The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
Bab 3 [Sosok Aosora Arthur]



Arthur mulai memasukki area Istana Nekoma atas perintah Ambareesh. Dan Archie kembali ke tubuh Ambareesh untuk sementara waktu.


"Cari wanita yang memiliki permata ungu di keningnya dan jangan sampai kau menyentuh permata itu"


Archie kaget saat mendengar Ambareesh berbicara sendiri. "Dia berbicara dengan siapa?"


"Baik Guru!"


"Ingat dengan tempat yang kau lewati. Jangan ceroboh" Lanjut lirih Ambareesh sambil melihat Arthur yang menunjukkan ibu jarinya dan menembus dinding itu.


Istana Nekoma diselimuti oleh energi sihir asing. Ambareesh akan menghancurkan dinding sihir itu setelah Arthur telah menemukan posisi penyusup itu yang kini menjadi Ratu Nekoma.


Arthur telah masuk ke dalam Istana Nekoma. Disana tidak seketat seperti yang Arthur bayangkat.


Penjaga di sana memiliki pandangan mata yang kosong dan cenderung tampak seperti patung mayat.


"Ugh... seperti itukah penampakan siluman kucing dari dekat?" Arthur dapat melihat ekor mereka yang mengantung hingga menyentuh lantai dingin Istana.


Prajurit itu, berdiri disetiap pilar Istana. Arthur mulai mendongakkan ke atas. Dia dapat melihat langit-langit istana itu yang dipenuhi dengan deburan pasir emas.


"Haha, Aku ingin Aosora dihiasi berlian saja~" Arthur hanya membual dan mengikuti salah satu pelayan kerajaan yang terlihat lelah tengah berjalan mendorong meja berisikan makanan dan air hangat.


"Bagus~ Aku datang disaat yang tepat." Arthur meletakkan tanda goresan pada dinding itu.


Pintu besar dari kayu dengan ukiran ular melilit kucing tergambar jelas disana.


"Yaya~ Tak perlu digambarkan juga~ Aku sudah tau maksud-mu...." Betapa terkejutnya saat Arthur melihat sosok wanita yang di cari oleh Ambarersh saat pintu besar itu telah dibuka.


"Cantik"


Siluman itu memiliki rupa yang begitu cantik dengan permata kecil di keningnya. Permata itu, berwarna ungu.


"Kenapa lama sekali? Dimana yang lain?"


Tak hanya rupanya, perempuan itu memiliki suara yang indah.


Mata Arthur tertuju pada permata kecil yang menempel di keningnya itu. Seolah, permata itu memanggil Arthur untuk datang padanya.


Siluman itu tersenyum tipis. Dia merasakan hawa kuat yang berada di depan kamarnya dan mulai mendekatinya.


"Ah, ada tamu yang datang...."


"CK! Dasar bodoh!" Ambareesh memiliki firasat yang buruk, saat dia melihat kobaran mana ungu di salah satu ruangan lantai tiga itu.


"Kita akan mulai masuk setelah aba-abaku"


Ambareesh mulai membuka sihir penghalang yang dia buat dahulu kala.


Liebe merasa tak asing dengan semua itu. "Luxe, kalian sudah siap?" Ambareesh mentelepati Tim Luxe untuk bersiap.


"Kami sudah siap. Dan ada Elf hijau beranting teratai telah datang. Dia siap membantu kalau kau panggil"


Haraya telah datang dan bergabung dengan kelompok Ambareesh. Ambareesh termangun sejenak. Dia merasa itu berlebihan.


"Suruh dia kembali ke wujud gagak dan jaga Tsuha. Larang untuk dia ikut membantu. Ini bukanlah perang" Ucap Ambareesh dan mengakhiri telepati itu.


"Katanya, kau tidak dibutuhkan disini. Jadilah gagak saja" Sampai Luxe kepada Haraya.


Haraya kembali ke wujud gagaknya karena dia tau siapa yang berbicara dengannya.


Ambareesh mulai memasuki istana itu. Dan mereka di telah di tunggu oleh Prajurit Nekoma.


Dari kejauhan, Luxe menggunakan sihirnya dengan memunculkan lingkaran teleportasi berukuran besar di bawah para prajurit itu. Dan "BWOSH!" Luxe memindahkan mereka tanpa banyak basa basi.


"Yang benar saja?!" Shera terkejut melihat hal itu.


Sebab, sihir teleportasi jarak jauh dengan si pencipta sihir adalah suatu hal yang tidak masuk akal.


