
"Apa maksud dari ucapanmu? Dan siapa Alfarellza itu?" Tanya Liebe dengan mata yang terbelalak.
Luxe baru sadar atas perkataannya. Dia menatap Liebe dengan tajam.
"SYUUUT! BRUKKKK!" Luxe langsung sigap dan mencekik leher Liebe hingga membuat tubuh Liebe bersandar pada batang pohon yang mereka singgahi.
Liebe sempat menutup matanya karena terkejut. Saat membuka matanya, dia terkejut melihat Luxe yang kini berwujud dewasa.
Matanya yang berwarna cokelat muda. Membuat Liebe sadar apabila sosok dihadapannya itu adalah bangsa Manusia yang asli non campuran yang sulit sekali dia temui di Arden.
Rambut hitam tipis yang halus dan lebat, serta pangkasan fade yang berbeda dengan potongan Luxe sebelumnya, membuat Liebe tersadar apabila Luxe memiliki aura yang sama dengan sosok berambut biru yang lebih muda dari warna langit.
Perlahan cekikkan Luxe terasa pada kerongkongan Luxe. "Ka-u... si..a...pa?" Liebe mencengkram pergelangan tangan Luxe yang mencekiknya dengan erat.
"Iblis sepertimu, tidak layak untuk berada disekitar Alfarellza. Ini, hanya akan membuang-buang mana Alfarellza demi melindungi Iblis sepertimu"
Mendengar ucapan Luxe, mata Liebe bergetar.
"Apa kau membatin bagaimana aku bisa tau?" Pertanyaan Luxe tepat.
"Adanya kau adalah karena rencana Ruri. Dengan matinya kau, aku tidak perlu kesulitan lagi untuk waspada dengan sekitarku. Di jantung ini,..." Luxe memegang dada kiri Liebe yang berdetak dengan cepat.
"....Ada energi sihir Ruri yang membuat dia bisa mengawasi Alfarellza dari kejauhan. Begitu pula pada mana De luce Arnold yang mengalir darah Ruri karena leluhurnya" Lanjut Luxe.
"KHHUHHHH...."
Liebe semakin merasakan tekanan dari cekikkan itu yang membuat telinganya berdengung. Napasnya terasa begitu berat dan panas pada kerongkongan.
//Author sudah mempraktekkannya sendiri pada diri sendiri 🙏. Jadi, jangan dicoba//
[DEAN, KAU BISA MEMBUNUHNYA!]
Telepati tiba-tiba masuk ke dalam kepala Luxe.
[Dengan adanya Liebe, aku melacak sumber samar dari mana Ruri yang halus. Dan apabila kau membunuhnya, pihak Titisan akan dirugikan karena Alfarellza sangat mempercayai Liebe]
"Apa?" Luxe mengangkat alis kanannya.
"Apa yang Ambareesh harapkan dari Iblis sepertimu?" Luxe melepaskan cekikkannya.
"BKUHKH! KHUK! HOSH! HOSH!" Liebe langsung terbatuk dan terengah-engah.
Dia memegang lehernya yang masih merasakan bekas cekikan Luxe yang terasa tebal pada lehernya.
"Aku keh- keluarganyah..." Liebe tidak bisa mengatur pola napasnya. Sekejap, pandangan Liebe menjadi buram dan berkunang.
"BWESH!" luxe kembali ke wujud Remajanya.
"Hm, keluarganya? Haha! Aku tidak menyangka kutukan Adelio De luce akan di dengar oleh Sang Cahaya" Luxe terkekeh ringan saat mengatakannya.
----------------●●●----------------
"TRASSH!" Tebasan tipis dari salah satu Prajurit Iblis, mengenai kening Tsuha dan menimbulkan bercak darah akibat tebasan tipis itu.
Luxe berteleport menuju tempat Tsuha dan segera menepis pedang sihir Prajurit iblis itu. Hingga, "BAAM!!!" Ledakan mana terjadi akibat konsentrasi mana Luxe yang mengenai mana Iblis.
Luxe membuka lubang sihir di belakang Tsuha. "Segera masuk, biarkan aku yang menjaga punggungnya!" Tegas Luxe sambil melirik Tsuha dibelakangnya.
Tanpa banyak bicara lagi, Val menyeret tudung jubah Tsuha dan masuk ke dalam lubang sihir milik Luxe.
"Tunggu! Bagaimana dengan Archie!-PATSSH!" Luxe langsung menutup lubang teleport itu tanpa membuka lubang teleport kedua sehingga membuat Tsuha dan Val masuk ke dalam dimensi milik Luxe. Yang dimana, dimensi tersebut adalah kumpulan dari ingatan Dean di masalalunya yang terekam dalam bentuk yang nyata.
Val dan Tsuha membelalakan kedua mata mereka melihat pemandangan yang tidak mengenakkan itu. Dimana, bongkahan batu dimana-mana. Api yang masih menyala dan darah yang mengumbang dan menjadi alas yang mereka pijak.
"HUMPH!!!"
Perasaan tidak nyaman, perut yang seperti diaduk-aduk, pusing, jantung yang berdebar, dirasakan oleh Tsuha saat melihat pemandangan itu yang mengingatkan dirinya atas insiden penyerangan yang dilakukan De luce Arnold kala itu.
Tsuha melihat kedua tangannya yang gemetar dengan hebat. Matanya mulai berkunang-kunang. Val menutup kedua mata Tsuha dengan ban lengan yang dia pakai di keningnya.
