
"Sialan!"
Sepanjang jalan, Archie tidak henti mengumpat sambil menutup kepalanya dengan tudung jubah miliknya.
Ambareesh berjalan dengan santai dibelakang mereka. Sama seperti Archie yang tengah menyembunyikan wajah dan tanduknya.
Semua pandangan tertuju pada Arnold.
Bisikan-bisikan mereka mulai terdengar ramai. Meski begitu, tak sedikit dari mereka yang memperd8iulikan rupa Iblis dengan rambut putih dan tanduk maron yang menghadap ke langit itu. Beberapa dari mereka ada yang sempat menyenggol bahu Arnold dan yang lain.
Tatakrama Bangsa Iblis Akaiakuma sangatlah minim.
Disisi lain, Mizel merasakan aura Archie telah memasukki wilayah Akaiakuma. Dia berdiri dan menatap Ha nashi yang mengangguk.
"Anda tetaplah disini. Mereka akan segera sampai. Sekarang, persiapkan diri Anda agar terlihat nyaman dipandang oleh Baginda Raja Arnold dan Raja Archie" Saran yang Ha nashi berikan kepada Mizel.
Rasa aneh muncul dari dalam hati Mizel.
"Tuan Ha nashi, bisakah Anda mendengarkan cerita saya terlebih dahulu?" Tanya Mizel.
Tentunya, Ha nashi tidak keberatan sama sekali. "Apa yang ingin Anda ceritakan?" Tanyanya kepada Mizel.
"Tentang Aosora Alex. Dia pernah berkata padaku apabila, akan datang seorang berbangsa Malaikat yang bertanduk dengan telinga Elf ke Istana Akaiakuma. Dan itu adalah awal dari hancurnya semua alur kisah ini" Jawab Mizel.
Ha nashi, tidak pernah mendengar hal ini sedikitpun. Meski begitu, dia sadar apabila sosok yang dicirikan itu adalah Ambareesh.
"Dari ciri-ciri itu, bukankah itu adalah wujud fisik Aosora Arthur saat ini?" Tanya Mizel kembali.
Ha nashi ingin sekali membantahnya. Sebab, yang dia ketahui adalah kematian Arthur telah terjadi beberapa hari yang lalu. Namun, disaat yang bersamaan, Ha nashi beranggapan apabila Ambareesh berjalan sesuai dengan apa yang ada di hadapannya. Cara pikir Ambareesh, sama seperti air yang mengalir. Ambareesh akan fokus pada satu arah untuk mewujudkan keinginannya meskipun, harus membunuh semua musuh dihadapannya.
"Bila boleh tau, kapan Aosora Alex mengatakannya?" Tanya Ha nashi.
"Setelah penyegelan Kak Archie. Aosora Alex, berubah setelah hari itu" Jawab Mizel.
Perubahan Alex dari periang menjadi pendiam sangat terlihat dari ikatan persahabatannya yang Mizel jalin bersama Archie.
Ha nashi berusaha menenangkan Mizel.
"Baginda, Aosora Alex adalah seseorang yang sangat mempercayai mimpi. Dan mimpi itu sendiri, tidak akan benar-benar terjadi di dunia nyata. Anda harus menyadarinya, dan perubahan yang Anda maksud, dilakukan oleh Aosora Alex untuk menjauhi Akaiakuma demi Baginda Archie sendiri yang dia segel ke dalam Hinoken" Terang Ha nashi.
Mizel memahaminya.
...----------------●●●----------------...
"Aku cuma ingin hidup dengan tenang dan nyaman" Ucap Daeva sambil melihat bayangan dirinya dari air sungai yang mengalir dengan tenang.
Charael terlihat tersenyum tipis.
"Kau mirip dengan Luciel. Baik dari postur tubuh dan warna rambutmu. Yang membedakannya hanyalah warna matamu. Dia selalu mengucapkan hal itu berulang kali hingga membuatku bosan" Charael sedikit tertawa saat mengatakannya.
Daeva terdiam sejenak. Dia sadar apabila sosok dihadapannya ini selalu berbicara tentang Luciel, Luciel, dan Luciel.
"Siapa Luciel itu?" Tanya Daeva sambil memakan buah sihir.
Buah sihir adalah buah yang hanya tumbuh dan berbuah dengan diberikan energi sihir. Tidak sembarang orang yang mempu membuat tanaman tersebut tumbuh. Hanya orang-orang yang memiliki kapasitas energi sihir yang besarlah yang mampu menumbuhkannya.
Dari energi sihir tersebut, akan menghasilkan rasa yang berbeda di setiap buahnya meski dari satu pohon yang sama. Semakin pekat konsentrasi energi sihir, maka semakin manis dan semakin besar energi yang akan didapatkan dari seseorang yang mengonsumsi apel sihir tersebut.
"Ah..." Charael langsung diam.
"Maaf, kurasa... Aku terlalu banyak berbicara" Charael terlihat tak ingin mengungkapkan siapa itu Luciel.
"Kenapa dengan Luciel? Siapa dia? Apa dia ada hubungannya dengan semua Titisan? Atau, Luciel memiliki hubungan dengan Ruri?" Daeva berdiri dan mendesak Charael.
