The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 5 [Kompasku]



Arthur menbawa Ratu Aviv di tempat Daeva berada.


Daeva tercengang melihat Siluman bermata ungu yang dibawa oleh Arthur.


"Sialan! Lepasin Aku!" Wanita cantik itu, memukul wajah Arthur dengan kipasnya beberapa kali.


"Akh! Jangan mukul di wajah!" Arthur masih saja menahan tubuh Ratu Aviv itu yang hampir jatuh dari gendongannya.


"Arthur, siapa Siluman ini? Dan dimana Aosora Bram?" Daeva hampir kehilangan akalnya karena Arthur.


Arthur menurunkan Ratu Aviv dan Ratu Aviv tidak dapat menggunakan sihirnya karena Ruri menyegel inti mana Ratu Aviv agar tidak mengontrol Arthur.


"ARRRGGHH! APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU!!!!" Ratu Aviv terus memukul Arthur dengan keras dan Arthur meringkuk untuk melindungi wajah dan kepalanya dari pukulan itu.


"GURU! LAKUKAN SESUATU DENGAN WANITA INI!!!" Tegas Arthur meminta bantuan Daeva.


Daeva mengeleng-geleng melihat perempuan itu yang menendang punggung Arthur dengan keras. Kemudian, Daeva menarik lengan kiri Ratu Aviv hingga membuatnya berhenti menendang Arthur.


Ratu Aviv melihat ke arah Daeva. "Euwh, kau Iblis macam apa?" Dia terkejut melihat Daeva yang merupakan Iblis tanpa tanduk. Iblis tanpa tanduk di mata Iblis dan Siluman adalah makhluk yang cacat.


"Hah?" Daeva ingin mencengkram bibir Siluman ini.


"Arthur, siapa wanita menyebalkan ini?" Tanya Daeva sambil melepaskan lengan Ratu Aviv. Ratu Aviv melipat lengannya di depan dada.


"Dia Ratu Kerajaan Aviv" Jawab Arthur sambil berdiri dan mengosok punggungnya yang terasa sepertu hampir remuk karena tendangan kasar berhells itu.


"Cih! Makhluk rendahan sepertimu harusnya menyebutkan namaku dengan lengkap! Aku, Ratu Ashe Reiona, Ratu Kerajaan Aviv ke-"


"Peduli dengan namamu. Arthur, kenapa kau membawanya?" Tanya Daeva sambil melihat simbol jubah yang digunakan oleh Arthur.


"Hei! Kenapa kau tidak sopan sekali?!" Tanya Ashe Reiona yang dihiraukan oleh Daeva.


"Uh... itu guru, karena dia punya bakat mampu mengontrol pikiran musuh. Jadi, kurasa dia akan berguna" Jawab Arthur kepada Daeva.


"Hah?! Kalian mau memanfaatkanku?!" Tegas Ashe Reiona.


Daeva memegang dagunya sendiri dan menoleh ke arah Reiona.


"Uh, kenapa.. Kau melihatku?!"


"Dia tidak akan berguna. Kembalikan saja" Jawab Daeva yang membuat Ashe Reiona merasa tersakiti.


Kening Reiona berkenyit. Dia sudah sering mendapatkan ucapan itu.


"Dia juga berisik. Hanya akan menjadi beban saja kalau tetap bersama kita" Ucapan Daeva menusuk sekali. "Aku tidak menyangka kalau makhluk sombong seperti dia bisa memegang gelar mulia itu. Bagaimana dengan Shinrin?" Tanya Daeva sambil membelakangi Reiona yang telah diam karena ucapannya.


"Aku sudah mengeluarkan sihir yang seperti dikatakan oleh Guru" Arthur menoleh kearah Reiona yang secara tak sadar telah menunjukkan raut kecewanya.


"Baguslah kalau begitu. Untuk saat ini, rahasiakan dari para Titisan. Kau dan aku akan berjalan di arah lain" Arthur tidak mendengarkan ucapan Daeva karena raut Reiona yang mengingatkannya dengan raut Ibunya sebelum dia menangis.


"Apa maksudmu?" Tanya Daeva sambil mengkernyitkan keningnya.


Arthur melihat ke arah Daeva yang tengah memegang bahunya. "Apa gunanya kau memiliki perasaan itu? Dimasa depan, perasaan itu hanya akan menjadi beban perjalananmu. Percaya padaku. Sebab, sedari awal ini adalah alasan mengapa Para Titisan tidak diberikan izin untuk memiliki hubungan dalam dengan orang lain, kecuali ada alasan khusus untuk menyalurkan bakat" Ucap Daeva sambil mendongakkan kepala Arthur.


Daeva dapat melihat dengan tipis lekukan di alis Arthur. "Bagaimana dengan gadis itu? Bukankah, dia adalah Putrimu?" Tanya Arthur yang langsung intinya.


