
Daeva Nerezza adalah Titisan pertama dari Bangsa Iblis. Dia kembali ke rumah Alder setelah mengambil permata ungu milik Arthur yang berada di kening Siluman Ular di Nekoma itu.
"Hah~ Apa rencanamu yang berikutnya Ruri? Apa kau memiliki maksud terselubung atas kecerobohanmu meletakkan kristal Titisan pada kening Siluman itu?" Daeva melihat kristal itu begitu dekat dengan matanya yang beiris merah.
"Hufft, dengan begini.... bukankah sudah jelas kalau Ruri selalu berada selangkah di depan kita?" Alder melipat lengannya di depan dadanya sambil memperhatikan kristal ungu itu.
"Apa maksudmu?"
"Dia selalu bergerak terlebih dahulu dan setiap jalan yang dia lewati sulit di prediksi sehingga membuat kita tidak bisa mengetahui apa rencana dia berikutnya. Dan, bukankah akan lebih mudah kalau kau menangkap Arthur bersama tubuhnya?" Alder masih menggunakan wujud Marsyal dan dia mengeluarkan novel miliknya yang di berikan kepada Arthur saat Introgasi Arthur di Shinrin karena katahuan.
"Jangan ceroboh. Padahal kau ini pintar tapi tidak belajar tentang masa lalu" Jawab Daeva tanpa pikir panjang.
Daeva menyimpan Kristal milik Arthur di dalam alam bawah sadarnya agar aman disana. Daeva, tidak mengetahui kalau Arthur memiliki kemampuan untuk masuk ke dalam alam bawah sadar semua orang.
Daeva meminum minumannya yang disuguhi oleh Alder.
"Ruri, bisa mengacaukan pikiran Arthur dan menggunakan wujud Arthur sesukanya apabila Arthur mendapatkan tubuh itu dari Ruri. Bukan hanya tubuh saja, aura milik Arthur bisa ditiru olehnya meski memiliki perbedaan yang tipis" Daeva mengangkat telapak tangannya setinggi matanya sendiri dan mempertemukan ujung ibu jarinya dengan ujung jari telunjuknya untuk mencontohkan tipisnya perbedaan mana Arthur dengan mana Ruri.
"Oh, apa itu karena bakat Arthur menyerap energi sihir termasuk teknik yang dimiliki orang lain?" Tanya Alder pada Daeva yang menatapnya.
"Tepat sekali. Jadi, kuharap kau bisa mempercepat proses pengembalian tubuh Arthur sebelum Ruri mengambil alih. Oleh karena itu, semua Titisan harus segera berkumpul di tempat yang sama. Selagi menunggu mereka berkumpul, aku akan mengambil buku itu dari tangan Ruri. Tanpa buku itu, kau tidak bisa melakukan pengembalian tubuh Arthur begitupula dengan ingatan Ambareesh" Daeva kembali meminum suguhan Alder.
"Ya, aku tau itu. Untuk saat ini, membawa Lingga kembali sangatlah sulit. Aku sudah bisa menghubungi Ranu. Dan dia perjalanan menuju kemari. Mungkin, malam nanti dia akan sam-"
"WOSH!"
Sosok Pria berambut putih panjang terikat dengan tubuh yang tegap dan memiliki bahu yang lebar muncul dengan tiba-tiba dari belakang Alder.
Mata Merah Daeva bertemu dengan mata pria itu dengan iris keemasannya.
Daeva mengangkat kedua alisnya kemudian menyeringai sambil mengeluarkan kekehan mengejek.
"Ha'! Inikah Siluman yang memberatkan satu orang daripada ribuan orang Arden?~" Daeva berdiri dan mengangkat kedua bahunya. "Ya~ Bukankah itu benar, Ranu? Titisan Para Siluman yang memburu Bangsa Alder?" Daeva tiba-tiba merasa kesal atas kehadiran Ranu yang tiba-tiba.
Alder berdiri dan menahan Ranu yang sangat membenci Daeva. "Orang yang telah membunuh ratusan rasnya sendiri, bukankah tidak layak menjadi Titisan? Aku heran~ Kenapa orang sepertimu masih di pilih oleh Sang Cahaya" Ranu membalas sindiran Daeva.
"Daeva jangan memicu pertikaian. Dan Ranu, seharusnya kau lebih memprioritaskan tugasmu. Sang Cahaya sudah memberimu kesempatan untuk bangkit" Jelas Alder.
