, tentunya akan merepotkanmu untuk mendapatkan kembali tanah Aosora, bukan?" Tanya Arthur sambil melempar surat yang diberikan Ruri ke arah Baal.


Mata Baal terbelalak. Dia sangat mengenal surat itu.


"Arthur! Ini tidak seperti yang kau pikirkan!" Tegas Baal dengan terburu.


"Harusnya, kau yang paling tau tentang Shinrin dan Aosora. Mengirim orang untuk membunuh adalah satu-satunya cara untuk merebut wilayah itu. Dengan matinya semua keturunan Aosora, tanah itu akan kembali menjadi milik Shinrin. Semua ada pada perjanjian kuno yang Kakek buyutku tuliskan bersama pendahulumu" Ucap Arthur sambil memindahkan Bram dari dalam embran mana itu ke Meganstria.


"Perjanjian itu juga, berlaku bagi semua bangsa Iblis yang berada di Akaiakuma kepada Aosora begitu juga sebaliknya" Ucap Arthur sambil melihat kearah Arnold.


Pedang mana Arthur membuat energi sihir Ruri terserap. Ini sangat menganggu untuk Ruri.


"Menyatakan perang kepada Titisan, itu adalah hal yang sangat salah. Sebab, para Titisan sendiri terpaksa menindahpaksakan semua rakyat Meganstria karena amukan seseorang yang memicu kehancuran bagi sekitarnya yang membuat para Titisan kewalahan" Arthur masih melihat ke arah Arnold.


Arnold berusaha menutup telinga dan matanya atas kebenaran yang dia ketahui dari maksud Arthur.


"Kembalinya Rakyat Meganstria ke tanah mereka, tidak akan membuat para Titisan kebingungan. Sedari awal, para Titisan tidak memiliki waktu untuk mengurus serangga seperti kalian" Sindir Arthur kepada Arnold dan Raja Meganstria.


Ucapan Arthur memicu amarah Ratu Aviv yang tidak menyukai dirinya yang disebut serangga oleh Arthur.


"Makhluk rendahan sepertimu, bukankah menghirup udara yang sama dengan kami adalah hal yang harusnya kau muliakan?" Tanya Ratu Aviv sambil mendekat ke arah Arthur.


Ruri sudah lelah dengan drama ini. Dia selalu menonton sejak dulu.


"Sialan! Singkirkan pedangmu dari leherku!" Ucap Ruri sambil menatap Arthur yang berkenyit padanya.


Ratu Aviv berusaha memengaruhi Arthur dengan sihir control pikirannya.


Dia menyentuh dada kiri Arthur kemudian menyentuh dagu Arthur dengan jari tangannya yang lentik dan kukunya yang berkutek ungu.


Dia mengelus pipi Arthur dengan jarinya yang mulus. "Bagaimana kalau kau berada di sampingku? Bukankah, ini akan mempermudahmu untuk kembali mendapatkan Aosora?" Sihir Ratu Aviv tidak bisa mempengaruhi Arthur karena ada Ruri yang menghalaunya.


"Apa hanya itu saja? Tanpa bantuanmu, aku pun bisa mendapatkan Aosora kembali dengan mudah" Ucap Arthur sambil melepaskan pedang Ruri dan membalas memeganh dagu Ratu Aviv.


Ratu Aviv terbelalak. Dia menyadari sihirnya tidak dapat mempengaruhi Arthur. Dia mendorong dada Arthur dan Arthur menahan pinggang Ratu Aviv saat dirinya didorong dengan keras.


"Ya.. Hahaha, walaupun perang itu terjadi, itu hanya akan menimbulkan penderitaan untuk kalian. Dan sekali lagi, aku tidak berada di pihak Titisan ataupun pihak kalian. Dan, ini ada sedikit hadiah dariku untuk Shinrin tercinta." Arthur mengeluarkan sihirnya yang menyerupai bola sihir milik Ambareesh yang mampu meledakkan sekitarnya saat bola cahaya itu tersentuh sesuatu.


"WOSH!" Arthur menghilang bersama Ratu Aviv dan meninggalkan Ruri disana.


"Sialan! MENJAUH!" Tegas Arnold yang sangat trauma dengan sihir itu.


Mata Ruri terbelalak melihat sihir yang begitu indah dan memercikkan serpihan kristal mana itu. Seumur hidupnya, dia tak pernah melihat sihir secantik itu.


"TEP!" Ruri menghiraukan suara teriakan orang-orang yang menyuruhnya pergi. Sihir itu menyentuh permukaan meja marmer dengan lembut.


BAMMMM!!!


Sihir Arthur meledak di hadapan Ruri dengan hebat dan keras. Ledakan sihir itu menghancurkan seperempat Istana Shinrin dan menimbulkan gempa yang cukup menguncang hingga di Kerajaan Bianca.


"SRAAATTTT!!!" Tubuh Ruri yang hancur kembali menyatu di antara kobaran api ungu itu. Cahaya terang seperti kristal terlihat pada pinggang sisi kanan Ruri yang menyatuhkan tubuhnya kembali.


Dia terlihat terseringai dengan lebar karena sihir Arthur yang mampu meledakkan tubuhnya meski telah dilindungi oleh sihir tingkat satu untuk kedua kalinya. "Bocah sialan, kau membuatku bersemangat lagi setelah sekian lamanya" Ucap Ruri saat wajahnya kembali menyerupai Steve.