
...Bab 96...
...Berangkat Ke Kota Jakarta "**DOUBLE COUPLE DATE**"...
Keesokan harinya setelah mereka kembali rujuk, Rizal dan Tasia pergi menemui kakak tertua Sulastri, untuk membicarakan perihal rumah peninggalan kakeknya Tasia yang akan di jual. Karena Sulastri merasa sudah nyaman tetap tinggal berada di rumah itu, sebab banyaknya kenangan yang tersimpan disana. Makanya semenjak di usir dari sana, dia sangat berat sekali untuk meninggalkan rumah itu. Sehingga dia kepikiran dan mendadak sering sakit-sakitan.
Namun diam-diam Rizal ternyata sudah merencanakan akan mengembalikan rumah itu pada Tasia dan Ibunya karena dia juga tidak tega melihat mereka harus tinggal di kontrakan rumah yang sangat kumuh.
Setelah pembicaraan dengan Paman Tasia. Mereka akhirnya setuju untuk menjual rumah dan tanah itu pada Rizal atas nama Sulastri.
Tasia bahagia sekali dia mengecup sayang pipi suaminya dan tidak berhenti mengucap terimakasih kepadanya saat di dalam mobil perjalanan pulang ke rumah kontrakan Tasia. Setelah sampai rumah kontrakan, Tasia buru-buru memberikan surat sertifikat tanah dan rumah itu pada Sulastri.
"Bu..Ibu...ini..." teriaknya kegirangan, dengan menyodorkan surat sertifikat itu pada ibunya. Sulastri terbelalak kaget tak percaya melihat surat itu.
"Apa ini sayang?" sahutnya dengan mata yang membulat ke arah kertas di tangannya.
"Ini rumah peninggalan kakek bu..Rizal sudah membelinya..dan didalamnya sudah tertera nama Ibu.." jelas Tasia. Mata Sulastri sekilat jadi berkaca-kaca mendengarnya.
"Terimakasih banyak nak Rizal, entah bagaimana ibu harus membalas semua kebaikan dari nak Rizal.." ucapnya sambil menangis terharu setelah membaca sertifikat itu, yang akhirnya dia bisa kembali tinggal di rumahnya yang dulu.
"Sama-sama bu..ibu tak perlu memikirkan hal itu, sudah seharusnya Rizal membahagiakan Tasia dan juga Ibu.." terangnya, lalu dengan cepat Tasia mencium pipi dan memeluk ibunya hangat.
Rizal tersenyum terharu ikut merasakan kebahagiaan yang tengah dirasakan Ibu dan putrinya itu.
Tidak ketinggalan juga ada Irna disana. Rizal kembali memanggil Irna untuk memperkerjakannya sebagai pembantu rumah tangga tetap di rumahnya Tasia. Kali itu Rizal-lah yang akan membayar gajinya Irna setiap bulan. Bahkan gajih Irna akan ditambah dua kali lipat dari gajih sebelumnya.
"Terimakasih den Rizal...aaaahhh I Love You den...emang den paling is the best dehhh!!!" riangnya melonjak-lonjak gembira sambil memegang lengan Rizal.
"Hush!" dengan cepat Tasia menepis tangan Irna karena kecentilan di depan Rizal. Sambil di pelototinya tajam mata Irna.
"Bisa kan gak perlu pegang-pegang tangannya segala!" ketusnya judes. Langsung mendorong Rizal menjauhi Irna.
"Bercanda aku mbak...becanda...iiikkkhh takutan amat sih, masa sama pembantu aje cemburu!" celetuknya.
"Hem..apa? sudah sana-sana..bantu ibu beresin baju tuh!" usirnya dengan nada ketus.
"Iiihh...nakutin banget sih kalau lagi cembekurr!" celetuknya lagi.
"Bodo amat!" judesnya.
Sulastri hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat pertengkaran mereka sedangkan Rizal hanya termehek-mehek kecil dibuatnya.
"Sudah-sudah...ayo Irna..sekarang bantu ibu ke kamar siapin koper" ajaknya, Sulastri dengan cepat menarik tangan Irna masuk ke dalam kamarnya.
Irna dari jauh membalas mencibir Tasia sambil jalan. Mereka saling menatap jengkel dari jauh. Sedangkan Rizal hanya cengengesan melihat Tasia yang emosian.
"Apa? kamu juga hanya bisanya senyum-senyum segala!" gerutunya melihat Rizal yang hanya terkekeh-kekeh saja.
"Habisnya kamu lucu sekali kalau sedang marah karena cemburu.." sahutnya.
