
Bianca berlari ke arah Ambareesh. "GREP!" Bianca memeluk Ambareesh dengan erat. Rambut putihnya berubah menjadi hitam saat dia memeluk Ambareesh.
"Sialan! Kenapa kau membuatku menunggu begitu lama!" Ucap Bianca dengan nada suaranya yang menurun dan bergetar.
Ambareesh memeluk Bianca balik.
"Kau harus memaafkanku karena sudah membuatku terluka dan tidak bisa bergerak" Ucap Ambareesh sambil meletakkan dagunya di atas kepala Bianca.
...----------------●●●----------------...
Bianca melepas pelukannya dan mendorong dada Ambareesh.
"HA! MAAF! Apa lukamu parah?" Bianca langsung membuka jubah Ambareesh dan menarik ke atas kemeja putih Ambareesh yang berlubang dan penuh dengan darah.
Bianca melihat perut Ambareesh, tidak terluka sedikitpun. Kemudian, dia melihat Ambareesh yang kini mengosok tengkuknya. "Kau tidak terluka sedikitpun. DAGH!" Ucap Bianca dengan nada ketus sambil meninju perut Ambareesh dengan keras.
"Ugh" Ambareesh mengusap perutnya yang menyisakan rasa nyeri.
Bianca, melihat anak-anak itu yang saling memeluk karena syok. "Bagaimana dengan mereka?" Tanya Bianca.
Ambareesh melihat anak-anak itu. "Berapa jumlah mereka? Dan nomor berapa objek terakhir?" Tanya balik Ambareesh.
"Total mereka tinggal 31 orang dengan angka objek terakhir 688" Jawab Bianca sambil mendatangi mereka.
"31? Apa sisanya banyak yang mati? Atau melarikan diri?" Batin Ambareesh sambil mengikuti Bianca.
"Kalian semua tenanglah. Dia bukan orang jahat. Nama dia, Ambareesh. Kalian bisa memanggilnya kakak. Dia juga sama-sama objek seperti kalian. Dia objek 227" Bianca memperkenalkan Ambareesh pada anak-anak itu untuk mengurangi ketakutan mereka.
Bianca juga, menyikut perut Ambareesh untuk menunjukkan nomor objek yang tercap di lengan kirinya.
Ambareesh mengikuti semua ucapan Bianca. Dia menunjukkan cap itu pada mereka. Anak-anak itu membelalakan matanya kemudian berlari dan memeluk Ambareesh.
"TERIMA KASIH KAKAK!"
Ambareesh mengangkat lengannya sambil melihat Bianca.
Ambareesh tidak menyangka bila dia harus berurusan dengan 31 objek yang ada disana.
"Kak, kita akan tinggal dimana?" Salah seorang objek yang memiliki tubuh lebih kecil dari yang lainnya, bertanya pada Bianca.
Bianca melihat ke arah Ambareesh.
"A.... Aku.." Ambareesh tidak tau harus menjawab apa. Dia berusaha melepaskan pelukan anak-anak itu.
Kemudian, seorang penjaga mendatangi Ambareesh.
"Aku. . . . Aku tau tempat persembunyian yang aman dari Kerajaan" Ucap penjaga itu.
Ambareesh tidak bisa langsung mempercayainya.
"Kalau kau berbohong, aku akan melepas kepalamu itu" Ambareesh mengancamnya.
"Percaya padaku. Aku tau tempat yang aman. Sebagai bayarannya, kalian harus melindungiku dan memberiku tempat tinggal" Jawabnya.
Penjaga itu tidak berbohong. Dia berkata yang sebenarnya. Penjaga itu, membuka lubang sihir teleportnya dan Ambareesh masuk duluan untuk memastikannya.
Ternyata, tempat yang dimaksud oleh Iblis itu adalah Shinrin bagian Selatan. Daerah tersebut, memiliki banyak sekali gua bawah tanah yang kosong dan beberapa dihuni oleh hewan sihir yang dimitoskan warga sekitar.
Ambareesh setuju untuk menjadikan tempat itu sebagai tempat tinggal mereka. Sebelum itu, Ambareesh masuk terlebih dahulu untuk mengosongkan tempat tersebut dan memastikan ke amanannya.
Ambareesh masuk seorang diri kedalam gua itu. Cahaya dari sihir Ambareesh mulai diaktifkan sebagai penerangannya sepanjang 15 dengan lebar bibir gua sekitar 2M dengan tinggi pintu bibir 4.5M namun, setelah jarak 8M masuk kedalam, gua itu memiliki lebar sekitar 12M dengan tinggi sekitar 7M ke langit-langit.
Ambareesh menutup matanya dan berusaha merasakan energi sihir dari keberadaan hewan sihir yang mungkin tinggal disana.
"Tempat ini aman, tapi disini telingaku terasa sakit karena terlalu sunyi dan tekanan udaranya" Ambareesh kembali ke tempat Bianca yang sedang menunggunya bersama anak-anak yang lainnya.
"Bianca, untuk mengambil amannya, buat gua itu terlapisi dengan esmu dan buat gua ini sulit ditemukan ah, maksudku sulit untuk terlihat oleh mata telanjang dengan sihir ilusimu. Aku akan mengunakan sihir pelindungan untuk menghindari orang yang berniat buruk" Ucap Ambareesh sambil menyentuh bibir goa itu.
