The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 1 [Kagum Atau Suka]



Dua jam setelah tenda istirahat milik Arvolt didirikan, Dia mulai memerintah Ambareesh dan teman-temannya untuk melakukan penyusuran untuk menolong jasad orang-orang yang bunuh diri di hutan ini.


Arvolt juga meminta salah satu dari Tera atau teman perempuan Tera untuk tetap berada di sekita Arvolt sebagai penjagaan.


Ambareesh menatap wajah Arvolt. "Dia memiliki niat buruk yang ketara" Batin Ambareesh yang membiarkan Teman Tera bernama Vera untuk menjaga Arvolt.


Kini Ambareesh, Luka, dan Tera melakukan penyusuran untuk mengumpulkan jasad.


Arvolt membuka jubahnya dan memberikannya kepada Vera untuk di angin-anginkan. "Siapa namamu?" Tanya Arvolt.


"Vera, Putra Mahkota" Jawab sopan Vera sambil menundukkan pandangannya.


"Mau melakukan hal menyenangkan denganku?" Tanya Arvolt sambil memberikan senyumannya pada Vera.


Vera sedikit terbelalak kemudian, "Maaf Putra Mahkota, saya tidak mengerti maksud Anda" Ucap Vera sambil membalik tubuhnya untuk mengangin-anginkan jubah Arvolt.


"Kau suka dengan Iblis Abnormal itu kan? Sudahlah, tinggalkan saja dia. Dia tidak menunjukkan rasa ketertarikan dia dengan apapun. Aku sendiri, tidak pernah melihat ekspresi senang dari wajahnya" Celoteh Arvolt.


Vera hanya mendengarkannya. "Aku memang suka dengannya. Aku sendiri, tidak berharap untuk mendapatkan rasa balasan darinya" Batin Vera sambil melihat ke depan.


...----------------●●●----------------...


Ambareesh merasa kurang nyaman saat membiarkan Vera berdua dengan Arvolt. Namun, Ambareesh keras pada dirinya sendiri. Dia membuat dirinya membuang rasa pedulinya kepada orang lain dan mengutamakan tujuan dia saat ini.


"Ambareesh, apa menjadi guru Pangeran ke-2 bayarannya besar?" Luka tiba-tiba membuka mulutnya saat Ambareesh sibuk menarik jasad yang terlilit di akar pohon.


Ambareesh berhenti sejenak dia melihat ke arah luka sambil mengusap keningnya yang berkeringat.


"Hanya sedikit lebih banyak dari gaji seorang Prajurit. Gajiku, diberikan per-aku mengajarnya. Jadi, bukan perbulan aku mendapatkannya" Jawab Ambareesh pada Luka.


"Wah, itu gaji yang cukup banyak karena kau tidak mengeluarkan uang makan ataupun sewa rumah. Akan kau apakan uang itu bila kau simpan?" Tanya Luka sambil membantu Ambareesh melepas lilitan jasad itu.


Ambareesh berpikir sejenak. "Aku ingin membangun sebuah pemerintahan yang terpisah dari pemerintahan Akaiakuma" Jawab Ambareesh dengan terus terang.


Luka dan Tera yang mendengarnya, mereka saling melihat. Kemudian, "PFFT! PUAHAHAHAHA!" Keduanya tertawa bersama.


"Menurut kalian, mustahil ya?" Tanya Ambareesh sambil mengeluarkan jasad itu dengan sihirnya.


Ambareesh tidak tau bila hutan itu dilapisi oleh anti sihir.


Tera dan Luka yang tertawa langsung terdiam karena melihat sinar biru sihir milik Ambareesh.


"Ya-ya-ya, puas-puasin ngejeknya. Nanti juga, kalian semua akan menikmatinya" Ucap Ambareesh sambil memindahkannya.


"Ambareesh, kau ini sebenarnya siapa?" Tanya Tera sambil membelalakan matanya.


Ambareesh menghela napas. "Kali ini apa lagi? Kalian berdua tidak akan bisa menipuku lagi" Ucap Ambareesh sambil lanjut mencari jasad yang lainnya.


Luka menahan jalan Ambareesh. "Ambareesh, keluarkan pedang manamu" Pinta Luka.


Ambareesh mengeluarkan pedang mananya.


"Memangnya ada apa? Kau mengajakku sparing disini? Kita bukan bocah lagi Luka" Ucap Ambareesh sambil menghilangkan pedang mananya.


Mata Luka dan Tera membelalak semakin lebar.


"Ambareesh, apa kau tidak tau apapun dengan hutan ini?" Tanya Tera.


"Tentu saja tau. Ini adalah hutan terlarang tempat orang-orang putus asa yang bunuh diri" Jawab Ambareesh.


"Bukan. Hutan ini dinamakan terlarang karena hutan ini adalah wilayah anti sihir" Jawab Luka.


Ambareesh membelalakan matanya kemudian dia tertawa. "Apanya yang anti sihir?! Hutan ini kaya akan mana seperti ini lucu sekali bila tidak ada orang yang bisa menggunakan sihirnya" Ucap Ambareesh sambil tertawa.


"Itu memang benar. Apa kau tidak melihat jasad-jasad ini banyak yang kehilangan anggota badannya karena diserang hewan buas? Kau melihat pakaian mereka yang berlambang sama dengan kita kan? Mereka semua ini, adalah prajurit Akaiakuma yang berusaha kabur. Tidak mungkin bila seorang prajurit tidak bisa bertarung. Kami sendiri, tidak mampu mengeluarkan sedikitpun sihir kami. Inilah, alasan kami dan Putra Mahkota membawa Pedang besi. Karena kami tidak bisa menggunakan sihir apapun disini" Jelas Luka.