Tasia menghembuskan nafasnya kasar.
"Kali ini...aku tak akan pernah membiarkanmu di sentuh wanita manapun..kamu mengerti!" tegasnya. Dikerungkan dahinya sambil di pelototinya suaminya itu.
"Uuuhhh...takut..sudah jangan marah nanti cantikmu jadi hilang.." serunya. Rizal langsung menyenggolkan bahunya ke samping bahu Tasia.
"Apa kamu masih marah karena waktu itu aku berdansa dengan Lia.." ujarnya tiba-tiba, yang membuat Tasia menekukkan wajah judesnya lagi karena kembali mengingat hal tidak menyenangkan itu baginya.
"Kalau kau sudah tahu! lalu kenapa pake nanya segala..kau tahu? saat itu sebenarnya, rasanya aku ingin sekali memukulmu kencang..seperti ini nih! nih..nih..!" Tasia lalu mendorong Rizal dan memukul-mukul kencang pundaknya
Buk buk buk
"Aaww..aww...hentikan Tasia hei.. pukulanmu itu sangat mengerikan sekali!" Rizal mencoba menghindari pukulan kuat dari Tasia membuat dia merintih kesakitan. Tapi Tasia tetap terus mengejarnya dan memukulnya sampai dirinya merasa puas.
"Biarin saja...biar kamu rasakan bagaimana sakitnya aku waktu itu tahu!! aku juga belum pernah merasakan berdansa begituu sama kamuuu!! menyebalkaaann...dasar kamu tidak punya hatttiiii..." teriaknya masih teramat jengkel.
Mendengar Tasia mengungkap itu Rizal dengan gesit cepat menahan tangan Tasia dan menariknya masuk ke dalam kamar. Lalu menutup pintu kamarnya cepat.
Di dalam kamar mereka saling menatap lama dengan kedua tangan Tasia yang masih di tahan Rizal erat.
"Apa kamu ingin merasakan berdansa denganku?" celotehnya tiba-tiba, dengan cepat Rizal merogoh ponselnya di saku celananya dan menyetel musik slow. Lalu di lemparnya ponsel itu ke kasur.
"Kamu mau ngapain?" tanya Tasia terkekeh kecil melihat kelakuan suaminya itu. Setelah mendengar alunan musik indah dan romantis di telinganya dia jadi diam tak berkutik.
Tasia masih terheran melihat apa yang akan dilakukan suaminya itu terhadapnya. Rizal menatap mata istrinya lekat dan mulai mendekatinya perlahan sambil memegang pinggangnya dan di tariknya erat tubuh Tasia agar menempel ke bagian tubuh depannya Rizal.
Tasia tersentak kaget sampai tertarik ke arah suaminya itu, sehingga wajah mereka pun saling berdekatan tanpa jarak.
Lalu Rizal mengangkat perlahan kedua tangan istrinya naik ke atas lehernya. Dan membiarkan Tasia merangkul bagian lehernya tersebut.
Setelah itu Rizal perlahan menarikan tubuhnya dan menyesuaikan dengan irama musik merdu itu lalu menempelkan bibirnya di telinga istrinya.
"Walaupun aku berdansa dengan wanita lain...tetapi di mata dan hatiku tetap hanya ada kamu seorang.." bisik Rizal pelan ke telinganya Tasia.
"Aku berjanji pada diriku sendiri dan kepadamu..hatiku tak akan pernah ke lain hati.." ucapnya lagi pelan dan dipandanginya kembali wajah istrinya itu lalu di belai pipinya dengan lembut.
Mendengar ungkapan Rizal saat itu membuat hatinya jadi terenyuh hingga matanya kembali berkaca-kaca. Dia tersenyum terharu dan di rangkulnya erat suaminya itu dalam dekapannya sambil kakinya berjinjit.
"Beneran janji yaa..tetap akan setia kepadaku.."lirih Tasia menangis tersedu-sedu.
"Iya...aku berjanji sampai kita tua nanti.. akan tetap setia kepadamu dan hanya akan menghabiskan waktu hidupku bersamamu, cuma kamu seorang saja...hingga maut yang akan memisahkan kita nanti.,." ungkapnya membuat hati Tasia semakin tersentuh mendengarnya lagi.
Tak lama mereka kembali saling memandang lalu bercumbuan mesra.
#
#
#
#
#
Sudah satu bulan lebih, kini usia kehamilan Tasia sudah menginjak 3 bulan. Perut Tasia sedikit terlihat membuncit. Mulai hari itu Rizal melarang istrinya bekerja lagi sebagai kurir makanan di restorant dan menyuruhnya untuk tetap di rumah demi menjaga kesehatan sang calon bayi mereka.
