Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Cinta Tak Terbalas



...Bab 15...


...Cinta tak terbalas...


Menjelang malam kelabu itu, terdengar gemericik air hujan turun membasahi tanah. Tak deras juga tak kecil, suara hujan malam itu terdengar seperti alunan musik. Seakan-akan Tasia dibuatnya dalam buaian. Sehingga gadis itupun tertidur pulas di ranjang kamar ibunya, setelah mereka lama berbincang pada malam hari itu, dan mereka mulai menunjukkan keakraban Ibu dan anak.


Setelah sekian lama semenjak perceraian itu sikap Tasia kepada ibunya memang sedikit berbeda, dia jadi lebih pemurung dan tak banyak bicara.


Tapi hari itu setelah pernikahan kakaknya, untuk pertama kalinya Tasia memperlihatkan sikap manis dan manjanya terhadap ibunya sendiri.


Ibu Tasia menatap putri bungsunya sangat lama seraya membelai rambut panjangnya tersebut, lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal. Tak lama Ibu Tasia pun ikut tidur menyusul putrinya.


...***...


Esok paginya Tasia bersiap akan berangkat ke pasar biasa untuk menjual dagangannya.


Saat ingin membuka pintu depan, Tasia terkaget karena seseorang sudah ada berdiri di depan pintu rumahnya.


"Maaf kamu siapa?!"tanya Tasia, kepada seorang wanita berusia sekitar 35 an dengan membawa tas besar.


"Pagi mbak, apa benar, Ini kediaman rumahnya Bu Sulastri?" tanya nya balik.


"Iya betul itu nama ibu saya, lalu kamu siapa ya?" bertanya lagi. Lalu wanita itu menyodorkan tangannya hendak mengenalkan dirinya pada Tasia.


"Saya Irna, mbak. saya di suruh Bu Maya untuk jadi pembantu rumahtangga di rumahnya Bu Sulastri" ujarnya lagi menjelaskan.


"Hah kak Maya?" ungkap Tasia kaget.


"Ya sudah kamu masuk dulu. Nanti aku panggil ibu." mempersilahkan Irna masuk ke dalam rumahnya.


"Bu...ibu... ini ada tamu Bu, katanya suruhan kak Maya." panggil Tasia kencang. Ibunya yang mendengar itu di dapur langsung berjalan menuju depan dan bertanya.


"Siapa Tasia?" tanya ibunya menoleh ke arah ruang tamu.


"Halo Bu Sulastri selamat pagi. Saya Irna,." menyodorkan tangan kanannya dan bersalaman.


"Katanya dia suruhan kak Maya" sahut Tasia.


"Benarkah?" seru ibunya.


"Kak Maya sebelum berangkat ke Bogor memang sudah pesan sama Tasia Bu..dia sudah sewa pembantu buat ibu di rumah. Jadi selama Tasia pergi dagang ada yang nemenin ibu di rumah!" terang Tasia menjelaskan.


Ibunya sangat bahagia sekali dengan perhatian dari kedua putrinya tersebut dia merasa bagaikan seorang Ratu yang selalu dilayani setiap saat dengan baik oleh mereka.


"Ya sudah kalau begitu, Tasia berangkat ya Bu..Irna tolong bantu ibuku ya?!" pesan Tasia pada pembantu barunya yang bernama Irna itu.


"Siap mbak Tasia?!" jawab Irna tersenyum senang, seraya menganggukkan kepalanya.


Lalu Tasia berjalan menuju keluar rumah dan bergegas menuju pasar.


"Irna, ayo ikut ibu akan ku tunjukkan kamarmu" sahut ibunya Tasia.


"Iya Bu..."Irna lalu mengikuti ibu Tasia masuk ke dalam rumahnya.


...***...


Di kampusnya Rizal pagi itu, dia tengah sibuk untuk mengerjakan tugas akhirnya. Setiap hari dia rajin keluar masuk perpustakaan, mencari-cari sumber dari buku untuk ujian tesisnya yang tidak lama akan di laksanakannya.


Dia duduk di kursi perpustakaan, lalu mengambil laptop di tasnya dan mulai menyalakan monitornya.


Lia dan sahabatnya Rina, baru saja masuk ke dalam perpustakaan. Mereka juga tengah sibuk belajar untuk menghadapi ujian akhir semesternya sebentar lagi.


"Ssttt...hei Lia, sini!" tiba-tiba Rina memanggil-manggil pelan di balik rak buku.


Lia penasaran dan segera menghampiri sahabatnya tersebut.


"Ada apa sih?" sahut Lia.


"Lihatlah, bukankah itu pangeranmu?!" Rina menunjuk ke arah Rizal yang sedang duduk sendiri dengan ditemani laptopnya.


