
Ini adalah awal dari kembalinya para Titisan.
Pintu masuk Istana, dibuka lebar oleh para prajurit saat Mizel akan menuju pintu keluar untuk menyapa Ayah dan kakaknya.
Ambareesh berdiri disebelah Liebe sambil menyikutnya.
"Buka lubang teleport menuju perbatasan barat laut Akaiakuma yang langsung mengarah ke Nekoma" Lirih Ambareesh pada Liebe.
"Huh?" Liebe berlagak tidak paham.
Luxe mendengar lirihan itu. "Serahkan saja padaku" Lirih Luxe sambil mengangkat perlahan tangan kanannya.
Ambareesh terlihat mengkernyitkan keningnya. "Memangnya, kau pernah melewati perbatasan Akaiakuma?" Tanya Ambareesh.
Luxe terseringai tipis. "Aku tidak perlu datang ke tempat lain untuk bisa berpindah tempat. Teleportasi adalah bakatku. Tuk!" Luxe menghentakkan ujung kaki kirinya. Dari ujung kakinya, muncul lubang hitam kecil untuk berpindah.
Tsuha hanya memperhatikan mereka.
"Aku tunggu aba-abamu. Dan Tsuha, tutup matamu. Kau, tidak suka melihat darahkan?" Tanya Luxe sambil menyeringai tipis pada Tsuha.
Mimik itu mirip dengan mimik Nao. Ini membuat Tsuha melihat Luxe seperti melihat Nao.
"TSK! Jangan memerintahku" Ucap Tsuha sambil membuang pandangannya.
Pandangan Ambareesh kembali ke arah Ha nashi dan Arnold.
Val adalah satu-satunya orang yang waras dalam kelompok itu. Dia mulai kebingungan dengan kode-kode yang diberikan oleh Ambareesh.
Val mulai mengarahkan padangannya pada Zack.
"Santai saja. Tak perlu ada yang kau khawatirkan. Jaga Tsuha yang ada di depanmu. Dia memiliki trauma yang tidak bisa sembuh dengan mudah" Ucap Zack sambil tersenyum padanya.
Razel mengangguk sambil mengintip Val. "Tutup telinga dia. Jangan biarkan dia mendengar dan melihat apa yang akan terjadi" Lirih Razel.
Val tau itu.
"JGRAAAGH!" Pintu istana terbuka dengan lebar.
Mizel muncul jauh di belakang Ha nashi. Ambareesh menarik napasnya dalam-dalam.
Arnold membelalakan matanya saat melihat putranya memiliki rambut putih dan tubuh yang kurus. Tanda seperti kuncup tanaman benalu telah sampai di pergelangan tangan Mizel dan mata kanan Mizel.
Melihatnya, Arnold menjadi pilu.
Namun, Arnold tidak bisa melupakan dengan mudah bagaimana cara ke dua putranya yang bekerja sama dengan Aosora Alex untuk mengalahkannya dan memberikan Hinoken itu dengan mudah kepada Aosora.
Arnold kecewa padanya.
Ambareesh melepaskan sihir yang mengikat pergelangan tangan dan leher Anggota Pemberantas Iblis kecuali Archie dan dirinya.
Ambareesh melihat perubahan dari wajah Arnold.
"Apa kau kecewa padanya?"
Ambareesh bertanya seolah dirinya mengejek Arnold.
Arnold mengeleng pada Ambareesh. "Untuk apa kecewa? Tak lama lagi dia akan mati" Arnold hanya asal berbicara kepada Ambareesh.
"Benarkah?" Ambareesh kembali menyeringai sambil menanyakannya.
Arnold tidak memiliki kecurigaan apapun terhadap kehadiran Ambareesh. Harusnya, dia tau mengapa Ambareesh mau mengikuti rencana Archie dan dirinya menuju Akaiakuma. Dan harusnya, Arnold tidak melupakan tujuan Ambareesh pada zaman itu terhadap Akaiakuma.
Kau terlalu menyepelehkan Ambareesh, De luce Arnold. Harusnya, dia adalah sosok yang kau waspadai.
Arnold melangkahkan kakinya mendekati Mizel dan Ha nashi. Di saat yang bersamaan, setelah Arnold dua langkah di depannya, Ambareesh menunjukkan kedua jari kanannya (Telunjuk dan jari tengahnya) ke arah Mizel.
Luxe melihat ke arah Ha nashi. Ha nashi, mengangguk dari kejauhan. Luxe memutar ujung kakinya yang terdapat lubang teleport kecil disana dan "BWEEESSSSH!" Lubang teleport itu, melebar di sekitarnya.