"Pokoknya...kamu tidak boleh sampai kecapean..kalau mau jalan-jalan keluar itu pun juga harus bersamaku..kamu mengerti!" sahut Rizal sambil mencubit hidung Tasia karena gemas. yang tiba-tiba saja dia mendadak bersikap posesif terhadap istrinya tersebut.
"Aawww sakit..." teriak Tasia sambil menahan tangan Rizal yang mencubitnya kencang.
"Mengerti tidakk? hem.." ujarnya lagi gemas.
Tasia mengerucutkan bibirnya jengkel kepadanya.
"Makanya nurut...ya sudah kalau begitu sekarang ayo kita pergi ke kamar!" ajak Rizal menarik lengan Tasia menuju kamarnya setelah makan malam itu lalu membaringkan istrinya di kasur, Rizal pun ikut berbaring di sampingnya dan menyelimuti tubuh istrinya dan dirinya.
Rizal membelai pipi Tasia dan mengecup keningnya agar istrinya itu cepat tertidur.
"Ayo..cepat tidur, karena besok pagi kita harus berangkat ke Jakarta.."
"He-em.." Tasia menganggukkan kepalanya dan memeluk tubuh Rizal erat lalu memenjamkan pelan matanya. Lalu mereka berdua tertidur pulas saling berpelukan.
#
#
#
#
#
Paginya mereka berdua akan pergi ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan Raffi dan Nadia yang di adakan esoknya. Namun kali itu mereka pergi tidak berduaan saja, Yogi dan Dian pun juga ikut, karena Dian harus mengantar pakaian pengantinnya Kak Raffi dan Nadia seperti biasa mereka berangkat naik pesawatnya Raffi.
Sementara Revan yang tidak bisa ikut karena tidak bisa meninggalkan kuliahnya yang sebentar lagi juga akan lulus, dan di percaya Rizal juga untuk menjaga Cafe mereka.
Saat di Bandara Tasia terkejut melihat ke arah Yogi dan Dian yang baru saja datang, mereka berdua berjalan sambil bergandengan tangan dan saling bercanda di jalan.
"Sayang..hei coba lihat itu?!" pekik Tasia mencubit kecil tangan Rizal di sampingnya sambil menggoyang-goyangkan tangan suaminya itu supaya Rizal melihat ke depannya.
"Ada apa?" Rizal lekas menolehkan kepalanya ke depan. Rizal pun ikut terkejut setelah melihatnya.
"Hai..maaf sudah menunggu lama.." seru Yogi pada Rizal dan Tasia yang sudah menunggu di lobi dari tadi pagi. Mereka berdua belum sadar menghampiri Rizal dan Tasia dengan tangan yang masih berpegangan erat.
"Ehm..hem.." Rizal mendehem kencang sambil melirik kedua tangan mereka." Tidak apa-apa.."sahutnya santai.
Dian buru-buru melepas pegangan tangannya Yogi, dia baru tersadar hingga tersipu malu dibuatnya
"H-hai Tasia..apakabarmu dan bagaimana dengan calon bayimu.." seru Dian berseri-seri lekas dia mendekati dan mengecup pipi kanan-kirinya Tasia sambil mengelus-ngelus perut Tasia pelan.
"Hai juga Dian..alhamdulillah kabarku dan janinku baik! kalau kamu?" membalas bertanya
"Syukurlah..?kabarku juga baik,." jawabnya.
Tasia dan Dian lalu berpelukan dan tertawa riang, lalu mereka berjalan duluan ke lapangan bandara. Sedangkan para pria menyusulnya dari belakang mereka.
Ehm!" Rizal mendehem lagi, sambil mendelikkan matanya ke arah Yogi lalu alisnya di angkat naik turun mencurigainya, Yogi cengengesan tidak jelas di lirik Rizal seperti itu sampai gigi-giginya terlihat jelas.
"Bagaimana apa kami terlihat cocok?! kau setuju kan kalau aku bersama dia?" celetuknya tiba-tiba sambil pura-pura menggaruk-garuk kepala belakangnya.
"Hem cocok sih..cocok, tapi...bagaimana ya..sepertinya aku sedikit khawatir.." cebiknya mendelikkan lagi matanya ke arah sobatnya itu.
Yogi refleks menepuk pundak Rizal kencang.
"Heeh kenapa kau masih saja tidak percaya kepadaku! dan kau selalu saja mempersulit hubunganku! Dulu kau merebut Tasia dariku sekarang kau melarang hubunganku dengannya..!" gerutu Yogi jengkel menghadapi sahabatnya sendiri.