Ucapan itu, membuat Daeva terkejut tidak main. "Hah? Apa yang kau katakan?!" Tanya Daeva sambil melepaskan Arthur.


Arthur merasa dirinya seolah jauh dan mengecil. "Aku selalu penasaran dengan kau dan Ela yang memiliki aura yang hampir mirip. Tak hanya itu, kau juga memiliki kelebihan untuk membaca batin seperti dia. Rasa penasaran itu, ya... ku rasa aku sedikit menyadari dengan apa yang terjadi” Arthur menoleh ke arah Daeva.


“Kau berniat untuk menjalankan tugasmu melewati dia, bukan?” Tanya Arthur kepada Daeva.


Daeva terbelalak. Dia mengalihkan pandangannya kemudian membelakangkan rambutnya yang maju ke depan. “Seperti yang kau katakan. Kau sudah mengetahuinya. Jadi, apa yang akan kau lakukan?” Daeva sudah menyerahkannya kepada Arthur.


“Kanapa kau melakukan itu?” Tanya Arthur.


“Hah? Apa itu penting untuk sekarang?” Tanya Daeva dengan helaan napas yang cukup panjang.


Ashe Reiona sedikit syok dengan apa yang dia lihatnya di belakang Arthur. Aura keungguan itu, terlihat membeludak untuk mengintimidasi Daeva yang tengah menyembunyikan sesuatu. "Apa yang terjadi?" Dia kini duduk di dahan kayu yang roboh dan menunggu mereka selesai berbicara.


"Itu satu-satunya cara instan untuk berada di dekat Para Titisan. Aku tidak menduga kalau akan terlahir perempuan. Kau sudah berada di sekitar Titisan dan itu merupakan waktu yang tidak cepat untukmu. Tentunya, kau pasti tau mengapa aku tidak bisa berkumpul dengan Titisan yang lain" Ucap Daeva kepada Arthur sambil mengeluarkan buku perjanjian itu.


"Jadi, Pria Iblis itu, salah satu Titisan? Tapi, apa yang terjadi dengan mereka berdua? Dan apa pria rambut biru gelap itu adalah Aosora Arthur yang sesungguhnya?" Reiona masih menyimak obrolan mereka.


"Ck! Sudahi saja obrolan ini! Aku mengembalikan buku itu padamu! Aku sudah tidak ingin berkumpul dengan para Titisan. Tujuanku hanya untuk mendapatkanmu untuk membantuku. Semuanya ku serahkan padamu. Aku sudah malas untuk berpura-pura!" Tegas Daeva kepada Arthur kemudian melihat ke arah Reiona yang sedang melihatnya.


Arthur melihat buku itu. "Buku apa ini?" Tanya Arthur sambil melihat sampul buku itu.


"Di dalam sana ada cara untuk mendapatkan tubuh aslimu. Tubuhmu, tersimpan dengan baik. Hanya dua orang yang bisa membebaskanmu" Daeva menyentuh buku itu dan buku itu terbuka.


Arthue cukup tercengang melihatnya. Karena Daeva dengan mudah membuka buku itu. "Siapa mereka?" Tanya Arthur sambil melihat buku itu yang sepenuhnya bertuliskan huruf kuno. Meski begitu, Arthur bisa membacanya.


"Alder dan Ruri. Hanya mereka yang bisa membebaskanmu. Tapi, Mereka berdua tidak bisa membuka buku itu sendirian tanpa bantuan empat Titisan lainnya" Jelas Daeva sambil membukakan halaman yang berisi gambar pola sihir yang menyimpan tubuh Arthur.


"Lalu, kenapa guru bisa membukanya?" Tanya Arthur yang heran dengan Daeva.


"Itu karena aku yang menjamin amannya buku itu. Meski kau memiliki buku ini, Alder dan Ruri masih membutuhkan kristal tubuhmu. Ya, aku tidak akan menyerahkannya meski aku memilikinya" Jawab Daeva sambil menutupkan buku itu.


"Kenapa?" Lagi-lagi Arthur bertanya kenapa untuk sekian kalinya.


"Maafkan aku, aku masih belum percaya kepada mereka berdua. Aku akan menunggu sampai kau bisa memutuskan pilihanmu diantara keduanya. Kristal itu, hanya kau yang bisa merebutnya dan tentunya kalau Ruri yang membebaskanmu artinya aku berada di sisinya. Bagaimana Arthur? Keputusan semuanya ada di tanganmu. Kau adalah kompasku dan aku selalu berada di pihak yang bisa memanfaatkanku dengan baik" Ucap Daeva sambil menunjukkan senyumannya kepada Arthur.


Saat itulah Arthur menyadari sesuatu dari senyuman yang diberikan Daeva dari balik bayangan wajahnya di langit gelap Hutan Terlarang.


DAEVA TIDAK AKAN PERNAH BERADA DI PIHAK TITISAN MESKI ARTHUR TELAH MENGETAHUI SEGALANYA-.