The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 5 [Saingan]



Arthur dan Tsuha kini kembali di Meganstria. Tsuha terlihat sedikit aneh di mata Arthur dan Archie. Seolah, dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


"Sebenarnya, apa maksud dari perkataan Tsuki? Mengapa dia menyuruhku untuk melindungi Putra Mahkota Arthur dari para Titisan?"


Hanya Ela dan Daeva yang mampu mendengar batinan itu. Namun, saat ini yang mendengarnya hanyalah Daeva. Kening Daeva berkernyit.


"Mengapa para Titisan memanfaatkan Putra Mahkota Arthur kalau mereka sebenarnya adalah melindunginya dari sosok bernama Ruri itu?" Pikiran Tsuha semakin menenggelamkan Tsuha di laut pertanyaan. Daeva tiba-tiba merangkul Tsuha.


"Hai bocah. Apa yang ada disini?' Daeva memegang kepala Tsuha dengan tangan kanannya yang bersarung tangan. Tsuha melihat Daeva dengan matanya yang beiris hijau.


Tsuha terbelalak sejenak. Kemudian dia melepaskan tangan Daeva yang berada di kepalanya.


"Tolong jangan membaca isi kepala saya. Apa Anda tidak paham kata privasi?" Tanya Tsuha sambil meninggalkan Daeva disana.


"Ah..." Daeva cukup tercengang dengan ucapan Tsuha dan dia terlihat diabaikan oleh Tsuha.


"Haruskah Ruri mengetahui hal ini?" Batin Daeva sambil melihat punggung Tsuha yang menjauh darinya.


Daeva dari awal memang kesulitan untuk menjalin komunikasi dengan Tsuha. Meski terkadang Tsuha mengikuti arahannya, tapi sikap Tsuha kepada Daeva hanyalah sebatas rekan yang menjalankan tugas. Selain itu, Tsuha sungguh mejgabaikan Daeva sepenuhnya. Tak hanya Daeva. Tsuha melakukan hal tersebut kepada Lingga dan Ranu.


Alasannya adalah Tsuha masih teringat dengan masalalu dimana dia hampir terbunuh oleh Arnold.


Meski Tsuha tidak menyukai Iblis dan Siluman, Tsuha masih terbuka kepada Archie. Dan Tsuha lebih percaya kepada ucapan Archie daripada Arthur untuk saat ini.


Dan saat ini, satu-satunya cara bagi Daeva untuk mendekati Tsuha adalah dengan mendekati Archie.


"Butuh berapa lama lagi untuk mempersiapkan pembebasan Tuan muda ini~?" Daeva bertanya kepada Bram dengan nada sedikit mengejek yang ditujukan kepada Archie.


Bram melihat Daeva dengan wajah sengitnya.


"15 menit lagi selesai" Meski diiringi wajah sengit, Bram masih menjawabnya dengan ramah karena ada Arthur yang melihatnya.


Daeva hampir tertawa karena melihat ekspresi wajah Bram yang seolah tengan menahan diri.


"Karena para Titisan tak membutuhkan bantuanku. Biarkan aku membantumu. Apa yang bisa ku bantu?" Tanya Daeva sambil berjongkok di depan garis sihir buatan Bram.


Arthur memandangi mereka dan Bram terlihat kesal karena keberadaan Daeva sebagai seorang Titisan.


"Mungkin, buat saja langit agar tidak hujan" Pinta Bram.


Daeva terkejut dengan permintaan itu. "Tunggu sebentar. Membuat langit cerah bukanlah ke ahlianku. Mana mungkin aku bisa melakukan itu?" Tanya Daeva.


"Kalau kau sudah tau, bukankah artinya aku tidak membutuhkanmu?" Jawab Bram dengan lirih agar tidak di dengar oleh Arthur.


Bibir Daeva berdenyut. Dia mulai kesal dengan orang-orang yang dia temui.


"Hah! Ini dia, sifat asli Aosora yang tidak diketahui oleh orang diluar sana. Ya~ mau bagaimana lagi. Memang dari awal, aku tidak berniat membantumu" Daeva pergi dari tempat Bram.


"Tuan, apa kau bisa membantuku?" Daeva melupakan sesuatu yang lebih dekat dari Archie kepada Tsuha. Dan ini dia orangnya.


"Oh, pacarnya Tsuha. Kenapa kau tidak meminta bantuan pacarmu saja?" Tanya Daeva sambil mengikuti Angel yang menarik lengannya.


