The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 2 [Orang Tidak Normal]



Ambareesh melihat mata wanita yang memeluknya.


"Kau, siapa?" Tanya Ambareesh sambil melepaskan pelukkannya.


Ingatan Ambareesh bercampur dengan ingatan Arthur. Ingatan Arthur, terlalu mendominasi otak Ambareesh.


Dan Ambareesh berbalik memandang Bianca dengan tatapan rendahnya.


...----------------●●●----------------...


Wanita itu, terlihat tersenyum tipis.


"Haruskah aku mengingatkanmu dengan kekerasan Ambareesh?" Tanya Bianca sambil mengusap lembut kepala Ambareesh.


"Tatapannya, sama seperti cara dia menatap dokter itu padaku" Batin Bianca sambil mengepalkan tangan kirinya.


Raut Archie mulai kesal.


"Ambareesh! Ambareesh! Ambareesh terus! Hei! Kau salah orang! Yang dihadapanmu itu! Aosora Arthur!" Tegas Archie sambil memegang bahu wanita yang memiliki tinggi 165 cm itu.


Wanita itu menatap Archie dengan penuh kebencian. "De luce, tanganmu terlalu kotor untuk menyentuh pakaianku" Ucap Bianca pada Archie.


Archie mengangkat alis kanannya kemudian mengangkat tangannya yang memegang bahu kiri wanita itu.


"Aku bukan De luce. Aku ikut marga Aosora" Jawab Archie.


"Aku tidak peduli dengan marga. Darah yang mengalir di nadimu adalah milik Akaiakuma dan De luce. Kau tidak cocok berada di sekitar Ambareesh" Ucap Bianca sambil menepuk bahunya yang telah dipegang oleh Archie.


"Senajis itu kah aku?" Batin Archie sambil memanyunkan bibirnya.


Bianca kembali ke tahtanya dan melihat tiga laki-laki dewasa (Dua berbangsa siluman dan satu berbangsa Elf).


"Eghy dan Edghar (Dua bangsa Siluman) lakukan yang bisa membuat Ambareesh mengingat masa lalunya, lalu Gabriel (Elf) pisahkan Estelle Tsuha diruangan khusus" Perintah Bianca.


"Baik Nyonya" Mereka bertiga menjalankan tugas mereka masing-masing. Dua siluman disana, mengubah wujudnya menjadi ular hitam dan putih dengan ukuran yang cukup besar.


Sedangkan Eld hijau bernama Gabriel itu mendatangi Tsuha.


Tsuha melihat wajah Elf itu dan aura Elf itu terasa tak asing.


Angel berguling ke arah Gabriel untuk tidak menyentuh Tsuha sedikitpun.


"Kalau kau sentuh Tsuha, kau akan mati ditanganku!" Tegas Angel pada Gabril yang berhenti dihadapannya.


Gabriel berjongkok dan membantu Angel untuk duduk. "Terima kasih" Ucap Gabriel sambil menunjukkan senyumannya.


Angel langsung memalingkan wajahnya. "Anjir!!! Napa ganteng banget dah!!!" Jantung Angel berdegup dengan kencang. Dia teralihkan.


Gabriel menarik tali rantai yang mengikat leher Tsuha. Tsuha memberontak dan di Luxe hanya diam melihatnya. "Ikuti saja. Lagipula, kau akan cepat tau" Lirihan Luxe yang didengar oleh Tsuha saat dirinya ingin meminta pertolongan.


Tsuha tidak paham sedikitpun maksud Luxe. Dia menurut untuk mengikuti Elf itu.


Tsuha memperhatikan tengkuk Elf itu yang sejajar dengan hidungnya. Sedikitpun, Tsuha tidak bisa mengingat Elf itu meski dia merasa tak asing dengannya.


...----------------●●●----------------...


Archie melayang ke udara kemudian, dia menusukkan pedang mananya pada kepala siluman ular hitam itu hingga merembet ke bawah dibantu oleh Zack.


Lalu, Val dan Liebe menyerang Siluman yang lainnya.


Razel tidak mengeluarkan sihirnya sedikitpun dia menjaga Ambareesh di belakangnya.


Ambareesh menguap melihat Val dan Liebe tidak melakukan serangan seperti yang dilakukan Archie. Sesekali, Ambareesh melihat Razel yang ingin sekali membantu mereka menyerang siluman disana.


"Kenapa Kau tidak membantu mereka saja? Aku bisa melindungi diriku sendiri" Ucap Ambareesh sambil berjongkok. Dia mulai lelah berdiri.


"Aku tidak diizinkan mengeluarkan sihirku di tanah Shinrin bila tidak dalam kondisi terpaksa dan harus dalam pengawasan Kapten Nel atau Guru Nox" Jawab Razel sambil melihat ke arah Ambareesh.


Ambareesh mendonggakkan kepalanya. "Kenapa begitu?" Tanya Ambareesh.