Pada saat Ha nashi rmnganggukkan kepalanya perlahan, Tsuha melihat cahaya biru terang keluar dari sela kedua ujung jari kanan Ambareesh yang dia tunjukkan ke arah Mizel.
Hawa Ambareesh memang begitu samar. Seharusnya, Ambareesh juga tidak meremehkan Arnold.
Arnold membuka dinding sihir di hadapannya dan langsung memblok serangan Ambareesh. Sayangnya, dinding sihir seorang De luce tidak akan mampu menahan daya serang seorang Titisan.
"PATSH!!! BWOSH!!!!"
Sihir Ambareesh berbelok saat terkena dinding sihir Arnold yang pecah karena tidak sanggup menahan daya serang Ambareesh. Kemudian, cahaya biru itu berbalik arah menuju mereka.
Ambareesh membelalakan matanya. Luxe menutup lubang teleport di bawah kakinya dan membuka lubang teleport besar di hadapan mereka.
Hidung Luxe mengeluarkan darah saat tangan kanannya membuka sihir teleport itu kemudian tangan kirinya dia arahkan ke atas, menuju dinding sihir tebal yang melindungi langit Akaiakuma.
"BAAAMMMM!!!"
Ledakan besar terjadi. Seketika, sebagian wilayah Akaiakuma merasakan getaran besar karena daya serangan Ambareesh yang dua kali lipat setelah melewati lubang teleport Luxe.
Karena ledakan itu, mereka tidak mampu menahan keseimbangan dan kaca-kaca Istana Akaiakuma pecah akibat hembusan keras angin ledakan itu.
Ambareesh melihat ke arah Luxe yang terjatuh dan darah bercucuran dari kedua lubang hidungnya.
Ambareesh sangat berhutang besar kepada Luxe.
Archie mengeluarkan pedang mana merahnya dan langsung menghunuskannya ke arah Ambareesh.
Ambareesh melangkahkan kakinya ke belakang selangkah. "CTAK!" Hentikan jari Ambareesh membuat Archie tidak bisa mengerakkan tubuhnya.
"Apa?"
Archie masih belum mengerti apabila tubuh yang digunakan oleh dirinya bukanlah tubuh asli miliknya. Melainkan sihir milik Ambareesh yang menyimpan replika tubuh Archie yang tersegel di dalam Hinokennya.
Dan satu-satunya yang mampu membebaskannya hanyalah keturunan asli Aosora Alex.
Ha nashi berpindah tempat munuju Ambareesh dan muncul dari udara kemudian menghunuskan pedang mana putihnya pada Ambareesh.
"TRANKKKK! BWOSH!" Pedang mana Ha nashi melenyap saat menyentuh Hinoken.
Sebab, Hinoken memiliki sifat menyedot energi lawan dan itulah yang membuat pedang mana Ha nashi melenyap.
"BRUKKK!" Luxe adalah satu-satunya orang yang mampu membawa anggota pemberantas Iblis yang lain melarikan diri, nyatanya Luxe tidak sadarkan diri akibat efek menerima serangan Ambareesh secara mentah dan memindahkannya begitu saja.
Angel berdiri dan menarik jubah Liebe hingga Liebe hampir terjatuh. "GENDONG DIA KE TEMPAT YANG AMAN!" Tegas Angel pada Liebe.
Angel, Razel, dan Zack berlari bersamaan menuju Arnold. Saat Para Prajurit Iblis mulai berlarian ke arah mereka.
"TSUHA! VAL! Urus Prajurit Iblis yang lain!!!" Tegas Razel.
Tsuha dan Val saling melihat.
"Apa yang terjadi?" Tanya Tsuha sambil melindungi punggung Ambareesh.
"Aku sendiri tidak tau! TRANKKKK!!!" Tegas Val sambil menangkis serangan Iblis lain.
Liebe berteleport menuju pohon yang tinggi disana. Dia melihat kekacauan yang terjadi tanpa rencana yang didiskusikan itu. Razel, Zack, dan Angel bertindak secara naluria.
"BKKUKH!!" Luxe membuka matanya dan langsung terbatuk darah.
Darah Luxe muncrat tepat pada dada kiri Liebe. Liebe segera meletakkan Luxe agar dalam posisi duduk.
"Hei! Kau baik-baik saja?!" Liebe risau melihat kondisi Luxe.
Luxe mengusap darahnya dengan jubah yang dia kenakan. "Aku tidak biasa memindahkan sihir Alfarellza dengan kapasitas tubuh ini" Ucap Luxe yang masih mimisan.
Mendengarnya, Liebe tiba-tiba membelalakan matanya dan menoleh ke arah Luxe.
"Apa maksud dari ucapanmu? Dan siapa Alfarellza itu?" Tanya Liebe dengan mata yang terbelalak.