Angel terkekeh sambil membelakangkan rambutnya yang ke depan karena angin. "Tsuha tidak enak badan. Jadi, aku tidak bisa menganggunya" Ucap Angel sambil menarik potongan kayu untuk tempat duduk Daeva.


Daeva duduk disana dan melihat botol obat-obatan yang berada di sekitarnya.


"Obat apa yang kau buat?" Tanya Daeva sambil memegang botol kecil yang sudah berisikan cairan biru di dalamnya.


"Aku membuat tiga jenis obat. Untuk yang carian biru itu adalah obat penguat mana. Tujuannya agar bisa bertahan meski telah menggunakan mana dalam jumlah yang besar. Kemudian, yang hijau ini adalah ramuan pemati rasa" Angel memberikan botol berisi ramuan hijau itu kepada Daeva.


Daeva melihat carian di dalamnya yang gemerlap.


"Itu untuk menghilangkan rasa sakit selama 6 jam setelah 3 menit ramuan itu di minum" Lanjut jelas Angel.


"Bukankah ini obat yang berbahaya? Bagaimana kalau mereka mati karena tidak sadar luka mereka terlalu dalam hingga kehilangan banyak darah?" Tanya Daeva sambil membuka dan mengendus ramuan itu.


Aroma ramuan itu sangat pekat dan sedikit tercium manis di hidung Daeva.


"Nah benar sekali. Oleh karena itu, aku membuat ramuan ini" Angel memberikan botol berisi ramuan yang bening kepada Daeva. "Ini adalah ramuan yang bisa menutup luka sedalam apapun. Kekurangannya hanya ada pada waktu penutupan luka. Semakin dalam lukanya, maka semakin lama proses penutupannya dan kekurangan lainnya, ramuan ini akan menggunakan mana penggunaannya lebih banyak untuk proses penyembuhan. Jadi, ketiga obat ini akan saling berkaitan" Jawab Angel dengan nada yang antusias.


Mata Daeva terbelalak karena untuk pertama kalinya dia menemukan Malaikat secerdas Angel. "Sial, kau cerdas sekali Darimana kau mendapatkan ide ini?" Tanpa sadar, Daeva mengusap kepala Angel sebagai bentuk apresiasinya. Dan itu, dilihat oleh Tsuha.


Jantung Tsuha berdengup dengan kencang. Dia merasa tak senang dan mendatangi Angel yang membuat ramuan itu sendirian bersama Daeva.


Tsuha langsung duduk di sebelah Angel. "Kak, apa kau tidak lelah? Biar aku membantumu" Tsuha langsung mengambil botol di dekatnya dan membersihkan botol itu dengan kain.


Angel langsung menoleh kearah Tsuha. "Eh? Kau tidak enak badan. Mending istirahat saja" Jawab Angel sambil mengambil kain di tangan Tsuha.


Daeva tersenyum tipis disana. "Haha, kalau aku tak bisa mendekatimu secara langsung, masih ada pacarmu yang bisa ku dekati" Batin Daeva yang merasa kegirangan.


"Ya, kalau sakit mending bobo nyaman aja di kamar~ Kau harus dalam keadaan prima saat perang itu tiba~" Ucap Daeva sambil mengitip Tsuha yang menoleh kesal ke arahnya.


Kening Tsuha berkenyit. Kemudian, dia tersenyum saat melihat Angel. "Kak bisa kau sentuh keningku? Kurasa demamku sudah turun dan aku sudah bisa membantumu" Ucap Tsuha sambil memegang tangan Angel kemudian meletakkan punggung tangan Angel pada keningnya.


"Iya, sudah turun. Baiklah, mohon bantuanmu, tapi jangan terlalu lelah" Jawab Angel.


Tsuha menyeringai tipis kepada Daeva di belakang Angel.


Kedua alis Daeva terangkat ke atas. Daeva terlihat terseringai lebar. Dia merasakan kalau Tsuha merasa tersaingkan padanya.


"Sialan, apa menurutnya aku tidak bisa melakukan hal yang lebih dari ini?"


Dan setelah kejadian itu, Tsuha dan Daeva hampir bertemu setiap saat. Hingga terdapat sebuah kejadian yang membuat hubungan Tsuha dan Angel sedikit rengang di pagi sehari sebelum perang itu terjadi.