"Tangan kiriku, memiliki sifat merusak. Bila aku menggunakannya, tidak hanya orang disekitarku akan terkena dampaknya. Tapi, lingkungan yang terkena energi sihir dari tangan kiriku juga akan kena imbasnya. Tempat yang pernah ku gunakan untuk bertarung, tidak akan bisa ditinggali selama 349 hari karena energi sihirku yang beracun. Oleh karena itu, aku lebih sering menggunakan pedang besi daripada pedang mana yang hanya ku keluarkan bila dalam kondisi mengancam. Energi pedang mana itu, tidak akan mencemari lingkungan sekitarku. Tapi, untuk berhati-hati lebih baik tidak mengeluarkannya" Jelas Razel.


Ambareesh melihat Archie yang meluapkan energi sihirnya dalam jumlah besar dan menghasilkan angin kencang ke arahnya.


Ambareesh menutup bagian depan dia dan Razel agar tidak terkena serangan brutal Archie.


"Kalau begitu, kau pasti anak campuran dengan bangsa Siluman. Jenis siluman apa orang tuamu? Aku hampir tak pernah tau dengan siluman yang mampu mengerusak lingkungan seperti itu." Ambareesh tertarik dengan cerita Razel.


"Naga hitam. Dalam darah kami, mengalir racun yang mematikkan bagi lawan dan lingkungan kami. Walau begitu, tubuh kami kebal dengan racun yang dikirim oleh orang lain. Ibuku, adalah satu-satunya siluman ras Naga hitam yang tersisa. Mungkin, sekarang Anda tidak akan menemukannya Arthur" Jelas Razel.


Biasanya, Razel sangat sensitif dengan orang-orang yang bertanya tentang orang tuanya. Namun, dia merasa sebaiknya ada orang yang tau selain Nox dan Nel (Yang asli).


Ambareesh mengangguk.


"Pasti, kau telah mengalami banyak sekali diskriminasi akan bangsa disini. Kau cukup kuat untuk bertahan selama ini. Aku memberimu apresiasi atas usahamu" Ambareesh mengatakannya dengan nadanya yang tak berintonasi namun raut muka Ambareesh tidak bisa menipu bila dia bersungguh-sungguh mengatakannya.


Razel mengosok tengkuknya. "Terima kasih" Sebenarnya, Razel tidak akan menduga bila akan mendapatkan respon yang baik. Selama ini, yang dia dapatkan adalah respon yang tidak baik dari orang sekitarnya yang mengatakan bila Razel tidak pernah menggunakan sihirnya namun, menjadi Wakil Kapten Markas Pemberantas Iblis karena dia dekat Nox. Semua yang didapatkan oleh Razel, sepenuhnya adalah usahanya sendiri dan dia mampu bertahan di lingkungan yang tidak nyaman baginya.


Siksaan sering Razel rasakan dikala dia masih berusia anak-anak dan membuatnya memiliki pikiran bila Manusia atau bangsa apapun itu sama saja dengan Iblis. Pemikiran itu, adalah kesetaraan yang membuat Razel bisa hidup hingga sekarang. Orang-orang yang baik di mata Razel hanyalah Ibunya, Nox, Naver (Ayah Arthur sekaligus Raja ke-IV Aosora), Nel, Zack, dan Bara (Anggota Pemberantas Iblis I).


Mengingat masa lalu Razel yang penuh dengan diskriminasian dari orang di sekitarnya membuat Razel ingin sekali menghancurkan sesuatu agar bisa terlepas dari jeratan tali lingkaran setan itu yang tak pernah hilang meski telah menjalani masa pemulihan dengan pakar kepribadian khusus milik Kerajaan yang pernah memeriksa Arthur dulu.


Razel hanya bisa menahannya. Dia harus menahan dan terus menahan agar tidak menyakiti orang sekitarnya.


Wajah Razel yang selalu terlihat santai dan ramah, berubah menjadi tidak mengenakkan untuk di pandang saat ini.


Kepalan kedua tangannya terlihat jelas di mata Ambareesh. Bahkan, Ambareesh merasakan lonjakan energi di dalam tubuh Razel seolah hampir meledak. Namun, Razel terlihat menahannya dengan paksaan.


"Lepaskan saja. Aku akan memurnikan tempat ini untukmu" Ucap Ambareesh sambil berdiri dan menepuk celana bagian belakangnya yang kotor.


"Apa... Maksud Anda?" Tanya Razel sambil melihat Ambareesh dengan seringaian lebar yang terpampang jelas di wajahnya.


Luxe yang melihatnya, "Orang-orang markas ini, gak beres semua. Mereka jelas-jelas hanya kumpulan orang yang memiliki gangguan Mental" Batinnya.


...Tenang saja, hanya Val saja yang normal disini. Dan kau, adalah salah satu dari mereka yang tidak normal kepribadiannya....