"Ha?! Tau gini harusnya Luxe saja yang ikut" Lirih Ambareesh sambil berjalan setelah melihat tanda goresan yang dibuat oleh Arthur.


Sifat Luxe sungguh mirip dengan Nao. Itu yang membuat Tsuha menjadi diam.


Tsuha mulai mengeluarkan sihir panahnya saat melihat prajurit mulai menyadari kehadiran mereka berlima di pohon. Begitupun dengan Shera.


Luxe berdiri di pohon itu.


"Nah, Tuan Elf... Tolong perhatikan punggung para pemuda ini. Kretekkkk!" Luxe membunyikan jari-jari tangannya.


"Anda mau kemana?" Tanya Haraya.


"Aku akan turun untuk menghalangi mereka masuk" Jawab Luxe sambil melepas jubah Pemberantas Iblis.


"Luxe, tetap disini itu bahay- BWOOSH! BRAKKK!!!" Luxe melompat dari atas tanpa mendengarkan ucapan Shera dan dia melesatkan sihir anginnya untuk membersihkan jalan menuju Istana Nekoma yang akan di masukki oleh Prajurit yang dipindah oleh Luxe beberapa saat yang lalu.


"Kenapa dia bertindak sendirian begitu?!" Tsuha merasa kesal saat Luxe bertindak seenaknya seperti itu.


"Sudah. Kalian duduk saja disini dan hemat sihir kalian" Jawab Haraya sambil melihat Ela yang menatap dia dengan ketakutan.


"Kau siapa?" Haraya dengan wujud gagak itu membuat Ela ketakutan.


...----------------●●●----------------...


Liebe menggunakan cara Luxe untuk mengeluarkan para Prajurit dan Pelayan yang menyerang mereka dengan sihir teleportasi itu ke luar kerajaan.


Hingga, sampailah mereka di depan ruangan tempat Ambareesh merasakan aura nyengat itu.


Razel dan Liebe mengkeryitkan kening mereka saat merasakan aura menyeram itu. Archie merasa tak asing dengan aura tersebut.


"KRRREEEETTTTTTTT!!!" Pintu besar itu terbuka.


"Selamat datang" Senyuman lebar menyapa mereka.


Ambareesh dan yang lain membelalakan matanya saat melihat sosok remaja berambut biru gelap dengan iris ice blue telah menunggu mereka.


"Arthur/Alex?" Disaat yang bersamaan Ambareesh dan Archie memanggil nama itu.


Pedang sihir berwarna ungu terang berada di tangan remaja itu. Ambareesh melihat wajah Arthur sekali lagi. Sesuatu yang menjalar seperti urat berwarna gelap sangat jelas dan membentuk pola seperti teratai hingga mata kiri Arthur berwarna keunguan.


Pakaian yang Arthur kenakan adalah pemberian dari Siluman ular itu yang duduk di belakang Arthur.


Ruangan itu tiba-tiba berputar dan kamar tidur menjadi ruangan Aula istana.


"Lindungi aku, Putra Mahkota Aosora" Siluman itu, tersenyum licik di belakang Arthur.


Arthur menunjukkan senyuman cerianya pada siluman itu yang biasanya diberikan kepada Ambareesh dan orang disekitarnya.


"Baik, Ratu" Arthur menatap Ambareesh di hadapannya.


Ambareesh mengangkat tangan kirinya untuk mundur dan berjaga jarak.


TEP! BATSHHH!


Arthur melangkahkan kaki kanannya kemudian dia melesat dengan cepat ke arah Ambareesh dengan menghentakkan pedang mananya dengan keras pada Ambareesh.


Dengan cepat, Ambareesh mengeluarkan Hinoken dan "TRANGGGG! CTASH!" Hinoken tidak dapat menetralkan mana Arthur. Yang ada, pedang mana Arthur berbalik menyerap mana Ambareesh.


Ambareesh membelalakan matanya saat melihat sihir Arthur yang dapat menyerap mana apapun termasuk Hinoken yang merupakan anti sihir miliknya.


DAGH!!!!


Tanpa tarik napas, Arthur kembali melesatkan tendangan lututnya dengan cepat kepada Ambareesh.


Ambareesh memiliki refleks yang bagus. Dia mampu menahan serangan Arthur dan Liebe mengeluarkan lubang sihir disebelah Ambareesh.


Kerja sama Liebe tanpa strategi dengan Ambareesh membuat Arthur keluar dari istana setelah Ambareesh memegang kaki Arthur kemudian, melempar Arthur ke arah lubang sihir itu.