
Saat ini, Tsuha tengah dihibur oleh Archie sejak kedatangan Ambareesh ke Istana Bianca.
Tsuha tidak bercerita apabila Ayahnya ternyata masih hidup. Dia hanya mengatakan sesuatu yang sangat sekali sulit diterima oleh akal sehatnya dan dia bisa kesulitan untuk menjelaskannya kepada Tsuki.
Archie tidak paham dengan pasti tentang cerita Tsuha karena dia cukup tertutup untuk saat ini.
"Kau sudah aman. Tidurlah, aku akan menjagamu" Hanya itu yang mampu Archie ucapkan kepada Tsuha.
Tsuha tidak bisa tidur. Satu persatu fakta mulai bermunculan dihadapannya sejak adanya Ambareesh.
"TOCK! TOCK!"
Suara ketukan pintu terdengar dari luar.
"Pacarmu" Archie merasakan aura Angel dari balik pintu itu.
"Aku tidak ingin menemuinya. Katakan saja, aku sudah tidur" Tsuha menarik selimutnya dan menutupi semua tubuh hingga kepalanya dengan selimut itu.
"Baiklah" Archie memakluminya.
Biasanya, Archie sangat anti untuk diperintah ataupun dimintai bantuan. Dia membuka pintu kamar tersebut dengan perlahan.
"Dimana Tsuha? Aku belum sempat melihatnya seharian" Angel mengintip Tsuha yang full selimut disana.
"Dia baru saja tidur. Apa ada yang mau kau katakan?" Tanya Archie sambil membuka setengah pintu itu.
"Aku ingin melihatnya. Apa dia baik-baik saja?" Angel masuk ke kamar tersebut.
Razel baru keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan bawahnya saja. Dia melihat Archie yang tengah berbicara dengan Angel tentang kondisi Tsuha.
"Biarkan dia istirahat. Besok dia pasti agak enakan" Razel mengambil pakaiannya di kursi sebelah Angel berdiri.
Angel melihat punggung Razel dan di bawah tulang rusuk kirinya terdapat tanda lahir disana menyerupai sisik berwarna hitam.
"Ya, aku hanya ingin melihatnya saja. Aku khawatir seharian karena tidak bisa melihatnya sedikitpun" Angel mendatangi Tsuha dan selimut yang menutupi kepala Tsuha.
Razel mengenakan kaos hitam panjangnya sambil melihat ke arah Angel.
"Tidak perlu kau khawatirkan. Tsuha pasti akan baik-baik saja selama ada kami disini. Apa kau dan Shera sudah makan?" Razel selalu perhatian dengan semua anggotanya.
"Sudah. Tapi wakil, bisakah kita mengobrol di kamar perempuan sebentar saja?" Tanya Angel sambil melipat kedua lengannya di depan dada.
"Baik, tunggu sebentar. Kau keluarlah dulu" Razel merapikan celana panjang yang akan dia kenakan.
"Oh ya, Archie.... Kau harus ikut juga" Angel keluar setelahnya.
Archie melihat Angel yang seolah tak ada satupun yang dia takuti. "Padahal dia masuk di kamar laki-laki. Kenapa bisa sesantai itu?" Tanya lirih Archie sambil melihat Razel yang mengenakan celananya.
"Oh, itu karena Angel sudah terbiasa berada di sekitar laki-laki. Meski begitu, dia cukup kuat untuk mengulur waktu saat melawan Iblis setingkatmu" Jelas Razel sambil melepas handuknya dan menyisir rambutnya.
"Ah, benar juga. Dia mantan Kapten Penyidik Aosorakan..." Batin Archie sambil mengangguk ringan.
Razel langsung pergi menuju kamar Angel dan Shera yang berada di sebelah kamar mereka.
"Tsuha, aku tinggal dulu. Kau tidak takut sendiriankan?" Tanya Archie.
Tsuha mengangkat tangan kanannya dan ibu jarinya.
Angel menyuruh Razel dan Archie masuk tanpa basa-basi.
Disana ternyata sudah ada Zack dan Val yang duduk di lantai beralaskan tikar dengan beberapa botol alkohol disana.
Razel tersenyum tipis.
"Kalian mau minum-minum disini? Val akan bahaya kalau kau mabuk" Razel mengingatkan Val karena kebiasaan buruk Val saat mabuk.
Zack terkekeh.
"Wakil, kita tenangkan pikiran dulu ya~" Ucap Zack sambil menyiapkan beberapa permainan di depannya.
"Bagaimana dengan Ambareesh?" Razel melihat ke arah Angel.
"Dia sedang sibuk saat ini. Jadi wakil, sebenarnya aku ingin mengobrol tentang sesuatu" Angel menarik lengan Razel untuk duduk agak jauh dari mereka berempat.
"Baiklah, apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Razel.
"Wakil, ini sebenarnya tentang Tsuha. Memang tidak ada seseorang pun yang menyadarinya. Kau tau Elf hijau laki-laki itu?" Tanya Angel dengan sedikit berbisik kepada Razel.
"Dia adalah Ayahnya Tsuha yang dikabarkan tewas saat insiden penyerangan Iblis dan Serigala Sihir enam atau tujuh tahun yang lalu" Lirih Angel kepada Razel.
