The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 3 [Tubuh]



Luxe membelalakan matanya saat melihat Arthur telah memiliki tubuh.


Dia melihat wajah Arthur dengan teliti. iris ice blue Arthur di sebelah kiri berwarna ungu dan saat itu Luxe menyadari alasan Arthur sangat di pedulikan oleh Alder.


"Arthur.... seorang Titisan?" Lirih Luxe yang masih terkejut di tempat.


"BATTSSH!" Arthur melesat dengan cepat ke arah Luxe.


Luxe berpindah tempat sebelum Arthur mengenai dirinya.


"Apa? Bagaimana mungkin?"


Luxe tidak mempercayai apa yang terjadi dihadapannya. Padahal, Titisan telah lengkap dan Arthur ini, Titisan apa?


"BWOSHT! BAM!!!" Arthur melesatkan bola sihir yang meledak saat bola itu menyentuh apapun.


Luxe menghindari serangan Arthur. Dia tidak bisa menyerang Arthur dengan sembarangan. Arthue terus melesatkan sihir itu ke arah Luxe tanpa henti.


Luxe berusaha mentelepati Alder namun, konsentrasinya diganggu oleh Arthur yang mulai melesatkan beberapa sihir gabungan secara bersamaan.


Luxe merasakaan Arthur yang mulai menghisap mananya jari jarak kejauhan dan ini akan menimbulkan masalah lain bagi mereka orang biasa yang memiliki kapasitas mana lemah seperti kondisi Tsuha saat ini.


"Sialan! Lagian! Apa yang terjadi denganmu!? Kenapa menyerang kami seperti ini!?" Luxe berteriak dengan kencang sambil menghindari bongkahan dari istana itu yang berjatuhan dari atas.


Serangan Arthur tiba-tiba berhenti saat Siluman ular itu kembali memangilnya dan Arthur menghilang dari hadapan Luxe sebelum Luxe memindahkan Arthur ke tempat yang aman.


Disaat yang bersamaan, sebelum menghilangnya Arthur. Tsuha sudah bersiap menarik anak panahnya namun Haraya menahan Tsuha agar tidak menyerang itu.


Kondisi di dalam sebelum Siluman Ular itu memanggil Arthur,


"TRANGGG!!!! PATSH!"


Razel dan Liebe menghadapi Siluman lain yang muncul di belakang mereka.


Woossshhhhh....


Siluman ular itu mengeluarkan sihirnya untuk melumpuhkan Ambareesh dan yang lain. Sihir itu, hanya berfungsi untuk Non-Iblis dan Non-Siluman. Itu tidak akan berfungsi untuk Razel yang merupakan darah campuran dan Liebe yang merupakan sosok Iblis yang di dalam segel. Sedangkan Ambareesh bukanlah sosok biasa.


Siluman itu terkejut saat melihat 2 sosok berwujud Manusia dengan satu sosok berwujud Malaikat itu tidak terpengaruh efek pelumpuhnya.


"Siapa kau?" Siluman itu, melihat dengan jelas Ambareesh yang bertanduk satu.


Siluman itu, mulai meremehkan Ambareesh dengan aura Ambareesh yang tipis.


"Menyerahlah. Maka, aku akan membiarkan-"


"PFFT! Menyerah untuk Iblis biru yang bahkan tak beraura kuat sepertimu? Mau duel? Kalau kau kalah, kau harus jadi priaku dan jilat kakiku" Siluman wanita itu menunjukkan kakinya yang panjang dan mulus itu.


Ambareesh melihat wanita itu dengan perlahan. Dia juga menahan dirinya untuk tidak melihat kristal ungu di keningnya itu.


"Kau akan menyerah sebelum kau berhasil mengalahkanku" Jawab Ambareesh sambil terseringai tipis ke kiri.


"Yah, jangan menahan diri. Karena, aku tidak akan menahan diri untuk menyerang Iblis Abnormal sepertimu- BWOOSSH!!! BLARK!!!!" Siluman itu berubah ke wujud aslinya dan dia mengubah tempat dia dan Ambareesh berdiri menjadi lapangan yang luas.


Ambareesh membelalakan matanya. Dia sangat ingat dengan tempat ini. Ini adalah tempat Ken (Kakak Ambareesh) mati di tangan Ambareesh.


SYUUUT! KRAKKK!


Siluman itu masuk ke tanah. Tanah disekitar Ambareesh berguncang ringan. Ambareesh dapat melihat aura berjalan yang dikeluarkan oleh Siluman itu.


Hinoken Ambareesh tidak bisa muncul setelah menahan serangan Arthur beberapa saat yang lalu itu. Ambareesh mulai mengeluarkan pedang mananya dalam bentuk lain dan lebih pendek serta lebih jernih daripada Hinoken yang dominan biru gelap.


Siluman itu muncul dari belakang Ambareesh dan mulai menarik Ambareesh kebelakang.


"DAGH!"


Ambareesh terjatuh karena dia tidak bisa konsentrasi saat akan melesatkan pedangnya untuk siluman itu.


Tubuh Ambareesh seolah tertahan sesuatu.


Bumerang itu kembali ke tangan Shera. Senjata tersebut hampir sama dengan teknik Zack. Menggunakan teknik darah. Secara biologis, Shera dan Zack masih kerabat. Sehingga tidak aneh apabila mereka berdua bisa menggunakan sihir dengan teknik yang sama. Bedanya, Zack adalah keluarga utama sebuah Marga besar yang ditakuti oleh beberapa kerajaan karena Teknik Kontrak yang terlarang.


