
Bianca, meminta maaf kepada Ambareesh tentang apa yang telah dia lakukan pada Ambareesh.
Ambareesh sendiri, hanya diam dan ingin menelusuri sendiri tentang sosok yang berani menggunakan sihir ilusi dengan menirunya. Apa sebenarnya yang dia inginkan dari Ambareesh.
"Tentu saja, kesadarannya. Lalu apa lagi?" Ucap sosok berambut putih yang tengah duduk di dahan pohon besar.
"Kau tau, cepat atau lambat, Alfarellza akan bertemu dengan para Titisan. Mereka hanya akan menyembunyikan kebenaran yang ada dan membuat Alfarellza melihat mereka hanya dengan satu pandangan saja. Dunia ini, sudah berjalan sesuai alurnya. Untuk klimaksnya adalah Aosora Arthur. Dia adalah karakter yang sulit untuk di atur dan hanya akan berjalan dengan apa yang telah dia rasakan. Dia tidak hanya melihat sudut pandang saja. Tapi, dia akan merasakan posisi itu. Aku mulai lelah dengan cerita ini. Cepatlah pertemukan aku dengan Aosora Arthur"
Aku tau dengan pria ini, walau begitu, mari kita lanjutkan di tempat Ambareesh berada. Karena, ini belum saatnya untuk dia muncul.
...----------------●●●----------------...
Ambareesh mengulurkan tangannya pada Bianca. "Bianca, mulai hari ini jangan biarkan aku masuk ke dalam sini sebelum kita bertemu diluar. Jangan menyapaku saat kau bertemu denganku. Biar aku yang memanggil namamu terlebih dahulu. Mulai hari ini, aku tidak akan kemari lagi" Ambareesh kesulitan untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
"Kenapa? Apa kau masih marah denganku?"
"Bukan begitu" Ambareesh langsung menyelanya.
Dia berbicara perlahan dengan Bianca dan memberi sebuah kebohongan tentang orang yang bisa menggunakan sihir ilusi sering memasukki wilayah Nekoma untuk menjadi prajurit.
Tentu saja, Bianca langsung mempercayainya. Bianca adalah gadis yang lugu dan polos. Kepolosannya itu, membuat Ambareesh takut bila dirinya akan mencelakai Bianca.
Ambareesh mengusap kepala Bianca yang berbantal pahanya.
Bianca bercerita panjang kepada Ambareesh tentang hilangnya tiba-tiba penjaga muda itu yang tak kunjung kembali setelah membeli stok pakan di kota.
Ambareesh tidak berkata akan mencarinya. Namun, dia akan mengkabari Bianca bila menemukannya.
Bianca menghadapkan wajahnya ke perut Ambareesh dan memeluknya. "Kapan kita bisa bertemu lagi? Aku, ingin ikut denganmu" Bianca menyayangi Ambareesh lebih dari menyayangi dirinya sendiri.
"Ambareesh, kau tau... Aku sangat menyayangimu. Kau harus menyayangi dirimu dengan baik. Jangan sampai terluka dan jangan sombong karena tubuhmu memiliki bakat regenerasi yang baik" Bianca menepuk-nepuk punggung bagian bawah Ambareesh.
Ambareesh tidak berkata apapun. Dia hanya ingin menidurkan Bianca. Bianca menguap beberapa kali karena merasakan rasa nyaman dan aman saat berada di sisi Ambareesh.
Bianca melihat ke arah Ambareesh dan mengusap kening Ambareesh. "Ambareesh, kau menganggapku sebagai apamu?" Tanya Bianca dengan perlahan.
Ambareesh teringat dengan perkataan Tera.
Dia melirik ke sisi kiri bawah, "Bagaimana aku menjawabnya? Aku tidak pantas untukmu Bianca.... Aku hanya menjagamu" Ambareesh tersenyum tipis melihat Bianca.
"Begitukah?" Tanya Bianca sambil menatap mata Ambareesh.
"Kenapa kau berkata tidak pantas untukku?" Tanya Bianca sambil memegang pipi Ambareesh.
"Aku memiliki banyak musuh. Kelak, kau bisa celaka karenaku" Ambareesh merasakan gelombang aneh didalam dirinya. "Apakah, ini yang benar-benar ingin ku katakan?"
"Aku orang yang kuat. Aku bahkan, bisa membekukan laut untuk memblokade orang-orang yang mengejarmu. Bergantunglah juga padaku Ambareesh. Kau tidak sendirian" Ucap Bianca sambil menggenggam tangan Ambareesh dan meletakkannya di dada kirinya.
"Jantungku selalu berdebar saat aku melihatmu. Apa kau tidak melihat ketertarikanku padamu?" Tanya Bianca.
Ambareesh membungkukkan tubuhnya. "Walau aku menyadarinya, aku lebih memilih kehilangan indra perasaanku daripada harus melihatmu mati karena aku" Ucap Ambareesh di telinga kanan Bianca.
Bianca memeluk punggung Ambareesh. "Aku hanya ingin berjalan sejajar denganmu. Kita terlihat dekat, tapi disaat yang bersamaan aku melihat kau yang membuat garis batasan. Aku akan menunggumu, selalu menunggumu hingga kau mengalahkan semua musuhmu. Jangan melupakanku, aku akan membuatmu mengingatku bila kau melupakan diriku begitu saja. Ambareesh, aku menyuk-MMPH!" Ambareesh menutup mulut Bianca dengan tangan kanannya.