Charael tersenyum tipis.
"Luciel adalah sosok yang sangat dipercaya oleh Sang Cahaya dan 12 Malaikat Agung. Dan dia adalah pelindung Tanah Arden" Jawab Charael.
"Lantas, mengapa kau yang datang menemuiku apabila dia yang paling dipercaya dan penjaga Arden?" Tanya Daeva.
Daeva tidak mudah percaya dengan perkataan orang lain.
"Dia sedang menjalani tugasnya. Dan tugasmu dengan Titisan yang lain adalah mengalah kan Ruri. Kemudian, Aosora Arthur adalah batu lompatan kalian agar bisa mengalahkan dirinya" Jelas Charael.
Daeva mengunyah habis apel sihir miliknya.
"Lalu, kenapa kau hanya memberitahuku dan tidak mengumpulkan Titisan yang lain?" Tanya Daeva.
Charael memanyunkan bibirnya dan menutup matanya. Dia menggeleng.
"Itu tidak mudah. Ruri memiliki kelebihan mampu melihat segalanya meski dari jarak jauh. Itu, karena mata kanannya yang memiliki iris Siluman dengan pupil Elf. Aku tidak bisa bergerak bebas karena dia yang selalu mengawasi Aosora Arthur dan Alder Ren" Jelas Charael.
"Kenapa dia hanya mengawasi Alder dan Arthur? Bukankah, saat ini yang mengancam dirinya adalah Aku dan Ambareesh?" Tanya Daeva.
Charael membuka matanya dan menyipitkannya sambil meringis lebar.
"Itu karena Para Titisan tidak ada yang mempercayaimu selain Alder Ren. Dan Alfarellza saat ini tidak mempercayai apabila Titisan itu ada. Haha, jadi, akan sulit bagi Alder meyakinkan Ambareesh apabila dia adalah Titisan" Jawab Charael sambil terkekeh ringan.
Daeva membeku ditempat karena ucapan itu benar-benar melukai hati kecilnya.
"Kemudian, Alder Ren adalah satu-satunya Titisan yang mampu mengembalikan tubuh asli Aosora Arthur. Tubuh asli Aosora Arthur, dipegang juga oleh Ruri. Ruri memperhatikan kedekatan Alder Ren dan Aosora Arthur karena hal ini. Tidak hanya itu, Alder Ren memiliki kelebihan untuk melihat masa depan semua orang di dunia ini. Kecuali, takdir dirinya sendiri" Jelas Charael.
Daeva menghela napas.
"Sialan, Alder bajingan. Kenapa dia tidak mengatakan hal itu kepadaku. Dan pantas saja bocah itu berusaha keras mendekati Alder dan Arthur" Maksud Daeva adalah Nao.
"Nah! Oleh karena itu, mulai sekarang kalian harus berhati-hati dengan Ruri. Jangankan Aku, Sang Cahaya-pun tidak bisa mengetahui kini Ruri menyamar menjadi siapa" Jelas Charael.
//Tentu saja, yang tau hanya Author dan pembaca. Wowkwokwowk//
...----------------●●●----------------...
Lapangan yang luas dan berwarna hijau yang dibelakangi dengan sebuah istana megah dengan lantai marmer berwarna keemasan dan pilar yang tinggi dan terlihat mengkilap. Itu adalah Istana Akaiakuma yang selama ini ditakuti oleh kerajaan lain karena 99% istana tersebut telah dikelilingi oleh sihir perlindungan kuno.
Razel, Tsuha, Zack, Val, dan Angel membelalakan mata mereka melihat istana yang selama ini mereka angan-angankan bak daerah terkutuk dan penuh dengan warna yang gelap, serta pohon yang mati.
"Tidak perlu kaget. Itu lumrah karena Shinrin dan kerajaan yang lain memberi ilustrasi kalian seperti kerajaan yang tidak enak dipandang" Archie adalah korban ilustrasi Shinrin tentang Istana Akaiakuma.
Arnold langsung melangkahkan kakinya dan menghadap ke para penjaga pintu istana.
"A... Tidak mungkin..." Para penjaga itu, terkejut melihat wajah Arnold dan Archie yang selalu mereka lihat hanya dari lukisan keluarga kerajaan saja.
"Panggil Tuan Ha nashi untuk kemari" Ucap Arnold kepada prajurit disana.
Tubuh prajurit disana lemas. Mereka menekuk lututnya bersamaan dan memberi salam kepada Arnold dan Archie.
Tubuh mereka bergetar.
"Kerajaan Akaiakuma yang selalu dilimpahkan-"/"Hentikan salam dari kalian. Cepat panggil Ha nashi untuk kemari" Perintah Archie memotong salam dari mereka.
Mereka mengangguk dan tidak berani mengangkat pandangan mereka.
Mata Ambareesh berkeliling melihat Akaiakuma yang telah berubah total setelah dia menghancurkannya di masa lampau.
"Pasti yang mendesainnya adalah Tuan Ha nashi" Batin Ambareesh.