Rizal hanya terkekeh-kekeh menanggapinya.
"Siapa yang mempersulit hubunganmu, kau saja yang sering main-main. Oke, oke aku setuju kau dengan sepupuku, asalkan untuk kali ini kau harus benar-benar serius menjalin hubungan dengannya!" sahutnya. "Tapi awas saja..kalau kau masih main-main, terpaksa hubungan persahabatan kita harus berakhir. begitu saja! kau mengerti!" ancam Rizal sambil mengetuk-ngetuk hidung Yogi dengan telunjuknya, yang sedikit mengkhawatirkan Yogi akan mempermainkan Dian juga seperti mantan-mantan pacarnya yang lain.
Yogi mengancungkan jempolnya ke Rizal.
"Oke siap...kali ini aku janji tidak akan main-main dan mengecewakan wanita lagi!" serunya sambil menggelayut tangannya ke leher Rizal.
Lalu mereka tertawa bersamaan dan menyusul kekasih-kekasih mereka di depannya yang akan menaiki pesawat.
Ketika di dalam pesawat. Setelah lepas landas kedua pasangan itu saling bercanda ria.
"Kalian kenapa sih ketawa-ketiwi terus? berisik tahu?!" pekik Tasia terheran-heran yang dari tadi melihat Rizal dan Yogi mengobrol tak jelas memandangi ke arah mereka sambil cengengesan.
"Iya memang gak ada kerjaan sekali..." lanjut Dian sambil melempar bantal kepala miliknya ke dada Yogi.
Tasia dan Dian yang duduk bersampingan memang sedang asyik serius mengobrol tentang masalah kehamilan. Jadi terganggu dengan dua pria yang duduk di samping kiri mereka.
"Wanita tak perlu tahu nanti jadi penasaran!" celoteh Yogi.
"Ya iyalah kalau gak di kasih tahu ya jadi penasaran gimana sih.."becik Dian sambil mencibir ke arah Yogi yang duduk di seberangnya, Yogi dengan cepat mencubit hidung Dian gemas.
"Aaaww...nyebelin sih.." gerutu Dian. Lalu dia membalas mencubit pinggang Yogi kencang Hingga Yogi ketawa merintih geli. Mereka saling bercanda layaknya anak kecil di depan Rizal dan Tasia.
"Hei hei...mending kalian berdua pindah kesana..yang masih pacaran duduk agak jauh-jauh dari pasangan yang sudah halal ya.." celetuk Rizal mengusir Yogi dan Dian segera pindah ke kursi depan karena terasa terganggu.
"Iya..beneran, mending kalian cepetan menikah tahu...nungguin apa lagi coba!" ujar Tasia ikut-ikutan Rizal menceramahi mereka.
"Waah pamer-pamer, sombong..karena sudah nikah yaah..." pekik Dian cekikikan. Langsung berdiri dari tempat duduknya di susul Yogi juga.
"Ya sudah, ayo kita pindah saja.." sahut Yogi sambil merangkul leher Dian dengan tangan kirinya. "Sebenarnya mereka hanya iri saja sama kita, karena masa-masa pacaran mereka sudah lewat..terus mereka sebentar lagi akan disibukkan dengan bayi..nanti ga bakal ada kesempatan lagi buat berduaan kayak kita..." ledek Yogi pada pasangan suami istri itu diiringi tawa yang menggelegak.
"Yoii betul tuhh.." Dian pun juga ikut terkekeh-kekeh menertawakan mereka.
Lalu mereka berdua berjalan dan pindah duduk di depan.
"Huuuh dasar pasangan stress..!" acuh Tasia mencibir kedua pasangan itu. Rizal pun ikut terkekeh dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu dia pindah duduknya dan duduk mendekati Tasia. Dia pun merangkul pundak istrinya dan berkata.
"Sebelum bayi kita lahir...kita mending nikmati dulu sepuasnya masa pacaran lagi? bagaimana?" celotehnya sambil mengedip-ngedipkan matanya ke istrinya itu.
"Apaan sih...ini juga...jadi ketularan ikut-ikutan pacaran.." becik Tasia sambil menekan hidung Rizal.
"Tak apa kali biar tambah awet muda..." timpalnya. Sambil nyosor mencium paksa pipi Tasia gemas.
"Aaah Rizaaal...gelii..." pekiknya tertawa.
bersambung...
...***...
Tinggalkan like and komentnya ya...Insyaallah tinggal satu episode lagi...🙏😘😘😘
see you..👋👋👋