Ambareesh tidak mempercayainya. Dia berjalan mendekat ke arah Luka yang berdiri di sebelah lubang jebakan untuk hewan sihir.


"Kenapa kau mendek-BWOSH! BRUK!" Ambareesh mendorong Luka ke arah lubang jebakan itu. Dan Luka langsung terperosok ke dalam.


Ambareesh merangkul bahu Tera. "Seperti yang kau katakan. Aku ingin membuktikannya sekali lagi" Ambareesh tersenyum kepada Tera sambil memegang kedua bahu Tera.


"Eh? Jangan macam-macam! Syuut!! HUAAAAH!!!!" Ambareesh mendorong tubuh mungil Tera. Tera langsung berteriak karena di dorong oleh Ambareesh.


Ambareesh hanya bercanda. Dia menahan tudung jubah Tera dengan tangan kanannya saat wajah Tera telah menghadap ke arah lubang jebakan itu.


Luka berancang menangkap adiknya karena dia tau Ambareesh hampir tidak pernah bercanda dengan mereka.


Kali ini, Luka mengagakan mulutnya saat melihat Ambareesh mengerjai Tera dan menarik tubuh Tera yang hampir terjatuh.


"UGH! TANDUK SATU SIALAN! KAU MEMBUATKU TAKUT!!! BAGH! BAGH!" Tera berteriak pada Ambareesh sambil memukul punggung Ambareesh sangking kesalnya.


Ambareesh tertawa sambil melindungi kepalanya dari pukulan Tera.


Luka tersenyum lega melihat Ambareesh mulai bertingkah santai kepadanya dan Tera.


Megi melihat Ambareesh yang sedang mengerjai Tera dan Luka. Dia merasa iri. "Kenapa aku tidak diajak?" Batin Megi yang baru datang sambil menarik dua jasad yang baru dia temukan dengan kain panjang.


"Hei! Kalian berdua! Tolong aku dulu! Apaan sih! Kenapa aku tidak di ajak untuk memukuli Iblis sombong itu!" Teriak Luka sambil mengulurkan kedua tangannya.


Tera dan Ambareesh menarik uluran tangan Luka. Kemudian, mereka semua melanjutkan pencarian mereka.


Hari semakin gelap. Mereka membawa 21 jasad yang telah mereka temukan.


De luce Arvolt mengajak Ambareesh untuk membuat Ambareesh lelah.


"Kalian berdua" Arvolt menunjuk Luka dan Megi. "Cari kayu bakar. Lalu Ambareesh, kubur semua jasad-jasad itu di area sekitar danau harapan. Kau hanya ku beri waktu 4 jam" Ucap Arvolt.


Dia memang berniat menyiksa Ambareesh.


"Ugh, sendiran? Kuat?" Mulut Luka asal bertanya. Tera menyikut perut Luka untuk tau sopan-santun.


"Maaf" Lirih Luka sambil membungkuk.


"Tentu. Akan saya jalankan" Ucap Ambareesh sambil mengangguk.


Vera mengangkat tangan kanannya. "Saya akan membantu Ambareesh disela memasak makanan untuk makan malam" Ucapnya.


Tera mengangguk. "Aku akan melakukannya sendiri. Vera, bantu saja Ambareesh" Ucap Tera sambil memberi dua ibu jarinya pada Vera.


Arvolt tidak memperdulikannya. "Terserah kalian saja. Intinya, empat jam harus selesai. Telat satu menit, kalian berdua harus mencari makan malam sendiri" Ucap Arvolt sambil masuk kembali ke tendanya.


Luka melihat Megi. "Meg, bantu Ambareesh. Aku akan mengumpulkan kayu keringnya sendiri" Ucap Luka sambil menepuk pudak Megi.


"Tidak perlu Luka. Vera saja sudah cukup. Kalian berdua, cari saja kayu keringnya. Hati-hati dengan ular" Ucap Ambareesh sambil menarik jasad-jasad itu yang telah ditata di atas kain.


Vera berjalan di sebelah Ambareesh sambil membawa obor untuk pencahayaan mereka.


Vera mulai mengikatkan tali batang pohon disana untuk obor mereka.


"Ambareesh, kau menggalinya dengan apa? Biar ku bantu" Ucap Vera sambil mendatangi Ambareesh.


"Tak apa. Duduklah saja" Jawab Ambareesh sambil mengarahkan tangannya ke arah tanah di depannya.


Vera memperhatikan tangan Ambareesh yang bercicin itu. "Sihir gravitasi 10% PRACK!" Lubang berdiameter 5 meter muncul di depan Ambareesh. Vera terkejut melihatnya.


"Kau bisa mengeluarkan sihir?" Tanya Vera yang sangat kaget.


Ambareesh tersenyum pada Vera. Dia menempelkan ujung jari telunjuknya pada bibirnya. "Ini rahasia" Ucap Ambareesh pada Vera.


DEGH!


Jantung Vera berdegup dengan kencang saat Ambareesh mengatakan rahasia padanya.


Vera tersenyum kecil. "Aku akan membantu menyelimuti kain pada mayatnya" Ucap Vera sambil mengambil setumpuk kain di sebelah jasad-jasad itu.