Siluman itu kembali ke tanah. Ambareesh berdiri dan merasakan keganjalan pada kepalanya. Seolah, ada sosok lain yang berusaha mengacak aliran mananya.


"Kau baik-baik saja? Apa kau membutuhkan bantuanku?"


"Kembalilah ke tempat Tsuha. Disini tidak aman untukmu" Ucap Ambareesh kepada Shera sambil menghilangkan tanduknya itu.


Shera menurut dia memperhatikan Ambareesh kembali bertarung dengan Siluman itu dari kejauhan. Namun, sesuatu yang tidak dia perkirakan telah menunggunya di tempat dia memperhatikan Ambareesh dan siluman itu bertarung.


Arthur muncul di sebelah Shera yang berada di atas dahan pohon.


"Apa yang kau perhatikan?" Suara Arthur membuat Shera terkejut. Shera langsung melihat ke sisi kirinya. Rambut biru tua dengan iris ice blue tengah fokus ke arah Ambareesh dan Siluman itu bertarung.


"Kau siapa?" Shera menyadari kalau sosok di sebelahnya bukanlah bangsa Iblis ataupun Siluman.


...----------------●●●----------------...


Luxe melihat sekitarnya. Dia tidak menemukan Arthur.


"Cih!" Luxe tidak bisa menghubungkan telepati kepada Alder. Seolah, ada dinding sihir yang menyelimuti mereka untuk memutus komunikasi antar Titisan.


"Gagak Tua! Halangi pintu masuk dari Prajurit Siluman itu! Aku akan mencari Arthur! Hubungi Alder dan kabarkan kondisi ini!" Luxe tidak peduli dengan orang disekitarnya. Baginya, kabar terbaru tentang Arthur dari Alder adalah hal yang paling penting dan sangat menyangkut tugasnya.


Haraya berubah kembali ke wujud Elfnya. Sedangkan Tsuha terkejut saat Luxe menyebut nama Arthur.


"Apa yang terjadi?" Tanya Tsuha kepada Haraya.


"Pura-puralah untuk tidak mendengar ucapan dia. Ctasssh! Blarrrr! Bruak!


Haraya melesat untuk menutup jalan masuk prajurit Iblis itu dan menyapu prajurit disana yang berusaha masuk ke dalam Istana.


"Tuan, Aosora Arthur tiba-tiba memiliki wujud" Haraya dapat mentelepati Alder.


Kabar itu membuat Alder sangat kaget. Saat ini, Alder sedang menghadapi amukan warga Shinrin yang mendatangi Markasnya.


"Apa?! Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?"


[Saya dan Tuan Ambareesh berada di Kerajaan Nekoma untuk mengembalikan tahta Nekoma yang kini berada di tangan Siluman ular. Dan, Tuan Dean sempat bertarung dengan Aosora Arthur. Saya rasa, Tuan Dean tidak dapat mentelepati Anda. Apa yang harus kami lakukan untuk Aosora Arthur?]


Marsyal (Alder) masuk ke dalam markasnya dan meninggalkan amukan warga Shinrin itu.


"Ada kemungkinan besar kalau itu adalah ulah Ruri. Dan Siluman Ular itu, sudah dipastikan untuk bekerja sama dengan Ruri. Tubuh yang digunakan Aosora Arthur adalah tubuh aslinya namun bersifat sementara karena kesadaran Arthur yang teracak. Sampaikan ke Dean untuk tidak melukai tubuh itu" Telepati Alder sambil mengetuk-ngetuk mejanya karena dia baru sadar kalau tubuh Arthur telah kembali.


[Apakah Anda akan membantu Tuan Dean untuk menahan Aosora Arthur?]


"Tidak. Itu akan menimbulkan kecurigaan bagi Ruri terhadap siapapun yang berada di sana. Sebab, Ruri pasti telah mengaktifkan tabir besar disana untuk menganggu para Titisan. Pastikan Alfarellza baik-baik saja. Kalau bisa, suruh Dean memindahkan Aosora Arthur ke tempat Daeva berada. Dia berada di rumahku"


Di tempat Daeva berada.


Dia memperhatikan arah timur laut atau arah Nekoma.


Samar dan tipis dia merasakan perbedaan angin yang datang dari arah itu. Mana yang dibawa angin itu berbeda dengan mana Ruri. Mana yang Daeva maksud menarik tipis mana Daeva. Daeva melihat sekitarnya dari atap rumah Alder, mana-mana mulai berterbangan mendatangi arah angin itu berasal.


Dia mengkernyitkan keningnya.


"Ternyata, aku memang tidak bisa santai terlalu lama di rumah Elf ini. WOSH!" Daeva berteleport menuju Aosora Arthur.


...----------------●●●----------------...


Apa yang akan terjadi saat Daeva bertemu dengan Dean?


Apa mereka akan melanjutkan duel mereka yang belum usai saat di Aosora?


Ataukah mereka berdua merebutkan Aosora Arthur setelah Dean tersadar kalau Aosora Arthur adalah Titisan incaran Ruri?


Baca chapter selanjut ya ya... yang akan up dua hari sekali.