"Kau masih terlalu kecil untuk mengatakannya" Ucap Ambareesh sambil menundukkan kepalanya untuk melihat Bianca.
Ambareesh terkekeh. "Cepatlah tidur. Aku memiliki janji dengan seseorang di Nekoma" Ucap Ambareesh sambil menyipitkan matanya karena kekehannya itu.
Bianca, membelalakan matanya. Ini adalah pertama kalinya Bianca melihat ekspresi itu dari wajah Ambareesh.
Ambareesh pergi setelah menyelesaikan urusannya dengan Bianca dan menemui Haraya (Azuma).
Haraya mendengar semua cerita Ambareesh tentang sosok yang meniru wujudnya.
Haraya tau, 'Ini, ulah Ruri" Batinnya.
"Anda tenang saja. Saya akan menjaganya selama Anda berada di Nekoma. Percayakan hal ini kepada Saya" Ucap Haraya kepada Ambareesh.
Ambareesh menundukkan pandangannya. "Maafkan aku. Aku selalu merepotkanmu" Ambareesh mengosok tengkuknya.
Haraya menepuk punggung Ambareesh. "Tuan, untuk sekarang lakukan yang ingin Anda lakukan. Anda harus bergerak dengan bebas. Anda bukanlah orang yang mudah mengikuti arus air" Ucap Haraya untuk menyemangati Ambareesh.
Ambareesh mengangguk. "Azuma, mulai hari ini aku akan menganggapmu sebagai keluarga tertuaku. Bolehkah, aku memanggil namamu dengan sebutan Paman Haraya?" Tanya Ambareesh dengan nadanya yang terdengar senang.
"Jangan main-main dengan saya. Panggil saja Azuma sebagai tanda kehormatan dari Anda. Dilihat dari sisi postur wajah, saya masih terlihat seperti laki-laki berusia 20 tahunan" Ucap Haraya sambil mengeleng.
Ambareesh tertawa dengan renyah karena lelucon Haraya yang tidak ingin dikatakan tua. "Jelas-jelas, usiamu lebih tua dari Akaiakuma" Ucap Ambareesh dengan spontan. Pada dasarnya, Ambareesh tidak tau dengan ucapannya barusan.
Haraya terdiam sejenak karena dia pikir Ambareesh mulai mendapatkan kembali ingatannya. "Darimana Anda tau?"
"Entahlah, Aku hanya merasa seperti demikian" Ujar Ambareesh sambil mengusap ujung matanya yang berair.
...----------------●●●----------------...
Untuk mempersingkat waktu agar alur tidak berjalan dengan lambat, kita langsung memotong waktu menuju dua hari kemudian, dengan latar Kerajaan Nekoma.
...----------------●●●----------------...
Akhirnya, Ken bertemu dengan Ambareesh di tengah malam. Ken, selalu menunggunya selama dua hari ini hingga fajar tiba.
Ken berbasa basi dengan Ambareesh sambil menghabiskan minuman beralkoholnya. Ini adalah cara Ken menyiksa organ tubuhnya secara perlahan hingga tubuhnya sekurus itu.
"Jadi, apa yang kau inginkan kak?" Ambareesh bertanya kepada Ken sebelum Ken kehilangan kesadarannya karena mabuk.
Ken melipat kedua telapak tangannya di atas meja. "Aku ingin kau membunuhku" Ucap Ken.
"Setelah aku membunuhmu, apa yang akan kau dapatkan?" Tanya Ambareesh.
"Ah, aku ingin meninggalkan semua yang ada dihadapanku. Aku sejak lahir di dunia ini, tidak pernah berharap menjadi orang seperti ini. Bila aku bisa kembali dikehidupan berikutnya, aku ingin mengingatmu saja dan menjadi orang yang bisa tidur dengan santai setiap harinya" Jelas Ken.
Ambareesh membuang napasnya dengan panjang. "Kak, orang itu hanya hidup sekali untuk merasakan kenikmatannya. Tidak ada yang namanya pengulangan hidup. Bila itu ada, pasti mereka adalah orang-orang yang terpilih. Aku hanya ingin menjadi orang biasa dan mati dengan tenang tanpa perlu berpikir apa yang akan kulakukan dikehidupanku yang berikutnya. Jangan bodoh kak. Kau juga memiliki seorang anak yang masih kecil. Mana bisa aku membunuh sosok ayah yang memiliki seorang anak yang tidak akur dengan Ibunya?" Tanya Ambareesh.
"Ambareesh, anak itu telah dilindungi oleh hukum yang kuat. Seorang Ratu pun, meski dia adalah Ibunya, akan tetap dipenggal tangannya bila berani memukul anak itu. Nekoma, tidak sama dengan Akaiakuma yang menggunakan perintah Rajanya. Disini, menggunakan pengadilan Rakyat. Rakyat-rakyat disini, menunggu sang Ratu melakukan kesalahan agar Sang Ratu bisa mati meninggalkan Nekoma. Wanita itu, dibenci oleh rakyatnya sendiri" Jelas Ken.
Ambareesh mengetahui hal ini, tapi pemahamannya berbeda dengan Ken. Ya, apapun itu, pemikiran Ken lebih rasional dari Ambareesh. Ken mengutamakan perasaan daripada Ambareesh yang berpikir tanpa memikirkan perasaan orang disekitarnya. Pemikiran Ambareesh cenderung rumit, namun alasan Ambareesh selalu konkret dan tepat dengan permasalahan hingga penyelesaiannya.
"Sudah. Berhentilah bicara dan cepat bunuh aku" Ken memaksa.