"Tsk!" Ranu mengkernyitkan keningnya. "Apa kau akan tenang saja saat bangsamu hanya tersisa satu orang? Siluman Rubah Putih dan Siluman Naga Hitam adalah Bangsa Siluman yang hanya tersisa satu di Negri ini. Itu semua, karena Bangsa Iblis yang membunuh dua ras terkuat siluman!" Tegas Ranu sambil menarik jubah Markas yang Marsyal kenakan.
"Ya~ Jangan salahkan aku~ Keteraturan Bangsa Iblis telah di percayakan kepada Lingga dan keturunannya. Marga De luce" Jelas Daeva sambil mengangkat ke dua tanganya setinggi kepalanya dan Daeva masih menunjukkan sengiran ejeknya.
Ranu melepaskan Alder dan dia berjalan ke arah Daeva.
"Kebiasaanmu masih sama. Suka menarik kera pakaian. Apa ini fetish mu? Lucu sekali~" Daeva mengangkat pandangannya untuk menatap Ranu.
Ranu memiliki tinggi 188 cm sedangkan Daeva hanya 183 cm.
Alder memisah keduanya dengan sihir yang memunculkan mananya menyerupai akar.
"Kalian berdua tenanglah. Aku mengundang kalian bukan itu menonton kalian bertarung. Singkirkan dulu masa lalu kalian berdua. Ranu duduklah" Alder menarik Daeva dengan sihirnya untuk duduk di sebelahnya.
Alder hanya berusaha menyelamatkan Ranu. Karena, tidak ada Titisan yang mampu melawan Daeva apabila dia menggunakan sihirnya. Yang bisa mengalahkan Daeva hanyalah Ruri yang mampu memanipulasi mana Daeva dari dalam.
"Cih. Aku akan menangih janjimu untuk mempertemukanku dengan dua orang yang kau katakan itu" Alder membuat perjanjian kecil dengan Ranu agar dia menggentikan perjalanannya.
Dua orang yang di maksud oleh Ranu adalah Bianca dan Razel. Mereka adalah satu-satunya yang tersisa dari ras terkuat Bangsa Siluman.
"Tentu. Aku mengingatnya" Jawab Alder. "Ya tanpa basa basi lagi. Ranu, aku membutuhkan bantuanmu untuk menjemput Lingga" Alder mengulurkan tangannya untuk Ranu. Ekspresi Ranu yang awalnya kesal berubah dalam sekejap.
Daeva yang melihat perubahan ekspresi itu langsung mendecih kesal. "Untung saja di Titisan ini ada suara yang bisa di dengar. Aku tidak bisa membayangkan kalau Alder masih mempertahankan kepribadiannya yang buruk di masa lalu. Ada keuntungan bagiku karena dia bisa melihat masa depan" Daeva sedikit merasa tenang karena adanya Alder diantara para Titisan dan masih mau bekerja sama dengannya. Meski terkadang, Daeva di buat kesal oleh Alder yang memiliki kepribadian suka memaksa seseorang hingga mereka menyerah. Tiga sosok bagi Daeva yang membuatnya kewalahan yang pertam adalah Ruri, yang kedua Arthur, dan yang ketiga adalah Alder.
Ranu menjabat tangan Alder. Yang artinya, Ranu mengizinkan Alder untuk mengintip masa depannya.
BATSH!
Alder langsung melihat Daeva dengan matanya yang terbelalak.
"Kenapa melihatku?" Daeva kembali mengkeryitkan keningnya karena terkejut melihat Alder tiba-tiba menoleh ke kiri.
Ranu baru pertama kali melihat wajah Alder menjadi gelisah seperti itu dihadapannya. "Apa Daeva memiliki rencana untuk membunuh lagi?" Bagi Ranu, memberi kepercayaan Daeva adalah hal yang mustahil. Dia sangat membenci Daeva.
Alder memijat keningnya sejenak. "Ahaha, Daeva.... Ku harap, kau bukan orang yang mudah menjalin sebuah kontrak yang menjengkelkan. Apa keinginanmu di masa depan?"
Pertanyaan Alder membuat Daeva dan Ranu terkejut.
"Cih! Sudah ku katakan jangan melihat masa depanku!" Tegas Daeva dengan nadanya yang kesal.
Ranu mengkernyitkan keningnya. "Apa yang dimaksud Alder? Kenapa dia bisa melihat Daeva dariku?"
Kekehan Alder menghilang. "Siapa Malaikat Agung yang menemuimu?" Nada suara Alder mendadak berubah.
Mata Daeva terbelalak lebar. Dia terkejut dengan pertanyaan Alder.