
Semua berlalu begitu cepat.
Arthur dan Para Titisan telah sampai di Tanah Meganstria. Kedatangan Para Titisan membuat hati Raja Meganstria ke-7 menjadi gusar.
"Usir orang-orang yang mengaku sebagai Titisan itu" Raja Meganstria memerintahkan para prajuritnya untuk mengusir mereka dari Meganstria.
Sebab, terdapat catatan kuno yang turun menurun tentang kedatangan Titisan yang menandakan akhir sebuah negri itu.
"Anda yakin? Saya mendengar salah satu dari pengikut para Titisan, ada Putra Mahkota Aosora. Beliau adalah Aosora Arthur yang menghilang empat minggu yang lalu. Apa Anda tidak ingin mengambil kembali Putra Mahkota Aosora? Dan bukankah, Meganstria akan mendapatkan nama baik dari Shinrin?" Tanya penasehat Raja yang mendengar perintah itu.
"Kalau begitu, undang salah satu Titisan dan Putra Mahkota Aosora Arthur. Kita tidak bisa meninggalkan kesempatan emas ini" Ucap Raja itu.
Penasehat Raja yang mendatangi tempat Istirahat para Titisan itu berada.
"Kami menolaknya" Ucap Alder sambil mengetuk kursinya beberapa kali.
Alder adalah satu-satunya yang dapat melihat masa depan. Dia tau tentang maksud terselubung Meganstria terhadap Aosora Arthur.
"Kenapa? Apakah Anda tidak memikirkannya dan berbincang bersama Titisan yang lainnya? Kami sangat mempercayai apabila Anda dan empat orang yang lainnya adalah Titisan" Penasehat Raja itu, berusaha membujuk Alder.
"Para Titisan, bergerak sesuai arahanku. Aku tidak membutuhkan persetujuan mereka untuk memutuskan hal ringan ini. Kami hanya berniat beristirahat selama dua bulan disini sebelum rencana kami yang berikutnya" Jawab Alder dengan sopan.
"Kami akan tetap menunggu Anda dan Putra Mahkota Aosora Arthur hingga lusa. Saya harap, Anda memikirkannya dengan baik-baik" Penasehat Raja itu, kembali ke Istana Meganstria dan menyampaikan ucapan Alder tanpa di tambah ataupun di kurangi.
Raja Meganstria yang bukan penyabar, naik pitam saat mendengarkannya. Meski begitu, dia memberi waktu untuk bersabar selama dua hari.
Dia menunggu hingga mengkosongkan seluruh kegiatannya untuk mengunjungi Bangsawan di Kerajaan Meganstria. Termasuk, mengutus perwakilan dirinya untuk menghadiri kegiatan penting dengan bangsawan yang lainnya.
"BRUAK!!!"
Meja ruangannya di tendang dengan keras oleh Raja Meganstria hingga dokumen Istana berantakan. Dia telah menunggu kehadiran Titisan yang membawa Aosora Arthur selama tiga hari tanpa istirahat.
"Mereka merendahkanku. Siapkan kereta sekarang juga. Aku akan mendatangi para Titisan itu yang telah menolak undanganku" Raja itu masih bersikeras.
Dia datang ke tempat Tinggal Para Titisan itu.
Rumah yang tak begitu besar, namun dikelilingi oleh sihir perlindungan membuat Sang Raja menelan ludah.
Sang Raja tidak berani memasuki wilayah dengan sihir kuat itu.
"PRAK! PRAK!" Dia mendengar suara kayu yang saling berhantaman dari sisi kiri halaman rumah para Titisan. Dia mendatanginya.
"Pertahankan kuda-kudamu. Bahumu terlalu tegang. BUGH!"
Dia melihat Ambareesh yang tengah melatih Arthur dengan pedang kayu.
"Hah... Guru... Aku tidak bisa santai karena tatapanmu itu!" Tegas Arthur sambil meregangkan tubuhnya.
Raja Meganstria mengira kalau Ambareesh adalah Aosora Arthur. Dia memanggilnya. "Putra Mahkota Aosora!" Keduanya melihat bersamaan.
"Saya tidak menyangka, Anda sungguh ada disini!" Tegas Raja itu sambil memberikan salam kepada Ambareesh.