Lia melirik ke sebelah kanannya Rina, pandangan Lia langsung terfokus ke arahnya. Sesaat itu kedua bola mata hitamnya Lia berbinar terang seolah dia melihat cahaya bulan purnama.


"Ehmm..cepat samperin, kalau gak nanti banyak gadis-gadis kampus nyamperin dia duluan" bisik Rina yang tiba-tiba saja membangunkan khayalan Lia.


"Apaan sih?!" sahut Lia, tersipu malu. Lia pun perlahan berjalan hendak menghampiri Rizal yang tengah duduk sendirian.


"Apalagi?" bisik Lia kaget. Rina langsung melempar botol juice jeruk ke arah Lia.


Secara spontan segera ditangkapnya botol itu oleh Lia.


"Sana berikan itu padanya! Ini kesempatan baikmu hehee" katanya lagi memberitahukan isyarat, dan mengancungkan jempol tangannya, memberikan semangat.


Lia langsung mengerti, lalu dia kembali berjalan mendekati Rizal.


Rizal yang masih terfokus dengan layar laptopnya, sesekali dia membetulkan kacamatanya yang merosot. Lalu dia


terkaget saat melihat Lia sudah berdiri di depannya.


"Lia?!" Serunya.


"Kak Rizal, ini buat kakak.." menyodorkan botol minuman yang tadi diberikan Rina.


"Oh..terimakasih banyak." Ucap Rizal, menerima botol minuman itu dari Lia.


Lia lalu duduk di samping Rizal, dan sejenak memperhatikan lelaki pujaannya itu. Lalu Rizal membuka botolnya dan segera meminumnya.


"Hah..segar sekali.."ujarnya lalu menoleh ke arah Lia yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya itu.


Rizal tersenyum ke arahnya dan membuka kacamata anti radiasinya itu.


"Apa hari ini kamu tidak ada kuliah?" Tanya Rizal tiba-tiba mengagetkan lamunannya.


" Hah tidak," sahut Lia tersipu malu.


"Hari ini aku bebas, aku cuma sedang belajar sendiri, untuk persiapan ujian akhir minggu depan ini" jelasnya.


"Ooh..." Rizal menganggukkan kepalanya. Lalu hendak membereskan kembali buku-bukunya di meja.


"Hmm.. Rizal..." sahut Lia terbata-bata mencoba mengutarakan isi hatinya.


Rizal terkaget, mendengar panggilan Lia hari ini tiba-tiba dia memanggilnya tanpa sebutan Kakak.


"Bolehkah untuk hari ini dan seterusnya, aku panggil kamu Rizal saja." ungkapnya lagi, dengan menampakkan wajah merahnya. Lia memberanikan diri untuk mengungkapkan lagi perasaan hatinya setelah ke sekian kalinya dia mencoba.


Lalu Lia memegang erat tangannya Rizal dan menundukkan wajahnya.


"Aku tahu, karna keadaan dengan masalah pekerjaan dan juga kuliahmu yang belum selesai, kamu masih belum siap mencari pasangan hidup..." ujar Lia.


"Tapi setelah kamu menyelesaikan semua masalahmu, kamu mau kan mempertimbangkannya lagi? untuk menerimaku?" ungkap Lia, dengan pandangan penuh harap.


Rizal langsung mengalihkan tatapannya dan lekas menarik tangannya yang di genggam Lia.


"Lia..hmm maafkan kakak so-soal itu.." jawab Rizal tergugup, dengan mendengar ucapan Lia barusan.


"Kakak belum bisa memastikannya.." sahut Rizal bingung akan apa yang mau dibicarakannya.


"Kakak belum bisa memberikan jawaban apapun padamu!" ucap Rizal lembut.


Lalu dengan segera dia kembali membereskan buku dan menaruh laptopnya ke dalam tasnya.


"Tapi, kenapa Rizal?!" sahut Lia, lekas berdiri mencegah Rizal pergi.


"Maaf Lia...kak Rizal harus pergi dulu, sebentar lagi mau masuk kelas ya.." serunya. "Lain kali kita bicara lagi!"


Kemudian tanpa basa-basi lagi Rizal pergi meninggalkan Lia sendirian di meja perpustakaan itu.


Suasana seketika itu hening. Mulut Lia hanya bisa terbungkam diam, tampak wajahnya yang memerah muram tak terasa air matanya pun jatuh meleleh karna harus menahan rasa sakit dan sedih, sebab Rizal menolak cintanya lagi.


Rina yang memperhatikan dan mendengar percakapan mereka dari tadi, segera menghampiri Lia lalu memeluknya dan menghibur sahabatnya itu.


bersambung...


...***...


Jangan lupa like dan komentarnya yaa..


...🌺🌺🌺...