Cahaya biru keluar dari telapak tangan Ambareesh kemudian, "PATSH!" Cahaya itu, melapisi tanah diatas gua itu.
Penjaga yang merekomendasikan tempat itu, terbelalak tidak percaya karena dia baru pertama kali ini melihat orang yang memiliki kapasitas sihir dan mengeluarkan sihir sebanyak itu.
Kemudian, Bianca mengaktifkan sihir ilusinya sepanjang sihir Ambareesh. Tidak heran bila Bianca bisa mengeluarkan sihir sebesar itu. Dia adalah keturunan Kerajaan.
Bianca juga, mengeluarkan sihir es nya untuk melapisi bagian dalam gua itu.
Untuk sementara waktu, Ambareesh menggunakan sihir api miliknya sebagai penerangan disana.
Ambareesh cukup takjub dengan sihir yang dikeluarkan oleh Bianca. Pasalnya, es milik Bianca tidak terasa dingin sedikitpun. Rasanya hangat dan membuatnya terasa nyaman.
DEGH!
Ambareesh merasakan sesuatu yang aneh dengan dadanya. Rasa itu, membuat Ambareesh menjadi geli.
Lagi-lagi dia mengiosok tengkuknya.
"Aku harus kembali ke teman-temanku" Ucap Ambareesh sambil melipat lengannya di depan dada.
"Kenapa terburu-buru? Aku ingin ikut denganmu" Bianca langsung melihat Ambareesh.
Ambareesh menyipitkan matanya dan melihat ke arah lain.
"Tidak. Kalau kau ikut bagaimana dengan anak-anak itu?" Tanya Ambareesh.
"Aku akan menjaga mereka. Kita juga butuh makan. Kalian harus membelinya di kota. Untuk sementara waktu, aku akan mengajari mereka berburu" Penjaga itu menyela. Dia mengulurkan sekantong koin perak miliknya pada Bianca.
Bianca mengangkat kedua alisnya dan dia langsung menepuk lengan penjaga muda itu.
"Ternyata! Kau lebih baik dari yang ku kira! Aku akan menerima uang ini. Tapi, jangan suruh mereka untuk berburu" Ucap Bianca sambil meringis dan menunjuk penjaga muda itu
Wajah penjaga muda itu, tampak memerah.
Ambareesh sedikit kaget melihatnya. Kemudian, dia langsung mengambil kantong berisi koin perak itu dari tangannya.
"Aku akan membawanya. Lagipula, uang segini tidak akan cukup untuk makanan kalian selama sebulan. Tapi, tak apa. Aku akan menambahkannya" Ambareesh memasukkan kantung itu pada saku celananya.
Penjaga muda itu, terlihat sedikit membelalakan matanya kemudian, dia mengosok tengkuknya.
"Haha, yang penting aku sudah memberikan uang itu. Kembalilah dengan selamat dan cepat" Ucap penjaga muda itu.
"Oh, baik. Jaga mereka baik-baik ya. Jangan berbuat aneh-aneh karena sihir Ambareesh akan membunuhmu dengan cepat" Ingat Bianca sambil melihat Ambareesh yang sudah pergi duluan.
"Eh! BAREESH! Tunggu Aku!" Teriak Bianca sambil setengah lari.
Ambareesh memijat keningnya. "Sialan! Aku tadi ngapain? Memalukan" Dia tidak sadar akan perasaannya.
Bianca menyamakan jalan Ambareesh yang cepat. Ambareesh melihat Bianca di sebelahnya yang lebih rendah dari bahunya. Bianca menujukkan senyuman meringisnya.
"Jangan tinggalkan aku. Aku tidak tau jalan" Ucap Bianca sambil menepuk punggung Ambareesh.
Ambareesh mengurangi kecepatan jalannya. Dia melihat Bianca yang berambut hitam dan melihat cara berjalan Bianca yang masih sama seperti dulu.
Ambareesh tersenyum tipis. Namun, senyuman itu menghilang saat dia sadar bila bibirnya tiba-tiba tersenyum dengan sendirinya. Ambareesh menutup bibirnya dengan tangan kirinya dan dia segera mengalihkan padangannya saat Bianca melihat ke arahnya.
Bianca sadar bila Ambareesh selalu memalingkan wajanhnya.
Namun, untuk saat ini dari pada mengalihkan pandangan biasa. Ambareesh lebih terlihat menjaga jaraknya.
Bianca memotong jalan Ambaressh. Karena Ambareesh tidak melihatnya, hidung Bianca terhantam dada Ambaressh dengan keras.
Ambareesh berhenti dan langsung berhenti sangking terkejutnya.
"Ah, apa kau baik-baik saja?" Tanya Ambareesh sambil melihat Bianca yang sedang memegang hidung dan keningnya.
"Kenapa tubuhmu sekeras batu?" Tanya Bianca.
Ambareesh tidak bisa mengontrol ekspresi wajahnya. Dia sangat senang. Ambareesh membungkukkan tubuhnya perlahan di depan Bianca hingga wajah mereka dekat.
"Aku sangat ingin memelukmu sekali lagi" Ucapnya.