Ambareesh melihat ke Arthur. "A, Baginda.... Lama tidak berjumpa" Arthur membungkukkan tubuhnya di sebelah Ambareesh untuk Raja Meganstria itu.
Raja Meganstria itu, begitu terkejut saat melihat sosok berambut biru gelap itu membungkukkan tubuhnya untuk membalas salamnya.
"Aku memberimu waktu untuk istirahat. Kembalilah dalam 45 menit lagi" Ambareesh meninggalkan Arthur yang semakin membuat Raja Meganstria itu kebingungan.
"Tunggu! Putra Mahkota Aosora!" Dia melihat ke arah Ambareesh.
"Baginda, mohon maaf sebelumnya. Saya Aosora Arthur yang Anda panggil. Dan beliau adalah Titisan Malaikat dan guru saya. Namanya Ambareesh" Arthur memperkenalkan Ambareesh dengan sopan kepada Raja Meganstria itu.
Raja Menganstria merasakan banyak kejanggalan terhadap sosok yang mengaku sebagai Aosora Arthur.
"Jangan menipuku. Kau berkata begini, sama seperti merendahkanku" Leher Arthur tiba-tiba dikelilingi oleh pedang besi milik para Prajurit yang dibawa oleh Raja Meganstria.
Ambareesh dan Alder bersama Titisan yang lainnya hanya memandangi Raja Meganstria dari kejauhan. Mereka menunggu Raja Meganstria melakukan kesalahan.
"Saya sungguh Aosora Arthur. Anda bisa bertanya kepada para Titisan yang ada di dalam. Di dada kiri saya, masih terdapat tanda kutukan itu" Arthur membuka hoodie birunya yang dia kenakan untuk menunjukkan tanda itu.
"Tanda itu bisa kau buat. Jangan pernah menipuku karena kau memiliki sihir yang hebat. Kau hanyalah gelandangan yang memiliki keistimewaan yang membuat banyak orang memujimu"
Archie dan Tsuha melihat Arthur yang di todongi oleh banyak pedang besi itu membuat mereka geram. Namun, Angel menahan mereka. Karena para Titisan memiliki rencana dan menunggu Raja Meganstria melukai Arthur untuk mendeklarasikan perang.
Semua telah dilihat oleh Alder dan Ruri.
Ruri terkekeh saat menggunkaan Tubuh seorang Iblis yang memiliki sebutan Archduke di sebuah kerajaan Iblis bernama Aokuma.
"Steve, kenapa kamu tertawa?" Tanya seorang gadis bermata dan berambut biru gelap.
"Sepertinya, akan ada berita besar yang akan menyebar hingga ke Negri sebelah" Jawab Ruri yang menggunakan tubuh Archduke bernama panjang Zelf Steve.
"Apa itu tentang Aosora Arthur lagi?"
"Seperti yang Anda tebak, Putri Mahkota Devina. Anda pasti akan segera mendengarnya dari para Prajurit dan Pelayan Anda" Jawab Ruri sambil mengulurkan tangannya pada Gadis berstatus Putri Mahkota Aokuma yang akan di angkat menjadi Ratu Aokuma di usianya yang ke-17 tahun, dua bulan lagi.
Gadis itu, menerima uluran tangan Ruri. Tangan gadis itu yang bersarung tangan putih dan memiliki jari yang lentik itu, di cium perlahan oleh Ruri.
"Steve, bagaimana rencana tempat berikutnya?" Tanya Gadis itu tanpa melihat mata Ruri.
"Tempat apa yang ingin Anda kunjungi?" Tanya Ruri sambil berdiri dan melihat mata seorang gadis yang bahkan tak mampu melihat wajah orang lain, selain sebuah lukisan dan potret.
"Emm, bagaimana dengan sebuah taman? Aku penasaran dengan taman yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan para gadis di pertemuan teh" Ucap Devina sambil terseyum tipis dan melihat ke tanah.
Ruri berfikir tempat yang dimaksud oleh Devina. Kemudian, Ruri tersenyum tipis setelah ingat dengan tempat itu.
