
Pencarian Aosora Bram masih berlangsung hingga saat ini.
Pada episode sebelumnya, Arthur baru saja pulang setelah dia tidak sadar telah tertidur dan bangun dari dasar danau Harapan.
Disana, Arthur melihat Prajurit Shinrin dan beberapa prajurit gabungan dari Aosora, Meganstria, serta Narai.
Arthur ikut mendengar perbincangan beberapa Prajurit Shinrin yang bercerita tentang kegilaan Baal saat ini.
Disana ada Dera yang juga ikut mendengarkan perbincangan itu.
"...terutama saat Yang Mulia Baal sendiri yang memenggal kepala Tuan Nox. Itu sungguh berlebihan dan seolah dia tidak memiliki hati nurani"
Mendengar ucapan salah satu Prajurit Shinrin, Arthur sungguh terkejut atas berita itu.
"Apa!? Kalian pasti bercanda! Kak Baal tidak akan bertindak seperti itu!" Arthur tidak tau atas kematian Nox yang di eksekusi dihadapan masyarakat Shinrin dengan tangannya sendiri.
"....Dia terlihat layaknya seorang Iblis setelah kematian Yang Mulia Linus. Shinrin tidak akan bisa bertahan lama bila seperti ini" Lanjut prajurit itu.
Dera menghela ringan.
"Sekeras apapun kalian berusaha, kalian akan tetap dikalahkan oleh orang yang berkuasa. Kapten Penyidik telah mengeluarkan surat untuk Yang Mulia Baal tentang hilangnya Putra Mahkota Aosora Arthur dan keterlibatan Tuan Nox. Aku membaca surat itu, dan Tuan Nox dinyatakan tidak bersalah oleh Kapten Penyidik dan Kepten Guild Penelitian dari tubuh Nel. Sedari awal, Agleer Baal memang memiliki niat untuk merebut tanah Aosora" Jelas Dera sambil meminum air.
Arthur terbelalak. Dia ingat dengan wajah Dera, Wajah orang yang mengantikan Baal untuk mengantarkannya ke Aosora dan menjadi penjaganya bersama Nox saat Arthur dan yang lain berkeliling Aosora (Dalam Novel Pertama).
"Nah kau! Kau orang yang ikut ke Aosora bersamaku. Hei kak, katakan kepadaku kalau omongan mereka semua hanyalah bualan" Arthur berbicara di samping Dera.
Namun, Dera tidak bisa mendengarkannya.
"Haha, aku akan menyelesaikan masa kontrakku sebagai Prajurit Shinrin hingga akhir bulan nanti. Aku tidak akan memperpanjang masa kontrak ini dan aku akan hidup sebagai seorang petani di desa" Ujar salah satu Prajurit disana yang kurang lebih berusia 40 tahun.
"Ah, masa kontrakku masih 6 bulan lagi. Mungkin, setelah itu juga aku akan melepaskan diri dari keprajuritan Shinrin" Sahut yang lain.
Dera merasa ini tidak akan mudah karena pemerintahan tidak lagi di perintah oleh Linus dan tentunya, tidak lama lagi, aturan baru akan terbentuk.
Dera sebenarnya tidak menyukai Baal. Rasa sedih tentunya Dera rasakan dari lubuk hatinya. Dia bahkan belum puas untuk berbicara panjang dengan Ayah kandungnya, sosok yang menggunakan nama Ibunya sebagai nama panggungnya dan juga, sosok Ayah yang baru saja sadar apabila dia memiliki anak kandung yang selama ini, selalu melihatnya dari belakang.
Dera membuang botol minumnya dan menembus Arthur. Semakin di pikir, dia semakin membenci pekerjaannya sebagai Prajurit Shinrin dan anggota Kesatria Keprajuritan yang berada di bawah perintah sosok yang membunuh Ayah kandungnya.
Arthur juga melihat Gagak putih yang merupakan Haraya melintas di atasnya.
"Eh! Tunggu aku!" Arthur langsung mengikuti Haraya yang ternyata, tengah melakukan perjalanan menuju tempat Ambareesh berada.
Begitulah perjalanan pendek Arthur sebelum dirinya melihat Angel dan Tsuha berpelukkan seperti itu.
"Eww, apa yang terjadi?"
Arthur melayang sambil melihat mereka dan melewati mereka begitu saja.
Ambareesh telah menunggu kedatangan Arthur. Dan di ruangan itu tidak ada Razel melainkan Luxe.