Sejujurnya, Razel terkejut mendengarnya.
"Aku tidak sengaja menggunakan kemampuanku untuk mengetes dna Tsuha dan Elf itu karena rasa penasaranku. Dan hasilnya keluar 98% dna cocok. Ya, sebenarnya ini tidaklah penting untuk ku bicarakan. Tapi, ini akan menyangkut diri Tsuha dan bisa memperburuk kondisinya. Aku mengkhawatirkan hal itu. Dia menghindariku beberapa waktu yang lalu saat aku memanggilnya" Jelas Angel.
Razel menepuk bahu Angel beberapa kali dan dilihat oleh Shera.
Razel mendekatkan mulutnya pada telinga Angel. "Kalau begitu, hibur dia besok. Dia pasti senang karena kau peduli dengannya. Jangan biarkan dia semakin menutup dirinya. Ya?" Razel berdiri dan melipat kedua lengannya.
Angel mengangguk senang karena Razel mendukungnya.
"Ngomong-ngomong, darimana kalian mendapatkan alkohol itu?" Tanya Razel sambil melihat ke arah mereka yang mulai mengatur tempat duduk.
"Dari Siluman rubah putih itu. Dia menyuruh kami bersenang-senang sejenak untuk meringankan pikiran. Dan juga, sebagai permintaan maafnya karena dia sadar telah melibatkan Pemberantas Iblis karena masalah pribadinya" Jelas Angel sambil mendatangi mereka untuk duduk.
"Ayo wakil! Kau duduk di sini!" Val memanggil Razel untuk duduk di sebelah Archie dan Angel. Sedangkan, Archie duduk di sebelah Val.
Mereka memulai permainan kartu.
"GREP!" Val memeluk Archie setelah dia kalah dalam 6 ronde permainan kartu. Val mabuk. Dia mengalungkan lengan Archie pada bahunya.
"Apa yang dia lakukan?" Tanya Archie sambil mendorong wajah Val yang merah padam.
"Dia sudah memilihmu~ Haha" Zack merasa bebas untuk pertama kalinya.
"Dia akan memelukmu semalaman. Tapi, tenang saja. Dia tidak akan macam-macam" Jelas Razel.
"Haha, ini alasanya kenapa Val tidak pernah di biarkan mabuk dan bersandingan dengan lawan jenis" Jawab Zack sambil menepuk-nepuk kepala Shera yang tidur di pahanya.
"Cih! Menyusahkan" Archie melepar Val ke arah Zack.
Dan Val terbangun kemudian melihat sekitarnya.
"Dimana Liebe?" Val yang mabuk, lupa dengan kematian Liebe.
Razel melambaikan tangannya kepada Val untuk datang kepadanya. "Liebe sudah tidur. Sini" Val akan sangat manja dan penurut saat dirinya mabuk.
Val tersenyum lebar kepada Razel. "Iblis kecil itu, suka sekali tidur sejak dulu. Grep!" Lirih Val sambil duduk disebelah Razel dan memeluk Razel dari belakang.
Val meletakkan dagunya pada bahu kanan Razel. Dan Razel, tidak merasa risih atau keberatan sedikit pun.
"Mau lanjut lagi?" Tanya Angel sambil menuangkan alkohol di gelas untuk Razel. "Kau harus minum juga Wakil. Kau belum minum segelaspun" Angel memaksa Razel.
"Berikan saja kepadaku" Zack meminta gelas itu.
Dari dulu, Zack memang tidak pernah melihat Razel meminum alkohol. Toleransi Razel terhadap alkohol lebih rendah dari siapapun.
"Tak apa. Bagaimanapun, aku harus mencobanya meski satu gelas" Razel tidak ingin merusak suasana berkumpul itu.
Archie hanya mendengarkan mereka. Dan dia tidak mabuk sedikitpun meski telah menghabiskan 3 botol sendirian.
"Kadarnya tinggi loh. Kalau tidak bisa, jangan dipaksakan" Jelas Archie kepada Razel.
Razel tetap meminumnya dengan sekali tegukkan.
Kerongkongan Razel seperti terbakar dia terbatuk beberapa kali dan kepala Razel langsung terasa berat.
Dia melihat ke arah Angel dengan matanya yang sayu.
"Dia langsung mabuk?" Tanya lirih Angel kepada Zack.
Razel mendorong dagu Val di bahu kanannya. Dia berdiri dan langsung keluar dari kamar itu.
Seisi ruangan tersebut, saling melihat. Di pikiran mereka bertanya hal yang sama. "Apa yang terjadi dengannya?" Zack berdiri dan mengikuti Razel.
Kini disana yang masih sadar hanyalah Archie dan Angel. Archie melihat Angel yang meminum lagi segelas.
"Apa kau bangsa Malaikat murni?" Archie bertanya karena bangsa Malaikat tidak mungkin mabuk meski meminum alkohol yang banyak.
"Begitulah. Kau mulai tertarik denganku?" Tanya Angel sambil mengangkat gelasnya.
Archie membuang pandangannya.
"Mimpi saja" Jawab Archie sambil menyeringai tipis pada Angel.