"Gengam tangan saya dengan erat. Saya akan membawa Anda berteleport" Ucap Ruri sambil kembali mengangkat tangannya untuk Devina.
Devina kembali memegang tangan Ruri.
...----------------●●●----------------...
Arthur yang terus berusaha menjelaskan tentang dirinya kepada Raja Meganstria, berujung dengan pengusiran Raja Meganstria dengan paksa. Dan Raja itu, berkata "Dalam sehari kaliu kalian para penipu tidak meninggalkan Meganstria, Aku akan mengirim 1.500 pasukan untuk melawan kalian. Harusnya kalian bisa mengalahkannya kalau kalian memang para Titisan" Ucap Raja Meganstria kepada Arthur.
"A'!" Arthur sungguh terkejut.
"Tolong jangan begini! Saya akan meminta maaf kepada Anda secara resmi karena saya memang Aosora Arthur. Dan tolong, jangan bawa para Titisan karena kesalahpahaman ini" Arthur berusaha menahan Raja Meganstria yang meninggalkannya.
Arthur panik. Jantungnya berdegup dengan kencang saat Alder dan Titisan yang lain mendatanginya.
Arthur sungguh bersujud di hadapan mereka.
"Tolong maafkan Aku! Aku tidak berniat membawa kalian dalam kesalahpahaman ini. Aku akan kembali ke Shinrin untuk mengurusnya. Kak Baal, pasti bisa membantu untuk menghindari deklarasi itu" Ucap Arthur sambil bersujud kepada mereka untuk meminta maaf.
Alder mengangkat Arthur untuk berdiri. "Arthur, terima kasih karena membantu kami. Dengan begini, kami tak perlu memikirkan cara mengkosongkan Meganstria dengan cepat karena wilayah ini, akan segera tenggelam" Ucap Alder yang membuat Arthur sungguh tak paham dengan cara pikir para Titisan.
Archie menarik Arthur dan berdiri di hadapan Alder.
"Apa kau menjadikan Arthur sebagai umpan?! Sialan! Kau sebut diri kalian sebagai Titisan!?"
Sebenarnya, Ambareesh tidak mengakui dirinya sebagai Titisan. Namun, dia memang merasa kalau para Titisan berusaha memanfaatkan keberadaan Arthur.
Archie menarik kera Alder dengan geram.
"Apakah ini juga akan kalian lakukan untuk Akaiakuma, serta Aosora juga!?" Archie satu-satunya sosok yang bahkan tak takut dengan sebutan Titisan karena dia tak pernah mempercayai mereka. Bagi Archie, para Titisan itu, tak ada bedanya dengan makhluk seperti dirinya dan orang biasa.
Arthur menarik lengan Archie yang menahan kera Alder. "Archie, mereka pasti memiliki alasan lain. Percayalah pada mereka" Archie melihat wajah Arthur yang sekilas seperti Alex.
"Cih!" Archie mendecih dengan keras. Dia berbalik menarik jubah Arthur hingga membuat Arthur sedikit tercekik dengan hoodienya itu.
"Sialan! Kenapa kenaifan Alex menurun padamu! Aku sungguh tidak menyukai orang yang memanfaatkan orang lain, terutama Aosora naif sepertimu! Hei Arthur! Mereka berusaha membuatmu menjadi kambing hitam untuk rencana mereka!" Tegas Archie dengan blak-blakan dan meneriakkannya begitu dekat dengan wajah Arthur.
Archie tiba-tiba diam saat melihat tatapan Arthur yang berubah saat melihatnya.
"Cih! Jangan melihatku begitu! Aku peduli denganmu!" Tegas Archie sambil melepaskan Arthur.
"Aku percaya kepada mereka. Biarkan aku membuka pandanganku, Archie. Kak Ram, akan segera datang untuk membebaskanmu" Ucap Arthur sambil mengepalkan tangan kanannya dan memukulkannya dengan pelan pada dada kiri Archie.
"Cepatlah dewasa, dasar bocah!" Archie merasa sangat kesal karena Arthur masih membelah para Titisan yang hanya memanfaatkannya itu.
Tsuha hanya melihat hal itu tanpa banyak bicara. Dia mengikuti Archie yang masuk ke dalam rumah itu.