"Lalu, apa kau yakin perjalanan ini hanya akan berhenti di Nekoma dan akan selancar sesuai dengan rencanamu?" Luxe sebenarnya telah merencanakan sesuatu yang lain bersama Marsyal/Alder.
"Tentu saja tidak. Akan banyak hal yang terjadi setelah ini. Ini hanya firasatku saja. Tapi, aku beranggapan apabila kau adalah satu-satunya orang yang bisa membantuku dan yang lain. Aku, tidak terlalu suka menyembunyikan rasa menganjal pada diriku sendiri. Jadi, ini hanya perkiraanku saja. Luxe, aku mencurigaimu sebagai mata-mata musuh. Dan ku tanya untuk pertama serta terakhir kalinya. Siapa sebenarnya kau ini?" Ambareesh bertanya terus terang kepada Luxe. Pertanyaan itu, membuat Luxe tertawa.
"Pahahaha. Astaga. Ku kira pertanyaan apa. Apa yang kau curigai dariku?" Tanya balik Luxe sambil mengusap matanya yang berair.
"Kau tidak terlihat seperti orang yang normal. Itu membuatku berfikir keras karena auramu lebih mengintimidasi dari manusia normal" Jelas Ambareesh sambil mengerakkan tangannya yang kebas.
Luxe hanya tertawa.
"Tenang saja, aku bukanlah mata-mata musuh. Kita berada di jalan yang sama. Aku akan kedepan untuk sarapan" Luxe pergi meninggalkan Ambareesh tanpa menanamkan sedikit kecurigaaan.
Arthur melihat ke Ambareesh. Dimata Arthur, Ambareesh itu adalah sosok yang bisa di andalkan dan bisa memutuskan segalanya dengan cepat, termasuk mengetahui musuh.
"Kenapa dengan Luxe, Guru?" Tanya Arthur pada Ambareesh.
Ambareesh melihat Arthur dan rasa daya tarik Arthur terhadap mananya juga semakin kuat.
"Tidak ada apa-apa. Arthur, apa kau bisa menyerap mana orang lain disekitarmu?" Tanya Ambareesh.
Arthur dengan singkat menggeleng. Ya, itu karena Arthur belum mengenal dirinya sendiri.
...----------------●●●----------------...
Perjalanan di mulai.
Ambareesh menolak tawaran Luxe untuk datang dengan Lubang Teleportasi agar dengan mudah dan cepat menuju Nekoma.
Alasannya adalah mereka akan mengetahui kedatangan kelompok Ambareesh sama seperti yang terjadi di Akaiakuma. Meski dengan kurang pasti Ambareesh mengatakannya, tapi dia merasa yakin dan tak asing dengan semua hal yang dia lakukan saat ini.
Perjalanan terjadi selama tiga hari. Namun, ditengah perjalanan, mereka harus terhenti karena Ambareesh melihat gadis berbangsa Manusia tengah diikat dengan rantai dan berpakaian terbuka selayaknya budak untuk dijual tubuhnya.
"Kalian istirahatlah dan jangan turunkan tudung kalian" Ambareesh menunjuk sebuah gardu kecil disana.
"Memangnya, kau mau kemana?" Tanya Archie sambil meminum air yang dibawa tas Tsuha.
"Ada urusan mendadak" Itulah yang dikatakan oleh Ambareesh sambil berjalan ke arah tempat itu yang merupakan pasar gelap lintas daerah yang selalu berpindah-pindah. Pasar gelap itu, bisanya menjual budak dan benda ilegal lainnya termasuk buku kuno, serta organ bangsa Malaikat untuk obat.
Dari jarak kejauhan, Tsuha menggunakan matanya untuk melihat Ambareesh. Ya, dia langsung terdiam saat mengetahui Ambareesh mendatangi seorang gadis berbangsa Manusia yang diikat rantai disana.
Terkadang, Tsuha berfikir dia tidak bisa mengetahui apa yang ada di pikiran Ambareesh dan sangat berbeda dengan Arthur yang sembrono dan ramai.
Gadis itu, terlihat ketakutan saat Ambareesh dekati. "Arthur, bisakah kau lihat ke dalam tenda itu, apa ada bangsa Manusia yang lainnya?" Ambareesh menyuruh Arthur untuk masuk ke dalam tenda besar tempat penjualan budak itu.
Arthur langsung mengangguk tanpa banyak bicara dan masuk ke dalam tenda besar itu.
"Tuan! Selamat datang. Apa Anda tertarik dengan gadis yang baru kami dapatkan ini? Dia masih segar dan belum tersentuh!" Pemilik Tenda itu menyapa Ambareesh.