"Jangan rasakan, jangan lihat, jangan dengarkan apapun. Berjuanglah!" Lirih Val sambil melihat sekelilingnya.
Pemandangan itu membuat Val meringis sangking takutnya.
"Sialan, seperti apa sebenarnya cara Luxe memandang dunia ini? Dan siapa Luxe itu hingga bisa menciptakan sihir dimensi yang digadang-gadang sebagai sihir mitos?"
Sebenarnya, Dean melakukannya dengan sengaja. Sebab, dirinya tau apabila tidak aman untuk membiarkan melepaskan anggota Pemberantas Iblis di tanah perbatasan Nekoma sendirian.
Cara aman untuk Dean mengamankan mereka, hanyalah dengan memindahkan mereka ke dimensi yang ada di pikirannya.
"TRANKKKKK!!!! JLEEEB!!!"
Angel, Razel, dan Zack menghantamkan pedang mana mereka bersamaan. Hanya pedang mana Zack yang tak mampu Arnold tangkis.
Pedang mana Zack menembus punggung Arnold hingga ke perutnya.
Darah merembes dari pakaian yang dikenakan oleh Arnold.
Dari awal, Arnold sangat mewaspadai serangan Razel yang sangat berbahaya bagi lawannya. Meski begitu, dirinya harus sadar betapa berbahayanya teknik milik Zack yang mampu memanipulasi darah lawan dan darah miliknya sendiri.
Arnold melirik Zack yang meringis pada dirinya dan dia mengangkat tangan kirinya untuk menjentikkan jarinya.
"CTACK! WOSH!!" Arnold berteleport dengan cepat saat Zack mematikkan jarinya.
"SPLAT!"
Darah Arnold jatuh ke lantai marmer istana. Dia membelalakkan matanya saat melihat leher Ha nashi yang telah tertembus sihir Ambareesh.
"PASTSSH!" Ambareesh melesat begitu cepat. Hanya satu kedipan mata Arnold, Ambareesh sudah berada di hadapan Mizel yang telah di kelilingi oleh Prajurit Iblis disana.
Hinoken Ambareesh mengeluarkan api biru yang membara. Dia menebaskan hinoken itu dari belakang. Api biru itu, terlihat begitu indah di mata Mizel yang tengah terbelalak.
"SRAAATTT!! CRAT!!!"
Pedang itu memang tidak menyentuh Mizel, namun api-api itu melesat ke arah mereka dalam bentuk sayatan yang tajam. Kepala mereka terpenggal saat api biru itu melewati mereka.
Pemandangan Mizel berputar. Untuk pertama kalinya bagi Mizel melihat ekspresi Arnold dan Archie yang sama saat menatapnya.
"MIZELLL!!!!" Keduanya berteriak bersamaan.
Arnold melompati sekat tangga tempat dia berdiri tanpa memikirkan kondisi dirinya yang terluka parah.
"Ah, inikah rasanya mati?"
Arnold menangkap kepala Mizel sebelum kepala itu jatuh ke lantai.
Ambareesh melihat Arnold seperti orang yang tak bersalah. Ekspresinya terlalu datar.
Arnold meletakkan Mizel di lantai yang berkumbang dengan darah.
"Kenapa? Apa yang kau lakukan guru?!" Tangan Arnold berusaha meraih kera jubah Ambareesh. Namun, Ambareesh mundur kebelakang sebelum tangan Arnold yang penuh dengan darah menyentuhnya.
"Ha?" Mata Arnold bergetar melihat tindakan yang dilakukan oleh Ambareesh.
"Kenapa? Apa alasanmu membunuh putraku?" Tanya Arnold sambil membelalakan matanya kepada Ambareesh.
Air mata Arnold mengalir begitu saja.
"Kau boleh membenciku, tapi jangan melampiaskannya kepada keluargaku juga? Apakah guru melakukan ini karena kesalahanku di masa lalu?" Arnold menatap Ambareesh dengan raut yang berubah 180°.
Itu adalah mimik yang Ambareesh nantikan dari Arnold. Kebencian, Ambareesh bisa merasakannya dari wajah Arnold.
"Hmph" Ambareesh menyeringai tipis. Dia menelengkan kepalanya ke kiri.
"Harusnya, dari awal kau tau siapa musuhmu dan siapa kawanmu. De luce Arnold, sedikitpun, aku tidak pernah menganggapmu sebagai muridku" Ucap Ambareesh.
Rasa sakit yang menyesakkan dada, seolah mengerogoti dan melahap diri Arnold utuh-utuh. Perasaan yang berat, kepalanya yang tegang membuat rasa sakit pada tusukkan Zack menghilang dengan sekejap.
Pedang mana merah membara muncul begitu banyak mengelilingi Ambareesh.
"Haha...." Ambareesh terkekeh ringan saat takjub melihat sihir Arnold yang sebenarnya.
Ambareesh melirik ke arah Luxe. [Bawa semuanya pergi menjauh dari Istana Akaiakuma] Ambareesh mengirim suaranya melalui telepati ke Luxe.
Luxe terkejut saat mengetahui apabila Ambareesh mampu mengirim telepati ke dirinya. Dia menunjukkan ibu jarinya ke Ambareesh sebagai tanda mengerti.
"Matilah/CTAK!!" Arnold mematikkan jarinya dan "JLEB! JLEB! CRAT!" Pedang-pedang itu, menembus diri Ambareesh.